Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Bu Fina
Meskipun Arsen telah memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang semalam ia lontarkan, hati Rindu tetap belum menemukan ketenangan.
Sejak semalam pikirannya terasa kacau. Setiap kali mengingat aroma parfum manis yang melekat di jas Arsen, dadanya kembali dipenuhi kegelisahan.
Penjelasan Arsen memang terdengar masuk akal, tetapi entah mengapa nalurinya sebagai seorang istri terus mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Rindu duduk termenung di ruang makan sejak pagi. Secangkir teh yang sudah mulai dingin masih utuh di hadapannya. Tatapannya kosong, sementara pikirannya terus mengulang percakapan semalam.
"Rindu!"
Suara nyaring Bu Ratna memanggil namanya membuat Rindu tersentak. Ia segera bangkit dari kursinya.
"Rindu!" panggil Bu Ratna sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi karena kesal tidak langsung mendapat jawaban.
"Iya, Ma," sahut Rindu sambil bergegas menghampiri ibu mertuanya.
Bu Ratna memandang Rindu dengan wajah datar.
"Dari tadi Mama panggil, malah melamun. Kerjaannya apa, sih? Di rumah cuma diam saja."
"Maaf, Ma. Tadi Rindu nggak dengar."
Bu Ratna mendengus pelan, jelas tidak puas dengan jawaban itu.
"Hari ini Mama mau makan sop iga. Masak itu buat makan malam."
"Iya, Ma."
"Tapi jangan asal masak. Kemarin sayurnya saja kurang empuk."
Rindu hanya mengangguk. Ia memilih diam daripada memperpanjang perkataan ibu mertuanya.
"Baik, Ma. Nanti Rindu usahakan lebih enak."
Rindu lalu berkata pelan.
"Tapi daging iga di kulkas sudah habis, Ma. Rindu harus ke supermarket dulu untuk beli."
"Ya sudah, pergi sana," ucap Bu Ratna singkat tanpa sedikit pun menatap wajah menantunya.
"Jangan lama-lama. Jangan sampai nanti makan malam terlambat cuma karena kamu belanja."
"Iya, Ma."
"Oh ya," Bu Ratna kembali menghentikan langkah Rindu.
"Belanjanya yang perlu saja. Jangan mentang-mentang pakai uang Arsen, jadi belinya macam-macam."
Ucapan itu terasa seperti tamparan bagi Rindu.
Padahal selama ini ia selalu berhati-hati menggunakan uang belanja rumah tangga. Bahkan sering kali ia menyisihkan sisa uang untuk ditabung kembali.
Namun, Rindu hanya menundukkan kepala.
"Baik, Ma."
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik menuju kamarnya untuk mengambil tas.
Setelah mengambil tas dan dompetnya, Rindu berpamitan singkat kepada Bu Ratna. Tidak ada balasan hangat dari ibu mertuanya. Bu Ratna hanya menganggukkan kepala sekilas sebelum kembali menonton televisi.
Rindu mengembuskan napas pelan, lalu keluar rumah dan mengendarai mobilnya menuju supermarket yang tidak terlalu jauh dari kediaman mereka.
Sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Arsen semalam.
"Mungkin memang aku yang terlalu sensitif," gumamnya lirih.
Tak lama kemudian, mobilnya memasuki area parkir supermarket.
Setelah mengambil keranjang belanja, Rindu langsung menuju bagian bahan makanan segar. Ia melewati deretan sayuran, buah-buahan, lalu berhenti di area daging.
Matanya menyapu etalase pendingin yang berisi berbagai potongan daging sapi.
"Hmm... iga sapinya yang mana, ya?" gumamnya pelan.
Saat sedang memilih, tiba-tiba terdengar suara perempuan dari sampingnya.
"Maaf... ini Rindu, kan?"
Rindu menoleh. Di sampingnya berdiri seorang perempuan berusia sekitar awal tiga puluhan.
Penampilannya anggun dengan kemeja putih dipadukan celana panjang krem. Rambutnya digelung sederhana, sementara senyumnya terlihat ramah.
Rindu balas tersenyum sopan.
"Iya... maaf, ya. Kita pernah ketemu?"
Perempuan itu tertawa kecil.
"Pantesan lupa. Kita cuma ketemu sekali."
Rindu mencoba mengingat wajah itu, tetapi tetap saja terasa asing.
"Maaf, saya benar-benar lupa."
"Nggak apa-apa."
Perempuan itu mengulurkan tangan.
"Aku Fina."
Rindu mengernyitkan dahi.
"Fina?"
"Iya. Fina."
Beberapa detik kemudian mata Rindu membesar.
"Oh..."
Kini ia mengingatnya. Perempuan inilah yang pernah dikenalkan Arsen saat acara ulang tahun perusahaan beberapa waktu lalu.
"Maaf, bu Fina. Saya benar-benar lupa wajahnya."
Bu Fina tersenyum hangat.
"Santai saja. Waktu itu kita juga cuma ngobrol sebentar, by the way, panggil mbak aja. Mbak Fina."
Keduanya berjabat tangan. Saat tangan mereka bersentuhan, tanpa sadar Rindu menghirup aroma parfum yang dikenakan Bu Fina.
Seketika ia terdiam. Bukan. Ini bukan aroma yang ada di jas Arsen.
Parfum Bu Fina beraroma segar dengan sentuhan citrus yang lembut, sama sekali berbeda dengan parfum manis beraroma bunga dan vanila yang selama beberapa hari terakhir melekat di pakaian suaminya.
Rindu berusaha menyembunyikan perubahan ekspresinya.
"Belanja juga, Mbak?" tanyanya berusaha terdengar biasa.
"Iya. Baru pulang semalam, kulkas di rumah kosong."
"Baru pulang?"
"Iya."
Bu Fina tersenyum.
"Eh, gimana kabarnya Arsen? Masih sibuk, ya?"
Pertanyaan itu membuat Rindu spontan menjawab,
"Baik."
Lalu ia tersenyum kecil.
"Bukannya Mbak Fina sering ketemu sama Mas Arsen?"
Bu Fina tampak heran.
"Sering ketemu?"
"Iya..."
Rindu mengangguk pelan.
"Soalnya Mas Arsen bilang akhir-akhir ini sering rapat sama Mbak."
Ekspresi Bu Fina berubah bingung.
"Hah?"
Ia menggeleng pelan.
"Nggak, kok."
Rindu mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Memangnya bukan?"
"Pertemuan terakhir kami itu waktu ulang tahun perusahaan."
Bu Fina tampak berpikir sejenak.
"Setelah acara itu aku langsung berangkat ke Australia buat ngurus proyek cabang."
Ia tersenyum.
"Baru balik kemarin sore."
Deg!
Jantung Rindu seakan berhenti berdetak.
Wajahnya perlahan memucat. Ucapan Bu Fina terasa seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.
Kalau begitu...
Siapa perempuan yang selama ini ditemui Arsen?
Dan...
Parfum siapa yang sebenarnya menempel di jas suaminya?
Arsen telah berbohong. Bukan hanya sekali.
Melainkan dengan sangat tenang, menatap matanya sambil menciptakan alasan yang ternyata sama sekali tidak benar.
"Rindu?"
Suara Bu Fina membuyarkan pikirannya.
"Kamu kenapa?"
Rindu tersentak.
Ia buru-buru memaksakan senyum, meski wajahnya masih pucat.
"Ah... nggak apa-apa, Mbak."
"Yakin?"
"Iya."
Rindu mengangguk cepat.
"Mungkin aku lagi nggak enak badan."
"Wajah kamu pucat banget."
"Nggak apa-apa. Mungkin kecapekan."
Bu Fina tampak masih khawatir.
"Kalau gitu jangan dipaksakan belanjanya."
"Iya, Mbak."
Setelah berpamitan, Rindu melangkah menjauh dengan langkah yang terasa begitu berat.
Pikirannya kosong. Ia bahkan tidak lagi ingat tujuan awalnya datang ke supermarket.
Semuanya seolah menghilang dari benaknya. Yang tersisa hanyalah satu kenyataan pahit.
Arsen telah membohonginya. Tanpa sadar, Rindu keluar begitu saja dari supermarket.
Keranjang belanja yang tadi diambil telah ia letakkan kembali begitu saja di dekat pintu masuk.
Sesampainya di mobil, ia duduk diam sambil menatap kosong ke arah kemudi.
Tangannya bergetar. Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar.
Nama Arsen muncul di layar..
Sayang, maaf ya. Hari ini kayaknya aku pulang larut lagi. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Jangan nungguin aku makan malam, ya. Aku sayang banget sama kamu. Nanti kalau sudah selesai kerja, aku langsung pulang. ❤️
Rindu membaca pesan itu berulangkali.
Dulu, kata-kata manis seperti itu selalu mampu membuatnya tersenyum.
Namun kini. Setiap kalimat justru terasa seperti kebohongan.
Kalau benar Arsen harus lembur...
Mengapa ia harus berbohong soal Bu Fina?
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰