NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:971
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Seminggu telah berlalu sejak kejatuhan Keluarga Han. Istana Shenghua tampak tenang di permukaan, namun ketenangan itu adalah ilusi yang menipu.

Di balik tembok-tembok tinggi, arus bawah berputar semakin kencang, membawa serta bau darah yang belum kering dan dendam yang membara.

Pangeran Jianyu tidak lagi muncul di sidang kekaisaran. Dia mengurung diri di kediamannya, menolak bertemu siapa pun kecuali beberapa pengawal pribadi yang paling setia. Rumor beredar bahwa dia sakit parah karena kesedihan kehilangan ibu dan kejatuhan sekutunya.

Tapi Putri Li Yuexin tahu lebih baik, Pangeran Jianyu tidak sakit. Dia sedang meracuni dirinya sendiri dengan kebencian, menunggu momen yang tepat untuk menyuntikkan racun itu ke jantung kerajaan.

Sore itu, Kaisar Li Zhengyuan memanggil Putri Li Yuexin ke Taman Teratai. Sang Kaisar tampak lebih tua dari usianya, bahunya membungkuk di bawah beban takhta yang goyah.

"Yuexin," panggil Kaisar pelan, matanya menatap permukaan air kolam yang tenang. "Pangeran Jianyu meminta audiensi denganku besok. Dia ingin menjelaskan tentang dirinya."

Putri Li Yuexin merasakan lonjakan peringatan di dadanya. "Ayahanda, apakah Ayahanda percaya padanya?"

Kaisar menghela napas panjang. "Dia adalah darahku, Yuexin. Anak yang kubesarkan sejak kecil. Meski ibunya salah, meski temannya jahat... aku sulit percaya bahwa anakku sendiri berniat membunuh jenderal-jenderalku. Mungkin dia hanya terseret arus. Mungkin dia butuh kesempatan untuk bertobat."

Putri Li Yuexin mengepalkan tangannya di dalam lengan baju. Kepercayaan Kaisar adalah kelemahan terbesar Faksi Timur saat ini dan Pangeran Jianyu akan memanfaatkannya.

"Ayahanda," kata Putri Li Yuexin hati-hati. “Saya mohon, izinkan saya hadir dalam audiensi itu. Sebagai saksi, jika dia benar-benar bertobat, hamba akan menjadi yang pertama menyambutnya. Tapi jika dia berbohong..."

Kaisar menatap putrinya lama. Ada keraguan di matanya, tapi juga kepercayaan. "Baiklah. Kau boleh hadir. Tapi jangan bertindak kasar dan biarkan ayah yang menilai hatinya."

Malam itu,

Putri Li Yuexin tidak tidur. Dia duduk di depan meja, menyusun rencana darurat. Qingyu masuk membawa sebuah bungkusan kecil.

"Nona, Kasim Zhou mengirimkan ini. Katanya, Pangeran Jianyu memesan sesuatu dari tabib istana kemarin sore."

Putri Li Yuexin membuka bungkusan itu. Isinya adalah resep obat penenang dosis tinggi, dicampur dengan ekstrak Nightshade (belladonna) dalam jumlah kecil.

Dalam dosis normal, ini hanya membuat orang mengantuk. Tapi jika dicampur dengan alkohol atau teh panas... itu bisa menyebabkan halusinasi parah, kejang, dan bahkan henti jantung.

"Dia berencana meracuni Ayahanda?" tanya Putri Li Yuexin, matanya menyipit.

"Atau..." Qingyu menelan ludah. "Atau dia berencana membuatnya terlihat seperti serangan jantung alami, lalu menyalahkan stres akibat tuduhan yang besar."

Putri Li Yuexin tersenyum dingin. "Cerdik. Jika Ayahanda 'sakit mendadak' setelah bertemu dengan Pangeran Jianyu, dan Pangeran Jianyu adalah satu-satunya orang yang ada di sana... dia bisa memainkan korban lagi. Atau yang lebih buruknya, dia bisa mengambil alih kekuasaan sebagai wali sementara."

Dia harus menghentikan ini, tapi dia tidak bisa sekadar menyerbu kediaman Pangeran. Itu akan dianggap sebagai pelanggaran protokol kerajaan. Dia butuh bukti yang tidak terbantahkan, dan dia butuh waktu.

"Panggil Kasim Zhou," perintah Putri Li Yuexin. "Kita perlu menukar cawan teh Kaisar besok."

Hari berikutnya,

Aula Kecil Kekaisaran dipenuhi dengan ketegangan yang hampir teraba. Udara terasa berat, seolah-olah badai akan meledak kapan saja.

Pangeran Jianyu masuk dengan langkah lambat. Dia mengenakan jubah putih polos, wajahnya pucat dan lesu, matanya cekung. Dia terlihat seperti pria yang hancur oleh kesedihan. Saat melihat Kaisar, dia langsung berlutut dan menangis tersedu-sedu.

"Ayahanda..." suaranya pecah, penuh rasa sakit. "Saya datang untuk meminta ampun, saya memang bodoh. Saya tertipu oleh Han Zixuan, sungguh saya tidak tahu rencana pembunuhan itu. Saya hanya... saya hanya ingin melindungi Ibu dari fitnah Perdana Menteri Shen Guotai."

Kaisar Li Zhengyuan tampak terguncang. Matanya melembut. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat pada Pangeran Jianyu untuk berdiri. "Berdirilah, Jianyu. Ceritakan semuanya."

Pangeran Jianyu berdiri, masih menunduk rendah. Di tangannya, dia memegang sebuah cawan teh emas yang indah, hadiah ulang tahun dari Kaisar tahun lalu.

"Saya menyiapkan teh ini untuk Ayahanda," kata Pangeran Jianyu lembut. "Teh chamomile, untuk menenangkan pikiran Ayahanda yang lelah dan saya harap Ayahanda bisa memaafkan saya."

Dia melangkah maju, menawarkan cawan itu kepada Kaisar.

Putri Li Yuexin, yang berdiri di sisi kiri Kaisar, mengamati setiap gerakan Pangeran Jianyu. Jari-jari Pangeran Jianyu gemetar sedikit. Bukan karena sedih, tapi karena adrenalin dan ada kilatan aneh di matanya saat dia menatap Kaisar. Seperti, ada kilatan kemenangan yang memuaskan.

Saat Pangeran Jianyu hampir menyerahkan cawan itu, Putri Li Yuexin tiba-tiba berseru.

"Tunggu!"

Suara Putri Li Yuexin tajam, memecah keheningan emosional ruangan. Kaisar dan Pangeran Jianyu menoleh padanya dengan terkejut.

"Yuexin?" tanya Kaisar bingung.

Putri Li Yuexin berjalan maju, matanya menatap lurus ke mata Pangeran Jianyu. "Kakak, teh itu aromanya... aneh."

Pangeran Jianyu mengerutkan kening, berusaha mempertahankan topengnya. "Aneh? Ini hanya chamomile biasa, Adik. Mungkin hidungmu sensitif karena flu."

"Bukan flu," kata Putri Li Yuexin dingin. Dia mengambil cawan itu dari tangan Pangeran Jianyu yang kaku. Cairan di dalamnya berwarna kuning pucat, tampak normal.

Tapi Putri Li Yuexin mencium aroma samar almond pahit di baliknya, tanda khas sianida atau belladonna tingkat tinggi.

"Ayahanda, jangan minum minuman itu," perintah Putri Li Yuexin tegas.

"Yuexin! Jangan kurang ajar kamu ya!" bentak Pangeran Jianyu, wajahnya berubah marah. "Kau menuduh saudaramu sendiri mencoba meracuni Ayahanda? Bukti mana kau punya?"

Putri Li Yuexin hanya tersenyum tipis, dia tidak menjawab. Sebaliknya, dia melemparkan isi cawan itu ke tanaman hias besar di sudut ruangan.

Dalam hitungan detik, daun-daun hijau tanaman itu mulai menguning, layu dan akhirnya hitam gosong. Asap tipis naik dari tanah pot.

Kaisar Li Zhengyuan terpaku, matanya melebar menatap horor. Dia menoleh pada Pangeran Jianyu, yang kini berdiri mematung, wajahnya pucat bukan karena akting, tapi karena ketakutan murni.

"Jianyu..." suara Kaisar bergetar, kali ini bukan karena sedih, tapi karena amarah yang membakar. "Apa artinya ini?"

Pangeran Jianyu mundur selangkah, lalu dua langkah. Topeng kesedihannya runtuh, digantikan oleh ekspresi dingin dan putus asa. Dia menyadari permainannya telah terbongkar.

"Artinya," kata Pangeran Jianyu pelan, suaranya berubah menjadi dingin dan asing, "Bahwa Ayahanda terlalu lemah untuk memimpin. Bahwa Faksi Timur telah membelenggu negara ini dengan korupsi dan bahwa seseorang harus melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan dinasti ini."

Dia menarik sesuatu dari balik jubahnya. Bukan pedang, tapi sebuah peluit kecil dari gading.

Kiiit!

Suara peluit itu nyaring dan menusuk telinga.

Sebelum penjaga kekaisaran sempat bereaksi, jendela-jendela aula pecah berantakan. Lima sosok berpakaian hitam melompat masuk, pedang terhunus, mengarah langsung ke leher Kaisar.

Pengawal pribadi Pangeran Jianyu, pembunuh bayaran terakhir yang dia simpan sebagai kartu as.

"Amankan Ayahanda!" teriak Putri Li Yuexin, mendorong Kaisar ke belakang singgasana. Dia meraih pedang pendek yang disembunyikan di balik rok hanfunya, pedang hadiah dari Paman Mingyuan.

Pertarungan pecah seketika. Besi beradu dengan besi. Teriakan penjaga bercampur dengan desisan pedang.

Pangeran Jianyu tidak ikut bertarung. Dia berdiri di tengah kekacauan, menonton dengan senyuman miring yang mengerikan. Matanya terkunci pada Putri Li Yuexin.

"Kau memang cerdas, Adik," katanya di tengah keributan. "Tapi kecerdasan tidak bisa menghentikan baja. Malam ini, salah satu dari kita akan mati. Dan aku berharap itu adalah kamu."

Putri Li Yuexin menepis serangan seorang pembunuh, napasnya tersengal-sengal. Darah menetes dari luka kecil di lengannya. Dia menatap Pangeran Jianyu, matanya berapi-api.

"Malam ini, Kakak," balas Putri Li Yuexin dingin, sambil menebas kaki pembunuh lain hingga jatuh. "Malam ini, sejarah akan ditulis ulang. Dan tintanya adalah darah pengkhianat."

Di luar aula, lonceng darurat istana berbunyi keras. Pasukan Kakek Shen Guotai dan Jenderal Wei sedang bergerak menuju lokasi. Tapi di dalam aula kecil itu, waktu seolah berhenti. Hanya ada Putri Li Yuexin, Pangeran Jianyu, dan tarian kematian di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!