Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL24
MAKIN DEKAT
Tiga hari berlalu sejak pertemuan terakhir itu. Romi mengira semuanya akan kembali seperti semula.
Ternyata, ia sedang membohongi dirinya sendiri.
Romi terus berusaha meyakinkan dirinya kalau semua sudah kembali seperti semula. Ia kembali berangkat ke kantor tepat waktu, mengikuti rapat, menandatangani berkas, bahkan beberapa kali memaksa dirinya tersenyum saat berbicara dengan rekan kerja. Dari luar tidak ada yang berubah. Siapa pun yang melihatnya pasti mengira hidup Romi berjalan sebagaimana biasanya.
Namun hanya Romi yang tahu bahwa ketenangan itu hanyalah semu. Ada satu hal yang tak pernah berhasil ia kendalikan, yaitu pikirannya sendiri. Setiap kali ponselnya bergetar, ia selalu berharap bukan nama Jelita yang muncul.
Ironisnya, setiap kali nama itu benar-benar muncul, ia justru tidak sanggup mengabaikannya.
Sebuah notifikasi masuk di layar ponselnya.
Mas, proposal revisinya sudah aku kirim.
Isinya sederhana. Tidak ada emoji, tidak ada rayuan, juga tidak ada kalimat yang bisa ditafsirkan lebih dari urusan pekerjaan. Benar-benar profesional. Romi membacanya beberapa detik sebelum akhirnya membalas singkat.
Oke
Hanya satu kata.
Setelah mengirim balasan itu, Romi langsung mengunci layar ponselnya. Ia pikir semuanya sudah selesai.
Namun belum sampai lima menit berlalu, layar ponselnya kembali menyala.
Sudah sarapan?
Romi mengusap wajahnya pelan. Ia tahu ini yang paling berbahaya dari Jelita. Wanita itu selalu berhasil membuka percakapan dengan cara yang paling sederhana, tanpa terlihat memaksa.
Tatapannya bertahan cukup lama pada layar ponsel itu, tetapi ibu jarinya tak kunjung bergerak membalas.
Beberapa menit kemudian, satu pesan lagi masuk.
Kalau belum, jangan lupa makan.
Tidak ada tuntutan. Tidak ada permintaan. Hanya perhatian kecil yang justru membuat Romi semakin gelisah.
Menjelang siang, Romi baru saja keluar dari ruang rapat ketika Lala menghampirinya.
"Pak Romi."
"Ya?"
"Bu Jelita datang."
Romi spontan berhenti melangkah.
"Datang?"
"Iya, Pak."
"Dengan janji?" Lala menggeleng.
"Katanya cuma mau menitipkan berkas."
Ia mengembuskan napas pelan.
"Di mana sekarang?"
"Masih di ruang tunggu."
Pria itu sempat memejamkan mata beberapa detik. Ia tahu… Kalau benar hanya menitipkan berkas, sebenarnya Jelita bisa menyerahkannya kepada resepsionis. Tidak perlu datang sendiri. Namun wanita itu tetap datang dan Romi tahu alasannya.
Saat memasuki ruang tamu kecil di lantai kantornya, Jelita langsung berdiri.
"Hai."
"Kamu ngapain ke sini?"
"Nitip berkas."
"Bisa lewat email."
"Bisa."
"Lalu?"
Jelita tersenyum tipis.
"Tapi aku sekalian ingin memastikan kamu benar-benar makan siang."
Romi menghela napas panjang.
"Kamu ini..."
"Aku cuma khawatir."
"Aku nggak butuh dikhawatirkan."
"Yang butuh bukan berarti selalu mengaku butuh."
Kalimat itu kembali membuat Romi kehilangan jawaban. Beberapa detik suasana berubah hening.
Jelita kemudian menyerahkan map yang dibawanya. "Nih."
Romi menerimanya tanpa berkata apa-apa.
"Kalau begitu aku pulang."
Tanpa menunggu jawaban, Jelita langsung berjalan menuju pintu. Ia tidak memaksa, tidak mengajak bicara lebih lama, dan tidak menggoda seperti biasanya. Justru sikap itulah yang membuat Romi tanpa sadar memanggilnya.
"Jelita."
Wanita itu menoleh.
"Kamu sudah makan?"
...
"Ayo makan."
Romi sendiri heran kenapa kalimat itu bisa keluar begitu saja dari mulutnya.
Padahal beberapa hari lalu ia masih berusaha mati-matian menjaga jarak dengan Jelita. Namun sekarang… justru ia yang mengajaknya pergi.
Jelita tidak banyak bicara. Wanita itu hanya tersenyum kecil, lalu berjalan mengikuti langkah Romi menuju area parkir.
"Kita naik mobilku saja?" tawarnya.
"Nggak usah. Kita naik mobilku."
"Takut dilihat orang?"
Romi melirik sekilas.
"Aku cuma nggak mau bikin gosip baru."
Jelita mengangguk pelan. "Baik, Bos."
Mobil melaju membelah jalanan siang yang mulai padat. Selama beberapa menit pertama tidak ada percakapan di antara mereka. Radio hanya memutar lagu-lagu lama dengan volume pelan, sementara keheningan di dalam mobil terasa aneh. Tidak canggung, tetapi juga belum bisa disebut nyaman.
"Kamu mau makan apa?" tanya Romi akhirnya.
"Terserah."
"Jangan terserah."
"Kenapa?"
"Karena nanti ujung-ujungnya aku yang disalahin."
Jelita tertawa kecil.
"Nggak kok."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin."
"Kalau makan bakso?"
"Boleh."
"Soto?"
"Boleh."
"Nasi Padang?"
"Boleh."
Romi menggeleng pelan.
"Percuma aku nanya."
"Loh, kan aku nurut."
"Nah itu masalahnya."
Jelita kembali tertawa. Tawa yang kali ini membuat sudut bibir Romi ikut terangkat tanpa sadar. Sudah lama ia tidak tertawa seringan itu.
Mereka akhirnya memilih sebuah rumah makan sederhana yang letaknya tidak jauh dari kantor. Tempatnya ramai saat jam makan siang. Justru keramaian itulah yang membuat Romi sedikit lebih tenang. Kalau pun ada yang melihat, mereka hanya akan tampak seperti dua rekan kerja yang sedang makan bersama.
"Mbak, dua ya," ujar Jelita lebih dulu.
"Kamu sering ke sini?" tanya Romi.
"Sering."
"Sendiri?"
"Kadang sendiri. Kadang sama klien."
"Kenapa bukan sama teman?"
Jelita tersenyum tipis.
"Nggak punya."
"Kok bisa?"
"Teman banyak."
"Lalu?"
"Tempat pulang cerita nggak ada."
Kalimat itu membuat Romi terdiam. Entah kenapa ia merasa sangat memahami maksud ucapan itu. Karena selama ini bukankah ia juga seperti itu?
Di rumah ia selalu berusaha menjadi suami yang kuat. Di kantor, ia adalah atasan yang tak boleh terlihat lemah. Sementara di hadapan keluarganya, ia terus menjaga citra sebagai anak yang mampu menghadapi semuanya. Semua orang mengenalnya, namun… tidak banyak yang benar-benar mengenal isi kepalanya.
"Kamu kenapa diam?" tanya Jelita.
"Nggak apa-apa."
"Nggak apa-apa gimana? Itu kamu lagi mikir."
"Nggak."
"Kalau bohong, mata kamu suka lihat ke bawah."
Romi refleks menatap wanita itu.
"Kamu bahkan hafal kebiasaanku?"
"Hampir semuanya." Jawaban itu terdengar ringan. Namun cukup membuat Romi kehilangan kata-kata.
Pesanan mereka datang beberapa menit kemudian. Jelita langsung mengambilkan sendok untuk Romi.
"Ini."
"Terima kasih."
"Nggak usah formal."
"Aku memang biasa bilang terima kasih."
"Itu salah satu hal yang aku suka dari kamu."
Romi memilih diam.
Ia mulai sadar… setiap perhatian kecil dari Jelita selalu berhasil membuat batas yang ia bangun perlahan mengendur.
"Makan, Mas."
"Kamu juga."
Mereka mulai menikmati makanan masing-masing. Obrolan tentang pekerjaan perlahan berganti dengan candaan-candaan ringan hingga tanpa terasa hampir satu jam berlalu. Romi bahkan lupa kapan terakhir kali ia menikmati makan siang seperti ini. Kali ini ia tidak hanya mengisi perut, tetapi juga menikmati kebersamaan yang selama ini tidak pernah ia sadari sedang ia butuhkan.
Saat itulah ponselnya bergetar. Nama Hannah muncul di layar. Senyum Romi perlahan menghilang. Ia segera mengusap bibirnya menggunakan tisu sebelum mengangkat telepon.
"Halo, Sayang."
Jelita memperhatikan perubahan itu tanpa berkata apa-apa.
...
Telepon pun berakhir. Romi meletakkan ponselnya perlahan.
Jelita masih menatapnya.
"Apa?"
Wanita itu tersenyum kecil.
"Lucu ya."
"Apa yang lucu?"
"Kalau sama aku..."
Jelita berhenti sejenak.
"...kamu bisa ketawa tanpa ditahan."
Romi tidak menjawab.
"Tapi begitu istrimu telepon..."
Senyum di bibir wanita itu berubah menjadi tipis.
"...kamu langsung kembali menjadi Romi yang sempurna."
Romi terdiam. Ia ingin menyangkal, tetapi tahu ucapan Jelita barusan tidak sepenuhnya salah.
Ia baru menyadari satu hal.
Menjaga jarak ternyata jauh lebih mudah daripada menjaga hati.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐