Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: BARIKADE PERTAHANAN MAHARDIKA
Atmosfer hangat dan damai yang semula menyelimuti aula utama kediaman Mahardika pasca-jamuan makan malam seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh ketegangan yang teramat pekat dan mencekam. Lampu kristal mewah yang menggantung di langit-langit seolah memancarkan pendaran cahaya yang mendingin seiring dengan detak jantung para penghuninya yang berpacu gila. Laporan darurat yang dibawa oleh Mikael mengenai hancurnya mobil patroli di gerbang bawah bukit dan terputusnya sistem komunikasi perimeter dalam waktu tiga puluh detik telah mengubah rumah megah ini menjadi zona perang yang siap meledak kapan saja.
Dafa Mahardika berdiri membeku di dekat ambang pintu ruang makan, namun seluruh urat nadinya tampak menegang hebat di bawah balutan kemeja kasual premiumnya. Sepasang mata elangnya yang kelam dan tajam berkilat murka, memancarkan aura predator puncak yang wilayah kekuasaannya baru saja diusik oleh musuh maut. Lengan kekarnya yang kokoh refleks mempererat dekapannya pada tubuh ramping Nazya, mengangkat tubuh sang istri lebih tinggi ke atas dada bidangnya yang tegap, menyembunyikan wajah cantik wanita itu di ceruk lehernya untuk memberikan perlindungan mutlak yang tidak bisa ditembus oleh bahaya apa pun. Sifat posesif Dafa meletup pekat seutuhnya, tidak rela jika ketakutan merusak ketenangan wanitanya.
Nazya Humaira meremas kuat kain kemeja di dada bidang Dafa, tubuh rampingnya bergetar halus dilingkupi oleh rasa dingin yang mendadak menyerang nadinya. Kondisi kaki kanannya yang masih kaku dan pincang akibat sisa cedera pasca-teror membuat sang janda muda merasa teramat tidak berdaya di tengah situasi darurat ini. Memori kelam tentang bagaimana racun berbahaya hampir merenggut nyawa Pak Handoko di ICU rumah sakit kembali berputar di dalam benaknya, memicu trauma mendalam bahwa musuh yang sama kini telah melangkah lebih jauh untuk meruntuhkan kebahagiaan baru yang baru saja ia kecap beberapa jam lalu di rumah mewah ini.
"Mas Dafa..." bisik Nazya dengan suara yang teramat lirih, serak, dan dipenuhi oleh ketakutan yang mendalam di dekat telinga suaminya. "Apa yang terjadi di bawah? Apakah mereka orang-orang yang sama yang telah meracuni Ayah kemarin? Aku takut, Mas... aku takut mereka akan menyakiti Ayah lagi di paviliun barat."
Dafa menundukkan wajah tegasnya sedikit, menempelkan bibirnya yang hangat di pelipis Nazya sembari memberikan kecupan lumat yang lama dan penuh penekanan posesif untuk menyalurkan kekuatan batinnya. "Tenang, sayang. Jangan mengosongkan kesadaranmu seujung jari pun," desis Dafa dengan suara baritonnya yang berat, rendah, dan penuh otoritas mutlak yang menuntut kepatuhan total. "Selama aku masih bernapas di dunia ini, tidak akan ada satu peluru atau musuh pun yang bisa menyentuh kulitmu atau melukai Pak Handoko. Masuklah ke dalam kamar utama dan kunci pintunya dari dalam. Serahkan sisa malam ini di bawah kendali kekuasaanku."
Dafa tidak membuang waktu lagi untuk berdebat. Dengan langkah kaki yang panjang, mantap, dan dipenuhi wibawa seorang pemimpin tertinggi klan Mahardika, ia membawa Nazya menaiki anak tangga melingkar menuju lantai paling atas, mengabaikan rasa perih di ototnya demi mengamankan sang istri terlebih dahulu. Begitu tiba di dalam kamar utama, Dafa mendudukkan Nazya di atas ranjang king size yang empuk, menyelimuti tubuh bergetar istrinya dengan selimut tebal, lalu mengecup bibir ranum Nazya dengan satu lumatan panas yang dalam dan posesif sebagai tanda janji perlindungan mutlaknya.
"Kunci pintunya, Nazya. Jangan keluar sebelum aku sendiri yang datang menjemputmu," perintah Dafa tegas sebelum akhirnya berbalik badan dan melangkah keluar, menutup pintu mahoni tebal kamar utama dengan bunyi dentuman yang solid.
Begitu pintu kamar terkunci dari dalam, aura Dafa seketika berubah menjadi teramat dingin, kejam, dan mematikan. Ia melangkah menuruni tangga menuju aula utama tempat Mikael sudah menantinya bersama dengan sepuluh kepala pengawal internal yang mengenakan seragam taktis hitam lengkap dengan senjata api laras pendek di pinggang mereka. Silsilah kepemimpinan Mahardika yang kejam dan tak kenal ampun kini sepenuhnya bangkit di dalam diri sang CEO dominan.
"Bagaimana situasi di paviliun barat tempat Pak Handoko beristirahat, Mikael?" tanya Dafa dengan suara bariton yang menusuk, memecah keheningan aula.
Mikael membungkuk hormat dengan gestur yang sangat darurat. "Dua puluh pengawal bersenjata lengkap sudah membentuk barikade melingkar di sekitar paviliun barat, Tuan Muda. Sistem penguncian otomatis di sana sudah diaktifkan sejak laporan pertama masuk. Pak Handoko aman di bawah pengawasan ketat, dan tim medis telah memindahkan beliau ke dalam ruang bungker bawah tanah paviliun demi mencegah efek serangan gas atau racun susulan."
Dafa mengangguk puas, setidaknya satu bebannya telah diamankan dengan sangat rapi. "Lalu bagaimana dengan para penyusup profesional itu? Berapa jumlah mereka dan di mana posisi koordinat terakhir mereka terdeteksi?"
"Sistem deteksi inframerah cadangan kita menangkap ada sekitar delapan orang penyusup yang bergerak cepat membelah hutan pinus di sisi timur bukat, Tuan Muda," jelas Mikael sembari menunjukkan sebuah tablet taktis yang menampilkan titik-titik merah yang bergerak mendekati halaman samping rumah utama. "Mereka bergerak dengan formasi militer yang sangat terlatih. Mereka sengaja memutuskan kabel komunikasi utama untuk menciptakan kepanikan di dalam kediaman ini."
Mendengar penjelasan dari asisten kepercayaannya, seulas senyum predator yang teramat dingin dan menawan terukir di sudut bibir tegas Dafa. Ketakutan sama sekali tidak memiliki tempat di dalam kamus hidup sang CEO Mahardika. Tantangan terbuka dari musuh misterius ini justru menyalut letupan gairah berdarah di dalam nadinya untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangan romansa rumah tangganya bersama sang janda muda tercinta.
"Mereka pikir mereka bisa bermain-main di dalam kandang singa?" desis Dafa rendah, suaranya terdengar bagai malaikat maut yang siap menjemput nyawa. Pria tegap itu meraih sebuah senjata api berkaliber tinggi yang disodorkan oleh salah satu pengawalnya, memeriksa magasin dengan satu gerakan tangan yang cepat dan presisi. "Mikael, matikan seluruh aliran listrik utama di kediaman ini sekarang juga. Biarkan rumah ini tenggelam dalam kegelapan total. Aktifkan kacamata pengelihatan malam untuk seluruh tim kita."
"Siap, Tuan Muda!" jawab Mikael patuh.
Dafa mengokang senjatanya dengan bunyi klik yang dingin dan menggema di aula utama. "Kita akan menyambut tamu-tamu profesional ini di halaman samping. Ingat, sisakan satu orang hidup-hidup untuk kuinterogasi secara pribadi di ruang bawah tanah nanti. Aku ingin tahu silsilah bajingan mana yang telah membayar mereka untuk meracuni mertuaku dan meneror istriku. Sisanya... kalian bebas meratakan mereka dengan tanah tanpa sisa."
Tepat setelah perintah mutlak itu dijatuhkan dari bibir Dafa, seluruh lampu kristal di dalam kediaman utama Mahardika seketika padam total secara serentak, menenggelamkan rumah megah tersebut ke dalam kegelapan malam yang pekat dan mencekam. Di dalam kamar utama yang gelap, Nazya duduk memeluk lututnya di atas ranjang, mendengarkan keheningan yang mendadak berubah menjadi suara letupan tembakan pertama dari arah halaman samping bukit, menandakan bahwa pertempuran berdarah demi mempertahankan jerat gairah cinta sejati mereka telah resmi dimulai di bawah kendali sang suami dominan yang tak tertandingi.