NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Berbahaya

Bab 29 – Pagi yang Berbahaya

Sinar matahari pagi menembus tirai tebal kamar Kael, menerangi ruangan yang masih hangat.

Alya membuka matanya perlahan.

Hangat.

Terlalu hangat.

Ia berkedip beberapa kali sebelum sadar ada sesuatu yang berat melingkar erat di pinggangnya.

Itu lengan.

Lengan Kael.

Tubuh pria itu menempel rapat di belakangnya, napasnya yang tenang terasa menyentuh tengkuknya.

Alya membeku total.

“Astaga…”

Ia menoleh dengan sangat pelan, tak berani bergerak banyak. Wajah Kael hanya berjarak beberapa senti dari kepalanya. Pria itu masih tertidur, dan anehnya… tanpa ekspresi dingin dan menyebalkannya, ia justru terlihat jauh lebih muda dan damai.

Menyebalkan sekali, kenapa bahkan saat tidur pun dia tetap terlihat tampan?

Alya langsung menampar pipinya sendiri pelan untuk sadar.

“Fokus, Alya. Fokus.”

Ia mencoba melepaskan lengan kokoh itu perlahan demi perlahan.

Namun tangannya baru saja menyentuh pergelangan tangan pria itu, lengan itu justru mengencang, menarik tubuhnya semakin dekat.

Alya menegang.

“Jangan bergerak.”

Suara berat dan serak terdengar tepat di telinganya. Suara orang yang baru bangun tidur.

“Kamu bangun?!”

“Dari tadi.”

“Terus kenapa pura-pura tidur?!”

“Aku ingin melihat berapa lama kau panik sendirian di sana.”

Alya membalikkan badan cepat hingga mereka kini saling berhadapan di atas ranjang dengan jarak yang sangat dekat.

“Kamu psikopat ya!”

Kael membuka matanya perlahan, menatap wajah gadis itu tanpa rasa malu sedikit pun.

“Selamat pagi.”

“TIDAK SELAMAT PAGI!”

“Bagiku iya.”

Alya mendorong dadanya keras-keras.

“Lepas! Jangan peluk!”

“Tidak mau.”

“KAEL!”

“Kau yang tidur memelukku duluan semalam.”

Alya membelalakkan mata kaget.

“Itu fitnah! Bohong besar!”

“Kau bisa cek kamera kalau tidak percaya.”

“KAMAR KAMU ADA KAMERA?!” seru Alya panik.

“Tidak di kamar tidur. Tenang saja.”

“SYUKUR DEH!”

Kael akhirnya melepaskan pelukannya dan bangun duduk. Rambutnya sedikit berantakan dan kemejanya terlihat kusut karena tidur.

Alya langsung memalingkan wajah cepat-cepat.

Kenapa sih versi “berantakan” dari pria ini justru terlihat jauh lebih berbahaya dan memikat?

Kael melihat reaksi itu dan tersenyum tipis.

“Kau menatapku lagi.”

“Aku sedang menilai tingkat ancaman.”

“Dan hasilnya?”

“Sangat mengganggu.”

 

Beberapa menit kemudian, Alya keluar dari kamar dengan wajah yang masih terasa panas.

Kael berjalan santai di belakangnya seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

Di ruang makan, Serena sudah duduk manis sambil menyeruput kopi. Wanita itu melihat mereka berdua masuk, lalu menyeringai lebar sekali.

“Oh, lihat siapa yang datang sarapan bersama setelah melewati malam yang panjang.”

Alya langsung tersedak udara.

“BUKAN BEGITU!”

Serena menoleh ke arah Kael.

“Kau kelihatan sangat puas dan bahagia sekali pagi ini.”

Kael duduk dengan tenang.

“Aku tidur sangat nyenyak.”

Alya ingin sekali melempar piring ke wajah pria itu.

Serena tertawa puas.

“Luar biasa. Gadis ini bahkan belum resmi jadi apa-apa, tapi sudah bisa masuk ke kamar utama.”

Alya menatap tajam.

“Aku diculik oleh keadaan!”

“Semua cinta besar memang seringkali dimulai dari alasan-alasan bodoh seperti itu.”

Kael menambahkan dengan wajah datar,

“Benar.”

“DIAM KALIAN BERDUA!”

Tiba-tiba Riko masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sebuah map tebal. Wajahnya terlihat sangat serius.

“Tuan, ada berita buruk.”

Suasana yang sempat cair langsung berubah tegang. Kael kembali memasang wajah dinginnya.

“Bicara.”

“Beberapa anggota keluarga dari cabang-cabang luar mulai menyatakan dukungan mereka kepada ayah Anda untuk sidang nanti.”

Serena mendecakkan lidah kesal.

“Dasar tikus-tikus tua yang cari untung sendiri.”

Riko membuka map itu dan meletakkan daftar nama di atas meja.

“Jika pemungutan suara dilakukan sekarang, peluang Tuan untuk menang sangat tipis. Hampir seri tapi condong kalah.”

Alya menoleh bingung ke arah Kael.

“Jadi sidang keluarga itu pakai cara voting atau pemilihan suara gitu?”

“Sebagian iya.”

“Terus sebagian lagi pakai apa?” tanya Alya penasaran.

Serena tersenyum tipis dan menjawab,

“Kekuatan. Siapa yang lebih kuat dan punya pengaruh besar, dialah yang menang.”

Alya menatap datar.

“Tentu saja. Keluarga kalian ini memang alergi banget sama hal-hal yang normal ya.”

Kael membaca cepat daftar nama itu lalu menutup mapnya kembali dengan keras.

“Peluang ini masih bisa diubah.”

“Siapa yang bisa kita ajak atau pengaruhi, Tuan?” tanya Riko.

Kael mengangkat wajahnya, dan tatapannya lurus tertuju tepat pada Alya.

Ruangan menjadi hening seketika.

Alya menunjuk dirinya sendiri bingung.

“Kenapa lihat-lihat aku? Aku kan nggak ngerti apa-apa soal politik keluarga.”

“Karena kau adalah kunci kemenanganku.”

“Aku bahkan nggak tahu cara main catur yang bener aja!”

Serena tertawa kecil.

“Sayang, ini bukan main catur. Ini perang perebutan warisan dan kekuasaan.”

Kael berdiri dan berjalan mendekati Alya.

“Kau adalah putri kandung ayahku. Darah Lorenzo mengalir di tubuhmu.”

“Masih aneh dan geli rasanya dengar kalimat itu.”

“Dan beberapa anggota keluarga tua itu sangat memuja-muja garis keturunan dan darah biru. Mereka akan menghormati kau.”

Alya mengernyitkan dahi.

“Jadi… kamu mau manfaatin aku jadi kayak maskot atau pajangan doang?”

Kael menatapnya datar.

“Lebih tepatnya… seperti senjata.”

“Aku benci betapa jujurnya kamu itu.”

Alya melipat tangan di dada.

“Terus aku harus ngapain sebenarnya?”

Kael menjawab dengan tenang dan tegas,

“Cukup tersenyum. Berdiri tegak di sisiku. Dan… terlihat sulit didapat dan berkelas.”

Alya membelalak.

“HEH! Aku ini manusia, bukan tas merek mahal yang dipajang!”

“Kau jauh lebih berharga dari itu.”

Jantung Alya berdebar kencang lagi. Sialan, kenapa kalimat itu manis sekali?

Serena bertepuk tangan kecil.

“Wah, dia makin jago nih ngegombal.”

Alya menatap Kael tajam.

“Aku nggak mau dimanfaatin atau dipakai seenaknya.”

Kael sedikit melunakkan suaranya.

“Aku tidak memakaikanmu seperti alat.”

“Terus apa?”

“Aku sedang memintamu.”

Kalimat sederhana itu membuat Alya terdiam.

Untuk pertama kalinya, Kael tidak memerintah atau mengancam.

Ia benar-benar sedang meminta bantuan.

Kael menatap lurus ke mata gadis itu.

“Bantu aku menjatuhkan ayahku. Bantu aku mengambil alih kendali.”

Alya menelan ludah.

“Kenapa aku harus percaya sama kamu?”

Kael mendekat satu langkah lagi.

“Karena kalau aku yang menang… tak ada satu orang pun di dunia ini yang berani memaksamu hidup hanya sebagai pion atau boneka di keluarga ini. Kau akan bebas menentukan jalanmu.”

Ruangan mendadak menjadi sangat sunyi.

Itu jawaban yang sangat bagus.

Terlalu bagus hingga sulit ditolak.

Serena berdiri dan mengambil tasnya.

“Aku pamit pergi dulu deh. Nanti kalau kalian mulai saling tatap mata lebih dari lima detik, aku bisa muntah lihat romancanya.”

Ia pergi sambil melambai. Riko pun ikut mundur pelan-pelan.

“Saya juga… ada pekerjaan di luar. Permisi.”

Kini tinggal Alya dan Kael berdua di ruang makan itu.

Sunyi.

Kael masih menunggu jawabannya dengan sabar.

Alya menggigit bibir bawahnya berpikir keras.

“Kalau aku bantu kamu…”

“Ya?”

“Kamu harus berhenti ngatur-ngatur hidupku seenaknya.”

“Hmm… itu tidak bisa aku janjikan sepenuhnya.”

“KAEL!”

Ia menghela napas panjang.

“Oke. Aku akan berusaha menguranginya.”

“Kalau aku bantu…”

“Ya?”

“Kamu harus janji jujur sama aku mulai sekarang. Nggak ada lagi rahasia.”

Kael mengangguk mantap.

“Setuju.”

“Kalau aku bantu…”

Kael sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, penasaran.

“Ya? Apa lagi?”

Wajah Alya memerah tapi tetap nekat bicara.

“Kamu nggak boleh peluk aku diam-diam pas tidur lagi! Itu melanggar hak asasi!”

Kael terdiam selama beberapa detik, seolah itu adalah permintaan paling sulit di dunia.

“Wah, itu permintaan paling susah sejauh ini.”

Alya menendang tulang keringnya pelan. Kael bahkan tidak menghindar sama sekali.

“Jawaban akhirnya?” tanya Kael lagi.

Alya menatap pria di depannya.

Berbahaya.

Manipulatif.

Terlalu protektif.

Tapi entah kenapa… kehadirannya mulai terasa seperti rumah sendiri.

Alya menghela napas panjang lalu mengangguk.

“Oke. Aku bantu kamu.”

Kael mengangguk sekali puas.

Tiba-tiba ia menarik kursi Alya mendekat ke arahnya dan mencondongkan wajahnya sangat dekat.

“Bagus.”

“Apa lagi sih?!”

“Kita mulai latihan sekarang.”

“Latihan apa?!”

Kael menatap bibir Alya sekilas sangat cepat, lalu kembali menatap matanya dalam-dalam.

“Latihan cara menjadi pasangan yang meyakinkan… di depan seluruh keluarga nanti.”

Jantung Alya seakan berhenti berdetak sesaat.

“Aduh… aku menyesal bilang iya!”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!