"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."
Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru Hijau
Duuug!
Suara hentakan kaki Alvin terdengar cukup berat saat dia melompat turun dari salah satu dahan pohon jambu, mendarat dengan sempurna di atas permukaan tanah yang kering. Seketika itu juga, gumpalan debu tipis tampak berterbangan di sekitar ujung sepatu dan kaki celana abu-abunya.
Dengan ekspresi wajah yang tetap tenang dan luar biasa dingin, Alvin berdiri tegak lalu mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya ke ujung celananya yang kotor terkena noda dahan pohon. Sepasang matanya yang tajam sempat melirik sekilas ke arah lorong sempit di sebelah kiri gudang. Di sana, melalui sudut matanya, Alvin menangkap adanya sebuah siluet bayangan samar yang sedang mengintip ke arahnya dengan gelagat mencurigakan.
Alvin kembali mengalihkan pandangannya tegak lurus ke arah pintu utama gudang yang sunyi. Dia menegakkan tubuhnya, lalu mulai melangkah maju secara perlahan, sengaja masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan untuknya.
Sementara itu, di balik dinding kayu yang berdebu, atmosfer di dalam komplotan Rahman langsung berubah menjadi sangat antusias sekaligus beringas.
"Man!" bisik siswa bertubuh gempal dari kelas lain dengan nada mendesak. "Mulai gerak tuh bocah!"
"Mantap!" timpal siswa berambut ikal dari kelas 10-5. Seringai licik langsung terukir di wajahnya saat dia dengan cepat melempar puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya hingga padam.
Dua antek Rahman dari kelas 10-4 yang sedari tadi memegang ember plastik berisi campuran karbol pekat langsung memperbaiki posisi berdiri mereka. Kedua kaki mereka membuka lebar, memasang posisi kuda-kuda yang sangat mantap dan kokoh agar tidak goyah saat menyemburkan air tersebut.
"Okeee... siap-siap mandi!" bisik salah satu pemegang ember dengan mata yang berkilat penuh dendam.
"Hahaha, mandi dengan aroma pemanis buatan nih!" timpal temannya yang ikut memegangi gagang ember di sebelahnya.
Saking lucunya membayangkan tubuh Alvin yang sebentar lagi akan basah kuyup dan bau karbol busuk, bahu kedua berandalan itu sampai bergoyang-goyang hebat karena berusaha keras menahan tawa mereka agar tidak meledak ke luar. Akibat gerakan bahu yang tidak stabil itu, tubuh mereka tidak sengaja menyenggol daun pintu gudang tua di depannya, membuat pintu berkarat tersebut sedikit bergoyang pelan.
Lalu Alvin yang sudah berada di bawah, mendongakkan kepalanya melihat ke arah dahan pohon. "Oi, Gas! Gue minta empat biji ya, yang kecil yang belum mateng."
Bagas yang sedang asyik makan jambu di atas pohon dengan santainya langsung memetik dan melempar jambu-jambu mentah itu ke bawah ke arah Alvin.
Hap! Jambu pertama mendarat di tangan Alvin.
Hap! Jambu kedua kembali tertangkap.
Hap! Jambu ketiga, dan yang terakhir jambu keempat berhasil ditangkap Alvin dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi.
Melihat permintaan aneh temannya, Bagas pun bertanya dari atas pohon, "Buat apa jambu mentah, Vin?"
Alvin menggenggam erat empat biji jambu hijau yang masih keras itu di tangan kanannya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman dingin. "Untuk amunisi. Kayanya banyak curut di sini."
Mendengar jawaban Alvin, Bagas menjadi semakin bingung dengan jalan pikiran teman sebangkunya itu. "Alah... apa lagi lah," gumam Bagas acuh tak acuh, lalu kembali melanjutkan aktivitas makannya di atas dahan.
Tap... tap... tap...
Alvin berjalan melangkah maju dengan sangat tenang. "Udah, gak perlu nyumput lagi," ucap Alvin santai, memecah keheningan koridor sepi itu. "Gue udah tahu kok, gak perlu nyumput-nyumput lagi."
Mendengar gertakan itu, Rahman dan para anteknya di dalam persembunyian masih tidak bergeming. Mereka menahan napas, terkejut karena posisi mereka bisa ketahuan begitu mudah.
Sementara itu di atas pohon, Bagas makin bingung melihat Alvin seperti sedang berbicara sendiri. Bagas memutuskan untuk melirik ke arah belakang, melihat jauh ke arah lorong toilet pria. Di sana, matanya menangkap ada sebuah bayangan siluet yang sedang mengintip.
'Hmm...' gumam Bagas dalam hati, mencoba mengenali siluet itu. 'Itu kan Doni, anak yang tadi bantu Rahman ke toilet.'
Tepat saat Bagas menyadari hal itu, Alvin kembali bersuara dari bawah. "Gak usah jadi pecundang, kalau beraninya ramean. Alah, alah... padahal gue cuma sendirian looh. Gak bawa apa-apa, cuma jambu aja."
Rahman dan para anteknya masih belum bergerak, mencoba mengontrol emosi mereka di balik dinding. Melihat musuhnya masih bungkam, Alvin kembali berujar, kali ini dengan nada suara yang sarat akan intimidasi yang dingin.
"Curut-curut apa yang penakut? Yaa... curut yang suka ngudut di pojokan."
Uhuk! Di atas pohon, Bagas yang sedang asyik mengunyah langsung hampir tersedak buah jambu mendengar ejekan frontal dari Alvin. Bagas segera membekap mulutnya sendiri, sekuat tenaga menahan suara tawanya agar tidak pecah di atas dahan.
Setelah melontarkan kalimat sarkas itu, Alvin terdiam sesaat. Suasana mendadak menjadi sangat mencekam.
Seketika itu juga, di dalam gudang, Rahman dan para anteknya mulai geram luar biasa. Keangkuhan mereka runtuh digantikan oleh amarah yang membakar dada.
"Sialan lo, anak baru! Mati lo!" desis Rahman dengan mata yang sudah memerah akibat emosi. Tangan kanannya mengepal begitu keras hingga urat-urat di lehernya mulai menegang.
Kemarahan itu menular ke anteknya. Saking emosinya, cengkraman tangan antek yang memegang ember berisi karbol menjadi sangat kuat hingga menimbulkan suara kreeek... plastik ember tersebut mulai retak di dalam genggamannya. Di sebelahnya, si siswa bertubuh gempal menatap lurus ke arah luar dengan tatapan beringas yang siap mengoyak tubuh Alvin.
Sementara itu, si siswa berambut ikal yang masih bersandar di dinding lorong sempit gudang ikut tersulut. Dengan wajah yang geram, dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, lalu mengacungkan jari tengahnya ke atas tepat di balik dinding yang memiliki kaca jendela.
Meskipun dilakukan diam-diam di balik jendela, acungan jari tengah itu jelas terlihat oleh sepasang mata tajam Alvin.
'Ooh, di sana ada dua orang kaya nya...' batin Alvin menganalisis posisi musuh. 'Hmm, di balik pintu mungkin ada dua juga. Hmm... apa tiga?'
Alvin tiba-tiba tertawa renyah, seolah menganggap remeh kepungan tersebut. "Hahaha! Banyak banget curutnya. Apa bebek? Wek... wek... wek... apa...?"
Di atas dahan pohon, Bagas yang sudah tidak bisa menahan tawa spontan menimpali dengan suara nyaring, "Wek... wek...!"
Suara tiruan bebek dari atas pohon itu menggema jelas, menembus dinding gudang dan langsung menyengat telinga Rahman serta para anteknya. Seketika itu juga, pertahanan mental Rahman runtuh total. Dia sudah tidak bisa menahan kesabaran dan harga dirinya yang diinjak-injak lagi.
"BANGSAAAAT LO, ANAK BARU!" teriak Rahman menggelegar, suaranya dipenuhi amarah yang membakar.
Rahman langsung keluar dari persembunyiannya, berlari kencang menerjang ke arah luar sembari mengentakkan kakinya begitu kuat di atas lantai gudang. Di saat musuhnya bergerak membabi buta seperti banteng yang mengamuk, Alvin justru melukiskan sebuah senyuman tipis di wajahnya.
Dengan ketenangan luar biasa, Alvin memundurkan kaki kirinya beberapa langkah ke belakang untuk mengambil jarak ideal. Di saat yang sama, dia menarik tangan kanannya yang menggenggam amunisi jambu mentah jauh ke belakang, mengunci targetnya yang bergerak maju.
Rahman yang sudah dibutakan amarah melompat ke udara, melayangkan sebuah pukulan tinju mentah yang mengarah lurus ke wajah Alvin.
Plaaaktaaak!
Suara hantaman keras dan sangat nyaring seketika memecah keheningan siang itu. Bukan tinju Rahman yang mendarat, melainkan sebiji jambu hijau yang masih mentah dan keras melesat secepat peluru, menghantam tepat di tengah-tengah dahi Rahman dengan akurasi yang mengerikan. Saking kerasnya benturan itu, buah jambu mentah di tangan Alvin hancur berantakan, menyisakan serpihan hijau di dahi Rahman yang langsung memerah seketika.
Hantaman telak itu membuat kesadaran Rahman langsung berguncang. Tubuhnya mendadak limbung dan melayang jatuh tanpa arah di udara.
Melihat musuhnya kehilangan keseimbangan, Alvin tidak perlu membuang banyak tenaga. Dengan gerakan yang sangat santai, dia hanya menjulurkan kaki kanannya, mendorong pelan kaki Rahman yang masih melayang di udara.
Akibat dorongan taktis itu, tubuh Rahman langsung berputar jatuh dan terjembab keras ke depan. Bugh! Rahman sukses mendarat telungkup, mencium tanah tepat di bawah tumpukan buah-buah jambu air yang sudah mulai membusuk di sudut gudang.
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
terima banyak,udah baca karya saya