“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 Sesak
Selepas mengantarkan surat ke kantor pos kabupaten kedua gadis itu pergi ke pasar tradisional, yang ada di kota sebelah mereka menaiki salah satu mobil pengangkut labu milik tetangga mereka.
Kedua gadis itu dengan riang berjalan di pasar yang di padati oleh orang-orang yang baik yang belanja maupun yang berjualan, air genangan hujan kemarin membuat pasar tradisional tersebut licin jalanan yang berbatu membuat beberapa pembeli enggan untuk memasukan kendaraan mereka.
Seruan para pembeli yang menego harga, menggema di udara lalu teriakan beberapa penjual agar pembeli mampir membeli barang satu dagangan mereka. mengisi langit yang cerah di hari selasa tersebut,
Pasar tidak pernah sepi, entah terisi oleh pembeli atau penunggu pasar dari manusia hingga jin yang ikut membantu penjual di beberapa tempat. Arumi menghela napas panjang tatapannya mengarah ke sebuah meja panjang lengkap dengan kursi panjangnya
Mereka akan berjualan di tempat itu, ia mengeluarkan beberapa pack kue-kue tradisional dari keranjang kue yang ia bawa. Lalu menaruhnya dengan Hati-hati di meja reyot yang ia dapat dari tukang loak,
" Semoga hari ini laku, tidak seperti kemarin ya Rum " Kata Arini ia menata beberapa peyek rebon buatannya, mereka sama-sama berjualan di satu meja yang sama
Kedua gadis mandiri yang menjadi tulang punggung keluarga mereka, tanpa banyak orang tahu sebagaimana keduanya harus merelakan kehidupan mereka.
" Amin " Sahut Arumi ia menaruh bobot nya di kursi panjang reyot tersebut tatapannya kosong ke arah. Orang-orang yang berlalu lalang di depan kedai mereka
Namun tidak ada seorang pun yang tergerak hatinya untuk membeli olahan yang mereka jual, Arumi menghela napas panjang
" 𝘠𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘩, 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘯𝘤𝘢𝘥𝘢𝘯 " Doa Arumi
" Dek Beli dong ada kue apa aja? " Tanya seorang wanita paruh baya membuat senyuman terbit di bibir Arumi. Ia bangkit dari duduknya
" Ada kue Bugis, ada kue apem, kue pisang, kue pepe, mau beli yang mana bu? " Sahut Arumi ramah menatap ibu-ibu tersebut
" Hmm, kue bugisnya tiga sama kue pisang lima, saya juga beli peyek rebon nya dua bungkus totalin aja " Cakap wanita paruh baya itu
" Baik bu! "
Keduanya sibuk melayani pembeli, hingga matahari akan tenggelam keduanya baru merapikan tempat bekas mereka berjualan. Arumi melirik uang hasil jualan kue tersebut
" Alhamdulillah, walaupun ngga semuanya laku tapi setidaknya balik modal " Kata Arumi
" Kita pulang rumah sekarang Rumi?" Tanya Arini yang sudah merangkul keranjang dagangan nya yang tersisa lima.
" Ya sebelum itu kita singgah di toko obat, aku harus membeli beberapa obat nenek yang sudah habis " Sahut Arumi sembari memasukan sepuluh kue yang masih tersisa ia akan membagikan nya ke anak-anak yang ia temui di sepanjang jalan.
" Ayolah" Ajak Arini
***
Toko obat yang tidak begitu ramai di situ tempat Arumi dan Arini bergegas masuk ke dalam sana. Sebuah obat untuk — mempercepat proses penyembuhan sang nenek agar bisa hidup lebih lama, Arumi memandangi
Beberapa Tablet yang bisa ia beli, karena tidak mungkin ia membeli banyak sedangkan ia harus membeli beberapa bahan dan makanan sehari-hari.
" Eh kalian ada disini? " Suara tersebut membuat Arumi dan Arini menoleh tatapan Arini mengeras kepada sosok wanita bersurai warna merah sebahu. Tatapan wanita itu bagaikan menguliti Arumi hidup-hidup
" Siska sedang apa kamu kesini? " Tanya Arini memandang tidak suka wanita tersebut yang menatap mereka angkuh.
" Sedang apa?, kalian lupa aku anak siapa?.. Kepala desa kamu tidak berhak mengkritik ku! Gadis kampung! " Cemooh Siska
" Siska kita tidak ada maksud mengkritik mu, kita hanya bertanya saja " Sahut Arumi sembari melangkah maju ke arah Siska
Manik Siska tertumbuk kepada sebuah plastik yang di tangan Arumi. Sebuah senyuman misteri terbit " Kamu habis beli obat? " Tanya Siska
" Alhamdulillah, dagangan aku laku walaupun tidak semuanya jadinya bisa beli obat nenek walaupun lima tablet saja " Tutur Arumi dengan ramah
Tetiba tangan Siska dengan cepat meraih Kantung plastik tersebut, membuat Senyuman Arumi patah
" Siska kembalikan! " Pinta Arumi wajahnya begitu cemas
" Ngga mau!, kalau bisa ambil aja sendiri! " Sahut Siska sembari mengangkat tinggi-tinggi plastik tersebut
" Siska!, kamu ngga kasihan sama Rumi?.. Dia teman kita loh! " Sengit Arini berusaha untuk menyamakan tinggi dirinya dengan Siska yang memang lebih tinggi dan semok.
" Ogah!, ambil nih ngga bisa ya obat murahan! " Cemooh Siska
𝘗𝘭𝘶𝘬
𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬!
Hati Arumi terasa sesak sekali, saat Siska dengan enaknya menjatuhkan obat-obatan tersebut ke bawah tanah dan menginjaknya tanpa perikemanusiaan. Air mata mengalir deras bagaikan hujan
Kaki Arumi bergetar, obat yang bisa membuat hidup neneknya kini hanyalah debu tawa Siska membuat hatinya tambah pedih.
" Kamu keterlaluan Siska! " Arini mendorong tubuh Siska namun kekuatan gadis itu lebih kuat membuat tubuh ringkih Arini terbanting ke jalanan berbatuan
" Arini! " Pekik Arumi
" Makanya jadi orang miskin jangan sok!, kalian benar-benar murahan! " Cemooh Siska sebelum akhirnya pergi dari sana