Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Terbuang dari Rumah Sendiri
Rumah yang kemarin dipenuhi tangis duka kini berubah menjadi tempat yang paling menyakitkan bagi Laila. Sejak suaminya dimakamkan, tak ada lagi sapaan hangat yang ia terima. Yang ada hanyalah tatapan sinis dan ucapan tajam dari ibu mertuanya.
Raka yang baru berusia tujuh hari kembali menangis karena lapar. Laila menggendong putranya sambil menepuk pelan punggung mungil itu.
"Tenang, Nak... sebentar lagi kamu minum."
Belum sempat ia masuk ke kamar, suara bentakan kembali terdengar.
"Masih betah tinggal di sini?" hardik ibu mertuanya.
Laila menghentikan langkah. Wajahnya langsung pucat.
"Bu..."
"Aku sudah tidak menganggapmu menantu lagi. Anakku sudah meninggal. Untuk apa kamu tetap tinggal di rumah ini?"
Laila menunduk. Air matanya menggenang.
"Saya tidak punya tempat lain."
"Itu bukan urusanku."
Kalimat itu menusuk jauh ke dalam hati.
Sejak kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu, Laila memang tidak memiliki siapa pun lagi. Rumah yang ditempatinya sekarang adalah rumah peninggalan keluarga suaminya.
"Kasihanilah cucu Ibu," pinta Laila lirih.
"Cucu?" Wanita itu mendengus. "Jangan sebut anak itu cucuku! Sejak dia lahir, hidup anakku berakhir."
Laila spontan memeluk Raka semakin erat.
"Jangan salahkan dia, Bu."
"Kalau begitu, pergi! Bawa anak pembawa sial itu keluar dari rumahku!"
Suara itu terdengar begitu keras hingga beberapa tetangga mulai melirik ke arah rumah mereka.
Laila menggigit bibirnya. Harga dirinya terasa diinjak-injak, tetapi ia memilih diam demi putranya.
Malam harinya, setelah memastikan Raka tertidur, ia membuka lemari kecil peninggalan suaminya. Di dalamnya hanya ada beberapa potong pakaian, dompet lama, dan sebuah amplop cokelat.
Tangannya bergetar saat membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat buku tabungan.
Laila langsung menuju ATM keesokan paginya dengan harapan masih ada uang yang bisa digunakan untuk membeli susu dan kebutuhan bayi.
Namun harapan itu kembali pupus.
Saldo rekening itu hanya tersisa Rp185.000.
Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk bertahan lama.
Laila terduduk lemas di kursi dekat mesin ATM.
"Aku harus bagaimana sekarang?"
Ia menoleh ke arah Raka yang tertidur pulas di gendongan kain.
"Apa Ibu sanggup membesarkanmu sendirian?"
Pertanyaan itu membuat air matanya kembali jatuh.
Sesampainya di rumah, sebuah koper tua sudah tergeletak di depan pintu.
Seluruh pakaian miliknya dimasukkan begitu saja ke dalam koper itu.
Ibu mertuanya berdiri di depan pintu dengan wajah dingin.
"Aku sudah bilang. Mulai hari ini kamu bukan penghuni rumah ini lagi."
"Bu... beri saya waktu beberapa hari saja."
"Tidak!"
Wanita itu melempar sebuah amplop ke arah Laila.
"Itu uang satu juta rupiah. Anggap saja selesai. Setelah ini jangan pernah kembali."
Laila tidak mengambil amplop itu.
"Saya tidak butuh uang Ibu."
"Kalau begitu pergi dengan tangan kosong!"
Air mata Laila mengalir semakin deras.
Ia menatap rumah yang dulu menjadi tempat ia membangun mimpi bersama suaminya.
Kini rumah itu mengusirnya tanpa sedikit pun rasa iba.
Dengan koper di tangan kanan dan Raka dalam gendongan, Laila melangkah meninggalkan rumah itu.
Tak sekali pun ia menoleh ke belakang.
Ia tidak tahu akan pergi ke mana.
Ia hanya tahu satu hal.
Apa pun yang terjadi, ia harus bertahan demi putra kecilnya.
Namun beberapa meter dari rumah itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di hadapannya.
Seorang pria tua berjas rapi turun sambil menatap wajah Raka dengan saksama.
"Laila... akhirnya saya menemukan kalian."
Mata Laila membelalak.
Ia sama sekali tidak mengenal pria itu.
Bersambung...