NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:899
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: DETIK-DETIK YANG HILANG

Bab 30: Detik-detik Yang Hilang

Deru mesin helikopter di atas pegunungan Jawa Barat terasa begitu bising, namun bagi Aruna, dunia mendadak hening. Kata-kata kakeknya di telepon tadi terus menggema, menghantam dinding kesadarannya seperti godam besi.

“Kenzo baru saja menerima hadiah ulang tahunnya yang lebih awal.”

“Bambang! Kenapa lama sekali?!” bentak Aruna, suaranya parau karena panik. Ia mencengkeram kursi helikopter hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sabar, Mbak Bos! Sistem enkripsi di lokasi persembunyian Kenzo tiba-tiba berubah jadi mode 'Blackout'! Saya lagi coba masuk lewat jalur belakang pakai satelit cadangan!" Jari-jari Bambang terdengar menari liar di atas keyboard di seberang sana. "Sial! Prabawa pakai firewall militer tipe-X. Ini bukan cuma mau culik Kenzo, ini mau hapus lokasi itu dari peta!"

Adrian langsung meraih tablet taktisnya, wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras. “Tim pengawal di rumah aman tidak ada yang mengangkat telepon. Aruna, kita harus bersiap untuk skenario terburuk.”

Aruna menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan hutan di bawah sana. “Kalau seujung kuku saja Kenzo terluka, aku tidak akan hanya menghancurkan Adhigana, Adrian. Aku akan membakar setiap orang yang membawa nama itu.”

Tiga puluh menit kemudian, helikopter mendarat darurat di sebuah lapangan terbuka tak jauh dari rumah aman—sebuah vila terpencil di daerah Sukabumi. Begitu pintu terbuka, Aruna melompat turun sebelum baling-baling benar-benar berhenti. Ia berlari menembus rintik hujan, diikuti Adrian dan Haris yang sudah menyandang senjata lengkap.

Saat mereka sampai di gerbang vila, pemandangan di depan mereka membuat napas Aruna tercekat.

Gerbang besi itu roboh. Dua pengawal berpakaian hitam tergeletak di halaman dengan luka tembak presisi di dahi. Tidak ada perlawanan, tidak ada tanda-tanda pergulatan panjang. Ini adalah eksekusi yang dilakukan oleh profesional kelas atas.

“Nirwana,” bisik Adrian sambil memeriksa denyut nadi salah satu pengawal. “Mereka bergerak sangat cepat.”

Aruna tidak menunggu. Ia mendobrak pintu depan vila yang sudah tak terkunci. Ruang tengah berantakan. Mainan robot milik Kenzo tergeletak di lantai, kepalanya terlepas. Aruna merasakan dadanya sesak, bayangan Kenzo yang ketakutan memenuhi pikirannya.

“Kenzo?! Sayang, ini Mama! Kenzo!” teriak Aruna histeris.

Ia berlari menuju kamar belakang, tempat Kenzo seharusnya bersembunyi di dalam panic room. Namun, saat ia sampai di sana, pintu baja panic room itu sudah terbuka lebar. Di tengah ruangan, tidak ada Kenzo. Hanya ada sebuah meja kecil dengan sebuah kotak kado berwarna biru muda yang dibungkus pita merah darah.

Di atas kado itu, ada sebuah kartu ucapan kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi: “Selamat datang di babak eliminasi, Aruna.”

“Jangan disentuh!” teriak Adrian saat Aruna hendak meraih kado itu.

Adrian menggunakan alat pendeteksi logam. Alat itu berbunyi pelan, namun bukan tanda bom peledak. Ia membuka kotak itu perlahan dengan pisau lipatnya. Isinya bukan kepala manusia atau bom waktu, melainkan sebuah jam tangan pintar milik Kenzo yang layarnya sedang menyala, menampilkan hitungan mundur dan sebuah koordinat lokasi yang terus bergerak.

"Mbak Bos! Saya masuk!" Suara Bambang tiba-tiba meledak di telinga mereka. "Itu bukan sekadar koordinat! Itu sinyal dari chip pelacak yang ada di... di dalam tubuh Kenzo! Apa?! Sejak kapan Kenzo dipasang chip?!"

Aruna terduduk di lantai, memegang jam tangan itu dengan tangan gemetar. “Bimo... atau dokter di klinik itu. Mereka memasangnya saat aku tidak sadar.”

Tiba-tiba, jam tangan itu berbunyi, dan sebuah video mulai terputar secara otomatis. Layarnya menunjukkan Kenzo yang sedang duduk di dalam sebuah jet pribadi. Dia tidak menangis. Wajahnya datar, hampir tanpa emosi, persis seperti tatapan Bimo saat di kursi elektrik tadi. Di samping Kenzo, duduk seorang pria dengan setelan jas putih yang membelakangi kamera.

"Dia punya potensi besar, Aruna," suara pria itu bukan suara Prabawa. Suaranya lebih muda, lebih halus, namun jauh lebih mengerikan. "Prabawa terlalu tua dan emosional. Dia ingin menggunakan Kenzo sebagai ahli waris, tapi kami... kami ingin menggunakan Kenzo sebagai arsitek dunia baru. Jangan cari dia sekarang. Kau belum layak."

Layar jam itu mati dan terbakar sendiri, menyisakan asap tipis yang berbau kimia.

“Siapa pria itu?” tanya Aruna dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan iblis.

"Mbak... saya baru saja melacak sinyal jet itu," suara Bambang terdengar sangat ketakutan. "Itu bukan menuju markas Adhigana. Jet itu sedang melintasi batas udara menuju Singapura... lalu ke arah Swiss. Itu pesawat milik Dewan Direksi Nirwana. Mbak Bos, ini bukan lagi soal kakek Mbak. Kakek Mbak saja ternyata cuma 'karyawan' di mata mereka."

Aruna berdiri. Ia menghapus air matanya dengan kasar, menyisakan noda lumpur dan darah di pipinya. Ia tidak lagi tampak seperti ibu yang sedang berduka. Ia tampak seperti badai yang siap menghancurkan apa pun yang dilewatinya.

“Bambang,” panggil Aruna.

“Ya, Mbak?”

“Hubungi Siska. Dia bilang dia punya data tentang para petinggi Nirwana. Bilang padanya, aku menerima tawarannya untuk menjadi monster.”

Aruna menatap Adrian. “Adrian, siapkan semua aset yang tersisa. Kita tidak akan menyerang Adhigana besok. Kita akan menghancurkan sistem perbankan mereka malam ini juga. Jika mereka mengambil anakku, aku akan mengambil napas dunia mereka.”

Di tengah kehancuran rumah aman itu, Aruna Mahendra yang lama telah mati. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa untuk mengalahkan iblis, dia harus menjadi penguasa neraka itu sendiri.

Bersambung......

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

.

.

Bab 31: Permaisuri yang Bangkit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!