"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
BAB 7
Di sebuah rumah mewah lain di kota itu, Mama Anggun mondar-mandir di ruang tengah dengan wajah gelisah. Tangannya meremas ujung selendang yang ia kenakan.
"Papa..." panggilnya pelan.
Papa Deni yang sedang membaca koran menurunkan kacamatanya.
"Ada apa, Ma? Terus saja berjalan sana sini. Bikin pusing saja melihatnya."
"Mama cuma memikirkan Ranu. Dia pindah tinggal sendirian di rumah baru itu. Siapa yang akan menjaganya? Siapa yang akan mengurusnya?"
"Ranu sudah dewasa, Ma. Dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Dia juga punya asisten dan supir. Tidak perlu terlalu cemas."
"Tapi Mama tidak tenang. Mama mau ke sana, tapi Ranu tak mau ditemani. Di sini juga Ning lagi hamil. Mama takut dia kenapa-kenapa nanti nggak ada yang temani," jawab Mama Anggun dengan suara bergetar. "Mama punya ide. Bagaimana kalau Mama perkenalkan dia dengan anak teman Mama? Gadis yang baik, cantik, dan pandai. Siapa tahu Ranu bisa tertarik. Dia butuh teman, Pa."
Papa Deni menggeleng pelan.
"Itu bukan ide yang bagus. Biarkan Ranu menentukan pilihannya sendiri. Jangan dipaksa-paksa begitu."
"Tapi kalau tidak Mama dorong, kapan dia akan mau melupakan Ning?" tegas Mama Anggun. "Mama tidak mau dia terus sendiri begitu. Dia butuh seseorang yang bisa menyemangatinya."
Belum sempat Papa Deni menjawab, suara pintu terbuka terdengar. Ning dan Yuda masuk beriringan. Ning tersenyum ramah sambil mencium punggung tangan Mama Anggun dan Papa Deni.
"Assalamualaikum, Mama. Assalamualaikum, Papa."
"Waalaikumsalam, Nak. Sudah pulang?" sapa Mama Anggun sambil memegang perut Ning yang sudah mulai terlihat membuncit. "Bagaimana perasaanmu hari ini?"
"Alhamdulillah baik, Ma. Perutnya juga sudah lumayan besar. Hari ini kami mau ke rumah sakit untuk USG lagi. Ingin tahu jenis kelaminnya," jawab Yuda.
Mama Anggun langsung tersenyum lebar.
"Wah, Mama ikut ya? Mama ingin melihatnya juga."
"Tentu saja boleh, Ma. Kami senang banget kalau gitu," sahut Ning lembut.
Papa Deni tersenyum lega. Percakapan tentang Ranu pun terhenti. Mereka tidak ingin membahas hal lain yang bisa membuat suasana menjadi canggung atau menyakiti hati pasangan muda itu. Semua perhatian tertuju pada calon cucu yang dinanti-nanti.
****
Sementara itu di kantor, suasana masih terang benderang meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hanya ada Ranu dan Galuh yang tersisa di ruangan itu. Tumpukan berkas belum selesai diperiksa.
Galuh menguap pelan, lalu mencoba menahan matanya yang terasa berat. Ia berusaha membaca satu halaman dokumen, namun pandangannya kabur. Perlahan kepalanya terkulai dan jatuh di sofa tamu ruangan itu. Napasnya teratur. Ia tertidur pulas tanpa sadar.
Ranu mendongak dari tumpukannya. Ia melihat Galuh yang sudah terlelap. Wajah wanita itu tampak damai, tidak tegang seperti saat bekerja. Ranu berdiri perlahan. Ia berjalan mendekat, lalu melepaskan jas kerjanya. Dengan gerakan hati-hati, ia menyelimutkan jas itu ke tubuh Galuh.
"Dasar tidak kuat," gumamnya pelan. "Percuma saja ada kopi. Mata tetap saja lengket."
Ranu kembali ke kursi kerjanya. Ia tidak membangunkan Galuh. Ia memilih menyelesaikan sisa pekerjaan sendirian. Waktu berlalu pelan. Matanya sesekali melirik ke arah meja sekretaris itu.
Tak lama kemudian, Galuh membuka mata perlahan. Ia terkejut melihat jam dinding.
"Ya ampun! Sudah malam sekali!"
Ia hendak bangun, namun baru menyadari ada sesuatu yang hangat menutupi tubuhnya. Ia melihat jas hitam yang tergantung di bahunya. Ia menoleh cepat. Ranu sedang duduk di mejanya, menatapnya.
"Ini... jas Bapak?" tanya Galuh bingung.
"Kau tidur kedinginan," jawab Ranu singkat.
Galuh diam sejenak. Ia melihat wajah Ranu yang juga tampak lelah, matanya sedikit sayu. Ada rasa haru yang menyelinap di dadanya.
"Terima kasih, Pak. Bapak tidak membangunkan saya."
Ranu mencondongkan tubuh sedikit. Tatapannya tajam namun ada senyum jahil di bibirnya.
"Kenapa menatap begitu? Jangan-jangan kau mulai jatuh cinta pada bos galak ini?"
Wajah Galuh langsung memerah padam. Ia bangkit berdiri dengan cepat.
"Siapa yang jatuh cinta! Bapak jangan sombong! Saya hanya terharu sebentar saja. Lagian siapa yang mau cinta pada orang yang suka menyuruh dan memarahi terus!"
Ranu tertawa kecil mendengar protesnya.
"Sudah-sudah. Bereskan barangmu. Kita pulang."
Mereka pun berjalan menuju mobil tanpa banyak bicara lagi.
Sesampainya di rumah, Mbok Ijah sudah menunggu di depan pintu.
"Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya. Arkan sudah tidur nyenyak di kamar."
"Terima kasih, Mbok," ucap Ranu.
Galuh menunduk merasa bersalah.
"Maaf ya Mbok, kami pulang terlambat. Merepotkan sekali."
"Tidak apa-apa Nyonya. Tugas saya memang menjaga rumah," jawab Mbok Ijah ramah.
Ranu langsung melangkah menuju kamarnya.
"Saya istirahat duluan."
"Iya Pak. Selamat malam."
Galuh berjalan pelan menuju kamar Arkan. Ia membuka pintu perlahan. Cahaya lampu tidur yang remang menerangi wajah damai putranya. Galuh masuk dan membaringkan tubuhnya di samping Arkan. Ia memejamkan mata, namun pikirannya masih memikirkan kejadian di kantor tadi.
Pagi harinya, suasana rumah masih hening. Ranu baru selesai mandi dan sedang mengenakan pakaiannya ketika telepon genggamnya berdering. Ia melihat nama yang tertera di layar.
"Mama?"
Ranu segera mengangkatnya.
"Halo, Ma?"
"Assalamualaikum, Ran. Kamu di rumah kan?"
"Iya. Kenapa, Ma?"
"Kami sudah sampai di bandara sekarang. Tolong jemput Mama dan Papa ya."
Ranu tertegun sejenak. Matanya membelalak kaget.
"Mama? Papa? Kalian ke sini? Tanpa bilang dulu?"
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up