Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Keesokan harinya, tepat jam delapan pagi sesuai waktu yang telah ditentukan, halaman rumah Pak RT sudah tampak ramai. Warga sekitar yang penasaran dengan kehebohan penggerebekan semalam berbondong-bondong datang, berbisik-bisik sembari menanti jalannya sidang.
Tak lama kemudian, Aris, Bu Broto, Siska, dan Linda tiba. Mereka berjalan cepat dengan menundukkan kepala dalam-dalam, menutupi wajah mereka rapat-rapat menggunakan masker kain. Namun, usaha mereka menyembunyikan malu sia-sia. Kedatangan keluarga itu langsung disambut dengan sorakan cemooh dan tatapan sinis dari para tetangga yang berkerumun.
"Uh, dasar tidak punya urat malu! Berlagak suci ternyata kelakuan bejat!" celetuk salah seorang ibu-ibu di kerumunan.
"Dasar suami tukang selingkuh, amit-amit deh punya suami kayak gitu. "
"Iya, apa kurangnya Rena coba. Dia baik, penurut. punya istri kayak gitu kok di sia-siakan. Biarin aja kena karma, senjata makan tuan. "
Kalimat-kalimat umpatan dan cemoohan di dengar Aris dan keluarganya sepanjang jalan menuju rumah Pak Rt.
Aris hanya bisa mengepalkan tangan di dalam saku celananya, mempercepat langkah masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu Pak RT, formasi persidangan sudah siap. Mereka duduk saling berhadapan di atas kursi kayu. Selain Pak RT dan Ketua RW, tampak hadir pula Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat yang sengaja diundang untuk menjaga keamanan, memastikan agar warga tidak main hakim sendiri nantinya saat emosi tersulut.
Pak RT mengetuk meja tiga kali, membuka jalannya forum. "Baik, karena semua pihak sudah hadir, kita mulai musyawarah pagi ini. Untuk membuka kejelasan, saya minta Mbak Rena selaku saksi mata sekaligus istri sah untuk menceritakan kembali apa yang terjadi semalam."
Rena yang duduk dengan anggun di samping Bu RT menarik napas dalam-dalam. Wajahnya tenang, tidak ada lagi air mata ketakutan.
"Terima kasih, Pak RT. Kemarin, kami kedatangan tamu, seorang wanita bernama Linda dan anaknya yang mengaki sebagai keponakan Ibu. Sebelumnya juga mas Aris juga mengatakan kalau sepupunya akan datang dan tinggal sementara di rumah kami karena rumahnya di gusur." ujar Rena dengan tatapan sendu ke arah suami dan Linda yang sedang menundukkan kepalanya.
"Dan semalam, sekitar pukul satu dini hari, saya keluar kamar untuk mengambil air minum. Namun, saya justru mendengar suara desahan dari ruang tamu dan memergoki Mas Aris dan wanita bernama Linda ini sedang melakukan perbuatan asusila di atas sofa ruang tamu. Saya memiliki bukti rekaman videonya jika diperlukan. Karena saya sempat merekam mereka sebelum saya melakukan penggerebekan. "
Mendengar penuturan yang begitu tegas, Aris dan Linda langsung menunduk dalam-dalam. Wajah mereka yang tertutup masker mendadak terasa luar biasa panas karena malu yang teramat sangat.
Namun, bukan Bu Broto namanya jika langsung menyerah, dia mulai pasang badan membela keluarganya. Merasa terpojok oleh tatapan menghakimi dari Pak RT, Pak RW, dan aparat keamanan, wanita tua itu mendadak melepas maskernya dengan kasar dan berdiri demi membela putranya.
"Tunggu dulu, Pak RT! Jangan hanya mendengarkan omongan sepihak dari si Rena ini, kalian juga harus mendengarkan pembelaan dari pihak kami!" seru Bu Broto dengan suara melengking, mencoba mengintimidasi ruangan.
"Kalian Warga tidak punya hak untuk menuduh anak saya berbuat zina atau mesum! Apa yang mereka lakukan semalam itu wajar, karena Aris dan Linda ini sebenarnya sudah menikah secara sah!"
Suasana langsung berubah heboh, Bisik-bisik langsung berdengung hebat di antara warga yang menguping di jendela.
Pak RT mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Sudah menikah, Bu Broto? Apa maksudnya ini? Bukankah Aris ini suami sah dari Mbak Rena?"
"Mereka sudah menikah siri sejak empat tahun yang lalu, Pak RT! Saya dan Siska juga hadir kok dalam pernikahan mereka. Dan mereka bukan cuma sekadar menikah, tapi sudah memiliki anak!" Bu Broto berbalik, menunjuk dengan tegas ke arah Amel, anak perempuan berusia tiga tahun yang sedang dipangku oleh Siska di sudut ruangan. "Lihat itu! Amel itu darah daging Aris yang sah di mata agama! Jadi, di mana letak dosanya kalau suami istri melepas rindu?!"
Semua orang di ruangan itu tentu saja terkejut mendengar pengakuan blak-blakan yang teramat tidak tahu malu tersebut yang di sampaikan Bu Broto. Pak RW menggeleng-gelengkan kepala, sementara Babinsa yang berjaga hanya bisa menghela napas panjang melihat aib keluarga yang seharusnya di tutup rapat malah dibuka sendiri oleh sang ibu.
Di sudut kursi, jantung Rena serasa dihantam godam yang teramat besar. Walaupun sejak awal dia sudah menebak hubungan mereka sudah sejauh mana, mendengarnya secara langsung dari mulut ibu mertuanya sendiri tetap menorehkan luka yang teramat perih di lubuk hatinya. Sakit sekali mengetahui bahwa pria yang selama ini dia layani dengan sisa tenaganya, ternyata sudah mengkhianatinya sejak awal pernikahan mereka, bahkan sejak Dio masih bayi.
Pak RT mengetuk meja kembali, menenangkan suasana yang mulai riuh. Dia menatap Aris dengan pandangan dingin. "Aris, apakah benar apa yang dikatakan ibumu?"
Aris menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk pelan di balik maskernya. "I-iya, benar, Pak RT. Linda adalah istri siri saya."
Pak RT mengembuskan napas berat, lalu mengalihkan pandangannya dengan penuh simpati kepada Rena. "Mbak Rena, kita semua sudah mendengar kebenarannya. Sekarang, selaku pihak yang paling dirugikan dalam urusan rumah tangga ini, saya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Mbak Rena. Langkah apa yang ingin Mbak ambil?"
Semua mata kini tertuju pada Rena. Ruangan itu mendadak hening, menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir wanita yang selama ini dikenal pendiam dan penurut tersebut.
Rena menegakkan punggungnya. Dia menatap lurus ke dalam manik mata Aris yang tampak gemetar penuh kecemasan, lalu beralih pada Bu Broto yang masih menatapnya dengan pandangan menantang.
"Keputusan saya sudah bulat, Pak RT, Pak RW," ucap Rena dengan nada suara yang teramat tenang, lantang, dan penuh penekanan di setiap katanya. "Mulai hari ini, saya memutuskan untuk keluar dari rumah itu. Dan besok, saya akan membawa semua bukti yang saya miliki ke Pengadilan Agama untuk menggugat cerai Mas Aris. Saya tidak sudi berbagi kehidupan lagi dengan para pengkhianat seperti mereka."
Mendengar kalimat tegas yang meluncur tanpa keraguan dari mulut Rena, Aris langsung mendongak dengan mata membelalak sempurna. Begitu pula dengan Bu Broto dan Siska, mereka bertiga benar-benar terkejut setengah mati, tidak pernah menyangka bahwa Rena yang biasanya lemah dan bisa ditindas, kini bisa mengambil tindakan yang begitu fatal dan mematikan bagi masa depan mereka.
aku pikir sampai Rena menikah lagi