Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
BAB 5: PENGKHIANATAN
Pintu ruang kerja Arka 10 menit sebelumnya tidak ditutup rapat, hanya separo.
Di luar, Santi berdiri di balik tembok. HP di tangan, tombol rekam menyala merah.
Rekaman itu hanya berdurasi 3 menit 12 detik.
Tapi cukup untuk menghancurkan segalanya.
Santi menekan tombol kirim dengan jari yang sedikit gemetar. Video itu langsung meluncur ke nomor yang sudah lama ia simpan dengan nama “Ibu”.
Ibu Darmi Wijaya.
Di dalam video, suara Arka terdengar jelas:
“Kita cari tahu siapa yang memegang bukti asli pengalihan dana. Saksi terakhir yang menghilang lima tahun lalu namanya Rudi Santoso.”
Santi menarik napas panjang. Ia tahu apa artinya ini.
Kalau Ibu Darmi tahu, Liana dan Arka tamat.
Pukul 9 malam, Liana masih berada di perpustakaan. Ia dan Arka baru saja menyusun rencana untuk ke Surabaya besok pagi, mencari Rudi Santoso.
“Kau yakin mau ikut?” tanya Arka sambil melipat peta kota Surabaya di atas meja.
Liana mengangguk. “Ini urusanku juga. Aku tidak mau duduk diam lagi.”
Arka menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
“Baik. Berangkat jam 6 pagi. Jangan bilang siapa-siapa.”
Mereka berdua tidak menyadari, di luar pintu, bayangan seseorang baru saja menghilang.
Keesokan paginya, suasana rumah Wijaya terasa aneh.
Sarapan pagi yang biasanya sepi, tiba-tiba penuh dengan anggota keluarga. Tuan Wijaya Sr., Ibu Darmi, beberapa sepupu Arka, semua duduk di meja makan panjang itu.
Arka masuk terakhir, diikuti Liana.
Wajah Arka langsung berubah saat melihat ekspresi Ibu Darmi. Dingin. Tajam. Seperti ular yang siap menyerang.
“Liana, Arka,” suara Ibu Darmi memecah keheningan. “Duduklah.”
Liana menelan ludah. Ada sesuatu yang salah.
Setelah mereka duduk, Ibu Darmi meletakkan ponselnya di tengah meja. Layarnya menyala.
Sebuah video sedang di-pause. Wajah Arka dan Liana terlihat jelas di sana.
“Menarik sekali,” ucap Ibu Darmi pelan. “Ternyata pernikahan ini bukan hanya soal bisnis, ya?”
Arka berdiri. “Hapus video itu sekarang.”
Ibu Darmi tertawa kecil. “Kenapa aku harus? Ini bukti yang bagus. Dua orang yang merencanakan pengkhianatan terhadap keluarga Wijaya.”
Liana mengepalkan tangan di bawah meja. Jadi Santi…
“Santi?” gumamnya pelan.
Ibu Darmi mengangguk. “Anak itu sangat setia padaku. Ia sudah lama bekerja untuk keluarga Wijaya. Tugasnya sederhana: mengawasi siapa pun yang mendekatimu, Arka.”
Arka menatap Liana. Ada rasa bersalah di matanya.
“Aku tidak tahu,” katanya pelan.
“Tidak perlu pura-pura,” potong Ibu Darmi. “Kau berdua sudah melanggar kontrak. Di depan seluruh keluarga, kau berjanji untuk tidak melibatkan perasaan pribadi. Tapi lihat ini.”
Ia memutar video itu.
Suara Liana terdengar: “Kalau kau berbohong padaku sekali lagi, kontrak ini selesai.”
Suara Arka menjawab: “Kesepakatan. Tidak ada lagi kebohongan di antara kita.”
Meja makan menjadi gaduh. Bisikan dan tatapan menghakimi langsung mengarah ke mereka berdua.
Tuan Wijaya Sr. mengetuk meja dengan tongkatnya. “Cukup! Apa maksud semua ini, Arka?”
Arka menarik napas dalam.
“Ayah, aku bisa jelaskan. Ini semua soal kasus ayah Liana lima tahun lalu—”
“Cukup!” potong Ibu Darmi lagi. “Tidak ada yang peduli dengan kasus orang luar itu. Yang penting sekarang, kau berdua telah melanggar perjanjian keluarga. Hukuman untuk itu jelas.”
Liana berdiri. Cukup sudah. Lima tahun ia diam. Ia tidak akan diam lagi.
“Kalau kalian mau tahu kebenarannya, silakan,” katanya dengan suara lantang. “Ayahku tidak bersalah. Kalian yang menjebaknya. Dan aku punya bukti.”
Ruangan kembali hening.
Ibu Darmi menyipitkan mata. “Bukti? Mana?”
Liana menatap Arka sebentar, lalu menjawab,
“Di tangan orang yang kalian cari selama lima tahun. Rudi Santoso.”
Wajah Ibu Darmi seketika berubah.
Arka menatap Liana dengan kaget. Ia tidak menyangka Liana akan mengatakan itu di depan semua orang.
Tapi Liana sudah memutuskan.
Kalau mereka mau bermain kotor, ia akan bermain lebih terang.
“Kau pikir dengan mengatakan itu, kau aman?” bisik Ibu Darmi. “Kau salah, Nyonya Wijaya. Di keluarga ini, siapa yang berani melawan… akan hancur.”
Liana tersenyum tipis.
“Kita lihat saja, Tante. Siapa yang akan hancur lebih dulu.”
Arka menggenggam tangan Liana di bawah meja. Kali ini, genggamannya lebih erat.
Bukan karena kontrak. Tapi karena pilihan.
Di luar, hujan mulai turun lagi.
Dan di dalam rumah Wijaya, perang yang sebenarnya baru saja dimulai.
Bersambung...