NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Tatapan Melintasi Kaca Laboratorium

Sirine darurat berwarna merah berputar liar di langit-langit, memuntahkan cahaya temaram yang memantul di dinding-dinding logam. Bau belerang dan semen hancur menyengat hidungku. Di luar ruangan kaca tebal ini, atmosfer laboratorium bawah tanah milik Baron Logistics mendadak berubah menjadi neraka yang bising. Puing-puing beton berukuran raksasa runtuh dari langit-langit atas akibat hantaman dari luar, menyemburkan debu abu-abu yang pekat ke udara.

"Dia menjebol barikade atas! Cepat amankan jalur lift!"

Suara Roy melengking panik dari balik dinding kaca. Pria itu sibuk mendorong kursi roda elektronik Tuan Baron menjauh dari titik runtuhan, dikawal oleh sisa pasukan keamanan yang tersisa. Perhatian mereka teralih sepenuhnya ke arah lubang menganga di langit-langit beton. Mereka lengah. Mereka mengira aku sudah habis setelah cairan nitrat perak itu disuntikkan ke atas tatoku.

Pergelangan tangan kiriku terasa sangat perih, seolah ada besi membara yang ditempelkan paksa ke atas kulit. Saraf-sarafku menolak untuk digerakkan, tetapi denyut konstan yang merambat dari rawa luar memberitahuku satu hal: Kala sudah dekat. Dan dia datang dengan amarah yang bisa meruntuhkan tempat ini.

Aku tidak boleh menjadi beban yang hanya bisa menangis di atas kursi besi ini. Aku harus bergerak.

Menggunakan sisa tenaga yang tersisa, aku memiringkan tubuhku ke kanan. Kursi besi ini berderit pelit. Aku meluruskan kaki, lalu perlahan menggeser tumit kanan ke arah pergelangan kaki kiri. Ujung kaos kakiku terasa tebal. Di sana, di dalam rajutan kain katun murahan yang sudah agak melar, terdapat sebuah obeng mini bergagang plastik kuning yang sempat kuambil dari gudang perkakas subuh tadi.

Ayo, sedikit lagi.

Aku menggigit bibir bawahku hingga berdarah, menahan rasa sakit yang luar biasa di tangan kiri saat mencoba membungkuk. Ujung jariku yang gemetar berhasil menyentuh ujung obeng mini itu. Dengan sekali sentakan kasar, aku menarik logam tajam itu keluar dari kaos kaki, menyembunyikannya di balik telapak tangan yang berkeringat.

Posisiku sekarang sangat sulit. Kedua pergelangan tanganku dililit erat menggunakan tali nilon putih di belakang sandaran kursi. Aku tidak bisa melihat apa yang kulakukan. Hanya mengandalkan ingatan taktil dan rabaan ujung jemari yang kaku, aku mengarahkan ujung obeng mini yang runcing ke sela-sela simpul tali nilon yang menjerat kulitku.

Sret. Sret.

Logam obeng itu bergesekan dengan serat nilon yang kaku. Kulit pergelangan tanganku ikut tergores, menciptakan rasa perih baru yang membuat napas bisingku tertahan di tenggorokan.

"Sial, putuslah!" bisikku lirih di antara deru suara mesin generator yang mulai tidak stabil di luar.

Aku memutar obeng itu dengan paksa, menusuk bagian tengah simpul mati yang mengikatku. Serat-serat tali nilon mulai meretas satu demi satu. Setiap kali satu helai serat putus, jeratannya agak melonggar, memberikan ruang bagi darahku untuk kembali mengalir ke jemari yang sempat membiru karena dingin.

Brakkk!

Pintu baja bagian dalam laboratorium utama terlempar lepas dari engselnya, menghantam lantai semen dengan bunyi dentang yang memekakkan telinga. Debu semen yang beterbangan mendadak tersapu oleh embusan hawa es yang sangat pekat.

Geregetan, aku menarik paksa kedua tanganku ke arah berlawanan. Tali nilon yang sudah longgar oleh tusukan obeng mini itu akhirnya terlepas, menyisakan bekas merah keunguan di kulitku. Aku berhasil bebas, tetapi seluruh atensiku langsung tersedot ke arah pintu baja yang hancur itu.

Sesosok tubuh tinggi besar melangkah masuk menembus kepulan asap abu-abu.

Jantungku rasanya berhenti berdetak saat melihat kondisinya. Itu Kala. Namun, penampilannya malam ini benar-benar mengenaskan. Jaket hitam yang biasa dia kenakan sudah robek menjadi lembaran kain kotor yang basah. Di dada, lengan, dan paha kirinya, terdapat belasan luka tembak menganga akibat hujanan peluru dari barikade atas pelabuhan.

Bukan darah merah yang keluar dari luka-luka itu, melainkan cairan kental berwarna keperakan yang berkilau di bawah lampu sirine merah. Darah perak itu menetes satu demi satu, jatuh ke atas lantai semen laboratorium dan langsung memicu uap dingin yang mendesis kecil. Beberapa bagian sisik perak di pelipis matanya tampak retak dan pecah, memperlihatkan gumpalan daging yang membeku.

Kala berjalan dengan napas tersengal yang berat. Dadanya kembang kempis, mengeluarkan uap putih dari sela-sela bibirnya yang pucat. Tubuhnya bergoyang tidak stabil, beberapa kali dia harus bertumpu pada dinding besi laboratorium untuk menjaga keseimbangan otot naganya yang mulai kewalahan menahan racun dan timah panas.

Meskipun fisiknya hancur, mata emas dengan pupil vertikal itu tetap menyala benderang. Dia tidak memedulikan para penjaga yang mulai mengangkat senjata ke arahnya. Pandangan matanya menyapu seluruh ruangan secara linear, mencari satu hal yang paling berharga baginya di tempat terkutuk ini.

Lalu, mata emas itu berhenti tepat ke arahku.

Kala melangkah maju, menyeret kakinya yang terluka, hingga dia berhenti tepat di balik dinding kaca tebal yang memisahkan ruang interogasi dengan laboratorium utama. Hanya sekat kaca setebal sepuluh sentimeter ini yang menghalangi kami.

Kala menempelkan telapak tangan kanannya—yang sudah berubah menjadi cakar perak besar dengan kuku tajam—ke permukaan kaca tebal tersebut. Perlahan, uap es mulai merayap dari ujung jarinya, membentuk pola kristal beku di atas kaca.

Dia menatapku.

Di dalam sepasang mata emas yang biasanya dingin dan angkuh itu, kini aku bisa membaca semuanya dengan sangat jelas. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, tetapi napasnya yang tersengal di balik kaca menceritakan kepedihan yang luar biasa. Ada rasa bersalah yang teramat dalam karena dia terlambat mencegah Roy menyuntik tatonku. Ada kemarahan murni yang siap meledak melihatku terduduk lemas dengan pergelangan tangan yang melepuh.

Dan yang paling membuat dadaku serasa remuk adalah rasa pedih di matanya—tatapan seolah-olah dia takut jika detik ini adalah momen terakhir dia bisa melihat wajahku sebelum wujud manusianya runtuh sepenuhnya.

Aku bangkit berdiri dari kursi besi dengan kaki yang gemetar, mendekati sisi dalam kaca tebal itu. Aku mengangkat tangan kananku, menempelkannya tepat di posisi yang sama dengan telapak tangan besar Kala yang berada di luar.

Hawa dingin dari kulitnya menembus tebalnya kaca, menjalar ke ujung jemariku. Kami bergeming di tengah riuhnya raungan sirine dan kepanikan pasukan Baron. Melalui pembatas kaca ini, kami hanya bisa saling melempar tatapan penuh kepedihan, menyadari bahwa badai yang lebih besar akan segera menghancurkan sisa-sisa kedekatan kami yang singkat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!