NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: M.Liss

Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".

Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.

Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab . 22

Di tengah derasnya serangan yang mereka lancarkan, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Wu-Yuan maupun teman-temannya. Tanpa sepengetahuan mereka, Lisa diam-diam mengerahkan sisa kekuatan Dewa Sucinya. Cahaya putih keemasan yang samar dan hampir tak terlihat oleh mata biasa menyelimuti tubuh Fredrin, Floyen, Carl, Ji-na, xioyan, dan juga Wu-Yuan. Itu adalah perlindungan murni dari kekuatan tingkat dewa.

Berkat perlindungan itu, tubuh mereka dimurnikan dan diperkuat. Tekanan dahsyat yang seharusnya sudah menghancurkan organ dalam mereka dan melumpuhkan akal sehat mereka sepenuhnya, kini terasa jauh lebih ringan. Rasa takut yang seharusnya membekukan jiwa mereka lenyap, digantikan oleh keteguhan hati yang murni. Mereka bisa bergerak bebas, bisa menyerang dengan kekuatan penuh, dan bisa berpikir jernih, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh makhluk biasa di hadapan Dewa Iblis Darah. Lisa mengorbankan sebagian besar tenaga rahasianya hanya agar teman-temannya memiliki kesempatan sekecil apa pun untuk bertarung.

"Serang! Jangan berhenti!" teriak Fredrin, melesat dengan pedang yang menyala nyala api tingkat tinggi.

Mereka melancarkan segala sesuatu yang mereka miliki. Mulai dari serangan-serangan tingkat menengah yang bertubi-tubi, hingga jurus pamungkas tingkat tinggi yang memakan banyak energi. Mereka menggunakan segala strategi yang pernah dipelajari: mengelabui pandangan, menyerang titik buta, serangan gabungan dari segala arah, hingga jebakan sihir yang rumit. Bagi mereka, setiap celah kecil yang muncul terasa seperti harapan besar. Saat pedang Fredrin sempat menggores kulit keras lengan Dewa Iblis itu, atau saat sihir Ji-na sempat meledak tepat di wajahnya, mereka merasa yakin—Kita bisa melukainya! Kita punya kesempatan!

Namun, harapan itu selalu berubah menjadi kepahitan dalam sekejap mata.

Setiap kali mereka merasa hampir berhasil, Dewa Iblis Darah itu selalu saja memiliki cara untuk membuat segala usaha mereka menjadi sia-sia. Gerakannya yang lambat ternyata hanya permainan belaka. Pertahanan yang mereka kira sudah ditembus ternyata hanya ilusi. Semua serangan, semua rencana, semua pengorbanan... semuanya seolah hanya menjadi tontonan lucu bagi makhluk itu.

"Kalian pikir goresan kecil itu berarti sesuatu?" suara Dewa Iblis Darah bergema sambil tertawa mengejek. "Ketahuilah, semakin lama kalian bertarung, semakin banyak darah dan energi yang kalian keluarkan... kekuatanku justru terus meningkat! Setiap tetes keringat kalian, setiap hembusan napas kalian, semuanya menjadi makananku! Semakin kalian berusaha keras, semakin kuat aku jadinya!"

Kalimat itu menghancurkan semangat mereka seketika. Benar saja, aura merah di sekeliling makhluk itu semakin pekat dan menekan, sementara tubuh mereka sendiri mulai terasa ringkih dan kosong.

Hingga akhirnya... detik yang ditakutkan pun tiba.

Serangan terakhir Carl yang diiringi sihir terkuat Ji-na meledak di udara, namun tidak ada dampak apa pun. Kapak Carl terlepas dari tangannya dan jatuh berdebam ke tanah. Napas mereka semua tersengal-sengal hebat, bahu naik turun seolah ingin pecah. Satu per satu, lutut mereka menyentuh tanah.

Fredrin terjatuh terlungkup, tidak mampu lagi mengangkat kepalanya. Floyen bersandar pada dinding batu, matanya masih terbuka tapi pandangannya sudah kabur. Ji-na ambruk pingsan, tenaga sihirnya sudah kering kerontang. Carl dan Xioyan, dua sosok terkuat secara fisik, kini tergeletak diam tak berdaya, tidak ada lagi otot yang bisa mereka kerahkan. Seluruh tenaga, seluruh kekuatan, seluruh strategi... semuanya sudah habis tak bersisa. Tidak ada satu pun cadangan yang tersisa.

Dari ketujuh orang itu, hanya Wu-Yuan dan Lisa yang masih bisa berdiri tegak, meski sebenarnya tubuh mereka pun sudah kosong melompong. Kaki mereka gemetar hebat, keringat bercampur darah menetes dari wajah mereka. Mereka berdiri bukan karena punya tenaga, tapi hanya karena sisa tekad yang tinggal sedikit lagi akan patah.

Wu-Yuan menatap murid-muridnya yang tergeletak tak berdaya, lalu menatap makhluk mengerikan di hadapannya. Ia tahu, permainan ini sudah selesai. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Ia menoleh ke arah Lisa, matanya tajam namun penuh kepedihan. Ia sadar, Lisa masih menyimpan sesuatu. Ada energi yang tersisa di dalam gadis itu, energi yang tidak pernah ia tunjukkan sepenuhnya.

"Lisa..." suara Wu-Yuan parau dan berat. "Aku tahu... aku tahu kau masih memiliki sedikit energi yang tersisa, bukan? Walaupun hanya sedikit... gunakan itu."

Ia menunjuk ke arah samping, menjauh dari tempat itu.

"Gunakanlah sisa energimu itu untuk membuka teleportasi! Pergilah sejauh mungkin dari sini, sekarang juga! Biarkan aku saja yang menahannya. Aku akan menggunakan sisa nyawaku ini untuk menahannya sesaat. Cepatlah, Lisa! Kalian harus hidup untuk menceritakan apa yang terjadi di sini!"

Lisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca, air mata sudah tak sanggup lagi ditahan. Ia menggeleng kuat-kuat.

"Lisa.. kumohon... untuk kali ini saja, janganlah keras kepala..." suara Wu-yuan terdengar lirih namun memohon. "Kita sudah tidak punya cara lagi. Lihatlah teman-temanmu... mereka sudah tidak bisa bangun lagi. Seluruh titik energi di tubuh mereka sudah hancur lebur. Jika kau tetap keras kepala ingin menahan dia sendirian, kita semua pasti akan mati di sini. Tidak akan ada yang selamat, dan dunia luar pun tidak akan pernah tahu bahwa ada Dewa Iblis yang bangkit dan bersembunyi di desa ini... Aku mohon padamu, Lisa..."

Wu-Yuan terdiam. Ia menatap wajah murid-muridnya yang sudah tak berdaya, lalu menatap kegigihan Lisa yang berusaha bertahan. Akhirnya, dengan hati yang hancur dan berat, ia mengangguk pelan.

"Baiklah.. Senior." jawab Lisa pasrah. "walaupun ini mustahil aku berharap senior bisa bertahan sedikit lebih lama..."

Lisa segera mengumpulkan sisa kekuatan magic yang terakhir. Cahaya putih melingkar di telapak tangannya, membentuk lingkaran cahaya besar yang melingkari dirinya, Wu-Yuan, dan semua teman-temannya yang tergeletak.

"Pintu Antarbintang: BUKA!" seru Lisa.

Di saat yang sama, Wu-Yuan melangkah maju. Ia tahu, ia harus memberikan waktu sedikit saja bagi Lisa untuk menyelesaikan proses pemindahan itu. Ia mengerahkan sisa tenaga terakhir yang ada di setiap tetes darahnya, meledakkan seluruh cadangan hidupnya menjadi satu serangan pamungkas.

"KONSEPSI HIDUP DAN MATI: LINGKARAN PENJARA HITAM PUTIH!"

Dua warna besar kembali meledak dari tubuhnya, lebih terang dan lebih besar dari sebelumnya, namun hanya bertahan sesaat. Cahaya hitam dan putih itu mengurung tubuh Dewa Iblis Darah, menekannya ke bawah, mengikat pergerakannya sekuat tenaga. Wu-Yuan memaksakan dirinya hingga darah menyembur dari mulutnya, matanya memerah habis-habisan. Ia merasa... ia merasa berhasil menahan makhluk itu sejenak. Ia merasa Lisa sudah punya waktu yang cukup.

Sambil terhuyung mundur dan akhirnya ambruk berlutut, Wu-Yuan menatap ke arah lingkaran cahaya tempat Lisa dan teman-temannya berada.

'Akhirnya... kalian bisa pergi...' batinnya lega, meski tubuhnya sudah tak sanggup lagi digerakkan.

Namun, di saat itulah... tawa mengerikan itu kembali bergema, lebih keras dan lebih mengejek dari sebelumnya.

"Hahahahahahaha!! Kau pikir... dengan mengorbankan seluruh nyawamu seperti itu, kau benar-benar bisa membuat mereka pergi?"

Mata Wu-Yuan terbelalak kaget. Ia melihat lingkaran hitam putih yang ia buat tadi hancur lebur menjadi debu hanya dengan satu kibasan tangan santai dari Dewa Iblis itu. Dan yang lebih mengerikan lagi... cahaya teleportasi yang dibuat Lisa, yang seharusnya membawa mereka menjauh... perlahan-lahan memudar, retak, dan lenyap begitu saja.

Dalam sekejap mata, Lisa, Wu-Yuan, dan semua teman-temannya yang pingsan... kembali muncul di tempat yang sama persis. Tidak berpindah sejengkal pun. Mereka kembali ke tanah itu, kembali berada tepat di bawah bayangan raksasa Dewa Iblis Darah.

Lisa terhuyung ke belakang, wajahnya pucat pasi, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Mengapa...? Kenapa aku tidak bisa keluar...?" gumam Lisa ketakutan.

Dewa Iblis Darah itu tersenyum kejam, menunjuk ke sekeliling mereka dengan jarinya yang panjang dan tajam.

"Lihatlah dengan baik-baik, manusia kecil... dan kau juga, gadis dewa yang menyembunyikan kekuatan..." ucapnya perlahan dan penuh penekanan. "Kalian mengira kalian berada di hutan biasa? Kalian mengira kalian hanya berada di altar ini? Sejak kalian pertama kali melangkah masuk ke wilayah ini... sejak awal kalian sudah terperangkap di dalam DOMAIN MUTLAK milikku! Seluruh tempat ini adalah penjagaanku! Di sini, akulah hukum alam! Di sini, ruang dan waktu adalah milikku sendiri! Teleportasi? Melarikan diri? Itu semua tidak ada artinya di sini! Tidak ada yang bisa masuk, dan tidak ada yang bisa keluar tanpa izinku!"

Seketika itu juga, Wu-Yuan terkulai lemas sepenuhnya, jatuh duduk ke tanah dengan tatapan kosong dan penuh kepasrahan. Ia menatap langit yang tertutup awan merah, napasnya tersengal berat.

'Ya Tuhan... bagaimana ini...' batinnya hancur lebur. 'Ternyata dari awal kita sudah berada di dalam sarangnya... dari awal kita tidak punya jalan keluar sama sekali...'

Harapan terakhir yang tersisa pun kini hancur berkeping-keping. Mereka semua sudah benar-benar terkurung, tak berdaya, dan tidak ada lagi tempat untuk lari.

Bersambung...

1
T28J
keren kak, saya subscribe, semoga ceritanya konsisten dan sampai tamat ya ✍️
Chen: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!