Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 30 : Air Mata Penyesalan
Ruang interogasi kepolisian yang dingin dan steril itu menjadi saksi bisu runtuhnya seorang Arka Mahendra. Di atas meja kayu yang kasar, flashdisk perak milik Rian tergeletak, kini telah menjadi bukti formal yang akan menghancurkan hidup Selena dan mengungkap konspirasi jahat yang selama ini membungkam kebenaran. Namun, di dalam ruangan itu, Arka tidak merasa menang. Ia justru merasa seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh kemanusiaannya.
Setelah pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa bukti tersebut autentik dan segera mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Selena serta oknum internal yang terlibat, Arka dibiarkan sendirian di ruangan tersebut. Ia duduk di kursi besi yang tidak nyaman, menatap dinding kosong yang berwarna abu-abu kusam.
Pikirannya melayang kembali ke hari-hari di kediaman Mahendra—ke hari-hari di mana Nadira, istrinya yang lembut namun teguh, mencoba membela dirinya sendiri.
"Arka, tolong... aku tidak mengambilnya. Mengapa kau tidak mau mendengarkanku?"
Suara itu terngiang di kepalanya, memutar memori yang sebelumnya ia abaikan dengan angkuh. Ia ingat betapa dinginnya tatapan mata yang ia lemparkan kepada Nadira saat itu. Ia ingat bagaimana ia dengan kejam memerintahkan istrinya untuk pindah ke paviliun belakang, membuang wanita itu seolah-olah ia adalah sampah yang mencemari reputasi keluarga Mahendra.
Arka menutup wajahnya dengan kedua tangan. Jemarinya yang biasanya memegang kendali atas perusahaan triliunan rupiah kini gemetar hebat. Sebuah isak tertahan lolos dari bibirnya. Itu adalah tangisan pertama yang pernah ia keluarkan sejak kematian ibunya saat ia masih berusia tujuh tahun. Ia selalu diajarkan bahwa pria tidak boleh menangis, bahwa emosi adalah kelemahan. Namun, di saat kebenaran menghantamnya seperti palu godam, pertahanannya roboh tak tersisa.
Ia teringat dengan jelas sebuah malam, beberapa minggu sebelum Nadira pergi. Arka tidak sengaja terbangun dan melihat samar-samar bayangan Nadira di balkon paviliun. Wanita itu tidak tahu bahwa Arka memperhatikannya dari jauh. Nadira duduk meringkuk, bahunya terguncang pelan, menahan isak tangis yang berusaha ia redam agar tidak terdengar oleh siapa pun. Nadira menangis sendirian, berjuang melawan rasa sakit atas fitnah yang menghancurkan dunianya, sementara Arka—suaminya sendiri—sedang duduk di kamar utama bersama Selena, membiarkan wanita itu membisikkan racun-racun fitnah ke dalam telinganya.
"Aku begitu bodoh..." bisiknya parau, suaranya pecah dalam kesunyian ruangan. "Aku membiarkanmu hancur sendirian, Nadira."
Arka merasa dadanya sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Luka yang ia berikan kepada Nadira bukan sekadar luka fisik, melainkan luka di jiwa—luka karena pengkhianatan dari orang yang seharusnya menjadi pelindungnya. Ia teringat bagaimana Nadira selalu menolak bantuan finansialnya, bagaimana Nadira bekerja keras untuk membiayai sekolah anak-anak miskin, dan bagaimana wanita itu memegang erat martabatnya sebagai satu-satunya warisan dari mendiang ayahnya.
Dan Arka? Ia justru menginjak-injak martabat itu dengan kesombongannya. Ia telah memfitnah Nadira, merendahkannya di depan keluarga besar, dan memperlakukannya seolah-olah dia adalah kriminal.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Inspektur kepolisian masuk dengan langkah ragu. "Tuan Arka, kami sudah mendapatkan lokasi keberadaan Selena. Dia mencoba melarikan diri ke luar negeri, tapi tim kami sudah mencegatnya di bandara."
Arka tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan tanpa mendongak.
"Tuan Arka?" inspektur itu memanggil lagi, merasa heran melihat sosok CEO yang biasanya arogan kini tampak begitu hancur.
"Tinggalkan saya sendiri," ucap Arka dingin, suaranya serak namun tegas.
Setelah inspektur itu pergi, Arka kembali terdiam dalam tangisnya. Ia menyadari bahwa kemenangan di mata hukum ini tidak berarti apa-apa. Hukuman penjara bagi Selena tidak akan menghapus air mata yang jatuh di pipi Nadira. Hukuman itu tidak akan mengembalikan senyum Nadira yang hilang, atau rasa percaya yang telah ia hancurkan hingga menjadi debu.
Ia bangkit dari kursinya, berjalan keluar dari kantor polisi dengan langkah gontai. Langit di luar tampak mendung, seolah dunia pun ikut berduka atas kekejian yang telah ia lakukan. Ia tidak memedulikan tatapan orang-orang yang mengenalnya. Ia tidak peduli jika besok media akan memberitakan kejatuhan reputasi Mahendra Group. Yang ia pedulikan hanyalah satu: Nadira.
Ia kembali ke mobilnya, menatap bangku kosong di sampingnya—bangku yang seharusnya diduduki oleh Nadira. Ia mengambil foto pernikahan mereka yang sempat ia robek, lalu ia rekatkan kembali dengan susah payah menggunakan selotip bening. Di dalam foto itu, Nadira tersenyum—sebuah senyum yang manis namun tampak asing di mata Arka saat itu. Kini, senyum itu tampak begitu menyakitkan, sebuah pengingat akan ketulusan yang telah ia sia-siakan.
"Nadira," gumamnya, matanya menatap tajam ke depan, ke arah jalanan yang sepi. "Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan pengampunanmu. Aku tahu bahwa luka yang kuberikan mungkin tidak akan pernah bisa sembuh sepenuhnya. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja."
Arka memacu mobilnya tanpa tujuan yang pasti, namun ia tahu satu hal: ia harus memulai pencarian yang sesungguhnya. Ia akan mencari Nadira ke mana pun, meskipun ia harus mencarinya sampai ke ujung dunia. Ia akan meminta maaf dengan cara yang paling tulus, bahkan jika ia harus berlutut di hadapan Nadira selama berhari-hari. Ia tidak akan menggunakan kekuasaan, ia tidak akan menggunakan ancaman. Ia hanya akan datang sebagai Arka—seorang pria yang telah kehilangan segalanya, termasuk hatinya sendiri.
Di tengah perjalanan, ia berhenti di sebuah toko bunga kecil yang buka dua puluh empat jam. Ia membeli setangkai mawar putih—bunga yang pernah ia lihat Nadira kagumi saat mereka melewati taman kota suatu sore. Nadira saat itu tidak meminta dibelikan, ia hanya tersenyum tipis dan bergumam, "Bunga ini terlihat begitu murni, seperti kejujuran yang sering kali terlupakan."
Kejujuran. Kata itu menusuk hati Arka sekali lagi.
Ia meletakkan mawar itu di bangku penumpang. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Setiap sudut kota Jakarta kini terasa seperti ruang memorial bagi hubungan mereka yang telah mati karena kesalahannya. Ia melihat taman tempat mereka dulu pernah singgah, ia melihat kedai kopi tempat ia dulu sering mengabaikan panggilan telepon Nadira. Semuanya menjadi pengingat akan setiap detik yang ia buang dengan kesombongan.
Arka menyadari bahwa ia telah berubah. Ia bukan lagi pria yang mengukur segala sesuatu dengan materi. Ia telah belajar bahwa kekayaan hanyalah angka, sedangkan kasih sayang adalah mata uang yang sesungguhnya. Dan ia telah bangkrut total di mata Nadira.
"Aku akan mencarimu," bisiknya lagi, suaranya kini terdengar seperti janji suci. "Aku akan mencarimu sampai aku menemukanmu. Dan jika kau tidak mau kembali, setidaknya, biarkan aku memastikan bahwa sisa hidupmu akan penuh dengan kebahagiaan—bahkan jika kebahagiaan itu tidak melibatkan diriku."
Malam itu, Arka mengendarai mobilnya menuju apartemen kecil yang pernah menjadi tempat pelarian Nadira. Ia telah mendapatkan informasi dari detektif swasta tentang lokasi terakhir yang mungkin dikunjungi Nadira. Apartemen itu terletak di pinggiran kota, jauh dari kemewahan rumah Mahendra yang menyesakkan.
Saat ia sampai, ia mendapati gedung itu sudah tua dan kumuh. Ia memarkir mobilnya di sudut yang gelap, menatap ke arah jendela-jendela apartemen yang remang-remang. Ia tidak berani untuk mengetuk pintu. Ia takut jika ia mengetuknya, ia akan mendapati bahwa Nadira sudah pindah lagi, atau lebih buruk lagi—ia takut melihat tatapan kebencian di mata istrinya.
Arka keluar dari mobil, berdiri di sana dalam guyuran hujan yang mulai turun. Ia tidak menggunakan payung. Ia membiarkan air hujan membasahi tubuhnya, mendinginkan amarah dan rasa bersalah yang membakar jiwanya. Ia menatap ke atas, ke lantai empat, di mana ia berharap Nadira berada.
Ia tidak tahu bahwa di balik salah satu jendela itu, seorang wanita sedang duduk di depan jendela, menatap ke bawah dengan mata yang kosong. Nadira tidak melihat Arka, namun ia merasakan kehadiran seseorang yang mengawasi gedung tempat tinggalnya. Ia merasa seolah takdir sedang mencoba mempertemukan mereka kembali.
Arka berdiri di sana selama berjam-jam. Ia tidak bergerak. Ia hanya menunggu, berharap bahwa ia bisa mendapatkan keberanian untuk sekadar mengetuk pintu itu. Namun, ia tidak melakukannya. Ia tahu, ia belum siap. Ia perlu membersihkan dirinya—bukan dari air hujan, melainkan dari sisa-sisa kesombongan yang masih melekat di hatinya.
"Maafkan aku, Nadira," bisiknya di tengah desiran hujan. "Maafkan aku karena butuh waktu selambat ini untuk melihat kenyataan. Maafkan aku karena telah menjadi monster yang menghancurkan duniamu."
Arka akhirnya berbalik, kembali ke mobilnya dengan langkah yang lunglai. Ia tahu, perjuangannya baru saja dimulai. Ia tidak akan menyerah, tapi ia juga tidak akan memaksa. Ia akan menunggu sampai ia benar-benar pantas untuk meminta maaf. Ia akan memperbaiki semua kehancuran yang ia sebabkan—membersihkan nama baik Nadira di hadapan keluarga, menghancurkan sisa-sisa pengaruh Selena, dan membangun kembali kepercayaan yang telah ia rusak.
Ia menyalakan mesin mobil, meninggalkan apartemen itu dengan janji yang terukir di dalam hatinya. Esok, ia akan memulai proses penebusan. Ia akan memberikan segalanya untuk Nadira. Tanpa syarat. Tanpa kontrak. Hanya cinta yang tulus dan penyesalan yang mendalam.
Dalam perjalanan pulang, Arka memutar radio, namun hanya suara statis yang ia dengar. Ia mematikannya, membiarkan keheningan menguasai mobil. Keheningan itu kini terasa tidak lagi menyesakkan, melainkan menenangkan. Itu adalah ruang kosong yang ia siapkan untuk menyambut kembali Nadira suatu saat nanti.
Arka tahu, jalan di depannya tidak akan mudah. Ia mungkin akan kehilangan jabatannya, ia mungkin akan disingkirkan oleh dewan direksi Mahendra Group karena skandal ini, dan ia mungkin akan dianggap gila karena melepaskan segalanya demi seorang wanita. Namun, itu tidak masalah. Baginya, satu senyuman Nadira jauh lebih berharga daripada seluruh imperium Mahendra.
Ia memandang ke arah langit yang mulai terang di ufuk timur. Fajar akan segera tiba. Sebuah babak baru dalam hidupnya akan dimulai. Dan Arka sudah siap. Ia sudah siap untuk menebus setiap tetes air mata yang jatuh dari mata Nadira. Ia sudah siap untuk memperbaiki setiap keretakan yang ia buat.
Karena bagi Arka Mahendra, ini bukan lagi tentang memenangkan dunia. Ini adalah tentang memenangkan hati satu-satunya orang yang pernah mencintainya dengan tulus. Dan dia tidak akan pernah berhenti berjuang sampai dia berhasil mendapatkan pengampunan itu. Atau setidaknya, sampai dia tahu bahwa Nadira bahagia—karena itu adalah satu-satunya hal yang bisa meringankan beban penyesalan yang kini menghimpit dadanya.
Arka Mahendra, sang CEO yang dulu begitu angkuh dan dingin, kini telah tiada. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang belajar arti penyesalan, seorang pria yang belajar arti cinta, dan seorang pria yang siap menempuh jalan apa pun untuk menebus kesalahannya. Perjalanan itu panjang, dan Arka siap untuk menempuhnya dengan kaki telanjang, jika itu memang yang harus ia lakukan untuk sampai di sisi Nadira kembali.
Ia memacu mobilnya kembali ke rumah, bukan lagi untuk mencari kenyamanan, melainkan untuk memulai pembersihan. Ia akan menjual harta miliknya jika perlu, untuk memastikan bahwa tidak ada lagi keraguan akan masa depan Nadira. Ia akan melakukan apa saja. Apa saja.
"Besok," bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca spion. "Besok adalah hari di mana aku akan mulai benar-benar menjadi manusia."
Dan di tengah kesunyian pagi, Arka Mahendra akhirnya tertidur, bukan dengan kegelisahan, melainkan dengan ketenangan seorang pria yang telah menemukan misinya. Misi untuk meminta maaf kepada wanita yang telah menjadi detak jantungnya sendiri. Nadira, sang pemilik hati, akan kembali menjadi fokus utama hidupnya. Dan kali ini, Arka bersumpah, ia tidak akan membiarkan istrinya menangis sendirian lagi. Tidak akan pernah lagi.
Ia akan mencari sampai ia menemukan, ia akan memohon sampai ia dimaafkan, dan ia akan mencintai sampai akhir hayatnya. Itulah sumpah yang ia ikat dalam air mata penyesalannya malam itu. Sebuah sumpah yang akan membimbingnya melintasi badai dan menuntunnya pulang, ke tempat di mana hatinya sebenarnya berada: di samping Nadira, selamanya.
Ia tahu, jalan ini akan sangat terjal. Ia akan menghadapi ejekan dari dunia bisnis, ia akan menghadapi pengucilan dari orang-orang yang dulu menjilat padanya saat ia di puncak, tapi Arka tidak peduli. Ia sudah melihat sisi gelap dari kesuksesannya sendiri, dan ia sudah melihat cahaya dari ketulusan Nadira. Dan ia telah memilih. Ia memilih cahaya itu, meskipun ia harus membakar seluruh sisa hidupnya untuk bisa mencapainya.
Malam itu, di dalam mobil yang sunyi, Arka benar-benar merasa telah terlahir kembali. Bukan sebagai penguasa perusahaan, melainkan sebagai pria yang akhirnya memiliki jiwa. Dan jiwa itu kini terikat sepenuhnya pada Nadira. Ke mana pun Nadira pergi, ke situlah hati Arka akan selalu mengarah. Dan suatu saat nanti, di bawah langit yang sama, mereka akan bertemu kembali—bukan sebagai suami kontrak yang asing, melainkan sebagai dua orang yang akhirnya menemukan jalan untuk saling memaafkan dan saling memiliki.
Arka menutup matanya, membiarkan kelelahan merayap, namun pikirannya tetap jernih. Besok, ia akan menghadapi segalanya. Besok, ia akan mulai memperjuangkan cintanya. Besok, ia akan mulai hidup untuk Nadira. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka tidak merasa takut akan apa yang akan terjadi nanti. Karena ia tahu, apa pun yang terjadi, selama ia berjalan di jalan kejujuran dan ketulusan, ia akan sampai di sana. Di tempat di mana Nadira menunggunya. Dan saat itu tiba, ia akan berlutut, ia akan menangis, dan ia akan berjanji—bahwa dia tidak akan pernah melepaskan tangan Nadira lagi.
Tugas selanjutnya sudah jelas di depan mata. Membersihkan semua kekacauan yang ada, lalu mencari Nadira. Ia akan mencarinya di sekolah, di toko bunga, di jalanan kota, di mana saja. Ia akan mencari hingga ia menemukannya. Dan jika ia harus menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk meminta maaf, maka ia akan melakukannya dengan senang hati. Karena bagi Arka Mahendra, tidak ada yang lebih berharga daripada menebus kesalahan yang telah ia perbuat terhadap wanita yang selalu mencintainya dengan tulus, meski dunia sempat menghancurkannya.
Pagi itu, saat matahari mulai menyapa, Arka terbangun dengan semangat yang baru. Ia tahu, jalan masih panjang. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia membawa serta kenangan tentang Nadira, janji untuk menebus kesalahannya, dan tekad untuk mendapatkan kembali wanita yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya sendiri.
Pencarian yang terlambat ini mungkin berat, namun itu adalah satu-satunya jalan menuju penebusan. Dan Arka, dengan segala penyesalannya, telah siap menempuh jalan itu sampai akhir. Hingga ia sampai di pintu di mana Nadira berada, hingga ia bisa menatap mata wanita itu dan berkata dengan jujur, "Maafkan aku, dan izinkan aku mencintaimu sekali lagi, dengan cara yang benar."
Itulah satu-satunya tujuan hidupnya sekarang. Dan Arka yakin, ia akan berhasil. Tidak peduli berapa banyak air mata yang harus ia tumpahkan, tidak peduli berapa banyak rintangan yang harus ia hadapi. Karena cinta, pada akhirnya, adalah tentang bagaimana kita bersedia untuk memperbaiki segala kesalahan demi orang yang paling kita cintai. Dan itulah yang akan dilakukan Arka Mahendra, mulai detik ini, sampai selamanya.