Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih yang Nyata
Pagi samar-samar hadir dibalik tirai berusaha menyelinap ke ruangan yang penuh cerita. Keluarga yang tampak utuh saling menguatkan tanpa rasa jemu menunggu.
Rasa lelah dan dingin yang dihadapi sejak dini hari tidak menjadi penghalang untuk bertahan. Wanita yang telah mempersembahkan seluruh cintanya untuk keluarga tampak tertidur setelah beberpa jam lalu masih berjalan mondar-mandir di temani suaminya yang tampak tenang meski pikirannya berkecamuk.
Elgar hanya memejamkan mata meski tak mampu tidur pulas, baginya sudah di cukup. Setidaknya rasa pusing sudah berkurang. Pagi ini sesuai jadwal dia harus melakukan pengecekan ke pabrik. Dia ikut melanjutkan bisnis keluarga dan berbagi tugas dengan Kakaknya.
Mereka tiga bersaudara, anak tertua di keluarga itu bernama Morgan, anak kedua Elgar dan si bungsu Clarissa. Di keluarga itu tinggal Elgar yang belum menikah dan masih menimati masa lajangnya.
Kakak tertuanya juga terlibat dalam bisnis keluarga, namun juga sedang mengembangkan bisnisnya bersama istrinya di bidang kuliner.
Elgar bangkit berdiri dan berbicara dengan suara ringan kepada Papanya, menjelaskan rencananya hari ini. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu, dia sempat memesan beberapa makanan untuk sarapan kedua orangtuanya melalui aplikasi di ponselnya.
Beberapa menit kemudian dia keluar untuk mengambil pesananannya yang telah tiba di rumah sakit tersebut. Lalu kembali menuju ruangan dengan menenteng makanan.
Setibanya di ruangan sudah mendapati Mamanya yang mengobrol dengan Papanya, Elgar mendekat dan meletakkan makanan itu diatas meja.
Kini cahaya pagi terlihat nyata dengan aroma dingin yang masih menyisakan titik embun. Waktu telah menunjukkan diangka tujuh, sudah waktunya Elgar bergegas kembali pulang untuk bersiap menuju ke pabrik.
Dia pamit kepada kedua orangtuanya, melirik sejenak kearah ranjang kecil dimana adiknya tidur cukup lama.
Sosok yang dicari sejak kemarin masih belum terdengar suaranya, cukup sampai dini hari karena mulai pagi ini Elgar tidak lagi berusaha menelepon atau sekedar meminta penjelasan. Panggilan tak terjawab akan terpampang jelas di layar ponsel milik Ethan. Begitulah menurut Elgar.
Kini dia harus fokus pada pekerjaannya, menyelesaikannya dengan profesional dan sesekali menelepon orangtuanya untuk menanyakan keadaan adiknya.
Untuk kakaknya Morgan, mereka telah memberi kabar tepat setelah Clarissa dibaringkan di ruangan itu. Elgar tidak ingin membuat kakaknya ikut panik, lagipula di sudah ada mereka bertiga yang menjaga Clarissa disana.
Benar saja, ketika pasangan suami istri itu akan memulai mencicipi sarapannya, ponsel suaminya berdering. Panggilan dari Morgan, mereka mengobrol cukup lama hingga panggilan beralih ke video.
Morgan sangat ingin melihat kondisi adiknya, selama ini mereka jarang mengobrol karena sama-sama sudah berkeluarga dan sibuk dengan rumah tangga masing-masing.
Morgan cukup terkejut melihat luka lebam yang terlihat jelas, Papanya menceritakan awal mula kejadian sampai mereka tiba di rumah sakit. Mereka juga telah sepakat untuk tidak banyak bertanya andai Clarissa sadar nanti. Dengan kondisi Clarissa yang hanya menutup mata saja sudah membuat hati mereka berdenyut nyeri, bagaimana jika Clarissa membuka mata dan mereka melihat bola mata yang semerah darah. Panggilan berakhir dan mereka berdua melanjutkan sarapannya.
Pukul delapan pagi dokter tiba bersama perawat yang membawa nampan berisi bubur dan obat untuk pasien. Keduanya banyak bercerita tentang kondisi Clarissa yang bahkan belum sadar sampai detik ini.
Dokter memberikan penjelasan dan rencana pemeriksaan lebih menyeluruh nanti. Dokter menjelaskan dan berusaha menenangkan keluarga pasien lalu pamit undur diri menuju ke ruangan lain.
Gerakan tipis terlihat dari atas kasur, membuat lelaki paruh baya bangkit dan mendekat. Mata terbuka tipis mencoba membiasakan cahaya yang menusuk menyilaukan.
Degup jantung yang rasanya ingin meledak setelah melihat wajah putri yang sangat dicintai dengan semua luka. Papanya bahkan tidak sanggup melihat bola mata putrinya.
"Astaga.... Apa yang telah" Batinnya bergetar namun enggan untuk menangis. Berbeda dengan istrinya yang langsung berkaca-kaca namun ditutupi dengan banyak mengobrol dan menawarkan bantuan untuk putrinya.
"Clarissa..... Kamu sudah bangun nak, kamu mau minum? Atau ada bagian yang sakit?" Ucap wanita itu yang pura-pura kuat sembari meraih segelas air putih untuk putrinya yang masih mencerna semua kejadian barusan.
Lelaki paruh baya menekan tombol darurat dan beberapa menit kemudian perawat datang, lali keluar lagi untuk memanggil dokter.
Kata yang keluar dari mulut Clarissa hanya memanggil kedua orang tuanya lalu menggeleng tanda menolak diberikan air.
Rasa sakit yang masih terasa bahkan dikala dia tidur sejak kemarin, rasa sakit yang membawanya ke alam mimpi namun terasa nyata. Seperti tidak tertidur, namun semua orang melihatnya tidur dengan tenang. Padahal rasa yang diharapkannya seperti mengambang antara sadar dan halusinasi.
Dokter memeriksa kembali Clarissa dan menayakan rasa sakit yang dirasakan. Clarissa menjawab dengan seadanya, kepalanya berdenyut dan seluruh tubuhnya sulit digerakkan.
Papanya masih berbicara dengan dokter namun kali ini di luar ruangan. Menanyakan semua hal yang menurutnya mengerikan.
"Mata anak saya kenapa dokter?"
"Hal itu terjadi karena pembuluh darah pecah, atau istilah medisnya perdarahan subkonjungtiva. Salah satu penyebabnya karena cedera ringan pada mata, Tapi bapak tenang saja ini tidak akan mempengaruhi penglihatan pasien dan akan berangsur pulih beberapa hari ke depan" Balas dokter yang memberi penjelasan dan paham kekhawatiran keluarha pasien.
Lelaki itu kembali masuk dan melihat kedua wanita yang dicintainya sedang mengobrol. Istrinya terlihat meraih nampan untuk memberikan sarapan kepada Clarissa.
Dia sigap membantu Clarissa untuk bersandar dengan nyaman, dan istrinya mulai menyuapkan bubur dengan perlahan. Dari tempat duduknya dia mengambil foto dan mengirimnya kepada Morgan dan Elgar.
Keduanya tampak lega setelah tau adiknya telah sadar, dan sedang menikmati sarapannya apalagi mendengar cerita dari Papanya kalau Clarissa makan sampai tandas. Sayangnya mereka tidak tau kalau sejak kemarin siang wanita cantik itu belum mengisi perutnya.
Keduanya tak berani menayakan bahkan hal yang akan memengaruhi pemulihan putrinya. Mereka hanya bercerita hal yang lucu atau membahas pekerjaan, Clarissa hanya membisu dan tak banyak merespon. Hingga Papanya berinisiatif untuk membantunya berbaring nyaman dan menyuruhnya untuk istirahat kembali.
Clarissa menuruti saran orangtuanya, mulai berbaring dan memejamkan mata hingga akhirnya kembali tertidur.