NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Sebuah Bukti

Hampir pukul sebelas malam, akhirnya Kenzo patuh saat dibujuk masuk ke dalam rumah. Tapi sikapnya masih terlalu dingin, dan Erlangga masih belum bisa membujuknya. Tak ingin terjadi perdebatan yang hanya memancing emosi dia putuskan untuk menunggu Ayuna di dalam kamarnya.

Kriet..., suara pintu terbuka dan Ayuna masuk ke dalam kamar itu. Ini adalah malam pertama tidur berdua dengan seorang pria yang sudah berstatus sebagai suaminya. Dulu memang sempat tidur bersama, tapi tak seperti yang diinginkan, semua terjadi karena hal gila perbuatan orang lain.

"Bagaimana? Apakah Kenzo sudah bisa dibujuk?" tanya Erlangga sembari memangku laptopnya di tepi ranjang.

Ayuna menggeleng. "Belum, tapi aku sudah katakan semuanya. Aku sudah yakinkan bahwa dirimu bukanlah orang jahat seperti apa yang dibayangkannya."

Erlangga terkekeh. "Aku jahat?"

"Dia menganggap dirimu orang asing yang ingin merebutku. Dia masih lima tahun, jadi belum mengerti apa yang dipikirkan oleh orang dewasa."

Ayuna duduk di sisi ranjang dengan perasaan yang tak tenang. Biarpun ia sudah aman menempatkan anak-anaknya di rumah ayah kandungnya, tapi dengan sikap Kenzo yang selalu menolak dan memberontak ingin pergi membuatnya tak bisa hidup tenang. Apalagi di luar sudah tidak aman, ada orang yang ingin memanfaatkannya.

"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Besok kita bujuk lagi. Sekarang sudah malam. Kamu nggak lupa kan kalau malam ini ~~

Ayuna menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan. "Haruskah dilakukan?"

"Menurutmu aku harus nunggu sampai kapan?"

"Ayuna membuang nafasnya dan berakhir pasrah. "Yasudah. Kalau kamu mau ya silahkan saja. Tapi kamu harus janji sama aku. Jangan bocorin tentang pernikahan kita. Aku nggak mau orang berpikir macam-macam padaku."

Erlangga mematung. "Kenapa? Apa kamu nggak senang nikah sama aku?"

"Ya senang, tapi di luar sana pasti orang berpikir aku nikah sama kamu karena ada kemauannya. Apalagi derajat kita yang berbeda, pasti akan menimbulkan pro dan kontra."

"Kamu mikirnya terlalu jauh. Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Bahkan keluargaku yang mendesakku untuk segera menikahimu."

Ayuna mengernyit. Dia sama sekali tidak tahu keluarga Kusuma memberikan ide agar Erlangga mau menikahinya. Bahkan di saat menikah, Erlangga tak mengundang satupun dari keluarganya.

"Kamu yakin keluargamu setuju dengan pernikahan ini? Tapi mengapa mereka tidak hadir saat kita menikah?"

Erlangga yang gemas menjitak kening Ayuna pelan. "Kamu sadar seperti apa pernikahan kita tadi pagi? Kita menikah cuma untuk mendapatkan surat nikah. Tidak ada persiapan sama sekali. Jadi tak satupun orang tahu dengan pernikahan kita, termasuk keluargaku."

"Terus kedepannya gimana? Kalau mereka tiba-tiba berubah pikiran dan membenci saya? Dari awal yang saya dengar kan Bapak dijodohkan dengan keluarga Wijaya. Tapi sekarang Bapak menikahi saya. Lalu bagaimana hubungan Bapak dengan keluarga Wijaya? Bisa-bisa mereka marah dan ~~

"Bisa nggak sih, jangan bilang saya apalagi Bapak?! Aku ini suamimu, bukan bapakmu! Lagian ini rumah, bukan kantor. Bisa nggak sih, kita jalani rumah tangga yang serius? Nggak usah terlalu kaku gini?"

Erlangga cukup geram dengan cara bicara Ayuna yang masih saja terlalu formal. Sudah seharian bersama masih juga tak merubah kebiasaannya. Ia merasa risih karena istrinya masih juga menganggapnya atasan, bukan pasangan.

"M-maaf..., s-saya eh aku masih belum terbiasa."

"Aku nggak masalah kalau kamu panggil Bapak sewaktu ada di kantor. Kalau di rumah apalagi di tempat umum cukup panggil yang simpel-simpel aja, Papi, sayangku, suamiku, apa aja yang penting sopan, nggak formal."

Ayuna mempoutkan bibirnya. Padahal hanya masalah sepele, tapi terlalu dibesar-besarkan. Ia hanya masih canggung dan belum terbiasa mengganti nama panggilan yang bagus untuk sang suami.

"Yaudah, aku minta maaf. Aku bakal usahain mengganti panggilan seperti yang kamu inginkan."

Ayuna mendekat dan memeluknya manja. Meskipun hatinya masih belum bisa menerima sepenuh hati, tapi ia berjanji akan mengubah apa yang sudah semestinya dilakukan.

Erlangga meliriknya sekilas dengan menggumam. "Aku menikahi kamu bukan sekedar untuk tanggung jawab, tapi karena dari awal kita ketemu aku ngerasa cocok."

Ayuna menautkan alisnya. 'cocok? Bukannya dia sudah menambatkan hatinya pada Luna Wijaya? Kenapa dengan mudahnya dia berpaling hati? Jangan bilang dia hanya ingin menahanku agar tetap bersamanya?'

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Jangan bilang kau juga tertarik padaku?"

Ayuna berdecak dengan mencebikkan bibirnya. "Ck, siapa juga yang tertarik? Jangan terlalu kepedean!"

"Serius kamu nggak tertarik padaku? Secara aku ini sudah tampan, kaya, mapan pula. Sekiranya hal apa yang membuatmu tak tertarik?"

Ayuna memicingkan matanya. "Kalau aku pribadi menilai orang itu bukan karena ketampanan atau bahkan kekayaannya. Lagian dari dulu aku nggak tertarik buat nikah," cicitnya. "Bagiku hidup dengan dua putraku sudah cukup membuatku bahagia, tak butuh hal-hal lain."

Erlangga mematikan laptopnya dan meletakkannya di atas nakas. Setelah itu dia bergabung merebahkan dirinya di sebelah Ayuna. Sebelum melakukan hubungan intim, setidaknya ada cara untuk membuat pasangannya nyaman, tidak terlalu kaku apalagi membuatnya tak nyaman.

"Ngomong-ngomong cinta pertamamu dulu siapa?" tanya Erlangga, sengaja mengorek pribadinya.

"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat masa kecilku."

"Oh ya...? Lalu apa saja yang kau ingat?"

Semakin yakin bahwa wanita itu yang selama ini dicarinya. Ia tak akan pernah menyerah meskipun hampir semua orang mengatakan bahwa wanita yang dicarinya itu sudah tiada.

"Seingatku aku dirawat oleh Ayah angkatku. Dia cukup baik padaku, hanya saja anak dan istrinya terlalu tengil dan kejam padaku. Bahkan kalungku diambil oleh anak perempuannya. Sebenarnya aku ingin tahu siapa orang tuaku yang sesungguhnya. Mungkin kalung itu bisa mengantarkanku bertemu dengan orang tuaku, tapi sayangnya...."

Ayuna tersenyum kecut. Begitu jauh angan-angannya untuk bisa bertemu kembali dengan keluarga aslinya. Mungkin keluarganya sudah menganggapnya mati, atau bahkan mereka yang tidak pernah menginginkan kehadirannya.

"Kalung? Seperti apa kalung yang kau miliki?" tanya Erlangga.

Seingatnya dulu Luna Wijaya mengenakan kalung giok warna Jamrud. Kalung itu memiliki makna tersendiri di kehidupan keluarga Wijaya. Kalung turun temurun dari generasi sebelumnya, dan hanya keturunan Wijaya yang boleh memakainya.

"Tunggu sebentar. Aku sepertinya masih menyimpan foto kalungku. Sayangnya aku tak bisa mengambil dari tangannya."

Ayuna membuka galeri dan menyekrol mencari gambar kalung miliknya. Hingga pada akhirnya ia berhasil mendapatkannya.

"Nah, ini dia. Untung masih tersimpan di sini."

Ayuna memberikan handphonenya kepada Erlangga. Seketika bola mata pria itu terbelalak sempurna.

"Kalung ini?"

Ayuna mengerutkan keningnya. " Kenapa? Kamu terlihat terkejut melihat kalung itu. Apa kamu pernah melihatnya?"

"Ini yakin milikmu?" tanya Erlangga dengan menatapnya intens.

"Kalau bukan milikku, untuk apa aku memikirkannya? Aku hanya merasa gagal tidak bisa menjaganya dengan baik."

Erlangga meraih tangannya dengan mata berkaca-kaca. "Ayuna, kau wanita yang selama ini kucari. Kau Luna Wijaya, tunanganku. Kau menghilang tanpa jejak. Kalung ini hanya dimiliki oleh keturunan Wijaya, dan kau telah membuktikannya padaku."

Ayuna tercengang dengan bola mata melebar. "Apa kau bilang? Aku Luna Wijaya? Tapi bagaimana mungkin?"

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!