Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIAM
Shubuh-shubuh, Kala dibuat kalang kabut saat mendengar isakan tangis. Antara mimpi dan nyata, sempat terpikir kamar Pevita ada hantu yang menangis. Namun saat mata Kala terbuka lebar, ia menoleh ke samping. Ternyata Pevita menangis sesenggukan.
"Kenapa Sayang?" tanya Kala mencoba menjadi suami perhatian, dengan memperhatikan suasana hati dan diri sang istri. Mungkin karena terlalu manis panggilan itu, Pevita langsung melepas genggaman ponsel dan memeluk Kala erat. Kala kaget dengan keintiman yang diciptakan oleh Pevita.
"Dia jahat banget ternyata, Cil!" ya elah, Pevita masih saja memanggil dirinya bocil. Nasib, nasib. Pelukan dari Pevita sempat membuat Kala bahagia eh dipaksa nyungsep dengan panggilan bocil.
"Dia siapa?" tanya Kala masih belum ngeh siapa yang dimaksud.
"Refan lah, siapa lagi!" sewot Pevita dengan melepas pelukan dan mengusap air matanya. Alis Kala naik sebelah.
Hah, cowok itu masih hidup? Kok punya nyali menghubungi Pevita? Batin Kala.
"Dia bilang apa?" tanya Kala penasaran, kok sampai Pevita menangis sepagi ini.
"Bukan dia yang chat tapi mantannya," ujar Pevita makin menjadi isakan tangisnya. Sejenak Kala terdiam, dia tak punya pengalaman mengatasi cewek menangis, hanya bisa mengelus rambut Pevita saja.
"Kemarin Refan hanya bilang kalau dia masih mencintai mantan kekasihnya, tanpa ada penjelasan berlebihan, tapi pagi ini gue mendapat chat dari nomor tak dikenal, dia kirim foto segala, saat Refan tidur di bawah selimut tanpa pakai baju." Pevita mengulang apa yang ia lihat via chat tadi.
"Kok tahu tanpa pakai baju?" tanya Kala polos. Wajar lah dia tanya begitu, otaknya berpikir Pevita mendapat foto bugil Refan, tapi apa mungkin mantan kekasih Refan tega membuka badan orang tercinta dan disebarkan pada Pevita. Make sense aja.
Pevita melirik Kala sebal, kenapa kayak gitu harus ditanyakan segala sih. "Ya cuma kelihatan pundaknya, Cil. Ya Allah, masa' iya telanjang bulat dikirim, gimana sih!" protes Pevita masih bisa mengomel di tengah sakit hatinya.
"Oh," hanya begitu respon Kala. Pevita malas sekali menanggapi respon Kala yang datar itu. "Harusnya Mbak balas saja!"
"Balas gimana? Melabrak? Dih ogah ya, gue gak mau rebutan cowok yang udah dipakai perempuan lain, meski gue cinta sama Refan tapi otak gue masih waras dan gak bodoh, sekali cowok selingkuh maka dia akan mengulanginya lagi. Biarkan gue sakit sekarang tapi gue gak akan menormalisasikan selingkuh!" ujar Pevita berapi-api, dan tahu tanggapan Kala, dia malah bertepuk tangan dengan wajah bantalnya. Semakin menyebalkan bukan, ngapain coba tepuk tangan begitu.
"Aku sangat setuju dengan prinsip Mbak Pev. Gak usah khawatir, aku setia sama Mbak Pev."
"Ngomong sama tembok!" ceplos Pevita angkat tangan deh dengan balasan Kala. Ya maklum, bocah cilik mana tahu pemikiran mendalam dan respon yang pantas untuk perempuan patah hati seperti Pevita saat ini.
"Mbak, Mbak gak mau balas dendam sama cowok itu? Aku bisa bantu kok!"
"Gak ada balas dendam, buat apa. Nanti gue dikira belum move on, males gue. Lebih baik melupakan saja."
"Jangan gitu dong, pengkhianatan dan mempermalukan keluarga Mbak harusnya dibalas lebih kejam, biar dia tidak seenaknya!" Pevita terdiam, apa yang dikatakan Kala ada benarnya, bukan untuk membalas, tapi memberi pelajaran agar tidak berbuat dzalim kepada wanita lain.
"Caranya?" tanya Pevita penasaran.
"Hamil anak aku!" rasanya mendengar ocehan bocah cilik ini, Pevita ingin menabok wajah tanpa dosa tapi dia masih waras karena pria yang berwajah tengil di depannya ini sekarang adalah suaminya.
"Heran deh, gue. Lo masih 18 tahun tapi pikiran lo penuh dengan adegan dewasa. Gak patut sekali, pantas saja pengen nikah muda, takut kalau kebablasan kan lo jaga kelaki-lakian lo itu!"
"Ya elah, Mbak. Sebelum aku sekamar sama kamu, aku tuh cowok polos, yang study oriented banget, ya wajarlah seorang cowok sekamar dengan istrinya, catat istrinya pikirannya ke arah adegan dewasa. Mana gak dikasih jatah entah sampai kapan, harus disinggung terus dong, apalagi kita udah kissing tadi malam," lubang hidung Pevita membesar, nih bocah cilik otaknya perlu dicuci kalau perlu dipemutih sekalian, merinding lama-lama Pevita di depannya. Mainnya sindir nafkah batin terus. "Gimana?"
"Enggak!"
"Kenapa? Mbak malu kalau hamil anakku?"
"Heh, Kala. Lo kira hamil melahirkan merawat bayi itu gampang! Umur kita masih muda banget tahu, kamu juga baru mau menjadi mahasiswa ya kali sudah jadi bapak-bapak! udah deh gak usah mikir aneh-aneh dulu."
"Ya terus sampai kapan aku nahan?" desak Kala.
"Ya Allah, Kala. Kenapa pikiran lo ke situ terus sih, gue masih belum cinta sama lo, gue gak mungkin kan menyerahkan kehormatan gue sama orang yang gak gue cinta."
Kala terdiam, "Segitunya sih, gak cinta sama aku. Misal Mbak jadi nikah sama Refan, Mbak langsung mau malam pertama? Mau punya anak juga?"
Pevita terdiam. "Diamnya Mbak sudah menunjukkan kalau Mbak akan melakukan tugas seorang istri, tapi nyatanya lelaki yang mbak kira mencintai Mbak justru mempermalukan Mbak, sedangkan aku yang tulus mencintai Mbak malah tak diberi kesempatan untuk mereguk hakku sebagai suami. Lucu sih, tapi yah sudahlah, aku tahu Mbak butuh waktu!" ucap Kala serius, kemudian beranjak ke kamar mandi, persiapan sholat shubuh. Sedangkan Pevita hanya terdiam, dalam hatinya ada rasa bersalah karena ia telah mengabaikan tugasnya sebagai istri, cuma dia tak bisa memungkiri tidak ada cinta untuk Kala, dan pikirannya pernikahan ini tidak akan berlangsung lama.
Keluar kamar mandi, Kala pun lebih pendiam. Tak mengusik Pevita dengan ocehan absurdnya, bahkan saat waktu sarapan tiba pun keduanya turun secara terpisah. Tentu saja keluarga besar yang masih menginap di rumah utama, saling pandang, dan memaklumi dinginnya pengantin baru, tak perlu memaksakan keadaan. Apalagi usianya keduanya masih terlalu muda untuk menjalani rumah tangga.
Kaki Pevita disenggol oleh Tante Lily, ibu tirinya, karena di depan mertua, Pevita cuek dan membiarkan Kala mengambil makanannya sendiri, sehingga sang mama yang mengambilkannya. "Maaf, Tante. Saya belum terbiasa," ucap Pevita sungkan, dan mama Kala hanya tersenyum tipis saja.
Nuansa sarapan pagi itu pun terasa sangat kaku, tak ada yang memulai obrolan, bahkan papa Pevita pun hanya diam saja. Pernikahan yang mendadak tentu belum bisa diterima dengan lapang oleh beberapa pihak. Semua sedang mencerna kondisi ini tanpa menyalahkan atau menuntut Kala atau Pevita untuk bersikap layaknya suami istri.
"Kita perlu bicara!" ajak Pevita pada Kala. Pemuda itu hanya mengangguk saja, dan kembali fokus dengan tabletnya.
"Silahkan kalau Mbak Pev mau bicara!"
"Kalau ke cafe?" tawar Pevita meragu.
"Boleh, pakai motor sendiri-sendiri ya!" ujar Kala cuek, kemudian beranjak membuka lemari mengambil jaket. Pevita hanya diam, ingin dia mengomel karena tak suka didiamkan seperti ini.
Harusnya gue senang lah, dicuekin begini. Tapi kok gue sebal juga ya. Gimana sih maunya hati gue ini?
nobar , pengajian nya mamah Dedeh