NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.

Follow tiktok : aricia.agestis6

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. ART Baru

"Bianca!" panggil Theo

Suasana di dalam ruangan Falcon Corp sejak pagi hari sudah terasa berantakan. Berkas-berkas proposal bisnis berserakan di atas meja, beberapa di antaranya bahkan tergeletak di lantai akibat dilempar oleh Theo dalam puncak kemarahannya.

Dua hari berturut-turut ditolak oleh perbankan membuat emosinya menaik.

"Bagaimana bisa?! Cari lagi, Bianca! Hubungi relasi-relasimu yang di luar kota! Kita tidak boleh kehilangan proyek pelabuhan ini atau Falcon Corp akan benar-benar dinyatakan bangkrut bulan depan!" teriak Theo dengan mata memerah, mondar-mandir di balik mejanya.

Bianca yang berdiri di depan meja Theo tampak memijat pelipisnya dengan ekspresi wajah yang dibuat selelah mungkin.

"Aku sudah mencoba segalanya, Theo. Aku sudah menghubungi tiga investor dari daerah lain, tapi mereka tiba-tiba membatalkan janji bertemu sore ini secara sepihak. Aku juga bingung kenapa semua pintu mendadak tertutup untuk kita."

"Sialan!" Theo menghantam meja kerjanya dengan kepalan tangan, membuat vas bunga kecil di sudut meja bergetar.

Di tengah situasi yang mencekam itu, ponsel di dalam saku blazer Bianca bergetar tanpa henti. Bianca melirik layar ponsel sekundernya diam-diam. Nama Reno terpampang diponselnya. Dengan raut wajah yang berpura-pura panik karena urusan pekerjaan, Bianca buru-buru menatap Theo.

"Theo, aku harus ke toilet sebentar, perutku agak mules." pamit Bianca buru-buru.

Begitu melangkah keluar dari ruangan Theo dan mengunci diri di toilet kantor, Bianca langsung mengangkat telepon itu dengan nada ketus.

"Ada apa lagi, Reno?! Aku sedang sibuk mengurus Theo yang sedang mengamuk di kantor!"

"Aku tidak peduli si bodoh itu sedang mengamuk atau mati, Bianca," sahut suara pria ditelepon dengan nada santai namun menuntut.

"Uang sakuku sudah habis. Malam ini aku ingin berkumpul dengan teman-teman geng motorku di bar VIP. Transfer aku sepuluh juta sekarang juga." ujar Reno

"Sepuluh juta?! Kamu gila, ya?!" desis Bianca dengan suara tertahan agar tidak terdengar ke luar toilet.

"Falcon Corp sedang dibekukan fungsinya! Rekening operasional utama sedang diaudit! Aku tidak bisa sembarangan mengeluarkan uang dari kas pemasaran tanpa tanda tangan Theo!"

"Oh, benarkah? Bukankah kamu manajer pemasaran yang genius, Sayang?" Reno terkekeh sinis, suaranya berubah menjadi ancaman yang dingin.

"Gunakan saja dokumen fiktif atau klaim vendor palsu seperti yang biasa kita lakukan dulu. Ingat, Bianca, jika aku tidak mendapatkan uang malam ini, aku tidak menjamin rahasia tentang hubungan kita dan manipulasi laporan keuangan tahun lalu tidak akan sampai ke meja Theo. Kita harus menguras sisa-sisa harta perusahaan itu."

Jantung Bianca berdegup kencang. Ancaman Reno adalah kelemahannya. Dia tahu pria itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan tangan bergetar menahan geram, Bianca akhirnya menyerah.

"Fine! Akan aku urus lewat memo pencairan vendor fiktif sore ini. Tapi ingat, Reno, kamu harus tutup mulut sampai aku berhasil menyedot sisa aset pribadi Theo!"

Bianca mematikan telepon dengan napas terengah-engah. Dia terjebak, disatu sisi dia harus menghadapi Theo yang makin terdesak, di sisi lain dia harus terus memberi makan nafsu foya-foya Reno agar rahasianya tidak terbongkar.

...****************...

Sementara itu, di rumah mewah Falcon, Ratna ibunya Theo berdiri di tengah ruang tengah sambil memegang pinggang. Matanya menatap jijik ke arah sudut-sudut ruangan yang mulai berdebu. Bau piring kotor dari dapur sudah tidak tertahankan lagi bagi hidung bangsawannya yang palsu itu.

"Gila! Aku bisa mati muda kalau harus tinggal di rumah sekotor ini!" gerutu Ratna.

Gengsinya yang setinggi langit melarangnya untuk menyentuh sapu atau kain pel. Namun, dia juga tahu kalau Theo sedang pusing tujuh keliling di kantor dan pasti akan marah jika dimintai uang tambahan untuk menyewa jasa pembersih profesional yang mahal.

Akhirnya, sebuah ide muncul di kepala tuanya. Ratna membuka dompetnya, menghitung sisa uang belanja bulanan yang dulu sempat disisihkan oleh Zarlin sebelum pergi. Ada sekitar sepuluh juta rupiah tunai di sana.

Tanpa berpikir panjang dan tanpa memberi tahu Theo terlebih dahulu, Ratna segera menghubungi agensi penyalur pembantu rumah tangga kelas bawah lewat ponselnya. Dia meminta pembantu darurat yang bisa langsung bekerja hari itu juga.

Sore harinya, seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana datang ke rumah. Namanya Bik Sumi, seorang ibu-ibu berusia sekitar lima puluh tahunan.

"Ingat ya, Bik Sumi! Tugasmu adalah membersihkan seluruh rumah ini sampai mengkilap, mencuci semua baju anakku sampai licin, dan mencuci tumpukan piring di dapur! Jangan sampai ada yang tersisa!" perintah Ratna dengan nada angkuh seolah dia adalah nyonya besar yang paling kaya di kota itu.

"Baik, Nyonya Besar. Segera saya kerjakan," jawab Bik Sumi dengan sopan, langsung bergegas menuju dapur untuk mengeksekusi tumpukan piring kotor yang sudah dikerubuti lalat.

Ratna tersenyum puas, melangkah masuk ke kamarnya untuk tidur siang dengan tenang, merasa masalah rumah tangganya sudah selesai tanpa perlu mengotori jari-jarinya yang bermenicure mahal.

...****************...

Pukul sembilan malam, mobil Theo akhirnya meluncur masuk ke halaman rumah. Theo turun dari mobil dengan langkah kaki yang pegal akibat kelelahan batin.

Jas kerjanya sudah dia pegang di lengan, sementara kerah kemejanya terbuka lebar. Hari ini benar-benar berjalan buntu tanpa ada satu pun investor yang mau melirik Falcon Corp.

Saat Theo mendorong pintu depan rumah yang tidak dikunci, dia mendadak menghentikan langkah tangannya. Hidungnya mencium udara di dalam rumah.

Aroma wangi karbol lantai yang segar bercampur dengan keharuman pewangi ruangan aroma lavender langsung terasa pada indra penciumannya.

Theo mengerjapkan matanya yang lelah, menatap sekeliling ruang tengah. Lantai marmer yang dua hari ini buram dan berdebu kini tampak berkilat bersih di bawah sorotan lampu kristal. Meja kaca di ruang tamu pun sudah rapi tanpa ada sisa sampah sepeser pun.

Jantung Theo mendadak berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan. Sebuah senyuman tipis dan penuh keangkuhan perlahan terukir di sudut bibir tampannya.

"Zarlin..." batin Theo bersorak penuh kegembiraan di dalam hati.

Ego tingginya yang buta langsung menyimpulkan bahwa istrinya itu akhirnya menyerah. Theo yakin, Zarlin yang miskin itu pasti tidak tahan hidup menderita di luar sana setelah dua hari pergi, atau mungkin om-om kaya yang menjemputnya kemarin sudah bosan dan mendepaknya keluar.

Theo merasa tebakannya benar, Zarlin pasti merindukannya dan pulang secara diam-diam untuk membersihkan rumah sebagai bentuk permintaan maaf.

"Zarlin!" panggil Theo dengan suara lantang penuh percaya diri, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar hingga ke arah dapur.

"Zarlin! Keluar kau! Aku tahu kau sudah pulang! Jangan bersembunyi di dapur!"

Theo berjalan dengan dada membusung kebanggaan menuju area ruang makan, bersiap untuk memberikan makian dan tuntutan agar Zarlin berlutut memohon ampun padanya sebelum dia sudi menerimanya kembali sebagai istri.

Namun, langkah kaki Theo seketika memaku di atas lantai. Mulutnya yang baru saja bersiap untuk mengeluarkan kata-kata tajam langsung terdiam begitu saja.

Dari arah balik sekat dapur, bukan sosok Zarlin berwajah anggun yang muncul. Melainkan seorang wanita paruh baya, mengenakan celemek kain kusam, sambil memegang sebuah kain lap basah di tangan kanannya. Wanita itu menatap Theo dengan pandangan bingung sekaligus takut.

"M-maaf, Tuan... Tuan ini Tuan Theo, ya?" tanya Bik Sumi dengan suara bergetar pelan.

Theo melongo, matanya membelalak tak percaya. Harapan tingginya seolah dihempaskan dari lantai seratus langsung ke dasar aspal.

"Kamu... kamu siapa?! Kenapa kamu ada di rumahku?!" bentak Theo dengan suara meninggi karena syok.

Bik Sumi refleks mundur selangkah karena ketakutan melihat wajah galak Theo.

"S-saya Sumi, Tuan. Pembantu baru yang disewa oleh Nyonya Besar Ratna tadi siang untuk membersihkan rumah..."

Mendengar jawaban itu, kepala Theo seketika berdenyut hebat. Tamparan realitas yang begitu keras menghantam wajahnya malam itu.

Zarlin tidak pulang dan tidak merindukannya. Keindahan dan kebersihan rumah ini malam ini ternyata dibeli dengan uang, bukan karena ketulusan seorang istri yang selama tiga tahun ini dia sepelekan.

Rasa kehilangan yang amat pekat mendadak menyergap dadanya, membuat Theo Falcon berdiri tercengang di tengah rumahnya yang bersih, namun terasa jauh lebih asing dan hancur daripada sebelumnya.

1
PrettyDuck
mamam tuh bianca sama pacar mokondonya 😆
PrettyDuck
manipulatif level dewa
PrettyDuck
kok kaget??? kamu emang melakukan kdrt. seharusnya gak kaget kalo bekasnya difisum.
PrettyDuck
gausah sok kaya.
PrettyDuck
wkwk pasangan mengenaskan. kalian gak tau aja zarlin itu sapa.
PrettyDuck
buyan bener si hendra 🥲
👀 | 𝕽𝖊𝖓𝖆~🪽•̩̩͙*˚⁺‧͙
kenapa bang? selama ini gapernah liat istrimu mengemudi kah?🤭
👀 | 𝕽𝖊𝖓𝖆~🪽•̩̩͙*˚⁺‧͙: harusnya kutambahkan 'mantan'
total 1 replies
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan bianca yg bodoh, masih aja mau hidungnya di tarij sama lelaki bo doh itu /Facepalm/
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
kunci kesuksesan mu hanya pada zarlin. tapi kamu membuangnya. ya, salah sendiri 🤪🤪
Miu.Nuha
langsung takut dn mengelak 🤭
itu justru malah menguatkan kebenaran...
Miu.Nuha
Iya 🤧
semoga lancar proses perceraiannya !!
Ibu Rasyidd
semangar thorr
Ibu Rasyidd
betul itu zarlin, karna kalau udah di atas pas jatuh beuuhh pasti langsung hancurr
Mommy tulipp
Kalau sang ayah tahu bakal marah besar
Mommy tulipp
Mungkin perempuan yg dimaksud Bik Sumi itu Bianca, makanya dia berpikir tdk mirip dengan foto kalau itu adlh Zarlin
Mommy tulipp
Tristan mengingat semua permasalahan Zarlin
Mommy tulipp
Berarti Paulus tahu tentang keluarga Zarlin yang mempunyai perusahaan ya thor? Yang tdk tahu itu hanya Theo dan ibunya
Mommy tulipp
Sepertinya Paulus ini ayah yang tegas
Ibu Rasyidd
selamat menikmati karma theo💪
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
ternyata kasih uang ke Theo itu cuma rencana zarlin ya,🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!