NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Hal acak yang aneh

"Lari! Bawa dia pergi dari sini!"

Dentuman pedang beradu dengan perisai terdengar pekat di antara deru angin malam. Seorang pria berambut putih bersimbah darah terus bertarung gigih, menahan barisan prajurit berlapis zirah yang jumlahnya tak terhitung.

Di belakangnya, seorang wanita bersurai biru gelap mendekap erat sesosok bayi mungil dalam selimut tebal. Wajahnya pucat, tetapi matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa.

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!" jerit wanita itu, menolak menyerah.

"Dengarkan aku!" bentak sang pria, suaranya bergetar menahan perih luka. "Kau harus selamat. Anak kita harus hidup!"

Mereka terus terdesak hingga ke tepi tebing curam, sebuah air terjun raksasa yang bermuara pada jurang tak berdasar. Di tengah kepungan yang kian menghimpit, sesosok pria berambut biru tiba-tiba melompat membelah kegelapan. Tanpa buang waktu, sang wanita menyerahkan bayi di pelukannya kepada pria yang baru datang itu. Pria itu mengangguk tegas, lalu melompat menerobos derasnya tirai air terjun yang secara ajaib terbelah dua seolah tunduk pada perintahnya.

"Hah... hah..."

Airyn tersentak bangun. Napasnya memburu, dadanya naik turun tajam saat ia memegangi lehernya yang dingin oleh keringat.

Mimpi buruk itu lagi.

Kejadian berdarah yang sama terus berulang dalam tidurnya, menyiksa jiwanya dengan potongan tragedi yang tak pernah ia pahami. Siapa mereka? Mengapa warna rambut orang-orang di dalam mimpinya begitu mirip dengan warna rambut aslinya? Dan yang paling membuat kepalanya berputar: bagaimana bisa pria berambut biru itu membelah dan mengendalikan aliran air begitu mudahnya?

Apakah ada manusia yang bisa melakukan hal ajaib seperti itu? batin Airyn terus bertanya-tanya.

Ia terlalu larut dalam lamunan hingga tak menyadari berkas cahaya matahari sudah memancar tinggi menembus celah jendela.

"Gawat! Aku terlambat!"

Airyn melompat dari tempat tidur. Dengan gerakan kilat yang terburu-buru, ia mengoleskan racikan bubuk arang ke rambutnya, berganti pakaian, mengenakan apron, lalu berlari kencang menerjang jalanan batu Tidebay menuju kedai.

"Tumben sekali kau terlambat, Airyn?" sapa Paman Marco heran saat melihat gadis itu menerobos pintu kafe dengan napas tersengal-sengal. Pria tua itu baru saja selesai merapikan deretan kursi.

"A-aku... kesiangan. Maafkan aku, Paman," sahut Airyn terbata-bata, mencoba menetralkan detak jantungnya.

Paman Marco hanya tertawa kecil dan menggeleng. Namun, pandangannya mendadak tertuju pada dahi gadis itu. "Tunggu, kenapa dahimu cemong hitam begitu?"

"Ah... i-itu..." Airyn gugup, jemarinya meraba dahi secara refleks.

"Kau mencoba memasak memakai arang pagi-pagi begini?" tebak Paman Marco terkekeh.

"Hahaha... i-iya, Paman! Betul sekali!" sahut Airyn cepat, bersyukur mendapat alasan instan.

"Ada-ada saja. Bersihkan dulu sana."

"Siap, Paman!" Airyn buru-buru melangkah ke dapur belakang. Ia mengambil lap basah dan menyeka noda bubuk arang di dahinya hingga bersih. Ia mengembuskan napas lega di depan cermin. Syukurlah, warna rambutku tidak ketahuan.

Seharian itu, Airyn bekerja seperti biasa: mengadoni roti, melayani pelanggan, dan membersihkan meja. Namun, rasa lelah akibat terburu-buru sejak pagi membuat tubuhnya benar-benar habis stamina saat waktu tutup tiba.

Sesampainya di panti asuhan, Airyn langsung merebahkan diri di atas kasur kayu tanpa sempat bersih-bersih. Ia tertidur lelap beberapa jam sampai tenaga fisiknya pulih.

Malam semakin larut, setelah terbangun dan mandi, Airyn mulai membereskan barang-barangnya. Seluruh pakaian dan barang peninggalannya diikat rapi ke dalam tas kain besar. Hari ini ia resmi genap berusia delapan belas tahun. Pagi tadi ia sudah menyampaikan perpisahan pada Madam Ruby. Wanita tua itu hanya mengangguk dingin tanpa ucapan tambahan, respon biasa yang sudah Airyn duga.

Di sudut kamar yang remang, Airyn meletakkan sepotong roti manis yang sudah ia sisakan dan menyalakan sebatang lilin kecil di atas meja. Dengan senyum tipis di wajahnya, ia menyanyikan lagu ulang tahun pelan untuk dirinya sendiri.

Tepat saat jarum jam menyentuh pergantian hari, Airyn memejamkan mata dan merapatkan jemari. Semoga aku selalu sehat dan bisa segera punya toko rotiku sendiri.

Fuuuh.

Lilin ditiup mati. Airyn memakan rotinya dengan gembira, lalu kembali berbaring dan tertidur pulas membawa senyuman.

Pagi harinya, alam Tidebay tidak menyambutnya dengan ramah. Hujan deras turun membalut pesisir sejak subuh, diiringi ombak laut yang berkecamuk menghantam karang.

Airyn bersiap memakai mantel tebal, sepatu bot, dan membawa payung besar. Tak lupa, ia menyelipkan satu kantong bubuk arang cadangan ke dalam tasnya untuk berjaga-jaga jika hujan memudarkan pewarna rambutnya.

"Kak, hujannya lebat sekali. Izin bekerja saja untuk hari ini," ujar Eli khawatir di ambang pintu panti.

Airyn tersenyum hangat, mengusap kepala adik panti kesayangannya itu. "Tidak apa-apa, Eli. Kasihan Paman Marco kalau bekerja sendirian. Kakak berangkat dulu, ya."

Airyn menerjang badai hujan. Langkah kakinya menyusuri lorong-lorong batu menuju arah dermaga. Namun, di tengah jalan, Airyn merasakan sebuah keanehan yang luar biasa. Angin bertiup kencang membuang cipratan air ke mana-mana, tetapi tak satupun tetes air hujan menyentuh kulit, wajah, maupun pakaiannya. Seolah-olah ada pelindung transparan tak kasat mata yang membengkokkan arah jatuh air di sekeliling tubuhnya.

Saat tiba di kedai, Paman Marco sedang bersusah payah membuka kunci pintu dengan pakaian yang sudah basah kuyup meski mengenakan mantel.

"Hujannya deras sekali! Ayo cepat masuk!" seru Paman Marco.

Airyn menutup payung dan mengaitkan mantelnya di dinding. Paman Marco yang melihat kondisi Airyn mendadak mengernyitkan dahi bingung.

"Lihat dirimu... bagaimana bisa kau sama sekali tidak basah? Mantelmu bahkan sekering saat kau baru keluar rumah!" gumam Paman Marco keheranan sembari menyeka wajahnya dengan handuk.

Airyn hanya tertawa canggung. "Mungkin aku sedang beruntung hari ini, Paman."

Tanpa berpikir panjang lagi, Airyn langsung bergegas ke dapur belakang untuk menyiapkan adonan roti harian. Ia menuangkan tepung, telur, ragi, dan margarin ke dalam mangkuk adonan besar. Namun, saat ia mengangkat teko besi untuk menyiramkan air... keanehan berikutnya terjadi.

Air di dalam teko itu seolah menolak untuk tumpah. Cairan bening itu tertahan di mulut teko, menggelembung diam meski teko sudah dimiringkan tajam.

"Lho? Kenapa ini?" Airyn meletakkan teko tersebut di atas meja kayu dengan dahi berkerut.

Ia memutari meja, mengamati teko itu dari berbagai sudut. Teringat adegan pria di mimpinya yang membelah air terjun, Airyn mencoba mengarahkan satu tangannya ke arah mulut teko, bergerak seperti seorang penyihir yang sedang merapal mantra.

Hening. Tidak terjadi apa-apa.

Airyn tertawa kecil meratapi tingkahnya sendiri. Konyol sekali. Aku pasti sudah gila karena terlalu banyak bermimpi buruk.

Namun, rasa penasaran yang mendalam mendorongnya mencoba sekali lagi. Kali ini, Airyn memajukan kedua telapak tangannya. Ia memfokuskan seluruh pikirannya pada air di dalam teko, lalu secara perlahan mengangkat kedua tangannya ke atas.

Swoosh!

Bola air berukuran cukup besar mendadak keluar melayang dari mulut teko, mengapung bebas di udara mengikuti gerakan jemarinya!

"Kyaaaa!" jerit Airyn panik, kaget setengah mati hingga terjatuh terlentang ke lantai batu. Bola air itu pecah seketika, menyiram habis kaki dan bajunya

"Airyn! Ada apa?!" seru Paman Marco panik, berlari cepat dari meja kasir menuju dapur.

Dengan mata membelalak dan napas terengah-engah dari posisi duduknya di lantai, Airyn buru-buru menunjuk sudut ruangan. "T-tidak apa-apa, Paman! Tadi... tadi ada kecoak besar melintas! Aku kaget!"

Paman Marco meneliti sudut dapur sebentar. "Oh... sudah pergi kecoaknya?"

"S-sudah, Paman..." sahut Airyn gemetar.

Paman Marco menghela napas lega. "Hati-hati. Jangan bikin kaget begitu." Pria tua itu pun kembali ke depan.

Airyn menyandarkan punggungnya pada kaki meja dapur. Wajahnya memucat saat ia menatap jemari tangannya sendiri yang masih bergetar hebat.

Ini bukan mimpi... Air itu benar-benar bergerak karena aku?

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!