NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

"Mundur ya... Gue masih cinta banget sama dia..."

"Lo cuma penghalang doang..."

"Dia nikahin lo karena terpaksa..."

"Lo gak pantas..."

"Dia milik gue..."

Setiap kali kalimat itu terngiang di telinganya dan di pikirannya, rasanya dadanya semakin sesak dan semakin sakit. Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum tajam secara bersamaan.

Aira merasa sangat kecil saat ini. Merasa sangat tidak berdaya. Merasa sangat tidak pantas berada di tempat yang megah dan mewah ini.

Benar kata Natasha kan? Natasha itu cantik, Natasha itu kaya, Natasha itu modis, Natasha itu satu dunia sama Elvano. Mereka dulu pasangan yang serasi, idaman semua orang, pasangan yang sempurna. Sedangkan Aira? Aira cuma gadis desa biasa, sederhana, penampilan apa adanya, tidak punya apa-apa kecuali ketulusan hati dan rasa sayang yang besar.

"Aira tahu pernikahan kita dilandasi dengan paksaan dan keadaan, tapi bukankah Mas Elvano bilang dia sudah mulai membuka hati buat aku? Apa... apa Mas Elvano berbohong?" bisik aira pelan penuh keraguan yang menyakitkan, suaranya bergetar hebat. "Apa bener ya di hati dia masih ada nama Natasha seluas itu? Apa Aira emang cuma jadi pelarian atau pelengkap doang di hidup dia?"

Pertanyaan-pertanyaan pedih itu muncul begitu saja dari sudut pikirannya yang sedang rapuh dan hancur lebur, membuat ia semakin bingung, semakin takut, dan semakin tidak tahu arah harus melangkah kemana.

Belum lama Aira duduk menangis tersedu-sedu sendirian di sana, belum lama ia meluapkan semua kesedihannya, dari arah dalam rumah terdengar suara langkah kaki yang berjalan tergesa-gesa mendekat dengan sangat cepat.

Ternyata itu adalah Bibi Asih.

Wanita paruh baya itu ternyata sudah melihat dan mendengar sebagian besar kejadian tadi dari balik jendela dapur dan dari balik pintu utama. Hatinya ikut sesak, ikut sedih, dan ikut marah melihat non mudanya disakiti seperti itu oleh wanita yang tak tahu diri dan sombong seperti Natasha.

"Ya allah... ya rob... astaga..." gumam Bibi Asih pelan dengan mata yang langsung berkaca-kaca melihat pemandangan yang sangat menyedihkan di depannya itu.

Bibi Asih langsung berlari kecil mendekati Aira, lalu segera berjongkok di hadapan gadis itu tanpa mempedulikan kotor atau tidaknya roknya. Tanpa menunggu waktu lama, Bibi Asih langsung menarik tubuh mungil Aira ke dalam pelukannya yang hangat, yang lembut, dan penuh kasih sayang yang tulus.

"Udah... udah ya non jangan nangis... non Aira gak usah dengerin kata-kata wanita itu..." ucap Bibi Asih dengan nada suara yang penuh khawatir, sedih, dan juga rasa sayang yang sangat besar.

"Bi... bibi... hikss..." Aira langsung membalas pelukan itu erat sekali, sangat erat, seolah mencari tempat bersandar dan mencari kekuatan satu-satunya dari wanita itu. Ia menangis semakin keras lagi di bahu Bibi Asih, meluapkan semua rasa sedih, rasa takut, rasa cemburu, dan rasa sakit hati yang menumpuk di dadanya. "Dia dateng Bi... Natasha dateng lagi... dia jahat banget sama Aira... dia bilang banyak hal yang sakit banget... sakit banget Bi..."

"Iya non... iya... Bibi liat semuanya dari jendela tadi... Bibi denger semuanya..." jawab Bibi Asih parau, suaranya ikut bergetar menahan tangis yang mau keluar. Matanya juga ikut basah melihat majikannya yang begitu rapuh dan tersiksa seperti ini. "Bibi tahu non sakit... Bibi tahu non sedih... tapi itu semua omong kosong non... itu semua omongan orang yang gak terima kalah... itu omongan orang yang iri hati... jangan didengerin ya... jangan dimasukin ke hati..."

Aira menggeleng lemah di dalam pelukan Bibi Asih, wajahnya sembab merah, hidungnya memerah, dan matanya bengkak karena menangis terlalu lama dan terlalu keras.

"Ta... tapi apa yang dia bilang itu bener kan Bi?" isak Aira pilu, suaranya terdengar sangat lemah dan putus asa. "Dia cantik bi, dia kaya, dia mantan pacar Mas Elvano. Mereka dulu saling sayang, Mereka cocok banget, mungkin emang Aira yang salah ya bi udah ngambil dia dari Natasha? Mungkin emang Aira yang ngalangin jalan mereka yang seharusnya bahagia?"

"Nggak bener non! Astaga, itu nggak bener sama sekali!" potong Bibi Asih tegas namun tetap lembut, nada suaranya sangat tegas menolak keras perkataan Aira. Ia melepaskan pelukannya sedikit lalu memegang kedua bahu Aira yang kecil itu, dan menatap wajah gadis itu dengan serius dan tajam. "Itu semua omongan orang yang iri! Orang yang gak bisa nerima kenyataan kalau Tuan Elvano udah jadi suami orang! Tuan muda itu sayang banget sama non Aira tau gak! Bibi liat sendiri kok dari hari ke hari gimana pandangan Tuan muda ke non! Gimana perhatian dia! Gimana dia selalu nyariin non kalau gak keliatan!"

"Ta... tapi dia bilang......" Aira kembali menunduk sedih, air matanya masih saja jatuh menetes ke lantai.

"Bohong itu non! Seratus persen bohong!" Bibi Asih mengusap air mata di pipi Aira dengan ibu jarinya yang kasar namun hangat dan menenangkan. Ia menyeka air mata itu satu per satu dengan sangat lembut. "Tuan muda itu nikahin non karena dia mau! Karena dia nemu ketenangan di hati non! Karena non itu wanita yang baik, sholehah, sabar, dan tulus banget! Beda jauh sama wanita tadi yang sombong, angkuh, dan hatinya busuk karena iri, jika memang Tuan Muda hanya mencari istri karena tekanan atau lainnya, kenapa tuan Muda memilih non, padahal banyak wanita yang bebas Tuan pilih, dia milih non, karena dia yakin sama non Aira!"

"Tapi Bi... Aira takut..." bisik Aira lirih, suaranya hampir tak terdengar.

"Takut apa non?" tanya bibi Asih lembut sambil kembali membelai rambut panjang Aira dengan penuh kasih sayang.

"Takut kalau bener kata dia... mas Elvano masih sayang sama natasha... takut kalau Aira cuma numpang sebentar di sini... takut kalau suatu hari nanti mas Elvano nyuruh Aira pergi..."

Bibi Asih menghela napas panjang sekali, lalu kembali memeluk Eira erat sekali, sangat erat, seolah ingin memindahkan kekuatan dan keberaniannya ke dalam diri gadis malang itu.

"Jangan mikir aneh-aneh ya non. Percaya sama Tuan. Percaya sama hati non sendiri. Allah itu adil non. Allah gak bakal nyatukan dua hati kalau bukan karena takdir dan cinta. Sekarang non harus kuat ya. Jangan kelihatan lemah. Tunjukkin kalau non itu wanita yang hebat, tunjukkin kalau non itu pantas jadi nyonya Praditya dan pendamping hidup Tuan Muda."

Aira mengangguk pelan meski air matanya masih saja sesekali jatuh membasahi pipinya. Kata-kata bibi Asih sedikit banyak berhasil menenangkan gejolak di hatinya yang sedang bergolak hebat, namun luka yang diciptakan Natasha masih terasa sangat perih dan masih menganga lebar, belum bisa kering begitu saja.

Merasa masih butuh teman bicara dan butuh dukungan moril yang lebih besar, merasa beban di dadanya masih terlalu berat untuk dipikul sendiri, setelah perasaannya sedikit lebih tenang dan sudah bisa berbicara dengan agak lancar, Aira pun berjalan masuk ke dalam rumah.

Ia duduk di sofa ruang tamu yang empuk dan nyaman itu. Ia mengambil ponselnya yang ada di sakunya, lalu mulai menekan nomor sahabat satu-satunya yang paling ia percaya, Dinda.

Tidak butuh waktu lama, sambungan telepon pun tersambung.

"Halo cantikkkk!! Halo istri muda!! Apa kabar hahh?! Kenapa nelpon gue sore-sore gini?! Ada kejadian seru apa hari ini, hihihi?!" terdengar suara Dinda yang sangat ceria, sangat heboh, dan penuh energi seperti biasa di seberang sana. Suaranya yang renyah dan ceria terdengar sangat jelas menembus sambungan telepon.

Namun, alih-alih menjawab dengan riang seperti biasanya, begitu mendengar suara sahabatnya itu, pertahanan diri Aira yang baru saja diperbaiki sedikit demi sedikit oleh bibi Asih kembali runtuh lagi. Tangisan Aira kembali pecah.

"Hikss... Din... Aira sedih banget... hikss..."

"Haaaah?! Hah?! Lo nangis?! Astaga Ra! Kenapa sayang?! Kenapa nangis?! Ada orang nyakitin lo ya?! Siapa?! Kasih tau gue! Gue samperin sekarang juga! Gue habisin orangnya!" suara Dinda langsung berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap mata.

Dari yang tadinya ceria dan heboh, sekarang menjadi panik, khawatir, dan penuh amarah yang meledak-ledak. Suaranya terdengar sangat serius dan galak, siap membela sahabatnya mati-matian.

Aira pun menarik napas panjang berkali-kali, berusaha menenangkan suaranya agar bisa bicara dan bercerita dengan lancar. Lalu dengan terbata-bata dan sesekali terisak, ia menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya sore ini secara panjang lebar dan sangat detail.

Mulai dari kedatangan Natasha yang ugal-ugalan dengan mobil merahnya, pertemuan mereka di depan gerbang, kata-kata sinis Natasha, hinaan-hinaannya, perbandingan-perbandingan yang menyakitkan, sampai pada kalimat paling menyakitkan yang diucapkan Natasha, "Mundur ya... gue masih cinta banget sama dia..."

Aira menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Bagaimana perasaannya hancur, bagaimana ia merasa tidak berguna, bagaimana ia merasa minder, dan bagaimana ketakutannya kalau-kalau Elvano masih menyimpan rasa untuk mantannya itu. Ia curhat sampai ia merasa lega.

"Haaaaaaaah?! Dia berani ngomong gitu ke lo?! Dia berani ngomong gitu?! Gila ya perempuan itu! Dasar mantan tak tahu diri! Dasar bekas kemarin! Berani-beraninya dia nyakitin temen gue!" terdengar suara Dinda yang mengomel panjang lebar dengan sangat marah di seberang sana. Suaranya melengking tinggi karena emosi yang memuncak sampai ke ubun-ubun. "Dasar wanita gila! Udah putus masa lalu masih aja ngejar-ngejar! Berani-beraninya dia nyakitin sahabat gue! Gue pengen banget ada di situ sekarang, pasti udah gue cakar mukanya yang sok cantik itu!"

"Iya Din... Aira sakit hati banget ... sakit banget..." isak Aira pelan, suaranya parau dan serak karena terlalu banyak menangis.

"Dengerin gue baik-baik ya Ra! Dengerin sini!" suara Dinda menjadi sangat serius, tegas, dan penuh wibawa di seberang sana. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri dulu agar bisa memberikan nasihat yang benar kepada sahabatnya. "Lo harus kuat denger ya! Lo itu istri sah! Lo yang halal! Lo yang ada di samping Elvano sekarang! Bukan dia! Dia itu cuma masa lalu! Cuma kenangan! Cuma sampah yang udah dibuang! Ngerti lo?! Jangan biarin orang kayak dia ngerusak kebahagiaan lo!"

"Tapi Din... dia bilang dia masih cinta sama mas Elvano, dia bilang mereka cocok," Aira kembali mengulang kalimat-kalimat menyakitkan itu dengan suara yang gemetar.

"Terus gimana?! Cinta boleh aja tapi jangan ngerusak rumah tangga orang dong! Itu namanya bukan cinta tapi namanya egois! Itu namanya gak rela! Itu namanya gak bisa move on!" Dinda menghela napas panjang sekali terdengar di telepon, lalu melanjutkan pembicaraannya dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas. "Lagian si mas Elvano kan udah nikah sama lo Ra! Kalau emang bener dia masih sayang sama Natasha, ngapain dia nikah sama lo?! Ngapain dia bawa lo ke rumahnya?! Ngapain dia baik sama lo?! Ngapain dia jagain lo?! Pake otak dikit dong sayangku! Jangan mau kebawa omongan orang yang hatinya busuk!"

Kata-kata dinda itu cukup menohok dan menyadarkan Aira sedikit demi sedikit. Memang benar apa yang dikatakan Dinda. Kalau Elvano tidak sayang, untuk apa semua perhatian itu? Untuk apa semua kebaikan itu?

"Terus... terus Aira harus gimana Din? Aira takut..." bisik Aira pelan penuh keraguan.

"Lo harus percaya diri Ra! Lo cantik! Lo baik! Lo tulus! Lo sholehah! Itu jauh lebih mahal harganya daripada cuma cantik doang tapi hatinya busuk kayak Natasha itu!" nasihat Dinda panjang lebar dengan penuh semangat. "Lo jawab aja dengan santai kalau dia datang lagi! Lo bilang 'iya aku tahu kamu cinta, tapi Elvano sekarang suami aku dan dia sayang sama aku'. Tunjukkin kalau lo lebih dewasa dan lebih pantas! Jangan kasih kendor! Jangan nangis lagi ya! Nanti jelek lho cantiknya! Nanti kalau suami lo pulang liat lo nangis kan kasihan, dia juga pasti sedih dan marah besar!"

Aira tersenyum tipis meski wajahnya masih sembab dan merah. Rasa lega mulai menyelinap masuk ke dalam dadanya. "Iya Din, makasih ya udah mau dengerin curhat Aira, makasih udah dukung Aira, makasih udah jadi sahabat terbaik Aira."

"apaan,sih, kan kita sahabat sejati! Sahabat itu pasti ada di saat susah maupun senang! Udah ya jangan nangis lagi! Cepet cuci muka, minum air putih yang banyak, terus siap-siap sambut suami tercinta dengan senyum terbaik lo! Tunjukkin kalau lo kuat dan layak diperjuangin! Oke?!"

"Iya Din.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!