NovelToon NovelToon
Si Jenius Dari Masa Depan

Si Jenius Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah sejarah / Perperangan
Popularitas:809
Nilai: 5
Nama Author: Rizzzz......

Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Menurut aturan Kerajaan Nayara, batas terakhir membayar utang itu di tengah malam. Apa yang sudah dilakukan oleh Budi? Kira memang tidak melihat apa yang sudah terjadi.

Namun, saat melihat pintu ruang utama yang roboh, Wulan yang berlinang air mata, tangan nya yang bengkak dan memar, pisau dan gunting yang ada di tangan anak buah Budi serta para kerabat yang memegang tongkat kayu, Kira langsung mengerti apa yang terjadi.

"Suami ku!"

Saat semua anak buah Budi sedang lengah, Wulan mengambil kesempatan untuk berlari keluar dari ruang utama. Dia langsung melemparkan diri ke dalam pelukan Kira dan menangis tersedu-sedu.

"Jangan takut, aku sudah pulang!"

Kira mengelus rambut panjang Wulan sambil menghiburnya. Kemudian, dia mengangkat tangan Wulan yang bengkak dan memar sambil bertanya,

“Masih sakit?"

"Nggak sakit lagi!"

Meskipun Wulan masih merasa tangan nya sangat sakit, dia tetap memaksakan seulas senyum. Saat melihat semua warga desa yang menatap mereka, Wulan buru-buru bersembunyi di belakang Kira sambil tersipu.

Wulan merasa sangat malu karena sudah memeluk suaminya dan bertukar kata-kata manis di hadapan semua orang.

Semua orang tidak keberatan akan hal itu. Mereka sedang melihat jubah sutra yang dipakai Kira serta pakaian baru Danu dan Tony.

Di pedesaan, orang-orang memakai pakaian sederhana yang terbuat dari katun. Namun, mereka bertiga malah memakai pakaian mewah dari sutra. Jadi, semua orang pun menatap mereka dengan bingung. Budi berkata dengan merendahkan,

"Bisa-bisanya kamu pakai pakaian bagus dan ber mesra-mesraan di hadapanku. Memangnya 40 ribu rupiah ku sudah terkumpul?!"

Jubah sutra yang dipadu dengan giok dan tas wewangian sudah memakan hampir 10 ribu rupiah.

Bahkan Budi yang mempunyai kekayaan sebesar 4 juta rupiah pun juga keberatan membeli pakaian yang begitu bagus.

Hanya orang-orang kaya di ibu kota provinsi yang rela menghabiskan uang untuk penampilan mereka. Agus hanya menonton seluruh kejadian nya dengan acuh tak acuh.

Setelah melihat ketiga orang yang berpakaian mewah itu, dia juga tidak lagi mempersulit warga, Herman pun maju dan berkata,

"Kira, kami semua bisa pinjamkan 20 ribu rupiah, Asal kamu punya 20 ribu rupiah sisanya, utang ini pasti bisa dibayar lunas!"

Semalam, Basan sudah berpesan padanya untuk mengumpulkan uang dari orang yang bersedia membantu. Jadi, Kira bisa menggunakan nya apabila uang penjualan ikan tidak cukup.

"Makasih atas niat baik kalian semuanya!"

Setelah mengucapkan terima kasih, Kira menatap Budi dan mendengus.

"Aku punya uangnya. Gimana dengan surat perjanjian dan taruhan kita?"

"Serahkan uang ... Ah!"

Sebelum Budi sempat menyelesaikan kata-katanya, Kira melemparkan empat batang uang perak ke kaki Budi.

Sebatang uang perak nilainya 10 ribu rupiah. Empat batang uang perak sudah cukup untuk membayar utang 40 ribu rupiah Kira! Setelah melihatnya, Wulan pun menangis.

'Suamiku benar-benar bisa menghasilkan 40 ribu rupiah untuk bayar utang!'

Para warga dusun juga menghela napas lega. Jika ada kerabat mereka yang menjadi budak orang, mereka juga akan ditertawakan orang. Agus berkata dengan terkejut,

"Kira, penjualan ikan mu nggak mungkin bisa menghasil kan 40 ribu rupiah. Keluarga Wulan juga nggak mungkin bersedia pinjamkan uang untuk mu. Dari mana kamu dapatkan uang ini?"

Kira menjawab dengan dingin,

"Apa hubungan nya sama kamu?

Saat di depan pintu tadi, Kira sudah mendengar semuanya. Agus bukan hanya tidak membantu, tetapi malah mempersulit warga. Agus pun langsung malu setelah mendengar jawaban Kira.

"Ini bukan uang perak, semuanya terbuat dari timah. Ini uang palsu!"

Budi memungut sebatang uang perak, lalu menunjukkan nya pada Agus.

"Pak Agus, benar, 'kan?"

"Palsu?" Agus melirik uang perak itu tanpa memegangnya.

"Aku jarang pakai uang perak. Jadi, nggak bisa bedain itu asli apa palsu. Pak Budi lihat saja sendiri!"

Uang perak itu sebenarnya asli. Agus sudah tahu rencana Budi, tetapi tidak mau ikut terlibat.

Jika Agus membela Kira, dia akan menyinggung Budi. Jika Agus membantu Budi memfitnah Kira, para warga dusun akan memakinya apabila hal ini terbongkar.

Setelah mendengar kata-kata Budi, warga dusun juga terkejut. Di desa, jarang ada transaksi jual-beli. Para warga dusun biasanya hanya menggunakan koin perunggu. Jadi, mereka juga tidak pernah melihat uang perak. Danu dan Tony pun murka.

Apa Budi sudah buta? Dia bahkan tidak bisa membedakan uang perak yang asli dan palsu. Wulan pun berkata dengan cerdik,

"Hei, jangan memfitnah! Kamu tahu jelas uang perak itu asli apa palsu. Kamu cuman mau menipu kami biar bisa merebut semua yang di miliki kami! Kami nggak bakal tertipu! Cepat keluarkan surat perjanjian dan surat taruhannya! Kalau nggak, kami bakal tuntut kamu ke pengadilan daerah!"

Para warga dusun pun tersadar. Pantas saja meskipun sudah mengumpulkan cukup uang, ada banyak orang yang tetap tidak bisa mendapatkan kembali tanah mereka dari rentenir.

Ternyata meskipun seseorang memiliki uang, para rentenir juga tidak mau menerimanya agar dia melanggar perjanjian.

Dengan begitu, para rentenir sudah bisa menyita tanahnya. Danu dan Tony sangat marah hingga ingin turun tangan untuk memukul Budi.

Tidak ada yang tahu demi mengumpulkan 40 ribu rupiah ini, mereka sudah bekerja sangat keras dari kemarin hingga hari ini.

Saat mereka sudah mengumpulkan cukup uang untuk membayar utang, Budi malah menggunakan cara licik seperti ini.

"Uang perak ini palsu! Kalau nggak percaya, ayo kita ke pengadilan daerah! Suruh saja pemimpin kabupaten yang menilainya!" Budi sama sekali tidak takut.

Hari sudah hampir gelap, mereka juga hanya bisa pergi ke pengadilan daerah besok pagi. Dengan begitu, Kira akan termasuk melanggar perjanjian.

"Kamu!"

Wulan sangat marah hingga tidak bisa berkata-kata. Dalam menghadapi penipu seperti ini, Kira juga hanya bisa menahan amarah nya,

"Kalau kamu nggak mau terima uang perak, kamu mau terima apa?"

"Koin perunggu!" Budi berkata dengan percaya diri,

“Bayar 40 ribu rupiah itu dengan koin perunggu. Aku mau kamu bayar utang hari ini juga! Kalau nggak, kamu termasuk melanggar perjanjian. Rumah, tanah, dan istrimu bakal jadi milik ku. Kamu juga harus jadi budak ku!"

Setelah mendengar ucapan Budi, Agus pun menggeleng.

Dengan koneksi dan karakter Kira, sudah cukup susah baginya untuk mengumpulkan 40 ribu rupiah. Mana mungkin dia bisa mendapatkan 40 ribu rupiah koin perunggu dalam sekejap.

Hari sudah mau gelap, Kira juga sudah tidak sempat membawa uang perak itu ke kota kecil untuk ditukarkan dengan koin perunggu. Orang yang bisa mengeluarkan 40 ribu rupiah koin perunggu di dusun ini juga hanya Agus.

Jika Kira memohon padanya, día juga tidak mungkin setuju karena takut menyinggung Budi.

"Kenapa kamu malah menindas orang!"

Setelah memahami niat jahat Budi, para warga dusun pun marah besar.

“Mau koin perunggu?" Kira berkata dengan kesal,

“Doddy, bawa 40 ribu rupiah koin perunggu itu kemari."

Tadi saat melewati kota kecil, Kira sudah menyuruh Basan untuk menukarkan 100 ribu rupiah koin perunggu agar bisa digunakan di dusun.

Setelah mendengar ucapan Kira, para warga dusun pun tercengang.

"Hei, ini 40 ribu rupiah koin perunggu. Agak berat, terima yang baik!"

Doddy membawa sekantong koin perunggu ke dalam rumah, lalu menaruhnya ke tangan Budi dengan marah. jika tidak dicegah ayahnya, Doddy pasti sudah menghajar Budi. Sebab, Budi benar-benar sudah keterlaluan!

Sebuah koin perunggu beratnya 2 gram, 1.000 buah sudah 2 kilo gram. Jadi, berat 40 ribu rupiah koin perunggu adalah 80 kilo gram.

Gubrak!

Budi pun jatuh tertimpa koin perunggu itu. Dia langsung berteriak,

“Bajingan! Kenapa kalian masih melongo. Cepat papah aku berdiri!"

Keempat anak buahnya buru-buru menggeser kantong koin yang menimpa Budi dan memapah Budi untuk berdiri. Sekantong koin perunggu itu berjumlah tepat 40 ribu rupiah! Agus pun tercengang.

Jika menambahkan 40 ribu rupiah uang perak, 40 ribu rupiah koin perunggu, dan harga pakaian ketiga orang itu, jumlahnya sudah 100 ribu rupiah lebih.

1
Aisyah Suyuti
good
I Am Riza
kerajaan Nayara itu kerajaan yang berdiri sendiri.
Ahmadi 241215
kerajaanya itu masih wilayah nusantara gak gak sih bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!