Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal di Istana
Hari-hari terus berlalu, namun ingatan akan keputusan yang telah ditetapkan, serta kehadiran Thiago yang seolah selalu ada di sudut pikirannya meski ia berusaha sekuat tenaga untuk mengusirnya, tidak pernah benar-benar hilang. Setiap kali matanya terpejam, setiap kali ia sendirian, bayangan lelaki itu dan kenyataan perjodohan bodoh yang membelenggunya selalu muncul kembali, membuat dadanya terasa sesak dan berat.
Rasa kesal, kecewa, serta perasaan tidak berdaya sering kali menyelinap masuk ke dalam hatinya. Namun Bellatrix bukan tipe orang yang mudah menyerah atau larut dalam kesedihan. Ia selalu berhasil menekan perasaan itu kembali dengan tekad yang telah ia tanamkan kuat-kuat di dalam hatinya. Ia mengingatkan dirinya sendiri berulang kali. Selama ia masih bisa mengendalikan pikiran dan tindakannya, selama ia masih bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri, maka ia belum kalah sepenuhnya.
Tepat sehari setelah peristiwa di mana ia datang memprotes Kaisar dan Permaisuri, sebuah utusan resmi dari istana kerajaan tiba di kediaman keluarga Volkov. Ia membawa sebuah amplop tebal berwarna gading, tertutup rapat dengan segel lilin berukir lambang kerajaan yang megah dan tidak bisa dipalsukan. Begitu surat itu dibacakan, seluruh isi ruangan menjadi hening sejenak.
Isinya bukan lagi sekadar undangan atau pemberitahuan biasa, melainkan perintah resmi dari Kaisar dan Permaisuri:
PEMBERITAHUAN DAN PERINTAH KEDATANGAN
Kepada Lady Bellatrix Alexandra Volkov,
Demi kelancaran persiapan acara perkenalan resmi sebagai calon Putri Mahkota dan calon Permaisuri masa depan, Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri memerintahkan agar Yang Mulia segera pindah dan menetap di kediaman yang telah disiapkan khusus di lingkungan istana mulai hari ini. Selama menetap di sana, Yang Mulia akan mengikuti seluruh rangkaian pengarahan, pembelajaran tata krama, adat istiadat, serta segala persiapan yang diperlukan untuk menjalankan peran tersebut.
Kereta penjemputan dan pengawal kehormatan akan tiba pada pagi hari esok. Yang Mulia diperbolehkan didampingi oleh keluarga dan pengawal yang dianggap perlu.
Bellatrix hanya mendengarkan isinya dengan wajah datar, tanpa ekspresi apa pun. Namun di dalam hatinya, ia hanya bisa mendengus sinis. “Jadi ini cara mereka untuk mengurungku lebih rapat lagi. Pikir dengan memindahkanku ke dalam istana, aku akan menerima keadaan ini dan luluh begitu saja?” gumamnya pelan, cukup terdengar oleh dirinya sendiri.
Duke Leonidas dan Duchess Elara saling bertukar pandang, paham betul apa yang dirasakan putri mereka. Mereka tahu ini adalah jalan yang sudah ditetapkan oleh adat dan keputusan kekaisaran, dan tidak ada ruang untuk menolaknya lagi. Namun mereka juga khawatir melihat sifat keras kepala Bellatrix yang tidak akan pernah mau tunduk begitu saja.
“Nak, ini sudah menjadi prosedur yang berlaku. Kita tidak bisa menolaknya,” kata Duke Leonidas dengan nada lembut namun tegas. “Tapi ingat, kau tidak sendirian. Kakakmu Alexander akan ikut serta menetap bersamamu di sana. Ia akan selalu ada untuk melindungimu dan mendengarkan segala keluh kesahmu.”
Bellatrix mengangguk perlahan, namun sorot matanya tetap dingin dan penuh tekad. “Aku akan pergi, Ayah. Tapi tolong pahami satu hal: aku pergi bukan karena aku menerima nasib ini, bukan karena aku senang dengan posisi ini, melainkan hanya karena untuk saat ini aku belum memiliki cara lain untuk menolaknya. Selama aku berada di sana, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengubah siapa diriku. Dan jika suatu saat ada celah untuk membatalkan perjodohan ini, aku tidak akan ragu sedikit pun untuk melakukannya.”
Pagi harinya, tepat saat sinar matahari pertama mulai menyentuh bumi, sebuah kereta kerajaan yang megah telah berhenti di depan gerbang utama kediaman keluarga Volkov. Kereta itu dicat berwarna biru tua yang dalam, dihiasi ukiran daun dan bunga dari emas murni, ditarik oleh empat ekor kuda berwarna hitam mengkilap yang terlihat gagah dan terawat sempurna. Di sekelilingnya berdiri dua puluh orang pengawal berseragam rapi, membawa lambang kekaisaran dengan gagah.
Bellatrix keluar dari pintu rumah dengan langkah tenang namun tegas. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna hijau tua, tidak terlalu mencolok namun tetap terlihat elegan sesuai kedudukannya. Wajahnya datar, tidak ada senyum sedikit pun, tidak ada rasa gembira, dan tidak ada rasa takut. Ia terlihat seperti sedang menjalankan sebuah tugas yang membosankan, bukan menuju tempat yang seharusnya menjadi masa depan hidupnya. Di sampingnya berjalan Alexander, yang terus mengawasi adiknya dengan pandangan penuh perhatian.
Perjalanan menuju istana memakan waktu sekitar satu jam. Selama di dalam kereta, suasana terasa hening. Bellatrix hanya menatap ke luar jendela, memandang hamparan perkebunan dan jalanan yang semakin lebar, namun pikirannya melayang jauh, menyusun rencana-rencana kecil di dalam kepalanya.
Sesampainya di gerbang utama istana yang menjulang tinggi dan megah, Bellatrix tidak terkesan sedikit pun. Baginya, semakin megah tempat itu, semakin terasa seperti sangkar emas yang indah namun mengekang kebebasan. Ia dibawa menuju kediaman khusus yang terletak di sayap timur istana, sebuah bangunan terpisah yang luas, tenang, dan memiliki taman kecil sendiri.
“Ini tempatmu,” jelas Alexander. “Kamar kakak ada tepat di sebelah, jadi jika ada apa pun, panggil saja.”
Namun hari itu juga, tepat saat matahari mulai condong ke barat, mereka dipanggil untuk menghadiri jamuan makan malam resmi bersama Kaisar, Permaisuri, dan juga Putra Mahkota Thiago sendiri.
Begitu masuk ke ruang makan utama yang luas dan megah, Bellatrix langsung melihat sosok yang sudah sangat ia kenal dan juga sangat ia hindari. Thiago duduk di sebelah kanan Kaisar, duduk dengan tenang dan memancarkan wibawa yang kuat. Matanya segera tertuju pada Bellatrix begitu gadis itu melangkah masuk, namun Bellatrix sengaja menghindari tatapan itu seolah-olah lelaki itu tidak ada di ruangan yang sama.
“Silakan duduk,” sapa Permaisuri Seraphina dengan nada lembut dan ramah.
Bellatrix membungkuk memberi hormat sesuai tata krama, namun gerakannya terasa kaku dan formal, tidak ada kehangatan sama sekali. Ia duduk di kursi yang ditunjukkan, tepat di seberang meja dari tempat Thiago duduk. Sepanjang makan berlangsung, Bellatrix tetap bersikap datar, menjawab pertanyaan hanya dengan jawaban seperlunya, tidak pernah tersenyum, dan terlihat jelas tidak tertarik pada apa pun yang dibicarakan.
Bahkan, ia sengaja melakukan hal-hal yang dianggap tidak sopan menurut standar istana. Mengambil makanan terlalu cepat, tidak menunggu tuan rumah memulai, sesekali menatap ke luar jendela saat diajak bicara, dan tidak menyembunyikan raut wajah bosannya. Alexander di sampingnya hanya bisa menahan napas, khawatir adiknya akan membuat kesalahan besar.
Namun yang mengejutkan semua orang, terutama Bellatrix sendiri, Permaisuri justru terlihat semakin senang melihat sikapnya itu.
“Lihatlah, Alaric,” kata Permaisuri pada suaminya sambil tersenyum lembut, “dia tidak berpura-pura, tidak menyembunyikan apa yang ada di hatinya. Di istana ini terlalu banyak orang yang hanya pandai tersenyum dan berkata manis padahal hati mereka penuh tipu daya. Kejujuran semacam ini justru sangat berharga.”
Kaisar hanya mengangguk setuju, sedangkan Thiago yang diam saja dari tadi hanya menatap Bellatrix dengan tatapan yang sulit dibaca . Bukan marah, melainkan penuh rasa ingin tahu dan ketertarikan. Mereka tahu, itu adalah tindakan protes yang Bellatrix lakukan. Semakin Bellatrix menolak, keinginan mereka untuk menjadikannya sebagai pendamping putra mereka semakin kuat.
Bellatrix mengerutkan kening dalam hati. “Apa-apaan ini? Aku sengaja bersikap buruk agar mereka menganggapku tidak pantas, tapi kenapa malah dipuji?”
Malam itu, ia pulang ke kamarnya dengan perasaan semakin kesal. Rencananya untuk membuat mereka kecewa dan membatalkan pertunangan gagal.