Di saat Alice selalu merasakan kekecewaan dari keluarga dan hubungan asmaranya, Carlos datang dalam hidup Alice untuk mengantikan rasa kecewanya menjadi kebahagiaan.. Namun di saat Alice sudah percaya dan memberanikan dirinya untuk berharap bisa bahagia di tengah kecewanya terhadap keluarganya, Carlos menghilang.. Carlos pergi tanpa meninggalkan jejak, seketika membuat Alice mempercayai jika di dunia ini tidak ada yang bisa membuatnya bahagia
Bab 1
Secara tidak kasat mata, aku di kucilkan oleh ibuku sendiri.. Dengan dalih aku sering sakit - sakitan waktu bayi hingga umur 1 tahun, ibu ku suka melarang ku untuk membuat apa pun yang aku suka termasuk hobi dan mencari pekerjaan.
Dengan dalih galak, aku tidak di perbolehkan untuk mencari pekerjaan..
“Nanti dia bisa di bunuh sama bos atau teman kerjanya karena terlalu galak.” Itu lah yang selalu ibuku ucapkan tiap kali keluarga atau teman - temannya bertanya kenapa aku tidak bekerja.
Padahal yang membuatku terlihat galak adalah sifat keponakan ibu ku yang sangat toxic.. ketika aku kecil aku tidak mengerti maksud yang mereka lontarkan, tapi ketika beranjak dewasa aku menjadi mengerti apa maksud yang sering mereka lontarkan ke aku mau pun adik dan abangku..
Tapi yang terparah apa yang mereka lontarkan ke aku, hanya karena aku kurus dan kurang dalam mata pelajara. Mereka menghina badan ku dan kekuranganku, padahal mereka juga kurang dalam mata pelajaran.. tapi tidak pernah aku menggunakan itu untuk membalas semua hinaan yang mereka berikan.
Yang paling berani memarahi dan menghina itu Natalie, dia anak tante ku, kakaknya ibu.. kakakannya Silvie suka menghina fisik.. dan untuk keluraga kakaknya ibu ku yang satu ini asli hampir semuanya toxic dan bermasalah.
Rumah kami bersebelahan, jadi mereka suka bermain di rumah ku, begitu juga kami suka bermain di rumah mereka. Jadi di sore itu aku sedang duduk di ruang TV sedang menonton, aku dulu punya kebiasaan buruk yaitu gigitin kuku.. jadi aku menonton sambil gigitin kuku tanganku, tiba - tiba kak Natalie datang sendiri..
dia duduk enggak jauh dari aku duduk, dia lihat aku menonton sambil gigitin kuku langsung bilang..
“Sudah kurus kayak cicak kering, bodoh jorok lagi kamu ini.” Aku hanya diam saja dengar kak Natalie ngatain aku..
Tapi mungkin dia tidak terima aku diamin, malah semakin menjadi.. “kayaknya kamu udah mulai banyak kotoran di telinga deh, tidak dengar apa yang aku bilang.. tapi cocok juga sih, cicak kering jorok” ucapnya sambil tersenyum..
Aku yang sudah tidak tahan langsung marah..
“Pulang kamu kak!!! Jangan lagi kamu ke sini kalau hanya untuk mengejek aku.” Tepat saat aku ngomong kayak gitu, bang Kelvin masuk ke ruang TV, ia mendengar semuanya dan langsung menatap kak Natalie dengan tatapan sinis. Kak Natalie tidak berani membalas apa yang aku ucapkan karena melihat tatapan abang Kelvin, ia langsung berlari keluar dari rumah kami..
Tapi keesokan harinya beredar kabar di keluargaku kalau aku marah - marah karena tidak senang ia datang ke rumah dan mengusir kak Natalie tanpa sebab.. dan yang membuat aku sakit hati ibu ku sendiri tidak mempercayai aku dan abangku, padahal kami sudah menjelaskan semuanya.. tapi ibuku malah membela keponakannya, dan aku menjadi sangat sedih..
Untuk saat itu hanya kak Kelvin dan Jane yang mempercayaiku, karena waktu itu ayahku belum pulang bekerja di luar kota.
“Bukan hanya kakak lo.. aku juga di bilangin gendut sama kak Silvie.. aku tidak suka dengan mereka, memang untuk kak Silvie ada kelebihan yang bisa menutupi kekurangannya tapi untuk kak Natalie aku yakin 100% dia tidak lebih baik dari kakak. Kakak itu sebenarnya pintar tapi kakak lebih banyak diam dan menutupi semua kepintaran kakak hanya karena mama lebih membanggakan para keponakannya.” Ucap Jane dengan semangat
“Sudahlah yang penting kita tahu siapa yang salah, dan kamu Alice harus pelan - pelan jangan gigitin kuku lagi ya.. itu tidak baik untuk kesehatan kamu.. takut ada kotoran atau telur cacing yang menempel di kulit kuku kamu, yang akhirnya bisa membuat kamu sakit.” Ucap kak Kelvin
Alice hanya menganggukan kepalanya mendengar penjalelasan abangnya. Setidaknya masih ada yang percaya dengan dirinya. Tidak lama Ayah mereka masuk ke kamar Kelvin, karena mereka sedang berkumpul di kamar Kelvin.
Kelvin, Alice dan Jane terkejut melihat ayah mereka masuk ke kamar yang di mana tempat mereka sedang mengadu ke Kelvin.
“Tadi papa dengar semua apa yang kalian bicarakan.” Ucap ayah ketiga anak itu.
Alice dan Jane langsung menundukan kepala mereka, mereka takut ayah mereka sama dengan ibu mereka yang tidak percaya dengan mereka dan lebih percaya dengan keponakan ibu mereka.
“Papa juga sudah melihat CCTV yang ada di ruang keluarga, jadi kalian jangan takut ya.. papa percaya sama anak - anak papa yang tidak pernah berkata bohong dan selalu berkelakuan baik.” Ucap ayahnya lagi
Mendengar apa yang di katakan ayahnya membuat Alice dan Jane berhamburan ke pelukan ayahnya. Alice menangis dalam pelukan ayahnya tanpa mengeluarkan suara.. Jane juga merasa lega karena ayahnya sudah berada di rumah.
Tidak banyak orang yang tahu, jika di beberapa titik di rumah itu terpasang kamera CCTV kecil. Dan pada waktu kejadian Natalie mengatai Alice terekam oleh salah satu pegawai di rumah. Ialah yang mengirim video itu ke papa Alice dan papanya Alice langsung mengecek CCTV di ruang keluarga. Ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya agar dengan cepat ia menghibur anak - anaknya dan ingin segera memperingatkan istrinya.
Setelah menenangkan anak - anak perempuannya, Indra langsung bergegas menuju kamarnya dengan tab yang sudah disediakan untuk memperlihatkan CCTV di ruang Televisi tempat kejadian Natalie menghina Alice.
Brak.. Blam..
Indra membuka pintu dan menutupnya dengan kasar membuat sang istri terkejut dan takut melihat raut wajah sang suami.. Indra langsung menyodorkan tab yang terlihat ada video, sang istri langsung menerima tab itu dan langsung menekan tombol tekan untuk melihat video apa yang suaminya beri..
Setelah menyerahkan tab itu ke tangan istrinya, ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk bersih - bersih tanpa menghiraukan pertanyaan sang istri.
Video sudah di putar dan betapa terkejutnya dia mendengar anaknya di hina seperti itu, ia menjadi merasa bersalah kepada anak - anaknya karena sudah tidak percaya dengan anak - anaknya malah lebih percaya dengan keponakannya.