Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!

Bau dupa melati yang menyengat langsung menusuk hidung Alesia. Kepalanya pusing bukan main, seperti habis dihantam kompor gas melon tiga kilo. Samar-samar, telinganya menangkap suara isak tangis yang mendayu-dayu dan sangat berisik.

"Ya Tuhan, Yang Mulia Permaisuri... Sadarlah! Jangan tinggalkan kami!"

Alesia mengernyitkan dahi. Siapa sih yang berisik banget? Orang lagi pusing juga!

Ingatan terakhirnya berputar cepat. Sore itu di pinggiran Jakarta, ia sedang asyik makan bakso urat. Tiba-tiba tawuran antar-STM pecah di depan matanya. Sebagai anak kandung Abah—jawara silat Betawi tulen—darah Alesia mendidih melihat anak-anak ingusan saling tebas pakai celurit. Ia pun maju melerai pakai jurus silat warisan bokapnya.

Sialnya, saat ia berhasil melumpuhkan tiga bocah, sebuah gerobak gorengan yang lepas kendali meluncur bebas dari turunan jalan dan langsung menghantam tubuhnya sampai terpental.

Alesia mencoba membuka mata. Begitu pandangannya jelas, ia tidak melihat plafon tripleks kamarnya yang penuh stiker klub bola. Alih-alih, ia menatap langit-langit ranjang raksasa yang dihiasi tirai sutra emas dan ukiran kayu yang luar biasa mewah.

"Buset dah... Gue di mana nih? Rumah sakit mana yang kamarnya begini mentereng? Ganti rugi BPJS gue tembus berapa puluh juta emangnya?" gumam Alesia dengan suara serak.

"Yang Mulia! Anda sudah sadar?! Syukurlah kepada Dewa!"

Seorang gadis remaja dengan pakaian ala pelayan Eropa abad pertengahan tiba-tiba menubruk pinggiran kasurnya. Matanya sembap dan merah.

Alesia melongo. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Putih, mulus, dan jarinya lentik-lentik tanpa ada bekas kapalan akibat latihan memukul samsak.

"Heh, Neng! Lu siapa? Ini daerah mana? Jatinegara bukan?" tanya Alesia blak-blakan dengan logat Betawinya yang kental.

Gadis pelayan itu terbengong-bengong. Air matanya berhenti mengalir seketika. "Yang Mulia... Apa yang Anda bicarakan? Ini hamba, Lily. Pelayan setia Anda di Istana Mawar Kerajaan Orizon!"

"Kerajaan Orizon?! Lu jangan ngadi-ngadi ya. Lu lagi syuting drakor kolosal apa gimana nih?"

"Syu... syuting? Drakor? Apa itu, Yang Mulia? Anda baru saja keguguran untuk kelima kalinya, hamba mohon jangan banyak bergerak dulu!" Lily histeris memegangi selimut Alesia.

Alesia menyentuh perutnya yang terasa nyeri dan kosong. Ingatan dari pemilik tubuh asli mendadak mengalir deras ke otaknya bagai air bah. Alessia yang asli adalah wanita bangsawan lemah lembut yang dinikahi sang raja hanya demi melahirkan penerus. Dan yang lebih parah, keguguran berulang ini bukan karena rahimnya lemah, tapi karena racun yang sengaja ditaruh di makanannya oleh para selir licik!

"Buset dah, nasib amat badan begini cakep tapi hidupnya merana bener..." gumam Alesia prihatin.

Belum sempat Alesia mencerna keadaan lebih jauh, pintu kamar raksasa itu didobrak kasar dari luar. BRAAAK!

Seorang pria jangkung dengan jubah hitam berbulu melangkah masuk. Wajahnya luar biasa tampan, rahangnya tegas, dan matanya setajam elang. Tapi sayang, mukanya ditekuk sedemikian rupa seperti orang yang belum bayar utang sepuluh tahun. Dingin dan kaku.

Pria itu adalah Raja Magnus. Sang suami yang paling ditakuti seantero kerajaan.

"Kau sudah bangun, Alessia?" tanya pria itu dengan suara berat yang sangat dingin, tanpa ada nada khawatir sedikit pun.

Alesia refleks bangkit dan duduk tegak di kasur. Ia menatap pria itu dari atas sampai bawah. Wah, ini lakinya nih. Tampang sih spek dewa, tapi kok mukanya kayak kanebo kering begini ya?

"Iya, udah bangun. Kagak liat mata gue melotot begini?" jawab Alesia ketus tanpa saringan.

Magnus sempat tertegun sesaat mendengar nada bicara istrinya yang mendadak tidak tahu aturan. Namun, ia dengan cepat mengembalikan ekspresi datarnya. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping ranjang dengan angkuh.

"Baguslah kalau kau tidak mati. Tapi kau gagal lagi, Alessia. Ini sudah kelima kalinya kau keguguran dan gagal melahirkan ahli waris untukku. Apakah rahimmu itu memang selemah itu?" ujar Magnus tajam, tanpa perasaan.

Darah anak jawara silat di dalam diri Alesia langsung mendidih sampai ke ubun-ubun mendengar ucapan suaminya yang luar biasa tidak punya empati tersebut.

Alesia langsung menyibak selimutnya dan berdiri di atas ranjang. Ia berkacak pinggang menatap lurus ke arah mata Raja Magnus yang tingginya menjulang.

"Eh, denger ya, lu cowok kaku!" semprot Alesia dengan suara menggelegar. "Gue baru aja siuman dari maut, bukannya ditanya 'lu gapapa?' malah langsung nagih anak! Lu pikir gue mesin cetak batako yang bisa keluarin anak tiap jam?!"

Lily, sang pelayan, langsung menutup mulutnya dengan syok sampai hampir pingsan di lantai. "Ya ampun, Yang Mulia... Jaga bicara Anda di depan Yang Mulia Raja!"

Raja Magnus melebarkan matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh wibawa, ada seorang wanita—bahkan istrinya yang biasanya selalu menangis ketakutan—yang berani membentaknya tepat di depan muka.

"Kau... berani bicara seperti itu padaku, Permaisuri?!" desis Magnus dengan aura membunuh yang dingin. "Sepertinya kepalamu terbentur sangat keras saat pingsan tadi!"

"Kagak ada yang kebentur ya! Otak gue masih lempeng!" balas Alesia kencang. Ia justru maju selangkah di atas kasur yang empuk itu, membuat wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja.

"Apa kau tidak tahu batasanmu? Tugasmu di istana ini hanyalah melahirkan seorang pangeran untuk mengamankan takhta Orizon! Hanya itu!" bentak Magnus yang mulai tersulut emosi.

"Dih, maksa! Kalau lu mau anak buru-buru, noh sono suruh gundik-gundik lu yang hamil! Kenapa kudu nuntut gue mulu?!"

"Karena kau adalah Ratu yang sah! Anak dari selir tidak akan pernah bisa menduduki takhta utama! Kau harus tahu kewajibanmu!"

Alesia tertawa mengejek, "Kewajiban ndasmu! Lu dengerin gue baik-baik ya, Tong! Rahim gue keguguran mulu itu karena diracun, bukan karena lemah! Lu jadi laki mending buka mata lebar-lebar, selidiki dulu tuh bini-bini simpanan lu yang bermuka dua! Jangan cuma bisanya nyalahin bini doang! Paham lu?!"

Ruangan megah itu mendadak hening seketika. Magnus terpaku menatap mata Alesia yang menyala-nyala penuh amarah dan keberanian. Belum pernah ada manusia yang mengatainya "Tong" seumur hidupnya, apalagi menuduh adanya konspirasi racun di istananya yang dijaga ketat.

"Apa katamu? Diracun? Jangan mencari alasan yang konyol untuk menutupi ketidakmampuanmu, Alessia!" sahut Magnus dengan nada yang merendah, tapi penuh ancaman.

"Konyol kata lu? Sini lu deketan!" Alesia menarik kerah jubah berbulu milik Magnus dengan kasar sampai tubuh kekar sang raja sedikit membungkuk.

Lily di pojokan sudah menangis tanpa suara melihat ratunya menjambak pakaian sang penguasa tertinggi.

"Lu cium nih bau dupa di kamar ini!" Alesia menunjuk wadah dupa di sudut ranjang. "Ini namanya dupa melati dicampur ekstrak akar darah. Kalau dihirup bumil tiap hari, janin di perut auto wassalam! Lu kate gue bego apa kaga tahu herba ginian?!"

Magnus terdiam. Ia menatap wadah dupa itu dengan kening berkerut. Sebagai ksatria yang sering berperang, ia memang tahu beberapa jenis racun, tapi ia tidak pernah mendalami urusan herba khusus wanita di dalam harem.

"Jika apa yang kau katakan adalah sebuah kebohongan untuk menarik perhatianku, aku tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara bawah tanah, Alessia," ucap Magnus dingin, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Alesia dari kerah jubahnya.

"Lepaskan tanganmu dari bajuku, Alessia!" seru Magnus lagi.

"Gue kaga bakal bohong soal nyawa anak gue sendiri ya, Bambang! Eh, sori, nama lu siapa tadi? Mangnus? Magnus? Bodo amat lah ya. Pokoknya kalau lu emang pinter jadi raja, lu buktiin omongan gue! Panggil tabib paling jujur di luar istana, suruh periksa nih dupa!" tantang Alesia seraya melepaskan cengkeraman tangannya dengan dorongan kuat.

Magnus terhuyung selangkah ke belakang. Ia benar-benar syok. Istrinya yang biasanya bicaranya selembut sutra dan selalu menunduk ketakutan, kini mendadak menjadi sangat beringas, bermulut kotor, dan bahkan memiliki tenaga yang cukup kuat untuk mendorongnya.

"Siapa yang mengajarimu berbicara kasar dan bertingkah tidak tahu sopan santun seperti ini, Alessia?!" tanya Magnus dengan tatapan menyelidik yang tajam.

Alesia berkacak pinggang lagi, melompat turun dari kasur dengan lincah seperti kucing, dan berdiri tegak menghadap Magnus. "Kagak ada yang ngajarin! Ini gaya asli gue! Lu kaga suka? Ya udah, ceraiin gue aja ribet amat! Keluarin gue dari istana lu yang penuh ular kobra ini!"

Mendengar kata 'cerai', rahang Magnus langsung mengeras. Entah mengapa, ada letupan emosi aneh yang tidak ia mengerti di dalam dadanya mendengar wanita ini begitu mudah meminta berpisah.

"Minta cerai? Tidak akan pernah!" desis Magnus sambil mencengkeram kedua bahu Alesia dengan kuat. "Kau adalah milikku, Alessia. Kau masuk ke istana ini sebagai ratuku, dan kau hanya akan keluar dari sini sebagai mayat!"

Alesia tidak gentar. Ia justru tersenyum miring, lalu dengan gerakan kilat yang tidak terduga, ia melakukan teknik kuncian silat. Ia memutar pergelangan tangan Magnus dan menekuknya ke belakang punggung sang raja dalam sekejap mata.

"Aww!" Magnus meringis tertahan saat merasakan nyeri di persendian lengannya. Ia terpaksa membungkuk karena kuncian Alesia yang sangat presisi.

"Eh, denger ya Bos kaku!" bisik Alesia tepat di telinga Magnus yang sedang terkunci. "Jangan main fisik sama gue kalau lu kaga mau tulang lu geser! Mulai hari ini, gue bukan Alessia yang lemah lembut lagi. Kalau lu mau anak dari gue, lu kudu pastiin dulu keamanan gue dari racun-racun gundik lu! Dan yang paling penting... lu kudu buat gue jatuh cinta dulu sama lu! Lu pikir bikin anak kagak butuh perasaan?!"

Alesia melepaskan kunciannya dengan sekali sentakan kuat, membuat sang raja sempat terhuyung ke depan sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali.

Magnus membalikkan badannya dengan napas yang memburu. Matanya menatap Alesia dengan campuran rasa marah, tidak percaya, dan... sedikit ketertarikan yang tidak bisa ia pungkiri. Istrinya yang sekarang benar-benar terasa sangat hidup dan menantang.

"Baik," ucap Magnus akhirnya dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang karena syok sekaligus berdebar aneh. "Aku akan memanggil tabib pribadiku dan menyelidiki dupa ini. Tapi ingat, Alessia... Jika kau terbukti hanya mengada-ada demi menghindar dari tugasmu melahirkan ahli waris, aku sendiri yang akan menghukummu di atas ranjang ini sampai kau memohon ampun!"

Setelah mengucapkan kalimat bernada ancaman (yang diam-diam diselimuti rasa gengsi yang tinggi itu), Raja Magnus berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kamar dengan jubah hitamnya yang berkibar emosional.

Alesia hanya mencibir melihat kepergian suaminya. "Dih, ngancemnya ngeri amat si Bambang kaku! Lu pikir gue takut?! Sini lu kalau berani tanding silat lawan anak Abah!"

"Yang... Yang Mulia..." Lily yang sejak tadi terduduk di lantai akhirnya berani bersuara dengan tubuh yang masih gemetaran hebat. "Tadi itu... tadi itu Anda apakan tangan Yang Mulia Raja? Kenapa beliau sampai tidak berkutik?!"

Alesia menoleh ke arah pelayannya yang masih ketakutan itu, lalu menyeringai lebar. "Itu namanya jurus 'Tekuk Lele' warisan Abah gue, Neng! Mulai hari ini, lu tenang aja. Kagak bakal ada lagi yang berani nindas kita di istana ini. Ayo bantuin gue, gue laper pengen makan bakso! Eh, di sini ada tukang bakso urat keliling kaga?!"

Lily hanya bisa melongo lebar, bertanya-tanya apakah jiwa ratunya yang malang beneran sudah tertukar dengan mahluk gaib dari dimensi lain.

Terpopuler

Comments

Muft Smoker

Muft Smoker

kak baru bab awal loo tp udh seruuu liat tingkat alessi yg apa adany ,,
semangat trus ya kak nulis ny

2026-05-10

0

Muft Smoker

Muft Smoker

duuh korban tabrak lari gerobak gorengan🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣


hai kak ,,
aq mampir ksniii

2026-05-10

0

sasa adzka

sasa adzka

baru mampir Thor sdh ngakak duluan ne.. mana nyari bakso urat lagi😂😂😂
semangat up nya😍

2026-05-31

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!
2 Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik
3 Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur
4 Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah
5 Bab 5: Diplomasi Sambal Korek Dan Tiker Sembahyang
6 Bab 6: Menantu Idaman Rawa Belong Vs Ibu Suri
7 Bab 7: Kencan Di Gudang Senjata Dan Goyang Golok Seliwa
8 Bab 8: Pengadilan "Santet" Dan Logika Anak Depok
9 Bab 9: Modus Sang Raja Dan Duel Darah Panas
10 Bab 10: Drama Jurang Dan Pahlawan Kesiangan
11 Bab 11: Obat Merah, Salep, Dan Jantung Yang Diskotik
12 Bab 12: Anggur Harum Tapi Maut Dan Indra Penciuman Anak Depok
13 Bab 13: Badai Di Paviliun Mawar Dan Sikap Tegas Sang Raja
14 Bab 14: Nasi Goreng Jawara Dan Sisi Manis Sang Raja Dingin
15 Bab 15: Pijat Saraf Dan Salam Perpisahan Untuk Sang Jenderal
16 Bab 16: Silat Seliwa Dan Dongeng Dari Negeri Depok
17 Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota
18 Bab 18: Cermin Kebenaran Dan Teriakan Dari Depok
19 Bab 19: Tamu Dari Masa Lalu Dan Sinyal Perang Perempuan
20 Bab 20: Bidikan Maut Dan Trik Licik Sang Putri
21 BAB 21: RACUN DALAM MANISAN DAN SUMPAH DI BAWAH REMBULAN
22 Bab 22: Penyamaran Di Pasar Kerak Neraka
23 Bab 23: Logika Depok Vs Fitnah Iblis
24 Bab 24: Mission Impossible: Operasi Air Bersih
25 Bab 25: Bintang Jatuh Dan Logika Langit
26 Bab 26: Gerilya Di Lembah Kabut
27 Bab 27: Proklamasi Jiwa Dan Titik Didih Orizon
28 BAB 28: TEATER KEMATIAN DI GERBANG CAKRAWALA
29 Bab 29: Sisa Asap Dan Rencana Nasi Liwet
30 Bab 30: Pasir Putih Dan Goyang Rakyat Jelata
31 Bab 31: Pesan Dalam Botol Dan Misteri Pulau Tanpa Nama
32 Bab 32: Tanda Di Pergelangan Tangan
33 Bab 33: Frekuensi Anti-galau
34 Bab 34: Teknologi Para Dewa Atau Hanya "Wi-fi" Yang Hilang?
35 Bab 35: Sesak Napas Di Ruang Hampa
36 Bab 36: Badai Dan Intrik Sang Anak Angkat
37 Bab 37: Pengadilan Lidah Bercabang
38 Bab 38: Gema Khianat Di Balik Festival
39 Bab 39: Memori Yang Memudar Dan Ritual Kegelapan
40 Bab 40: Pilihan Sang Permaisuri: Mahkota Atau Pulang?
41 Bab 41: Kurikulum Terasi Dan Revolusi Papan Tulis
42 Bab 42: Guru Dari Masa Lalu Dan Kelas Yang Semrawut
43 Bab 43: Sepupu Jauh Dari Kampung Seberang
44 Bab 44: Burung Dewa Yang Mengeluarkan Api
45 Bab 45: Kebenaran Yang Menyengat Lebih Dari Terasi
46 Bab 46: Inspektur Seksi Dan Bau-bau Asap Cemburu
47 Bab 47: Obat Cinta Dan Ember Penyelamat
48 Bab 48: Ketika Penggaris Berubah Jadi Popor Senjata
49 Bab 49: Badai Pasir Dan Besi Raksasa
50 Bab 50: Pesan Dari Masa Depan Yang Terbelah
51 Bab 51: Layang-layang Petir Dan Sengatan Dari Langit
52 Bab 52: Revolusi Micin Dan Keajaiban Bungkus Kuning
53 Bab 53: Mata-mata Yang Salah Cara Pegang Garpu
54 Bab 54: Eksoskeleton Dan Hujan Bambu Ledak
55 Bab 55: Suara Dari Masa Depan Yang Paling Dekat
56 Bab 56: Duel Dua Darah Di Bawah Langit Yang Pecah
57 Bab 57: Teh Anget Depok Dan Rekonsiliasi Keluarga
58 Bab 58: Sebuah Rencana Balas Dendam Beraroma Baja
59 Bab 59: Benturan Logam Dan Ambisi Yang Terlalu Tinggi
60 Bab 60: Detik-detik Keheningan Yang Mematikan
61 Bab 61: Tumpengan, Micin, Dan Tagihan Rakyat
62 Bab 62: Negosiasi Internal Dan Kotak Putih Di Laci Mandi
63 Bab 63: Geger Istana Dan Zirah Bayi Pertama Di Dunia
64 Bab 64: Rujak Asam Pedas Dan Ramalan Tiga Bulan Bulat
65 Bab 65: Tidur Berjalan Dan Sendok Terbang
66 Bab 66: Perut Semalam Dan Utusan Dari Kerajaan Pusat
67 Bab 67: Hujatan Sang Utusan Dan Amukan Daster Mega Mendung
68 Bab 68: Kontraksi Minggu Kedua Dan Radar Yang Meledak
69 Bab 69: Seblak Ceker Mana Level Setan Dan Paradox Indrawi
70 Bab 70: Artefak Bulan Darah Dan Pertahanan Terakhir
71 Bab 71: Hari Yang Dinanti Dan Kepanikan Antar-dimensi
72 Bab 72: Bumi Arka Magnus Dan Sendok-sendok Yang Tersesat
73 Bab 73: Desas-Desus Kota Pusat Dan Golok Yang Diasah
74 Bab 74: Penyusup Bayang Dan Setruman Jemuran Batik
75 Bab 75: Racun Kafein Dan Detektif Dapur Orizon
76 Bab 76: Pusaran Air Hangat Dan Serbuan Gua Barat
77 Bab 77: Kolom Air Ajaib Dan Putri Dari Selatan
78 Bab 78: Panah Beracun Spasial Dan Aksi Penyelamatan Sang Mayor
79 Bab 79: Bersin Sang Pangeran Dan Daun Perak Yang Bergetar
80 Bab 80: Popok Anti-radiasi Dan Redupnya Cahaya Bumi
81 Bab 81: Popok Yang Membara Dan Badai Di Bukit Tengkorak
82 Bab 82: Bakso Urat Depok Dan Material Makcomblang
83 Bab 83: Zirah Dewa Perang Dan Kedatangan Sang Tyrant
84 Bab 84: Sensor Dimensi Kantong Dan Akhir Sang Dewa Perang
85 Bab 85: Piagam Putih Dan Balap Karung Eps-omega
86 Bab 86: Kunjungan Mertua Gaib Dan Operasi Bersih-bersih Paviliun
87 Bab 87: Stroller Terbang Kelas Dewa Dan Insiden Overdrive Siber
88 Bab 88: Kain Jarik Legendaris Dan Kilau Akik Sang Pengembara
89 Bab 89: Marabunta Utara Dan Palu Tempa Tradisional
90 Bab 90: Madu Lebah Ratu Mistis Dan Operasi Sarang Raksasa
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!
2
Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik
3
Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur
4
Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah
5
Bab 5: Diplomasi Sambal Korek Dan Tiker Sembahyang
6
Bab 6: Menantu Idaman Rawa Belong Vs Ibu Suri
7
Bab 7: Kencan Di Gudang Senjata Dan Goyang Golok Seliwa
8
Bab 8: Pengadilan "Santet" Dan Logika Anak Depok
9
Bab 9: Modus Sang Raja Dan Duel Darah Panas
10
Bab 10: Drama Jurang Dan Pahlawan Kesiangan
11
Bab 11: Obat Merah, Salep, Dan Jantung Yang Diskotik
12
Bab 12: Anggur Harum Tapi Maut Dan Indra Penciuman Anak Depok
13
Bab 13: Badai Di Paviliun Mawar Dan Sikap Tegas Sang Raja
14
Bab 14: Nasi Goreng Jawara Dan Sisi Manis Sang Raja Dingin
15
Bab 15: Pijat Saraf Dan Salam Perpisahan Untuk Sang Jenderal
16
Bab 16: Silat Seliwa Dan Dongeng Dari Negeri Depok
17
Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota
18
Bab 18: Cermin Kebenaran Dan Teriakan Dari Depok
19
Bab 19: Tamu Dari Masa Lalu Dan Sinyal Perang Perempuan
20
Bab 20: Bidikan Maut Dan Trik Licik Sang Putri
21
BAB 21: RACUN DALAM MANISAN DAN SUMPAH DI BAWAH REMBULAN
22
Bab 22: Penyamaran Di Pasar Kerak Neraka
23
Bab 23: Logika Depok Vs Fitnah Iblis
24
Bab 24: Mission Impossible: Operasi Air Bersih
25
Bab 25: Bintang Jatuh Dan Logika Langit
26
Bab 26: Gerilya Di Lembah Kabut
27
Bab 27: Proklamasi Jiwa Dan Titik Didih Orizon
28
BAB 28: TEATER KEMATIAN DI GERBANG CAKRAWALA
29
Bab 29: Sisa Asap Dan Rencana Nasi Liwet
30
Bab 30: Pasir Putih Dan Goyang Rakyat Jelata
31
Bab 31: Pesan Dalam Botol Dan Misteri Pulau Tanpa Nama
32
Bab 32: Tanda Di Pergelangan Tangan
33
Bab 33: Frekuensi Anti-galau
34
Bab 34: Teknologi Para Dewa Atau Hanya "Wi-fi" Yang Hilang?
35
Bab 35: Sesak Napas Di Ruang Hampa
36
Bab 36: Badai Dan Intrik Sang Anak Angkat
37
Bab 37: Pengadilan Lidah Bercabang
38
Bab 38: Gema Khianat Di Balik Festival
39
Bab 39: Memori Yang Memudar Dan Ritual Kegelapan
40
Bab 40: Pilihan Sang Permaisuri: Mahkota Atau Pulang?
41
Bab 41: Kurikulum Terasi Dan Revolusi Papan Tulis
42
Bab 42: Guru Dari Masa Lalu Dan Kelas Yang Semrawut
43
Bab 43: Sepupu Jauh Dari Kampung Seberang
44
Bab 44: Burung Dewa Yang Mengeluarkan Api
45
Bab 45: Kebenaran Yang Menyengat Lebih Dari Terasi
46
Bab 46: Inspektur Seksi Dan Bau-bau Asap Cemburu
47
Bab 47: Obat Cinta Dan Ember Penyelamat
48
Bab 48: Ketika Penggaris Berubah Jadi Popor Senjata
49
Bab 49: Badai Pasir Dan Besi Raksasa
50
Bab 50: Pesan Dari Masa Depan Yang Terbelah
51
Bab 51: Layang-layang Petir Dan Sengatan Dari Langit
52
Bab 52: Revolusi Micin Dan Keajaiban Bungkus Kuning
53
Bab 53: Mata-mata Yang Salah Cara Pegang Garpu
54
Bab 54: Eksoskeleton Dan Hujan Bambu Ledak
55
Bab 55: Suara Dari Masa Depan Yang Paling Dekat
56
Bab 56: Duel Dua Darah Di Bawah Langit Yang Pecah
57
Bab 57: Teh Anget Depok Dan Rekonsiliasi Keluarga
58
Bab 58: Sebuah Rencana Balas Dendam Beraroma Baja
59
Bab 59: Benturan Logam Dan Ambisi Yang Terlalu Tinggi
60
Bab 60: Detik-detik Keheningan Yang Mematikan
61
Bab 61: Tumpengan, Micin, Dan Tagihan Rakyat
62
Bab 62: Negosiasi Internal Dan Kotak Putih Di Laci Mandi
63
Bab 63: Geger Istana Dan Zirah Bayi Pertama Di Dunia
64
Bab 64: Rujak Asam Pedas Dan Ramalan Tiga Bulan Bulat
65
Bab 65: Tidur Berjalan Dan Sendok Terbang
66
Bab 66: Perut Semalam Dan Utusan Dari Kerajaan Pusat
67
Bab 67: Hujatan Sang Utusan Dan Amukan Daster Mega Mendung
68
Bab 68: Kontraksi Minggu Kedua Dan Radar Yang Meledak
69
Bab 69: Seblak Ceker Mana Level Setan Dan Paradox Indrawi
70
Bab 70: Artefak Bulan Darah Dan Pertahanan Terakhir
71
Bab 71: Hari Yang Dinanti Dan Kepanikan Antar-dimensi
72
Bab 72: Bumi Arka Magnus Dan Sendok-sendok Yang Tersesat
73
Bab 73: Desas-Desus Kota Pusat Dan Golok Yang Diasah
74
Bab 74: Penyusup Bayang Dan Setruman Jemuran Batik
75
Bab 75: Racun Kafein Dan Detektif Dapur Orizon
76
Bab 76: Pusaran Air Hangat Dan Serbuan Gua Barat
77
Bab 77: Kolom Air Ajaib Dan Putri Dari Selatan
78
Bab 78: Panah Beracun Spasial Dan Aksi Penyelamatan Sang Mayor
79
Bab 79: Bersin Sang Pangeran Dan Daun Perak Yang Bergetar
80
Bab 80: Popok Anti-radiasi Dan Redupnya Cahaya Bumi
81
Bab 81: Popok Yang Membara Dan Badai Di Bukit Tengkorak
82
Bab 82: Bakso Urat Depok Dan Material Makcomblang
83
Bab 83: Zirah Dewa Perang Dan Kedatangan Sang Tyrant
84
Bab 84: Sensor Dimensi Kantong Dan Akhir Sang Dewa Perang
85
Bab 85: Piagam Putih Dan Balap Karung Eps-omega
86
Bab 86: Kunjungan Mertua Gaib Dan Operasi Bersih-bersih Paviliun
87
Bab 87: Stroller Terbang Kelas Dewa Dan Insiden Overdrive Siber
88
Bab 88: Kain Jarik Legendaris Dan Kilau Akik Sang Pengembara
89
Bab 89: Marabunta Utara Dan Palu Tempa Tradisional
90
Bab 90: Madu Lebah Ratu Mistis Dan Operasi Sarang Raksasa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!