NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.

Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.

Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi ke Lembang Bandung part 3

Mobil mereka meluncur perlahan menyusuri jalanan setapak yang dikelilingi pohon pinus hingga tiba di sebuah vila kayu yang artistik. Vila milik Deva itu memiliki jendela kaca besar yang menghadap langsung ke lembah Lembang. Begitu masuk, Aliya dan Adiba langsung berlari ke arah balkon, mereka terpukau melihat pemandangan kota di bawah sana yang mulai dihiasi lampu-lampu temaram.

Malam itu, mereka berkumpul di ruang tengah yang hangat. Deva duduk di atas karpet bulu bersama si kembar, sementara Hanum dan Alvaro menikmati teh hangat di sofa.

"Bunda dulu itu primadona sekolah, ya Tante?" tanya Aliya antusias.

Deva tertawa lebar, matanya berkilat penuh kenangan. "Wah, bukan lagi! Banyak sekali pria yang mengejarnya. Dulu Bunda kalian ini rambutnya panjang sekali, hitam berkilau, dan selalu diikat ekor kuda. Jujur saja, Tante sampai pangling melihat Hanum yang sekarang begitu anggun dengan hijabnya."

Hanum hanya tersenyum simpul, sesekali melirik Alvaro yang ternyata sedang menyimak pembicaraan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Setelah makan malam yang akrab, Alvaro pamit ke area samping karena mendapat telepon penting dari kantor, sementara Aliya dan Adiba asyik bermain ayunan di taman depan. Di dalam vila, suasana menjadi lebih sunyi, menyisakan Hanum dan juga Deva.

"Num," panggil Deva pelan, matanya menatap ke arah pintu tempat Alvaro pergi. "Aku perhatikan sedari tadi, Kak Al masih seperti dulu ya sikapnya. Dingin tapi cool. Kau tahu kan, sedari dulu aku suka sekali pada kakakmu itu?"

Deg!

Jantungnya Hanum berdesir aneh. Ia tidak menyangka Deva masih menyimpan perasaan itu.

"Apa Kak Al sudah menikah, Num?" tanya Deva antusias.

"Belum, Dev. Kata Kak Al, dia suka pada seseorang, tapi katanya orang itu tidak menyukainya," jawab Hanum pelan.

Deva terbelalak. "Hah? Serius? Kak Al ditolak perempuan? Bodoh sekali perempuan itu! Kalau aku jadi dia, sudah aku ajak nikah sekarang juga. Eh Num, kamu mau tidak comblangkan aku dengan kakakmu? Kamu mau kan aku jadi kakak iparmu?"

Entah kenapa, ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya Hanum. Ide melihat Deva bersanding dengan Alvaro terasa sangat salah di hatinya.

"Sudahlah, Dev. Jangan bahas itu di sini. Aku sudah mulai mengantuk dan ingin istirahat," potong Hanum cepat, nada suaranya sedikit ketus. Deva hanya bisa menghela napas, menyadari sahabatnya itu masih sangat protektif terhadap kakaknya.

*

*

Keesokan paginya, udara Lembang begitu dingin hingga menusuk ke tulang. Hanum memutuskan untuk berjoging ringan di sekitar area vila untuk menjernihkan pikirannya yang semalam terganggu oleh kata-kata Deva.

Saat sedang berlari kecil sambil melamun, Hanum tidak menyadari jalanan rumput yang ia pijak sangat licin akibat hujan semalam.

Srettt!

Bruukkk!

Hanum terjatuh, lututnya menghantam tanah dan menimbulkan luka lecet yang cukup dalam.

"Awh..." rintihnya kesakitan.

"Num! Kamu tidak apa-apa?" Suara bariton itu muncul dengan nada panik. Ternyata Alvaro sudah berada di belakangnya, entah sejak kapan.

"Aku tidak apa-apa, Kak," jawab Hanum sambil meringis. Namun, saat ia mencoba berdiri, perih di lututnya membuatnya hampir jatuh kembali.

Tanpa banyak bicara, Alvaro membelakangi Hanum dan berjongkok di depannya.

"Naiklah ke punggungku, Num. Biar aku gendong sampai ke vila."

"Jangan, Kak! Aku bisa jalan sendiri," tolak Hanum merasa tidak enak.

"Naik, Hanum. Jangan keras kepala," perintah Alvaro tegas namun lembut. Akhirnya Hanum menurut, ia melingkarkan tangannya di leher Alvaro dan menyandarkan tubuhnya di punggung kokoh pria itu.

Sambil berjalan perlahan, Alvaro berbisik, "Kau tahu, Num? Aku selalu menggendong mu seperti ini sejak kecil. Terakhir kali saat kamu SMA, jatuh karena dikejar si Chiko, anjingnya Pak Darto tetangga kita."

Hanum tersenyum kecil mengingat kejadian konyol itu. Ia menyandarkan dagunya di bahu Alvaro, menghirup aroma parfum maskulin kakaknya yang menenangkan. Namun, ada yang berbeda. Jika dulu ia merasa aman sebagai seorang adik, kini ada debaran lain yang membuat wajahnya memanas. Perasaan ini bukan lagi sekedar rasa sayang kepada seorang kakak, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam yang mulai merayap di hatinya.

*

*

Setibanya di beranda vila, Alvaro segera mendudukkan Hanum di sofa ruang tengah. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak tegang dan penuh kekhawatiran. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil mencari kotak P3K di lemari dapur.

Hanum meringis, memegangi lutut kirinya yang mulai membiru dengan luka lecet yang cukup dalam. Darah segar tampak merembes di kain celana olahraganya yang tersingkap.

"Tahan ya, Num. Ini mungkin akan sedikit perih," ujar Alvaro lembut sambil berlutut di hadapan Hanum. Ia mulai membersihkan luka itu dengan kapas yang dibasahi alkohol.

Hanum memejamkan matanya erat, mencengkeram pinggiran sofa.

"Sshhh... pelan-pelan, Kak."

Alvaro tidak menjawab, ia justru semakin fokus. Dengan sangat telaten, ia mengoleskan cairan antiseptik lalu membalut luka tersebut dengan kain kasa dan plester secara rapi. Setelah memastikan perbannya terpasang sempurna, Alvaro berdiri. Namun, alih-alih membantu Hanum berdiri, ia justru melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Dengan satu gerakan sigap dan bertenaga, Alvaro mengangkat tubuh Hanum dalam gendongan bridal style.

"Eh! Kak, aku baik-baik saja! Aku bisa jalan sendiri ke kamar," seru Hanum panik, tangannya refleks melingkar di leher Alvaro agar tidak terjatuh.

"Sudah, kamu diam saja, Num. Jangan banyak gerak kalau tidak mau lukanya terbuka lagi," sahut Alvaro tegas, mengabaikan protes Hanum sembari melangkah mantap menuju kamar di lantai bawah.

Setibanya di dalam kamar, Alvaro perlahan membungkuk untuk merebahkan tubuh Hanum ke atas kasur yang empuk. Namun, entah karena karpet yang sedikit terlipat atau kelelahan setelah menggendong Hanum, kakinya Alvaro tersandung.

Ia kehilangan keseimbangan.

Bruukk!

Tubuh tegap Alvaro jatuh tepat di atas Hanum. Beruntung, kedua lengannya masih sempat menumpu di sisi kepala Hanum, mencegah tubuhnya menindih Hanum sepenuhnya. Namun, jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter saja.

Napas mereka menderu, saling beradu di udara dingin Lembang. Hanum bisa merasakan debaran jantungnya yang menggila, bukan karena takut, tapi karena tatapan mata Alvaro yang begitu dalam dan penuh kerinduan. Alvaro pun terpaku, menatap lekat manik mata wanita yang selama ini ia cintai dalam diam. Keheningan itu terasa begitu bermakna, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.

Prannggg!

Suara benda jatuh menghantam lantai memecah keheningan yang mencekam itu. Di ambang pintu, Deva berdiri mematung dengan wajah pucat. Nampan berisi roti bakar dan dua gelas susu hangat kini telah berantakan di atas lantai kayu.

"A.... astaga..." gumam Deva sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak tidak percaya.

Hanum dan Alvaro tersentak hebat. Alvaro segera bangkit dengan gerakan canggung, sementara Hanum langsung berusaha duduk meski kakinya masih terasa nyeri.

"Deva! Ini... ini tidak seperti yang kamu lihat! Tadi Kak Al cuma..." kalimat Hanum menggantung, wajahnya sudah semerah kepiting rebus.

Deva masih terpaku di tempatnya, menatap bergantian ke arah Hanum dan Alvaro dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara terkejut, patah hati, dan bingung yang luar biasa. Rahasia yang selama ini tersimpan rapat di antara mereka seolah baru saja tersingkap secara tidak sengaja di pagi yang dingin itu.

Bersambung...

1
Ma Em
Ayo Hanum gaskeun sebelum Alvaro diambil Deva 😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: gak akan Bun 🤭
total 1 replies
Teh Yen
kapan jujurnya ini c Hanum duh mau ngelak sampai kapan tentang perasaanmu ke Alvaro Num
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar kak, nunggu waktunya tiba
total 1 replies
Nar Sih
mantapp rencana mu deva ,moga berhasil membuat mereka bersatu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin 😁
total 1 replies
Nar Sih
deva dan alvaro pinter memancing hanum biar cemburuu wahh lsnjut kan rencana kalian moga berhasil👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: pinter dong kak, biar Hanum sadar 🤣🤣🤣
total 1 replies
vania larasati
lanjut kak
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
Hanum....... bagaikan kura
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sepertinya gak sadar kak, karena kebiasaannya dulu kalau takut suka seperti itu dengan kakaknya 🤣
total 1 replies
neny
saking seru nya baca,,ampe lp kasih penilaian,,semangat kak💪😘
neny: sama2 akak,,semangat terus pokok nya🤍
total 2 replies
neny
cie,,cie yg udh nyaman,,dpt wa dr Deva langsung berbinar deh muka nya🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak, bahagianya Hanum 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
makanya kamu juga harus turunkan ego kamu Hanum, kamu harus mengakui jatuh cinta sama Alvaro
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤭
total 1 replies
Teh Euis Tea
Deva sukses deh menyatukan mereka😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip 😁😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
eehh salah kirain Deva sejenis blatung nangka ga taunya niat mau bantu Alvaro dekat sm Hanum 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul, dia bukan spesies ulat yg menggatal kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nyonya Gunawan
Lucu bget sich hanum,,,suka tpi malu..😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah betul itu kak, salah satu pengalaman ku dulu saat masih duduk di bangku SMU, suka tapi malu 🤭🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
Hanum kamu bodoh, kamu jatuh cinta sama Alvaro, tapi ego kamu setinggi langit
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak 🤭
total 1 replies
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
johan benar benar ga tahu diri yaa sok banget🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ember 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
lebih baik jujur sja al dari pada nanti jdi slh paham biar semua jls
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😁
total 1 replies
vania larasati
lanjut kak
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Teh Yen
ih Hanum knp pake engg enakan sama ornag lain sih Deva kan bukan siapa siapa kamu huuh ,, ayo aliya Adiba gagalkan rencana teman ibu kalian yg ingin ngejar om Al yah
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Grievance/
total 1 replies
Ma Em
Hanum bodoh atau gimana sih , biar Alvaro jln sama wanita lain biar Hanum cemburu .
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
Hanum cubit nih, malah nyomblangin di Deva, gemes aku sm othornya awas aj klu Alvaro jadian sm si Deva ta cubit othornya 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, kacau 🤣🤣🤣
total 5 replies
Uba Muhammad Al-varo
ayo jawab jujur Alvaro apa yang dikatakan Deva, supaya Hanum tahu bahwa cintanya ke Alvaro tidak bertepuk sebelah tangan 😏😏😏
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!