Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyamuk Besar Di Kamar Mungil
Plak!
Suara tepukan yang cukup nyaring menggema di dalam kamar kos yang sunyi itu. Naomy meringis pelan, memegangi pipi kanannya yang mendadak terasa panas dan sedikit memerah.
"Aduh... sakit," gumamnya pelan.
Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, menatap sekeliling kamar kosnya yang berukuran tiga kali empat meter. Kasur busa di lantai, tumpukan buku desain di sudut ruangan, gantungan baju yang agak penuh, dan tas kerja yang tergeletak pasrah di atas meja. Semuanya masih sama. Tempat ini masih kamar kosnya yang sederhana.
Namun, pandangan Naomy kemudian tertuju pada tas kertas berisi makanan hangat di atas meja dan pintu kamar mandi kecilnya yang tertutup rapat. Dari dalam sana, terdengar samar-samar suara gemercik air dan gesekan kain saat Raka sedang mengganti pakaiannya.
Naomy menutupi wajahnya kembali dengan kedua telapak tangan. "Gue gak mimpi... Ini beneran nyata," bisiknya dengan jantung yang masih berdegup sekencang detak jarum jam.
Bagaimana mungkin garis hidupnya bisa berbelok se-ekstrem ini? Beberapa jam yang lalu, ia masih menjadi desainer junior yang gemetaran menatap punggung sang CEO di koridor kantor, mati-matian menghindari kontak mata karena takut dipecat. Dan sekarang? Pria yang ditakuti seluruh karyawan Apex Creative itu sedang berada di dalam kamar mandinya, berganti pakaian dengan baju kasual, dan status mereka sudah berubah menjadi... sepasang kekasih.
Pikiran Naomy kembali melayang pada malam-malam sepi di mana ia hanya ditemani suara bariton lewat pesan suara game. Sosok @Rrrrarrkyyy yang kocak, yang selalu melindunginya dari sergapan musuh, kini menjelma menjadi sosok Raka yang nyata, yang baru saja memeluknya erat dan berjanji akan menjadi tamengnya di dunia nyata.
Cklek.
Suara knop pintu kamar mandi yang diputar seketika membuyarkan lamunan Naomy. Ia langsung menurunkan tangannya dan duduk tegak di pinggiran kasur, mencoba menata kembali ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terlalu kentara habis menampar pipi sendiri.
Raka melangkah keluar dari kamar mandi.
Naomy sempat menahan napasnya selama satu detik. Pria itu kini telah menanggalkan kemeja kerja putihnya. Ia mengenakan kaus hitam polos berpotongan kasual dan celana pendek santai yang dibawa oleh Doni tadi. Rambutnya yang sedikit basah disisir asal-asalan ke belakang menggunakan jari, menyisakan beberapa helai yang jatuh di dahinya. Tanpa kacamata formal dan setelan jas, Raka terlihat jauh lebih muda, santai, dan... luar biasa tampan. Tampilan ini membuatnya seratus persen terlihat seperti sosok "Rawwwrrr" yang selama ini Naomy bayangkan di dalam kepalanya.
Raka berjalan mendekat sambil mengeringkan sisa air di lehernya dengan handuk kecil yang ia temukan di kamar mandi. Matanya yang tajam langsung menangkap semburat merah di pipi kanan Naomy.
Raka menghentikan langkahnya tepat di depan Naomy, lalu sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi mereka. Ia menaikkan sebelah alisnya, menatap pipi Naomy dengan pandangan geli yang sangat familier.
"Pipi lo kenapa merah sebelah gitu, Non? Lo abis nampar diri sendiri, ya?" tanya Raka, suara baritonnya terdengar sangat renyah dan penuh nada meledek.
Wajah Naomy langsung memanas hebat sampai ke leher. "E-eh? Nggak kok! Siapa juga yang nampar diri sendiri. Tadi... tadi ada nyamuk besar lewat, makanya gue tepok!" kilah Naomy asal, memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan rasa malunya.
Raka terkekeh rendah. Tawa baritonnya yang khas kembali menggema, membuat perut Naomy serasa diaduk oleh ribuan kupu-kupu virtual. Raka mengulurkan tangan kanannya, dengan lembut mengusap pipi kanan Naomy yang agak hangat akibat tepukan tadi.
"Gak usah ditampar lagi. Ini bukan mimpi," bisik Raka lembut, tatapan matanya mengunci manik mata Naomy dengan kehangatan yang nyata. "Gue beneran ada di sini. Sekarang, buruan ambil piring. Makanan dari Doni keburu dingin, setelah itu kita punya utang satu pertandingan yang belum selesai ."
Naomy bergegas bangkit dari kasurnya, mencoba mengalihkan rasa salah tingkah yang sedari tadi meletup-letup di dadanya. Ia melangkah menuju sudut ruangan yang berfungsi sebagai dapur bersih sekaligus ruang tengah.
Kamar kos ini memang sangat mungil. Ukurannya benar-benar pas-pasan—hanya terdiri dari satu area tidur yang menyatu dengan ruang TV kecil, serta sebuah sekat tipis yang memisahkan area tersebut dengan kamar mandi. Bagi Naomy yang seorang perantau, tempat ini sudah lebih dari cukup. Namun, dengan keberadaan Raka—seorang anak konglomerat yang terbiasa tinggal di apartemen mewah seluas lapangan sepak bola—kamar kos ini mendadak terasa berkali-kali lipat lebih sempit dan sesak.
"Maaf ya, tempatnya sempit banget. Nggak ada meja makan, jadi kita terpaksa makan di lantai," ucap Naomy agak canggung sambil mengeluarkan dua piring keramik kecil dan dua gelas air putih dari lemari gantung.
Raka tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru langsung duduk bersila di atas karpet bulu tipis di samping kasur Naomy dengan sangat santai, melipat kaki panjangnya tanpa terlihat risih sedikit pun.
"Gak masalah. Di game kita bahkan sering nongkrong di semak-semak hutan virtual yang kotor, Non. Ini jauh lebih mewah," canda Raka, merujuk pada taktik sembunyi (ambush) yang sering mereka lakukan saat bermain Arena of Fate.
Naomy mendengus geli mendengar candaan itu. Ia meletakkan piring dan gelas, lalu membuka wadah makanan hangat yang dibawa Doni tadi. Ternyata asisten pribadi Raka itu membelikan sup buntut premium dari salah satu restoran hotel bintang lima. Aroma kaldu sapi yang gurih dan kepulan uap hangatnya langsung memenuhi ruangan kecil tersebut, mengusir dinginnya sisa air hujan di luar.
Mereka makan malam bersama dalam suasana yang aneh namun sangat nyaman. Di dunia nyata, ini adalah kali pertama mereka duduk sedekat ini tanpa ada sekat formalitas kantor. Naomy memperhatikan bagaimana Raka makan dengan tenang, sesekali melontarkan ledekan ringan yang langsung dibalas dengan dengusan sebal oleh Naomy. Rasa canggung perlahan mencair, digantikan oleh kehangatan nyata dari sosok 'Rawwwrrr' yang kini tak lagi fiktif.
Setelah selesai makan dan membereskan piring kotor, Raka langsung meraih ponsel pintarnya dari atas meja kerja Naomy. Ia bersandar pada dinding kamar kos, menepuk ruang kosong di atas karpet di sampingnya.
"Sini, duduk dekat gue. Ponsel lo mana? Buka aplikasinya sekarang," perintah Raka dengan nada suara baritonnya yang tidak bisa dibantah, namun kali ini terdengar sangat manis.
Naomy mengambil ponselnya, lalu duduk di samping Raka. Jarak mereka begitu dekat hingga lengan mereka saling bersentuhan. Dengan jantung yang kembali berdebar, Naomy membuka aplikasi Arena of Fate. Setelah beberapa minggu terkunci, layar ponselnya kembali menampilkan lobi utama dengan akun @Nao_mii yang sudah aktif kembali.
Sebuah undangan mabar dari akun @Rrrrarrkyyy langsung muncul di layarnya. Naomy menekan tombol terima.
"Malam ini gue gak perlu pakai voice note di game lagi kan buat ngasih instruksi ke lo?" bisik Raka tepat di dekat telinga Naomy, sambil menyunggingkan senyum jailnya.
Naomy melirik Raka dari samping, lalu tersenyum menantang. "Gak perlu. Tapi awas ya kalau tameng lo bolong malam ini, Pak CEO. Gue bakal langsung kasih ulasan buruk ke asisten lo."
Raka tertawa lepas, sebuah tawa hangat yang kini bisa didengar Naomy secara langsung tanpa perantara pelantang suara. Jemari mereka mulai bergerak lincah di atas layar ponsel masing-masing. Di luar sana, malam semakin larut dan dunia nyata mungkin tetap rumit dengan segala rahasia jabatan mereka. Namun di dalam ruang kos mungil ini, sang penembak jitu dan sang pelindung telah menemukan ruang aman mereka yang sesungguhnya.