Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syafa
Keesokan paginya, matahari di hari Minggu bersinar cukup terik. Hari ini rumah terasa begitu lengang karena Rendra dan Mahira sedang pergi ke luar kota sejak subuh untuk urusan perjalanan bisnis penting.
Albiru menggeliat pelan, mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang sembari mengusap wajah kasar.
Pandangannya secara refleks langsung tertuju pada sofa besar di sudut ruangan. Kosong. Selimut tebal yang biasa membungkus tubuh mungil istrinya sudah terlipat rapi di atas bantal.
"El? Ellea?" panggil Albiru, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.
Tidak ada sahutan. Sunyi. Albiru mengembuskan napas panjang, menduga gadis itu pasti sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan atau sedang menemani adik perempuannya, Alisa. Tanpa buang waktu, Albiru segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, sembari membiarkan air hangat membasahi tubuhnya, Albiru sempat berdiri di depan cermin besar setelah menyeka wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, merapikan rambutnya yang basah ke belakang dengan jemarinya.
"Gue ganteng juga ya? Pantas saja para cewek rebutan pengen deketin gue," ucapnya narsis seraya menyeringai menatap cermin.
Namun, tawa kecil Albiru mendadak surut saat bayangan mata abu-abu Ellea kembali melintas di benaknya. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan samar di dahi.
"Apa Ellea diam-diam suka sama gue? Tapi ... kalau diingat-ingat, dia lihat gue kayak kagak ada respons sama sekali," gumam Albiru, mendadak merasa tidak tenang. "Apa dia benar-benar suka sama si Andra?"
Rasa jengkel yang kembali mengasapi dadanya membuat Albiru buru-buru menyelesaikan mandinya. Setelah berpakaian santai, ia kembali mengecek kamar, namun istrinya itu belum juga kembali ke sana.
Sementara itu, di kamar bernuansa merah muda seberang koridor, Alisa sedang duduk di tepi ranjang sembari menatap lekat-lekat sosok wanita yang selama sebulan ini menjadi kakak iparnya. Sejak awal pernikahan kakaknya, Alisa memang belum pernah sekalipun melihat wajah asli Ellea karena terhalang kain cadar hitam. Rasa penasaran yang terpendam berminggu-minggu akhirnya membuatnya memberanikan diri.
"Kak El ... boleh nggak Alisa minta sesuatu?" tanya Alisa, matanya berbinar penuh harap.
Ellea yang sedang merapikan jepitan rambut Alisa tersenyum di balik kain penutup wajahnya. "Minta apa, Alisa? Kalau kakak bisa, pasti kakak turuti."
"Alisa pengen banget lihat wajah Kak El tanpa cadar. Boleh, kan? Kan di kamar ini cuma ada kita berdua, nggak ada cowok lain," pinta Alisa sembari menggoyang-goyangkan lengan Ellea. "Please, Kak ..."
Ellea tertegun sejenak. Sepasang mata abu-abunya berkedip ragu. Namun, melihat binar ketulusan di wajah adik iparnya, pertahanan Ellea runtuh.
“Ok deh, tapi jangan kaget ya kalau wajah kakak jelek.”
“Suer deh! Apapun bentuk wajah Kak El, Kak El adalah Kakak ipar Alisa yang paling cantik.
Ellea mengangguk pelan, lalu jemarinya bergerak perlahan membuka ikatan tali cadar di belakang kepalanya.
“Bismillah,” ucapnya dalam hati.
Begitu kain hitam itu terlepas dan turun ke dada, Alisa seketika membeku. Napas remaja perempuan itu tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak sempurna, menatap tanpa berkedip pada struktur wajah di hadapannya.
Bukan hanya sepasang mata abu-abu mirip rasi bintang yang indah, tetapi Ellea memiliki hidung mancung yang kecil, bibir merah muda alami berbentuk busur yang penuh, serta kulit putih bersih yang memancarkan aura teduh nan sendu. Kecantikan Ellea tidak mencolok layaknya model majalah, melainkan tipe kecantikan murni yang menenangkan hati siapa saja yang memandangnya.
"Kak El!” seru Alisa, matanya mendadak berkaca-kaca karena terharu. "Masya Allah, Kak El cantik banget ... Alisa sampai mau nangis lihatnya. Kenapa wajah sejelita ini harus disembunyiin terus sih, Kak?"
Wajah Ellea merona merah muda mendengar pujian jujur itu. Ia terkekeh pelan. "Kecantikan ini cuma hak milik suami kakak kelak, Alisa. Cadar ini cara kakak menjaga diri."
"Ih, tapi Kak Al bener-bener buta ya? Punya istri sejelita bidadari begini malah disia-siain demi nenek sihir kayak Sandra," gerutu Alisa kesal, langsung teringat kelakuan menyebalkan kakak kandungnya.
"Alisa, nggak boleh bicara seperti itu tentang kakakmu," tegur Ellea lembut.
Cklek.
Tepat saat mereka masih asyik mengobrol, pintu kamar Alisa mendadak terbuka lebar tanpa ada ketukan sama sekali. Albiru melangkah masuk dengan santai, rambutnya yang masih agak basah acak-acakan.
"Alisa, lo lihat—"
Kalimat Albiru terputus di udara. Detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di sekitarnya laksana menguap. Langkah kakinya terkunci mati di lantai. Sepasang netra elangnya membelalak sempurna, menatap lurus ke arah seorang gadis asing yang sedang duduk di samping adiknya.
Ellea yang menyadari kehadiran Albiru tersentak hebat. Jantungnya berdegup kencang karena panik. Dengan gerakan refleks yang cepat, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding, menyembunyikan parasnya dari pandangan sang suami.
Suasana kamar seketika menjadi sangat canggung dan tegang. Albiru masih terpaku, dadanya bergemuruh aneh melihat siluet samping wajah gadis itu yang tampak begitu halus dan sangat menawan. Ada denyut asing yang mendadak menyerang jantungnya dengan begitu agresif.
“Ekhem! Kak Al?” panggil Alisa.
Albiru pura-pura batuk, mencoba menguasai dirinya yang sempat linglung. "Alisa ... di mana Ellea?" tanya Albiru, matanya masih melirik penasaran ke arah gadis yang terus menunduk membelakanginya itu.
Alisa melirik Ellea, lalu beralih menatap kakaknya. Otak jahilnya langsung berputar cepat begitu menyadari bahwa Albiru sama sekali tidak mengenali istrinya sendiri jika tanpa cadar. Alisa tersenyum miring, berniat memberi pelajaran berharga pada kakaknya yang tinggi hati itu.
"Alisa nggak tahu, Kak. Kayaknya Kak El lagi keluar ke minimarket depan deh tadi," ucap Alisa berbohong dengan wajah tanpa dosa yang sangat meyakinkan.
Albiru mengernyitkan dahi, tidak sepenuhnya percaya. Pandangannya kembali mengunci sosok gadis tanpa cadar itu. "Terus ... dia siapa?" tanya Albiru penuh selidik, nadanya terdengar sedikit menuntut.
"Oh, ini? Ini teman Alisa, Kak. Iya, teman Alisa waktu SD dulu. Namanya ... Syafa!" jawab Alisa asal sekenanya, memberikan nama samaran baru.
Mendengar bualan Alisa, mata abu-abu Ellea seketika melotot tajam ke arah adik iparnya. Ia mencubit pelan pinggang Alisa di balik selimut, memberi kode agar menghentikan permainan gila ini. Namun, Alisa justru mengedipkan sebelah matanya, menyuruh Ellea untuk tetap diam mengikuti skenario.
Albiru melangkah maju satu kali, rasa penasarannya kian memuncak. "Teman SD lo? Perasaan gue nggak pernah lihat lo punya teman secantik ini, m-maksud gue, teman yang kayak gini. Lagian, kenapa dia harus sembunyiin wajahnya dari gue?" tanya Albiru ketus, mencoba menutupi kegugupan yang mendadak melanda hatinya.
"Ya ampun, Kak Al! Kak Syafa ini orangnya pemalu banget, apalagi kalau lihat cowok aneh bin galak kayak Kakak!" seru Alisa sengaja menyindir. "Udah deh, Kakak mending keluar sekarang. Jangan ganggu waktu main kita. Sana, hus-hus!"
Albiru mendengus kesal karena diusir oleh adiknya sendiri. Namun, sebelum ia membalikkan badan, sepasang matanya sempat menangkap jemari lentik gadis bernama Syafa.
"Kalau Ellea sudah pulang, suruh dia ke kamar gue," tukas Albiru akhirnya, menyerah dan melangkah keluar dari kamar sembari menutup pintu dengan sedikit hentakan.