Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Sate Kambing
Ceklek...
Pintu kamar VVIP itu terbuka. Vincent muncul dari balik pintu. Alina yang tengah sisiran di atas ranjang pasien itupun menoleh.
Vincent diam sejenak di tempatnya. Gadis itu baru selesai mandi. Wajahnya yang ayu tanpa make up terlihat segar. Bibirnya sedikit pucat tanpa olesan lipstik ataupun lipgloss. Kulit wajahnya terlihat natural tanpa polesan bedak dan sejenisnya. Rambutnya masih setengah basah namun sudah di sisir. Sebuah perasaan yang aneh kembali bergejolak. Dada itu kembali berdebar. Namun kini lebih teratur. Tak seperti di kamar mandi yang membuatnya kesusahan mengontrol 'adik kecilnya'.
"Vincent? Kamu dari mana?" tanya Alina.
Vincent sedikit gelagapan. Ia berjalan mendekati Alina seraya berusaha menetralkan ekspresinya.
"Em...aku dari kamar mandi depan," ucapnya sedikit gugup.
"Ngapain?" tanya Alina dengan dahi mengernyit.
"Emm...biasa!" ucapnya tidak spesifik. Tak mungkin, kan, dia bilang yang sesungguhnya. Bahwa dia baru selesai 'main jari'.
Vincent berdiri di samping ranjang.
"Biar kubantu!" ucap pria itu sembari mengambil alih sisir di tangan Alina. Alina hanya menurut. Ia mengubah posisi duduknya membelakangi Vincent. Ia kemudian meraih ponselnya, dan menatap wajahnya melalui pantulan layar ponselnya yang retak.
Vincent menyisir rambut itu dengan lembut. Sesekali ia membelai rambut hitam sepanjang pinggang atas itu. Sedikit mengangkatnya, dan menghirup aroma wangi samponya.
"Rambutmu panjang juga," ucapnya. Alina tak menjawab.
"Mukaku pucet banget," keluh Alina menatap pantulan wajahnya. Vincent melirik, lalu menyunggingkan senyum simpul.
"Nggak apa-apa. Cantik, kok!" ucapnya tanpa menyudahi aktifitasnya.
Aline menoleh.
"Apa?" tanya Alina. Vincent melirik lagi.
"Lupakan!" ucapnya. Alina nampak berfikir, lalu kembali menatap ke depan.
"Perempuan hamil wajar, kan, Al, nggak pakai make up?" ucap Vincent.
"Iya, sih."
"Lagian nggak ada yang lihat. Yang lihat cuma aku," tambah pria itu. "Dan aku suka kamu apa adanya begini," ucap pria itu lagi dengan suara yang lebih pelan.
"Sudah selesai," ucap pria itu setelah selesai dengan sisirnya.
Alina tersenyum. "Makasih!"
Vincent meraih nampan berisik jatah makan pasien yang berada di atas nakas.
"Kamu belum sarapan?" tanya Alina yang kini duduk dengan tubuh tersandar di sandaran ranjang. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Makan, gih! Habisin biar kondisimu cepat pulih," ucap Vincent. "Biar aku suapi."
"Nggak usah. Aku bisa makan sendiri," jawab Alina.
"Udah, sih, nurut aja!" balas Vincent. "Atau kamu mau nungguin Pak Supri dulu. Dia udah otw ke sini. Aku suruh dia ambilin camilan buatan kamu sama beliin kamu makanan."
Belum sempat Alina menjawab. Pintu kamar pasien itu terbuka. Pak Supri datang dengan beberapa paperbag dan kantong kresek di tangannya.
"Tuan," ucap pria itu.
"Hmm..." jawabnya.
Sang supir mendekat. "Ini, Tuan. Semua sudah saya belikan."
Vincent tak menjawab. Ia menerima semua paperbag dan kresek itu. Supri menoleh ke arah Alina yang berada di atas ranjang, lalu tersenyum.
"Alina? Bagaimana kondisi kamu?" tanyanya.
"Udah mendingan, kok, Pak," jawab wanita itu.
"Syukurlah," balas Pak Supri.
"Ya sudah, Tuan, Alina, kalau begitu saya permisi dulu."
Pak Supri pun berlalu pergi.
"Kok banyak banget? Apa aja?" tanya Alina.
Vincent mengeluarkan isi dar paperbag dan kantong kresek itu satu persatu.
"Camilan kamu. Ini ada...apa, nih?" Vincent mengangkat sebungkus makanan bersaus kacang dari dalam kantong plastik itu.
"Sate! Pak Supri masih ingat kalau aku suka sate!" ucap Alina berbinar. Sedangkan Vincent nampak menjauhkan hidungnya dari benda d tangannya itu. Baunya membuat Vincent mual. Ia meletakkan benda itu di atas nakas. Lalu mengeluarkan lagi sebuah benda dari dalam paperbag putih di sana.
"Hp?" ucap Alina.
Vincent tersenyum. "Buat kamu," ucapnya.
"Hah?"
"Hp kamu rusak, Al."
"Enggak, kok. Ini masih bia diperbaiki!" ucap Alina sembari memperlihatkan ponselnya yang terlihat retak di bagian layar.
Vincent diam sejenak.
"Coba lihat!"
Alina menyodorkan ponsel itu. Lalu...
Braakk...
"Vincent!"
Ponsel itu terlempar membentur dinding. Yang semula hanya retak kini hancur berkeping-keping.
"Rusak, dong!" ucap Alina kesal.
"Emang udah rusak, Al!"
"Masih bisa dibenerin!"
"Kalau bisa dibuang ngapain harus dibenerin? Kan udah ada yang baru!" ucap pria itu seraya menyodorkan ponsel baru pemberiannya pada Alina.
Alina diam. Ini ponsel mahal. Harga satuannya bahkan bisa untuk membeli sepuluh biji ponsel seperti milik Alina yang rusak.
"Pakai aja yang itu! Di situ udah ada nomor barunya. Aku juga udah simpan banyak nomor di list kontaknya. Kalau ada apa-apa atau kamu butuh sesuatu, apapun itu. Kamu bisa hubungin salah satu dari nomor itu."
Alina tak menjawab. Dibukanya ponsel itu. Lalu menuju daftar kontak. Di sana, ada lima puluh kontak. Tapi namanya....
"Vincent"
"Louis"
"Oliver"
"Vincent Louis Oliver"
"V"
"I"
"N"
"C"
"E"
"N"
"T"
"L"
"O"
"U"
"II"
"S"
"OO"
"LI"
"VER"
Dan masih banyak lagi kontak dengan nama nama berbeda namun nomornya sama. Alina terkekeh membacanya.
"Hp nya baru," ucap Alina.
"Ya," jawab Vincent.
"Nomornya baru."
"Ya."
"Daftar kontaknya lima puluh."
"Ya."
"Tapi ini nomor kamu semua," lanjutnya sambil terkekeh mengarahkan layar ponsel itu ke arah Vincent.
Laki-laki itu mengulum senyum. Ia mendekatkan wajahnya pada Alina.
"Itu artinya, cuma aku yang bisa, siap, dan ada untuk kamu kapanpun, dan dalam kondisi apapun," jawabnya dengan suara yang lebih pelan.
Alina terdiam. Jarak diantara mereka cukup dekat. Jantung itu berdebar makin cepat saat diam diam ia mengamati tiap inci wajah tampan penuh kharisma itu.
Vincent mengulum senyum. Terlihat makin manis. Sesuatu bergejolak di diri Alina namun begitu sulit untuk di ungkapkan. Paras laki-laki ini hampir mendekati sempurna. Dalam hatinya berfikir, manusia sesempurna ini, kok bisa-bisanya hidupnya kesepian. Padahal dengan modal paras dan uang yang ia punya, ia bisa mendapatkan apapun yang ia mau. Jangankan teman, seribu pacar dalam sehari pun harusnya bisa, kan? Batin Alina berucap.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Vincent yang membuat Alina sontak terperanjat.
Laki-laki itu mengulum senyum. "Kamu bayangin apa tentang aku?" tanyanya seolah sangat percaya diri.
"Em...enggak!" jawab Alina. Vincent hanya berdecih sambil tersenyum tanpa mengubah posisinya. Membuat wanita itu pun salah tingkah dibuatnya.
"A...em..aku...aku mau sate!" ucapnya kemudian.
Vincent melirik nakas dengan santai.
"Suapin?"
"Eng...nggak usah!"
"Okey! Dengan senang hati!" Vincent meraih sebungkus sate yang dibelikan Pak Supri itu lalu membukanya.
Vincent memalingkan wajahnya. Bau bumbu kacang dan daging kambing yang dibakar merebak memenuhi ruangan. Membuat Vincent yang kurang suka dengan jenis daging satu itu pun seketika mual dan pusing dibuatnya. Seumur hidup ia bahkan tak pernah menyentuh makanan itu.
"Kenapa?" tanya Alina.
"Kamu yakin kamu mau makan benda ini? Ini bau banget, Al!"
"Enak, tau! Kamu belum pernah cobain, kan? Sini makan bareng!" ucapnya seraya mengambil satu tusuk sate yang masih berada di tangan Vincent itu lalu memakannya dengan lahapnya. Vincent yang duduk di kursi samping ranjang itu nyengir geli melihat Alina yang lahap.
"Kamu nggak enek sama baunya?" tanya Vincent yang bahkan sudah mual dengan bau makanan itu.
Alina menggelengkan kepalanya.
"Enggak! Ini enak, loh! Cobain!" ucap Alina sambil menyodorkan satu tusuk sate ke arah Vincent.
"Nggak!" Vincent menolak.
"Dikit aja!"
"Nggak, Alina! Bau!"
Alina menarik sepotong daging itu dari tusuknya. Lalu menyodorkannya pada Vincent dengan menggunakan telapak tangannya.
"Satu aja! Cobain!"
"Jorok!"
"Enak!! Cobain! Nggak usah sok ganteng!"
Vincent tak bisa mengelak lagi. Wanita itu begitu memaksa. Dengan berat hati ia pun membuka mulutnya. Daging masuk melalui suapan tangan Alina. Bibir itu kemudian terkatup. Membuat permukaan bibir yang merah bergesekan dengan jari-jari tangan lentik yang mulai bergeser keluar. Jarinya lembut dan gurih berbalut saus kacang.
"Enak?" tanya Alina.
Vincent diam. Untuk beberapa detik ia mengabaikan respon penolakan pada perutnya. Ia menatap genit ke arah Alina.
"Enak," jawabnya. Enak dalam artian lain🙈
Alina tersenyum. Ia begitu polos sampai-sampai tak paham "enak" dalam pikiran Vincent.
Alina kembali meraih satu tusuk satenya. Baru saja ia hendak menyantap sate itu. Tiba-tiba...
"Lagi!" ucap Vincent.
Alina mengulum senyum.
"Tuh, kan, ketagihan! Katanya tadi bau!"
Alina meraih satu tusuk sate lagi, lalu menyodorkannya pada Vincent.
"Pakai tanganmu!" ucap laki-laki itu.
Alina mengernyitkan dahinya. Ia pun menurut. Menarik satu potong daging, lalu memasukkannya ke dalam mulut Vincent. Gesekan antara jari-jari dan bibir pun kembali terjadi.
"Lagi!" ucap pria itu lagi.
Alina menurut lagi.
"Lagi...!"
"Cepet banget makannya? Nggak keras dagingnya?"
Vincent menggelengkan kepalanya.
"Gurih!" jawabnya.
Alina menggelengkan kepalanya. Hampir dua tusuk Vincent memakan daging kambing itu. Hingga tiba-tiba...
"Hmmmgg..." Vincent merasakan ada yang tidak beres pada perutnya.
"Kenapa?"
Vincent tak menjawab. Ada sesuatu yang memaksa keluar.
"Hmmmgg..."
"Vincent?"
Laki-laki itu menyerahkan bungkus sate itu pada Alina. Ia berlari ke kamar mandi.
"Hooeekk...hooeeekk...!"
Vincent muntah muntah. Sesuatu yang semula ditahan. Yang semula diabaikan demi gurihnya jari Alina kini tak bisa lagi dibendung. Semua yang baru saja ia telan keluar tanpa permisi. Vincent lemas. Makin mual. Pusing pula.
Alina yang berada di atas ranjang nampak terkekeh.
"Bapakmu keracunan!" ucapnya sambil mengusap usap lembut perut buncitnya.
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/