"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Siasat di Balik Layar
Malam kian larut di dalam ruang kerja pribadi Arkan, namun ketegangan yang tercipta di antara mereka berdua justru terasa kian merapat, mengikis pasokan udara di dalam ruangan. Viona bisa merasakan dinginnya permukaan meja marmer yang menembus kain piyamanya, kontras dengan embusan napas hangat Arkan yang menerpa permukaan wajahnya. Pria itu mengurungnya begitu dekat, mengunci setiap ruang gerak hingga Viona bisa mendengar degup jantungnya sendiri yang berpacu liar.
"Kenapa Anda harus seobsesif ini, Tuan Arkan?" bisik Viona, suaranya bergetar menahan gelombang emosi yang kian sesak di dadanya. "Apakah menghancurkan masa depan orang lain, termasuk wanita yang seharusnya menjadi pendamping Anda, memberikan kepuasan bagi ego Anda?"
Arkan tidak langsung menjawab. Dia memiringkan kepalanya sedikit, menatap bibir Viona yang tampak sedikit pucat namun tetap mengundang gairah liarnya untuk kembali mendominasi. Jemari tangan kanannya terulur, menelusuri rahang ramping Viona dengan gerakan yang sangat pelan, hampir menyerupai sebuah belaian lembut yang menyembunyikan cakar tajam seorang predator.
"Kau salah menilai, Viona," suara bariton Arkan terdengar sangat rendah dan dingin, bergema di keheningan ruang kerja tersebut. "Aku tidak sedang memuaskan egoku. Aku hanya sedang menegakkan aturan bermainku. Clarissa mengira dia bisa mengatur bidak catur di atas papanku, dan itu adalah kebodohan terbesar yang harus dia bayar mahal."
"Dan aku? Apakah aku juga salah satu bidak catur Anda?" tantang Viona, matanya berkilat menatap sepasang manik hitam di hadapannya.
Sebuah senyuman sinis, penuh otoritas yang tak terbantahkan, terukir di sudut bibir tampan Arkan. "Kau bukan sekadar bidak, Viona. Kau adalah hadiah utama dari permainan ini yang sudah kubayar lunas. Dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh atau mengusik apa yang sudah menjadi hak eksklusifku."
Sebelum Viona sempat membalas kalimat angkuh itu, Arkan sudah menundukkan kepalanya. Dia tidak memberikan ruang untuk negosiasi atau perdebatan lebih lanjut. Bibirnya membungkam bibir Viona dengan paksa namun sarat akan kehangatan yang pekat, sebuah kecupan mendalam yang mengklaim kembali otoritas mutlaknya atas diri gadis itu. Viona meremas pinggiran kemeja kerja Arkan yang digulung, mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh runtuh di bawah dominasi gairah sang CEO yang kian menjerat jiwanya.
Ketika Arkan akhirnya melepaskan pagutan mereka, dia menatap Viona yang terengah-engah dengan tatapan posesif yang ekstrem. "Masuklah ke kamar tidur dan istirahatlah. Aku masih harus menyelesaikan beberapa dokumen dengan Baskara."
Viona tidak berkata apa-apa lagi. Dia segera memutar tubuhnya, melangkah keluar dari ruang kerja pribadi Arkan dengan perasaan yang kian carut-marut. Dia tahu, dinding es yang membentengi hatinya perlahan mulai retak oleh gairah dan intensitas yang Arkan berikan, sebuah kenyataan mengerikan yang kian menakutkan bagi masa depannya sendiri.
Keesokan paginya, suasana di kediaman mewah keluarga besar Mahendra tampak sangat tegang. Nyonya Sofia Mahendra, ibu kandung Arkan, duduk di sofa ruang tamu utama dengan wajah yang dipenuhi amarah yang tertahan. Di tangannya, sebuah tablet digital menampilkan grafik saham Wijaya Corps yang kian merosot akibat penarikan modal sepihak yang dilakukan oleh putranya semalam.
Suara langkah kaki yang tegas terdengar menggema di lorong luas kediaman tersebut. Arkan Mahendra melangkah masuk dengan setelan jas tiga potong berwarna biru tua yang dipotong sempurna, memancarkan aura dominasi mutlak yang tidak pernah goyah, bahkan di depan ibunya sendiri.
"Duduk, Arkan," suara Nyonya Sofia terdengar dingin dan penuh wibawa khas wanita dari kalangan aristokrat.
Arkan tidak duduk. Dia memilih berdiri di dekat perapian marmer, menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana bahannya dengan sikap malas namun penuh hormat yang terukur. "Ada apa, Ibu? Jadwalku sangat padat di kantor pusat pagi ini."
"Apa yang kau lakukan semalam pada keluarga Wijaya, Arkan?!" Nyonya Sofia melemparkan tablet digitalnya ke atas meja kaca dengan bunyi dentingan yang keras. "Kau membatalkan rencana pertunangan dengan Clarissa secara sepihak di depan orang tuanya! Kau tahu seberapa besar kerugian yang harus kita tanggung akibat pembatalan hubungan bisnis ini?!"
"Kerugian itu tidak seberapa dibandingkan dengan ketenanganku yang terusik, Ibu," jawab Arkan dengan nada suara yang sangat datar, seolah-olah dia sedang membicarakan cuaca pagi ini. "Clarissa telah melangkah terlalu jauh. Dia mencampuri urusan pribadiku di luar lingkaran bisnis, dan aku tidak menoleransi hal itu."
Nyonya Sofia menyipitkan matanya, menatap putranya dengan pandangan menyelidiki yang tajam. Sebagai seorang ibu yang membesarkan Arkan setelah kematian suaminya, dia tahu betul watak putranya yang berdarah dingin. Arkan tidak akan pernah mengambil keputusan ekstrem yang merugikan perusahaan hanya karena masalah sepele.
"Ini karena wanita itu, kan?" desis Nyonya Sofia, nadanya berubah menjadi sangat penuh selidik. "Wanita simpanan yang kau sembunyikan di penthouse lantai tiga puluh enam itu? Clarissa memberi tahu Ibu bahwa kau memiliki seorang wanita simpanan dari kelas bawah yang kau ikat dengan kontrak utang piutang!"
Rahang Arkan mengeras seketika mendengarnya. Kilat kemarahan yang pekat mendadak menyala di manik mata hitamnya, membuat atmosfer di dalam ruangan mewah itu mendadak turun drastis menjadi sangat dingin. Clarissa ternyata benar-benar tidak bisa menjaga mulutnya, bahkan setelah ancaman mematikan yang dia berikan semalam.
"Urusan pribatiku di penthouse tidak ada hubungannya dengan keputusan bisnis Mahendra Group, Ibu," ucap Arkan dengan penekanan yang sangat dalam pada setiap katanya, sebuah peringatan tersirat yang bahkan ditujukan untuk ibunya sendiri. "Siapa pun wanita yang bersamaku di sana, dia adalah urusanku sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya."
Nyonya Sofia berdiri dari duduknya, menatap putranya dengan ekspresi tidak percaya sekaligus marah. "Kau sudah gila, Arkan! Kau mengorbankan aliansi bisnis penting demi seorang wanita murahan yang bisa kau beli dengan uang?! Ingat posisimu! Kau adalah pemimpin Mahendra Group, bukan seorang pria remaja yang sedang dimabuk cinta buta!"
"Aku tidak sedang jatuh cinta, Ibu. Ini hanya soal kepemilikan," potong Arkan dingin, memutar tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan ruang tamu utama tanpa berniat mendengarkan khotbah ibunya lebih lanjut.
Nyonya Sofia menatap punggung putranya yang perlahan menghilang di balik pintu besar dengan napas yang memburu. Dia mengepalkan tangannya yang dihiasi cincin berlian mahal. Dia tidak akan membiarkan masa depan Mahendra Group hancur hanya karena seorang wanita simpanan kelas bawah yang tidak jelas asal-usulnya.
"Cari tahu semua informasi tentang wanita bernama Viona itu," perintah Nyonya Sofia dengan nada rendah kepada kepala pengawal pribadinya yang berdiri di sudut ruangan. "Aku ingin tahu setiap detail tentang hidupnya, keluarganya, dan di mana kelemahannya berada. Jika Arkan tidak bisa menendangnya keluar, maka aku sendiri yang akan menyingkirkannya tanpa bekas."
Sementara itu, di kantor divisi administrasi logistik, Viona mencoba memfokuskan dirinya pada layar komputer. Namun, konsentrasinya terus terusik oleh rasa cemas yang kian menghimpit dadanya. Dia tahu keputusan Arkan membatalkan pertunangan dengan Clarissa akan memicu badai yang jauh lebih besar. Dan instingnya mengatakan bahwa badai itu kini sedang bergerak menuju ke arahnya.
Saat jam makan siang tiba, ponsel Viona kembali bergetar di atas meja kerja. Berbeda dari kemarin, kali ini sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sangat dia kenali.
“Temui aku di lobi gedung sekarang. Baskara sudah menunggumu di bawah dengan mobil. — Arkan.”
Viona menghela napas panjang, meremas jemarinya yang mendadak dingin. Perintah dari sang penguasa mutlak tidak pernah bisa dibantah. Dengan langkah yang berat, dia merapikan meja kerjanya, mengambil tasnya, dan melangkah menuju lift untuk turun ke lobi utama gedung kantor pusat logistik tersebut.
Setibanya di lobi, dia bisa melihat mobil Rolls-Royce hitam milik Arkan sudah terparkir megah di depan pintu masuk utama. Baskara berdiri di samping pintu penumpang belakang, langsung membukakannya begitu melihat figur Viona yang berjalan mendekat.
"Silakan masuk, Nona Viona," ucap Baskara dengan nada suara yang sangat formal dan penuh hormat.
Viona melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang mewah dan sejuk tersebut. Di sudut kursi kulit hitam yang luas, Arkan Mahendra duduk dengan laptop yang menyala di pangkuannya. Pria itu bahkan tidak menoleh saat Viona mendudukkan diri di sampingnya, menutup pintu dengan bunyi klik yang pelan.
Mobil mulai bergerak membelah jalanan Jakarta yang padat. Keheningan yang intens menyelimuti mereka berdua selama beberapa menit, sebelum akhirnya Arkan menutup laptopnya dengan gerakan lambat dan memutar tubuhnya menghadap Viona.
Mata elang Arkan menyapu penampilan Viona yang sangat sederhana siang ini, lalu tatapannya terkunci pada pergelangan tangan gadis itu yang masih menyisakan sedikit bekas kemerahan akibat cengkeramannya dua malam lalu. Pria itu mengulurkan tangannya, mengambil pergelangan tangan Viona dengan gerakan yang jauh lebih lembut, lalu mengusap bekas merah itu dengan ibu jarinya.
"Apakah luka di tanganmu sudah diobati dengan obat yang kukirimkan?" tanya Arkan, suaranya terdengar bariton rendah, kehilangan sebagian besar nada tiraninya untuk sesaat.
Viona mencoba menarik tangannya kembali, namun Arkan menahannya dengan kekuatan yang lembut namun tegas, menolak untuk dilepaskan. "Sudah, Tuan. Ini bukan apa-apa," jawab Viona pendek, menolak untuk menatap mata pria itu.
"Baguslah," gumam Arkan. Dia melepaskan tangan Viona perlahan, lalu bersandar kembali pada kursi kulitnya. "Mulai besok, kau tidak perlu lagi datang ke kantor logistik ini untuk bekerja."
Bagaikan disambar petir untuk kesekian kalinya, Viona seketika menoleh dan menatap Arkan dengan mata yang melebar penuh keterkejutan dan kemarahan. "Apa maksud Anda, Tuan Arkan?! Kenapa Anda tiba-tiba memecatku?!"
"Aku tidak memecatmu, Viona. Aku hanya memindahkan tempat kerjamu," jawab Arkan dengan ekspresi wajah yang sangat tenang dan angkuh. "Mulai besok, kau akan bekerja sebagai asisten pribadi keduaku di kantor pusat Mahendra Group. Meja kerjamu akan berada tepat di luar ruangan kerja pribadiku, di samping meja Baskara."
"Aku tidak mau!" tolak Viona tegas, keberaniannya mendadak meledak karena merasa ruang gerak dan kebebasannya kian dirampas habis oleh pria ini. "Aku ingin tetap bekerja di divisi administrasi logistik! Berada di kantor pusat hanya akan membuatku kian terikat dengan Anda di siang hari, dan aku tidak ingin semua orang di sana melihatku sebagai wanita simpanan Anda!"
Mendengar penolakan tegas dari Viona, rahang Arkan kembali mengeras seketika. Kilat posesif dan dominasi mutlak kembali menyala di manik mata hitamnya yang tajam. Pria itu mendekatkan tubuhnya ke arah Viona, mengunci pandangan gadis itu dalam cengkeraman tatapan matanya yang sangat mengintimidasi.
"Ini bukan sebuah penawaran yang bisa kau tolak, Karyawan Viona," bisik Arkan dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Ibu kandungku sudah mulai menyelidiki keberadaanmu akibat mulut lancang Clarissa semalam. Dan satu-satunya cara untuk memastikan kau dan ibumu di rumah sakit tetap aman dari jangkauan kekuasaan keluargaku adalah dengan menempatkanmu tepat di bawah pengawasan mataku sendiri selama dua puluh empat jam penuh."
Viona seketika membeku mendengarnya. Rasa takut yang luar biasa kian menjalar luas di dalam benaknya, menyadari bahwa jeruji sangkar emas berkilau yang diciptakan oleh Arkan Mahendra kini telah bertransformasi menjadi sebuah benteng perlindungan sekaligus penjara abadi yang siap mengurung seluruh sisa hidup dan jiwanya tanpa ampun.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.