NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Rumah Kanza Arumi kini telah dipenuhi oleh para tamu undangan. Hiasan bunga aneka warna menghiasi setiap sudut ruang tamu hingga teras, menciptakan atmosfer yang meriah sekaligus elegan.

Di tengah riuh rendah percakapan tamu, Kanza berdiri mematung dalam balutan gaun pengantin yang sangat besar, mewah, dan luar biasa cantik.

Ia tampak seperti seorang ratu dari negeri dongeng, namun jika dilihat lebih dekat, ekspresi wajahnya sudah mulai meringis menahan beban.

“Ya ampun, Kak, kaki gue rasanya mau copot nih,” keluh Kanza sambil mengangkat satu kaki secara sembunyi-sembunyi, mencoba menyesuaikan diri di atas heels tinggi yang ia kenakan.

Bella, kakaknya yang tengah mengandung dengan aura pengantin baru yang masih melekat, hanya bisa menyengir sabar sambil mengelus perutnya.

“Ya iyalah, Kanza. Kamu dari tadi diam seperti patung hidup. Memakai heels setinggi itu memang butuh perjuangan, apalagi kamu kan biasanya cuma pakai sandal jepit.”

Di samping mereka, Yuma si sahabat setia, sedang duduk santai sambil sesekali mengamati Kanza dengan tatapan prihatin yang dibalut canda.

“Kanza, tenang saja. Sebentar lagi ada sesi duduk kok. Tahan sedikit demi estetik di foto,” kata Yuma sambil melirik ke arah meja prasmanan yang penuh hidangan lezat.

Kanza berusaha berjalan perlahan, namun setiap langkahnya terlihat sangat sulit.

“Gue nggak tahu ya, baju pengantin ini benar-benar berat, rasanya seperti pakai perisai baja buat perang. Kak Bella, gue minta tolong deh, nanti kalau gue jatuh, jangan sampai ada yang tertawa ya! Terutama Kakak!”

Bella tertawa pelan, “Eh, Kakak tidak mungkin tertawa... paling cuma sedikit. Tapi tenang, Kakak sudah siap-siap menangkapmu kalau sampai kamu ambruk.”

Kanza merintih pelan, “Tolong banget, Kak... gue nggak tahan nih. Kaki gue hampir mati rasa.”

“Yuma, bantu gue pegangi baju,” pinta Kanza kepada sahabatnya yang langsung sigap.

Yuma segera memegangi bagian ekor rok yang sangat lebar dan berat itu agar Kanza bisa bergerak lebih leluasa.

Di tengah situasi yang cukup merepotkan itu, Kanza menyempatkan diri duduk sebentar di kursi pojok.

Ia makan dengan sangat lahap untuk mengisi tenaga, namun tiba-tiba ia menatap ke arah cermin kecil dan memeriksa giginya dengan ekspresi panik yang luar biasa.

“Ehh, njir, daging ayam gue nyangkut di gigi nih! Gimana nih, gue nggak bisa senyum lebar-lebar buat foto nanti! Masa pengantin fotonya mingkem terus!” keluhnya dengan gaya yang sangat dramatis.

Yuma langsung mengambil tusuk gigi dan membantu sahabatnya itu.

“Santai, Za. Itulah gunanya gue ada di sini, bukan cuma jadi teman rebutan dosa, tapi jadi detektif cabut selilit juga.”

Kanza tertawa pelan, “Iya ya, Yum. Lo memang sahabat terbaik di semesta ini.”

Suasana pun menjadi santai dan penuh tawa meski awalnya cukup ribet. Bella dengan sabar menemani, Kanza tetap menunjukkan sifat absurdnya, dan Yuma selalu setia membantu.

"Eh, enak banget kayaknya itu Za, kue yang ada di meja sana, dekat pelaminan," ucap Yuma kepada Kanza yang sedang lemas bersandar.

"Jangan! Itu khusus buat tamu!"

"Gue kan tamu!" balas Yuma tidak mau kalah.

"Enggak! Lo di sini statusnya sebagai tukang cuci piring cadangan!"

Matahari mulai condong ke barat ketika tamu undangan semakin ramai berdatangan ke halaman rumah Kanza.

Pelaminan megah sudah berdiri di teras luar, dihiasi bunga-bunga segar dan lampu-lampu kristal cantik yang menambah kesan hangat dan mewah.

MC membuka acara dengan suara yang jelas dan ramah.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang di resepsi pernikahan Kanza Arumi dan Hanan Arkan. Mohon hadirin untuk dapat mengikuti rangkaian acara dengan tertib dan penuh suka cita.”

Acara dimulai dengan doa pembuka yang khidmat. Tak lama kemudian, kedua mempelai dipersilakan untuk naik ke pelaminan.

Kanza, dengan gaun besarnya yang anggun, dibantu oleh Yuma melangkah dengan sangat hati-hati.

Sementara itu, Hanan Arkan tampil sangat rapi dan gagah dengan jasnya, wajahnya terlihat tenang namun memancarkan kasih sayang yang mendalam.

Sesampainya di pelaminan, Hanan menggenggam tangan Kanza erat-erat.

Genggaman tangan yang hangat itu seolah memberikan kekuatan dan ketenangan luar biasa yang membuat Kanza bisa tersenyum lebar, meski kakinya masih terasa sangat pegal.

Setelah kedua mempelai duduk dengan anggun, MC melanjutkan dengan sambutan resmi dari perwakilan keluarga Hanan.

Doa dan harapan baik terus mengalir dari para tamu undangan yang hadir. Sesi foto bersama pun dimulai.

Yuma tetap setia di samping Kanza, memastikan gaun pengantin sahabatnya tetap rapi dan sempurna di setiap jepretan kamera.

Ketika tiba saatnya momen romantis, Hanan berjalan pelan ke arah Kanza, menundukkan kepala dengan hormat dan mencium kening istrinya dengan sangat lembut.

Kanza yang terkejut sekaligus tersipu langsung meletakkan tangan di pipi, lalu dengan suara manja yang tetap absurd ia berbisik.

“Awwsss... menusuk itu kebunnya Om! Brewoknya bikin geli!”

Hanan tertawa geli mendengar ocehan spontan itu.

“Kamu memang tidak pernah kehabisan kata-kata ajaib ya, Kanza.”

Suasana pun mencair, tawa dan senyum tersebar di sekitar pelaminan. Hanan yang biasanya kaku seperti kutub utara pun tampak lebih santai berkat tingkah istrinya.

Acara pun berlanjut dengan ramah tamah dan makan bersama yang penuh dengan kebahagiaan.

Udara malam di rumah baru mereka terasa begitu tenang, kontras dengan gemuruh di dada sang mempelai wanita.

Lampu kamar sengaja dibuat temaram, memantulkan cahaya lembut pada hiasan bunga-bunga segar di sekeliling ranjang pengantin yang tampak begitu cantik dan romantis.

Kelopak mawar merah yang ditabur di atas sprei putih seolah mengundang siapa pun untuk segera merebahkan diri.

Tapi...

Ranjang yang seharusnya menjadi saksi bisu malam penuh cinta itu justru kosong melompong.

Sebab, Kanza Arumi sang pengantin baru yang seharusnya tampil anggun malah berdiri mematung di pojokan kamar.

Ia memeluk guling erat-erat, posisinya persis seperti boneka darurat yang siap dilemparkan kapan saja jika ada ancaman mendekat.

Hanan Arkan, yang sudah duduk tenang di tepi kasur, hanya bisa menyunggingkan senyum kalemnya.

Ia masih mengenakan koko putih dan sarung, menebarkan aroma minyak wangi khas pesantren yang menenangkan namun justru membuat Kanza makin salah tingkah.

“Kanza…” panggilnya lembut, suaranya rendah dan dalam.

“Sini duduk. Kamu pasti lelah sekali, kan? Dari tadi harus terus tersenyum di depan tamu undangan.”

Kanza langsung melotot lebar, mempererat pelukan pada gulingnya.

“Gak, Kanza masih segar bugar, Mas! Baterai masih penuh seratus persen! Bahkan kalau disuruh lanjut kondangan satu ronde lagi, Kanza siap!”

Hanan melirik jam dinding dengan ekspresi geli.

“Ini sudah jam dua belas malam, Kanza. Mau lanjut kondangan ke mana? Ke pasar induk?”

Kanza semakin mencengkeram gulingnya, mencari perlindungan.

“Pokoknya Kanza gak capek. Kanza fit. Kanza kuat. Mas tahu tidak? Kanza bahkan bisa posisi plank selama dua menit tanpa gemetar!”

Hanan tertawa pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar seperti suara ustaz yang sedang hendak memberikan nasihat bijak kepada santri kesayangannya.

“Kanza, ini adalah malam pertama kita, bukan sedang mengikuti tes fisik masuk TNI.”

Kanza buru-buru mundur setapak hingga punggungnya membentur dinding.

“TAPI KAN KITA TIDAK SEDEKAT ITU, MAS HANAN! KITA INI... KITA INI MASIH SEPERTI ORANG ASING YANG TIBA-TIBA SATU KK!”

Hanan menghela napas panjang, mencoba memahami gejolak di hati istrinya yang ajaib ini.

Ia bangkit berdiri perlahan dan melangkah menghampiri Kanza yang sudah tampak seperti kucing yang sedang mencari jalan keluar dari akuarium kaca.

“Kanza…”

“JANGAN DEKAT-DEKAT! NANTI KANZA PANIK TERUS JURUS KARATE KANZA KELUAR!” teriaknya refleks.

Hanan berhenti tepat satu meter di depannya. Ia menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung, bersikap sangat sopan dan menjaga jarak aman.

“Mas ini suamimu, Kanza. Kita sudah sah secara lahir dan batin. Mas tidak akan memaksamu melakukan apa pun. Mas hanya... ingin mengajakmu mengobrol sebentar.”

Kanza kembali melotot, curiga.

“OBROLAN APA TENGAH MALAM BEGINI?! Biasanya obrolan tengah malam itu isinya jebakan!”

“Obrolan tentang masa depan rumah tangga kita. Hal-hal krusial. Misalnya... menurutmu kita sebaiknya menaruh dispenser di mana agar estetis?”

Kanza mengernyitkan alis, mencoba berpikir serius meski otaknya sedang hang.

“Hmm... di dekat pintu kamar saja, Mas. Biar kalau kita sedang bertengkar, Kanza bisa langsung minum biar tenggorokan tidak kering saat teriak.”

Hanan tertawa lepas mendengar jawaban jujur itu.

“Deal. Ide yang sangat taktis.”

Ia kemudian duduk lesehan di lantai, bersandar pada pinggiran kasur.

“Kanza, Mas tahu kamu merasa takut. Mas sangat mengerti bahwa semua ini terjadi begitu cepat bagi kamu. Tapi malam ini tidak harus tentang apa pun yang kamu khawatirkan. Mas hanya ingin menemanimu, duduk di sini, memastikan kamu merasa nyaman di rumah baru kita. Itu saja.”

Kanza terdiam. Ketegangannya perlahan mengendur. Pelukan pada gulingnya pun turun secara perlahan.

“Jadi... tidak akan ada sesi... nyolek-nyolekan?” gumamnya dengan nada penuh kecurigaan namun mulai melunak.

Hanan menyengir jahil, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan.

“Boleh saja, sih... kalau Mas boleh menyolek hatimu sedikit agar kamu bisa lebih mencintai suamimu yang kaku ini.”

Kanza langsung melempar bantal kecil ke arah Hanan dengan wajah memerah padam.

“YAELAH MAS HANAAANNN!! Kenapa jadi jago menggombal begini, sih?!”

Hanan menangkap bantal itu dengan sigap sambil terkekeh.

“Satu poin untuk suami idaman.”

Kanza akhirnya pelan-pelan ikut duduk di lantai, meski masih menjaga jarak sejauh dua kursi bus antar kota.

Cahaya lampu temaram membuat suasana terasa lebih akrab daripada menakutkan.

Malam itu, tidak ada adegan dramatis layaknya film romantis. Mereka justru menghabiskan waktu dengan mengobrol.

Mulai dari hal sepele seperti tukang sayur langganan Umi, hingga tentang mimpi-mimpi Kanza yang ingin menjadi penulis sukses.

Hanan sama sekali tidak menyentuh fisik Kanza, namun kata-katanya menyentuh hati gadis itu pelan-pelan, dengan penuh kesabaran, seperti sedang menyeduh teh hangat yang nikmat di pagi hari.

Dan Kanza Arumi?

Ia tetaplah Kanza yang absurd dan penuh kejutan. Tapi entah mengapa, di malam pertama yang tidak biasa itu, ia merasa sangat aman.

Di samping "Si Kutub Utara" yang ternyata memiliki hati sehangat musim semi, ia tahu bahwa petualangan hidupnya baru saja dimulai dengan cara yang paling indah.

Di luar sana, Yuma dan Bella pasti akan sangat heboh jika tahu malam pertama mereka diisi dengan diskusi letak dispenser.

Salam Hangat Dari Penuliss....

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!