Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Ilmu Hitam
Suasana di kamar VVIP Rumah Sakit Sentral Jakarta mendadak terasa jauh lebih panas daripada suhu di luar gedung. Bau antiseptik dan obat-obatan berpadu dengan ketegangan yang begitu pekat hingga membuat siapa pun yang berada di dalam ruangan itu kesulitan bernapas. Di atas ranjang rumah sakit, Sean Andrew Lee duduk dengan punggung disandarkan pada bantal rumah sakit. Meskipun wajahnya masih menyisakan pucat akibat luka-luka parah dari kecelakaan beberapa waktu lalu, sorot matanya tajam, memancarkan api perlawanan yang tidak bisa dipadamkan oleh siapa pun.
Di hadapannya, Tuan Waisen Lee berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah yang hampir meledak, sementara Margaret—ibu Sean—menangis histeris sambil memegangi kepalanya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut putra tunggal mereka.
"Kamu sudah gila, Sean!" bentak Tuan Waisen Lee dengan suara berat yang menggema di seluruh sudut ruangan. Pria paruh baya itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kami sudah memesan penerbangan khusus privat ke Singapura untuk malam ini! Dokter sudah menyatakan kamu cukup stabil untuk melakukan perjalanan, tapi kamu... kamu dengan berani menolaknya hanya demi membela seorang wanita murahan yang sekarang sedang mendekam di dalam penjara?!"
Margaret terisak semakin kencang, menatap putranya dengan pandangan penuh kekecewaan yang mendalam. "Sean, Nak... sadarlah! Wanita itu—Rafa Sasmita—adalah pembawa sial! Dia menghancurkan pernikahan pertamanya, dia mencemari nama baik keluarga Wirya Negara, dan sekarang dia hampir merenggut nyawamu! Kenapa kamu begitu terobsesi membelanya? Apa yang sudah dia lakukan padamu?!"
Sean menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sakit di dadanya akibat benturan hebat yang masih terasa linu. Ia menatap kedua orang tuanya dengan pandangan yang penuh keyakinan, tidak ada secuil pun keraguan di dalam suaranya.
"Ibu, Ayah... kalian salah besar," ucap Sean dengan nada tegas dan dingin. "Kalian menilai Rafa hanya dari cerita orang-orang yang tidak mengenal siapa dirinya sebenarnya. Kalian tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh keluarga Wirya Negara padanya. Rafa bukan wanita seperti yang kalian tuduhkan. Dia adalah korban dari sebuah konspirasi busuk yang diciptakan oleh orang-orang serakah!"
"Cukup!" teriak Tuan Waisen, memotong ucapan Sean dengan nada menggelegar. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu! Tidak mungkin seorang pria sukses sepertimu tiba-tiba membabi buta membela wanita asing seperti itu jika tidak ada sesuatu yang tidak beres!"
****
Tepat saat ketegangan di dalam ruangan itu mencapai puncaknya, pintu kamar VVIP tiba-tiba terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu.
Ceklek.
Semua pasang mata di ruangan itu menoleh ke arah pintu. Sosok Zaskia Mulandari melangkah masuk dengan anggun, mengenakan dress desainer mahal berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan suasana rumah sakit. Di belakangnya, Nena Apriandini berjalan dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura angkuh yang khas, diikuti oleh Evan Wirya Negara yang berjalan dengan langkah tenang namun sorot matanya menyimpan kelicikan tingkat tinggi.
Kedatangan trio musuh bebuyutan itu seketika mengubah atmosfer ruangan menjadi medan perang yang sesungguhnya.
Margaret menyeka air matanya, menatap kedatangan Zaskia dan keluarganya dengan rasa heran. "Siapa kalian? Bagaimana kalian bisa masuk begitu saja?"
Zaskia tersenyum ramah—sebuah senyuman palsu yang dirancang dengan sangat sempurna untuk memanipulasi situasi. Ia berjalan mendekati Tuan Waisen dan Margaret dengan gestur yang sangat sopan, lalu membungkuk sedikit memberikan hormat.
"Maafkan ketidaksopanan kami, Tuan Waisen, Nyonya Margaret," ucap Zaskia dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut dan penuh keprihatinan. "Kami adalah keluarga besar Wirya Negara. Kami datang ke sini bukan untuk mencari keributan, melainkan karena kami merasa sangat khawatir dengan kondisi Tuan Sean... terutama setelah mendengar apa yang baru saja beliau ucapkan."
****
Tuan Waisen mengerutkan keningnya, menatap Zaskia dengan curiga. "Apa maksud Nona?"
Zaskia menghela napas panjang, memasang ekspresi seolah-olah ia sedang menanggung beban moral yang sangat berat. Ia melirik sekilas ke arah Sean yang kini menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian yang meluap-luap.
"Ah, Anda pasti bingung mengapa Sean bisa begitu terobsesi dan kehilangan kendali seperti ini," lanjut Zaskia dengan nada yang sangat meyakinkan. Ia menggelengkan kepalanya pelan, lalu menatap Tuan Waisen dan Margaret secara bergantian. "Sebenarnya, kami tidak ingin membongkar hal ini karena ini adalah masalah pribadi. Tapi melihat kondisi Tuan Sean yang sudah separah ini... kami merasa wajib meluruskan semuanya."
"Meluruskan apa, Zaskia?!" geram Sean dari atas ranjang. Suaranya bergetar karena amarah yang membara. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya yang masih lemah membuatnya kembali jatuh tersandar. "Jangan mencoba memutarbalikkan fakta di depan orang tuaku, wanita licik!"
"Dengar itu?" potong Nena Apriandini dengan suara parau yang dibuat-buat sedemikian rupa agar terdengar seperti orang tua yang prihatin. Nena melangkah maju, merangkul pundak Margaret yang sedang kebingungan. "Lihat bagaimana marahnya dia, Nyonya. Dia begitu agresif, begitu di luar kendali, hanya karena kita menyebut nama wanita itu."
Nena menghela napas berat, menggelengkan kepalanya. "Di negara kami, ada banyak sekali cara terlarang yang digunakan orang-orang untuk menguasai pikiran orang lain. Ilmu hitam, pelet, atau yang biasa disebut sebagai guna-guna... itu adalah hal yang sangat lumrah dilakukan oleh wanita-wanita seperti Rafa Sasmita."
Seketika, ruangan itu terdiam sunyi. Margaret membelalakkan matanya, tangannya menutup mulutnya sendiri karena terkejut. "Guna-guna? Maksudmu... anakku diguna-guna oleh wanita itu?!"
****
Zaskia mengangguk pelan, memberikan penekanan yang sangat manipulatif pada setiap kata yang ia ucapkan. "Tepat sekali, Nyonya Margaret. Mengapa Tuan Sean yang cerdas, seorang pengusaha internasional yang terpandang, bisa tiba-tiba jatuh cinta setengah mati pada seorang janda mandul yang tidak punya apa-apa? Mengapa beliau rela mempertaruhkan nyawanya, menentang orang tuanya sendiri, dan membela penjahat di pengadilan? Jawabannya sangat sederhana..."
Zaskia menunjuk ke arah Sean dengan jari lentiknya, lalu menatap Tuan Waisen dan Margaret dengan tatapan penuh kepalsuan. "Sean sudah diguna-guna oleh Rafa Sasmita sampai ia tidak waras begini! Pikirannya telah dikendalikan sepenuhnya agar ia menuruti semua keinginan wanita parasit itu!"
"Bohong! Kalian semua pembohong besar!" teriak Sean dengan suara parau yang nyaris pecah. Urat-urat di lehernya menonjol keluar karena kemarahan yang luar biasa. Ia menatap tajam ke arah Zaskia, ingin sekali rasanya ia mencengkeram leher wanita iblis itu detik ini juga. "Ayah, Ibu! Jangan dengarkan kebohongan mereka! Mereka adalah monster yang mencoba menghancurkan hidup Rafa! Zaskia, kamu adalah wanita paling busuk yang pernah ada!"
Evan Wirya Negara, yang sejak tadi hanya diam mengawasi di samping Nena, maju selangkah dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Ia menatap Sean dengan sorot mata meremehkan. "Jaga mulutmu, Sean. Kamu sedang berbicara kepada tunanganku, dan kamu sedang mempermalukan dirimu sendiri di depan orang tuamu. Kondisi mentalmu sekarang benar-benar tidak stabil. Kamu butuh pertolongan medis, bukan pembelaan kosong untuk wanita jalang itu."