NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Di Pojok Paling Gelap

Sepuluh menit sebelumnya, Amaya meletakkan tangannya di atas telapak Nathan.

"Boleh."

Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa kerabat. Nathan menutup jemarinya dengan lega, lalu membawa Amaya masuk ke lantai dansa.

Amaya mengikuti langkahnya tanpa kesulitan. Ia tersenyum ketika diperlukan, berputar saat tangan Nathan mengarahkannya, dan menjaga jarak yang cukup sopan di antara tubuh mereka.

Semua tampak seperti pemandangan yang seharusnya.

Karina tersenyum lega ketika pasangan muda itu melewati sisinya. Robert mengangguk kepada Nathan, seolah satu tarian mampu mengembalikan susunan dua keluarga ke tempat semula. Bahkan Meihwa tampak lebih tenang.

Amaya membiarkan mereka menikmati bayangan tersebut.

Ia menerima tangan Nathan bukan untuk kembali mengejarnya. Ia hanya ingin melihat apakah pria di seberang ruangan benar-benar bisa tetap tenang setelah tatapan mereka bertemu.

Hasilnya ada pada gelas yang kosong terlalu cepat.

Hanya satu orang yang tahu bahwa tatapan terakhir Amaya sebelum menerima ajakan tersebut tidak ditujukan kepada pasangannya.

Sebastian mengambil gelas baru dari nampan pelayan.

Ia tidak meminumnya. Gelas itu hanya memberinya sesuatu untuk dipegang agar tangannya tidak melakukan hal yang lebih bodoh.

"Maya."

Nathan menunduk sedikit. "Aku minta maaf karena belakangan ini jarang menghubungimu. Setelah proyek baru dimulai, pekerjaanku berantakan."

"Nggak perlu menjelaskan."

"Aku ingin menjelaskan. Kita bisa makan malam akhir pekan ini. Hanya berdua."

"Nanti aku lihat jadwalku."

Dahulu Amaya akan langsung menyebut restoran, jam, bahkan warna gaun yang akan dipakai. Jawaban pendek itu membuat Nathan mempererat tangannya tanpa sadar.

"Maya, aku serius."

"Aku juga serius. Jadwalku belum tentu kosong."

Musik berakhir sebelum Nathan menemukan jawaban lain. Tepuk tangan pecah, lalu pemimpin acara meminta para tamu tetap di lantai untuk lagu berikutnya.

Jessica muncul di tepi kerumunan dengan wajah cemas yang terlalu rapi untuk benar-benar panik.

"Koh Nathan," panggilnya. "Ci Selena barusan lari keluar sambil menangis. Koh nggak lihat?"

Nathan langsung menoleh ke meja utama.

Kursi Selena kosong.

"Dia pergi ke mana?"

"Koridor sebelah kanan, kayaknya. Sendirian."

Keraguan melintas di wajah Nathan. Tangannya masih menggenggam Amaya, tetapi tubuhnya sudah berbalik ke arah pintu ballroom.

Amaya menarik tangannya lebih dulu. "Pergilah."

"Aku cuma mau memastikan dia nggak melakukan hal bodoh. Setelah itu aku kembali."

"Nggak perlu menjelaskan," ulang Amaya.

Nathan tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi bayangan gaun Selena menghilang di balik pintu. Kebiasaan bertahun-tahun menang. Ia melangkah pergi, lalu berhenti saat melewati Sebastian.

"Koh, tolong jaga Maya sebentar."

Rahang Sebastian mengeras.

Adiknya menyerahkan tunangannya seperti sebuah tanggung jawab, lalu berlari mengejar perempuan lain. Ia tidak tahu mana yang lebih mengganggunya, kebodohan Nathan atau kenyataan bahwa kata tunangan masih terasa seperti duri.

"Dia bukan anak kecil," jawab Sebastian.

Nathan sudah terlalu jauh untuk mendengar.

Jessica berdiri di samping Amaya dan mengamati koridor dengan puas.

"Ci Selena benar-benar menangis?" tanya Amaya.

"Iya. Gue cuma membantu air matanya menemukan penonton yang tepat."

"Kamu sengaja menunggu sampai lagu selesai."

"Gue teman yang bertanggung jawab. Masa gue merusak dansa pertama lo sama tunangan sendiri?"

Nada lagu berikutnya berubah lebih pelan. Para pasangan merapat. Arus manusia dari belakang mendorong Amaya satu langkah ke depan.

Jessica ikut mendorong bahunya.

"Jess."

"Dia diminta menjaga adik iparnya. Bukan orang lain, kok."

Dorongan kedua membuat Amaya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya menabrak dada Sebastian.

Tangan pria itu bergerak refleks, satu menahan pinggangnya, satu lagi menangkap lengannya. Gelas kosong di tangannya sudah diserahkan entah kapan kepada pelayan.

Jessica mengangkat dua ibu jari, lalu menyelinap di antara pasangan-pasangan lain sebelum Sebastian sempat menghentikannya.

"Temanmu gila," gumamnya.

"Koh Sebas bisa melepaskanku."

Sebastian tidak langsung melepaskan.

Orang-orang di sekitar mulai bergerak mengikuti irama. Jika mereka tetap berdiri diam, perhatian akan tertuju kepada keduanya. Sebastian akhirnya menggeser tangannya ke posisi dansa yang pantas.

"Ikuti langkahku."

"Bukannya tadi bilang aku bukan anak kecil?"

"Jangan membuat kita jatuh."

Amaya meletakkan satu tangan di bahunya. "Aku baru saja berdansa dengan baik."

"Aku lihat."

Jawaban itu terlalu cepat.

Amaya menahan senyum. "Koh Sebas memperhatikanku?"

"Seluruh ruangan melihat kalian."

"Tapi nggak semua orang menghabiskan minumannya."

Langkah Sebastian berhenti sepersekian detik. Tangan di pinggang Amaya menegang, lalu segera longgar kembali.

"Kenapa pesan WhatsApp-ku nggak kamu balas?"

Amaya menatapnya. "Sekarang kita bicara pekerjaan?"

"Kamu koordinator proyek. Kalau atasan menghubungi, jawab."

"Pesannya cuma `Ada?`. Itu instruksi proyek yang mana?"

"Kamu membacanya."

"Benar."

"Lalu sengaja diam."

"Dokter Sebastian sendiri yang menyuruhku profesional. Aku sedang belajar nggak mengganggu atasan di luar jam kerja."

"Kamu menggambar wajahku di notulen, mengirim pesan mau menjualku, lalu mendadak bicara soal batas profesional."

"Aku murid yang cepat belajar."

"Kamu sedang menghukumku."

"Masa, sih? Aku cuma mengikuti instruksi."

Sebastian menurunkan suara. "Kamu tahu itu bukan maksudku."

"Aku nggak tahu. Sama seperti aku nggak tahu kenapa melihat tanganku di telapak Koh Nathan membuat Koh Sebas nggak nyaman."

"Aku tidak merasa begitu."

"Oh?"

"Aku hanya tidak suka melihat siapa pun dipermalukan di depan umum. Tangannya terlalu lama menggantung."

Sebastian menarik diri setengah langkah agar jarak mereka lebih aman.

Tangannya terlepas dari pinggang Amaya. Jari-jarinya justru melengkung kosong di sisi tubuh.

Amaya melihat gerakan kecil itu.

Tangannya kosong. Mungkin dadanya juga.

Ia meraih ujung dasi Sebastian.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Menyelamatkanmu dari keramaian."

Amaya menariknya keluar dari arus pasangan menuju sisi ballroom. Di balik deretan tanaman tinggi dan panel ukiran, cahaya jatuh lebih redup. Musik masih terdengar, tetapi tak ada mata yang langsung mengarah ke sana.

Pojok paling gelap.

Sebastian menahan pergelangan tangannya. "Lepaskan dasiku."

"Jawab dulu. Kalau yang berdansa dengan Koh Nathan tadi Vanya, apa Koh Sebas juga akan menghabiskan segelas minuman?"

"Tidak."

"Kalau Ci Selena?"

"Tidak."

"Kalau begitu, kenapa aku?"

Sebastian terdiam.

Amaya maju sampai ujung sepatunya hampir menyentuh sepatu pria itu. Ia masih memegang dasinya, memaksa Sebastian menunduk.

"Tutup mata," bisiknya.

Napas hangat menyentuh rahang Sebastian. Tubuhnya menegang, tetapi setelah satu detik penuh perlawanan, kelopak matanya turun.

Amaya menahan tawa. Ia mengambil kacamatanya, lalu mengusap salah satu lensa dengan saputangan kecil.

Sebastian membuka mata.

"Kotor," kata Amaya polos. "Aku cuma mau membantu."

"Amaya."

Tanpa kacamata, tatapan pria itu terasa lebih gelap. Lebih telanjang.

Amaya memasang kembali kacamata tersebut perlahan. Ujung jarinya menyentuh pelipis Sebastian.

"Kenapa? Koh Sebas mengharapkan sesuatu?"

Sisa kendali Sebastian putus.

Tangannya menangkap tengkuk Amaya. Ia menarik perempuan itu mendekat, menundukkan kepala, lalu bibirnya jatuh tepat ke bibir Amaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!