NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Action / Wanita perkasa / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
​Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
​Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
​"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Pasir Putih Dan Goyang Rakyat Jelata

​Perjalanan menuju pesisir selatan Orizon memakan waktu setengah hari dengan menunggang kuda. Alesia menolak naik kereta kencana yang menurutnya "mirip kandang burung berlapis emas" dan lebih memilih menunggangi kuda cokelatnya, ditemani Magnus yang tampil kasual tanpa zirah kebesarannya.

​Semakin ke selatan, udara yang tadinya kering dan dingin mulai berubah menjadi lembap dan beraroma garam. Pepohonan pinus berganti menjadi deretan pohon kelapa yang melambai ditiup angin laut.

​"Bang, lu denger kagak? Itu suara musik apaan?" tanya Alesia sambil menajamkan pendengarannya.

​Magnus menghentikan kudanya di puncak bukit kecil yang menghadap langsung ke arah desa nelayan di pinggir pantai. "Itu Gamelan Perunggu Orizon. Sepertinya rakyat desa sedang merayakan ritual syukur pasca mundurnya pasukan koalisi semalam."

​Dari kejauhan, terlihat kerumunan rakyat berkumpul di lapangan terbuka dekat pantai. Ada panggung kayu sederhana yang dihias janur kuning. Musik yang riuh rendah terdengar sangat meriah.

​"Wah, pas bener! pesta rakyat!" seru Alesia matanya berbinar. "Bang, ayo mampir! Jangan cuma lewat doang kayak rombongan pejabat lagi sidak."

​"Siti, kita sedang dalam perjalanan rahasia," Magnus mengingatkan dengan nada rendah, meski bibirnya tersenyum. "Jika mereka tahu Raja mereka ada di sini, acara syukuran ini akan berubah jadi upacara sujud massal yang kaku."

​Alesia mencopot kain sutra penutup kepalanya, lalu mengikatnya kembali dengan gaya ikat kepala jawara. "Makanya, lu tutupin muka lu pake caping itu, Bang. Anggap aja kita pengembara lagi lewat. Gue pengen liat mereka seneng, bukan pengen disembah."

​Tanpa menunggu persetujuan Magnus, Alesia memacu kudanya menuruni bukit, membuat Lily yang berada di rombongan belakang menjerit kecil karena kaget. Magnus hanya bisa menghela napas pasrah dan mengikuti permaisurinya yang luar biasa nekat itu.

​Begitu sampai di pinggiran desa, aroma ikan bakar dan sambal mentah langsung menusuk hidung. Alesia turun dari kuda dan menitipkannya pada seorang warga.

​"Permisi, Bang! Ini ada acara sunatan apa kawinan? Rame bener!" tanya Alesia pada seorang pria nelayan yang sedang memegang tabuh-tabuhan.

​Pria itu menatap Alesia dari atas ke bawah, melihat pakaiannya yang sederhana namun terlihat bersih. "Bukan, Neng. Ini syukuran karena Permaisuri kita katanya berhasil ngusir iblis di gerbang kota semalam. Kami denger ceritanya dari pedagang yang baru balik dari ibu kota. Jadi kami pesta ikan bakar!"

​Alesia menyenggol lengan Magnus yang berdiri di sampingnya dengan wajah tertutup caping bambu. "Tuh, denger kagak? Mereka pesta gara-gara gue, Bang! Masak gue kagak ikut nyicip ikannya?"

​Mereka masuk ke kerumunan. Musik gamelan semakin kencang. Di tengah lapangan, beberapa pemuda dan pemudi sedang menari dengan gerakan yang kaku namun penuh semangat.

​"Duh, jogetnya lemes bener kayak kurang asupan karbo," gumam Alesia. "Bang, pegangin tas gue!"

​"Siti! Kau mau apa?!" Magnus kaget saat Alesia tiba-tiba melompat ke area tengah panggung.

​Alesia tidak peduli. Ia menghampiri para penari. "Misi, Mbak, Mas... ini musiknya asik, tapi gerakannya kurang power. Ikutin gue ya! Satu... dua... goyang pinggulnya! Tangan ke atas, tarik mang!"

​Rakyat desa terdiam sesaat, bingung melihat wanita asing yang tiba-tiba "mengambil alih" panggung. Namun, saat Alesia mulai menggerakkan kakinya dengan lincah—perpaduan antara gerakan silat dan sedikit goyangan dangdut yang ia modifikasi agar tetap sopan—musik gamelan terasa lebih hidup.

​"Ayo, Pak! Bu! Jangan diem aja! Happy dong!" teriak Alesia sambil tertawa lebar.

​Melihat energi Alesia yang meluap-luap, rasa canggung rakyat pun luruh. Mereka mulai ikut bergoyang, mengikuti irama yang kini terasa lebih ceria. Magnus, yang berdiri di bawah panggung, hanya bisa tertegun melihat bagaimana istrinya bisa membaur dengan begitu mudahnya. Ia melihat kebahagiaan yang murni di wajah rakyatnya—kebahagiaan yang jarang ia lihat saat ia datang dengan protokol resmi.

​"Baginda," bisik Lily yang sudah berdiri di samping Magnus, ikut menikmati suasana. "Gusti Permaisuri benar-benar memiliki jiwa rakyat. Lihatlah, mereka tidak tahu siapa dia, tapi mereka mencintainya."

​Magnus mengangguk pelan. "Dia memang... matahari yang sebenarnya bagi Orizon."

​Setelah hampir satu jam "konser dadakan" di desa, Alesia kembali ke samping Magnus dengan wajah yang berkeringat dan napas yang terengah-engah, namun senyumnya selebar samudera.

​"Gimana, Bang? Keren kagak goyangan gue?" tanya Alesia sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.

​Magnus melepaskan capingnya sedikit, menatap Alesia dengan mata yang penuh kelembutan. "Kau hampir membuat seluruh desa ini jatuh pingsan karena energinya, Siti. Tapi aku akui, aku belum pernah melihat rakyatku tertawa selepas itu."

​"Itu namanya Healing, Bang. Rakyat itu butuh hiburan, bukan cuma janji politik," sahut Alesia.

​Tiba-tiba, seorang tetua desa menghampiri mereka membawa dua piring anyaman berisi ikan bakar bumbu jahe dan nasi putih hangat. "Ini buat pengembara yang sudah meramaikan pesta kami. Silakan dicicipi, hidangan sederhana dari kami para nelayan."

​Alesia menerima piring itu dengan antusias. "Wah, makasih banyak, Kek! Ini nih yang gue cari! Yuk, Bang, kita makan di pinggir pantai aja!"

​Mereka berjalan menuju pesisir yang sepi, jauh dari keriuhan pesta. Ombak Pantai Selatan Orizon menderu pelan, membasahi pasir putih yang halus. Mereka duduk beralaskan pasir, menatap matahari yang mulai merendah di cakrawala.

​"Bang, lu tau kagak?" ucap Alesia sambil mencuil ikan bakarnya. "Dulu di tempat gue, gue sering bayangin makan begini bareng orang yang gue sayang, tapi kaga kesampean karena sibuk kerja cari cuan. Eh, malah kesampiannya di dimensi lain sama Raja."

​Magnus menoleh, menatap profil wajah Alesia yang disinari cahaya keemasan senja. "Cuan? Itu artinya emas?"

​"Iya, duit, harta. Pokoknya dunia gue itu isinya cuma lari dan lari ngejar sesuatu yang kaga ada abisnya," Alesia mendesah pelan. "Di sini... meskipun banyak drama takhta, tapi gue ngerasa hidup gue lebih bermakna. Apalagi ada lu yang selalu jagain gue."

​Magnus memegang tangan Alesia yang bebas, meremasnya lembut. "Kau bilang kau lari mengejar sesuatu di duniamu. Di sini, kau tidak perlu lari lagi, Siti. Cukup berjalan di sampingku. Aku yang akan memastikan jalan di depanmu tidak ada durinya."

​Alesia merona merah. "Dih, gombalannya dapet skor sepuluh dari sepuluh deh. Belajar di mana sih, Bang?"

​"Dari hatiku sendiri," jawab Magnus pendek, membuat Alesia hampir tersedak ikan.

​Suasana menjadi sangat romantis di bawah langit yang mulai berubah jingga keunguan. Magnus perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Alesia. Alesia bisa merasakan napas Magnus yang hangat.

​"Bang..." bisik Alesia, jantungnya berdegup kencang. "Gue belom mandi loh, tadi keringetan joget..."

​Magnus terkekeh pelan, ia tidak peduli. Ia baru saja hendak mencium kening Alesia saat tiba-tiba...

​"GUSTIIII! YANG MULIA RAJA! NASI LIWETNYA SUDAH MATENGGGG!"

​Suara Lily yang menggelegar dari kejauhan memecah suasana romantis itu. Alesia langsung menjauh dengan wajah merah padam, sementara Magnus hanya bisa memijat keningnya, meratapi momen yang hilang.

​"Waduh, Lily timingnya pas bener kayak iklan lewat!" tawa Alesia pecah. "Ayo, Bang! Nasi Liwet Lily kaga boleh dingin! Nanti liwetnya sedih!"

​Alesia bangkit dan berlari menuju tenda kecil yang didirikan para pengawal rahasia, meninggalkan Magnus yang masih duduk di pasir. Magnus menatap langit, lalu tersenyum sendiri.

​"Nasi Liwet... entah apa rasanya, tapi jika itu yang membuatnya tertawa, aku akan memakan seluruh kualinya," gumam Magnus sambil bangkit menyusul permaisurinya.

​Malam itu, di pesisir selatan Orizon, aroma santan, salam, dan ikan teri memenuhi udara, menyatu dengan suara tawa dua orang yang berasal dari dunia yang berbeda, di bawah restu rembulan yang mulai naik perlahan.

1
Ika Fitri Ana
lanjut....👍👍👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Pawon Ana
si Siti ini devinisi genius jalanan...,🥰
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Muft Smoker
aduuuuh koq ibu suriii begini amat sifat ny jelek ,, kaya sofa lama Blum di ganti kulit ny ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: /Grin//Proud//Proud/
total 2 replies
Muft Smoker
awaas ekoor ny terbang alessia🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
enk banget kasih nama orang ,, kasihan si naga takut gx terima jenggot ny di samain ma si kael ikan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx bnr ad aja ide nama yg selalu muncul di luar kepala ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
astgaaa permaisuri senjata ny goloook ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,, siap2 jdi kurus anda gustaf🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,, permaisuri gx bisa d tindas lgiiii😏😏😏😏
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
ni nama ny permaisuri jaman emansipasi🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
Muft Smoker
lanjuut kak
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Muft Smoker
raja di panggil abank🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣 ,, catatan baru dlm sejarah ini ,,
Muft Smoker: bnr kak ,, anak abaaah di lawan 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 4 replies
Muft Smoker
kak baru bab awal loo tp udh seruuu liat tingkat alessi yg apa adany ,,
semangat trus ya kak nulis ny
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Muft Smoker
💯 buat lily🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
duuh korban tabrak lari gerobak gorengan🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣


hai kak ,,
aq mampir ksniii
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Hasnawiyah Ansar
iya bener sekali tebakan anda
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
lucuk, keren, gerrrrr banget /Joyful/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
baru bab satu aja udah kocaggh banget🤣
Ariska Kamisa: Terimakasih,
stay read kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Pawon Ana
ini krakter anak Betawinya positif thinking ya tipenya....jadi asyik orangnya...🤭✌️
Ariska Kamisa: dia anak bae bae kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ika Fitri Ana
semua ceritanya bagus..simpel tidak berbelit...jadi tidak membosankan cerita2nya....rekomend banget.
Ika Fitri Ana
semangat ..bagus ceritanya..semoga tetap menarik seperti cerita lainnya thor...👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!