NovelToon NovelToon
Bukan Inginku Jadi MADUMU

Bukan Inginku Jadi MADUMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Single Mom
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.

"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.

Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.

Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yusuf masih berusaha mencari

Sudah hampir dua bulan lamanya Siti menetap di sebuah kota kecil yang tenang di pedalaman Kalimantan. Tempat yang jauh dari hiruk-pikuk, jauh dari siapa pun yang mengenalnya, dan jauh dari segala kenangan yang dulu selalu menyayat hati. Di sebuah rumah sewaan yang sederhana namun bersih dan nyaman, Siti mulai menyusun kembali kepingan-kepingan hidupnya yang sempat hancur berantakan. Dengan ketekunan dan keahlian membuat kue yang sudah ia miliki sejak lama, serta bermodalkan uang tabungan hasil keringatnya sendiri, ia pun membuka usaha kecil-kecilan.

Setiap pagi buta, saat orang lain masih terlelap dalam tidur, Siti sudah bangkit berdiri di dapur kecilnya. Tangannya yang cekatan menguleni adonan, membentuk, dan memanggang berbagai jenis kue basah maupun kue kering. Mulai dari klepon, putu ayu, lapis legit, hingga kue kering kacang dan nastar yang harum baunya, semuanya ia buat dengan penuh kesungguhan dan hati yang tulus. Rasanya yang enak dan harganya yang terjangkau membuat dagangannya cepat dikenal dan disukai oleh warga sekitar. Lambat laun, usaha kecil yang ia rintis itu mulai berjalan lancar dan memberikan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan Daffa.

“Daffa sayang… tunggu sebentar ya, Bunda selesaikan dulu pesanan Ibu RT, nanti kita main lagi," ucap Siti lembut sambil tersenyum pada putranya yang sedang terlungkup tenang di sudut dapur dengan di alasi kasur kecil dan mainan sederhana.

Bayi yang berusia lima bulan itu hanya tersenyum tulus. Seakan mengerti dengan kesibukan bundanya.

Bagi Siti, setiap tetes keringat yang jatuh, setiap lelah yang ia rasakan, semuanya terbayar lunas hanya dengan melihat senyum Daffa yang cerah dan sehat. Ia merasa bangga, karena semua yang mereka nikmati saat ini adalah hasil usaha dan kerja kerasnya sendiri, tanpa bergantung pada bantuan atau harta siapa pun. Di tempat ini, ia merasa menjadi wanita yang utuh, mandiri, dan memiliki harga diri yang tinggi. Tidak ada lagi rasa menjadi orang asing, tidak ada lagi rasa sakit hati yang terus menghantui. Meski kadang rasa rindu pada Yusuf masih menyelinap diam-diam, namun Siti selalu berusaha menepisnya dan memperkuat hati. Ia tahu, keputusan yang ia ambil sudah benar dan itulah jalan terbaik bagi mereka berdua.

Sementara itu, di kota yang jauh di seberang pulau, Yusuf masih terus berusaha sekuat tenaga mencari jejak keberadaan Siti dan Daffa. Ia sudah bertanya ke mana-mana, menghubungi semua kenalan dan kerabat yang mungkin saja tahu, bahkan sudah meminta bantuan rekan-rekannya yang bekerja di berbagai instansi. Namun hasilnya tetaplah nihil. Siti seakan lenyap ditelan bumi, tidak meninggalkan satu pun jejak yang bisa ditelusuri. Wajah Yusuf yang biasanya selalu tampak tegas dan berwibawa, kini terlihat selalu murung, pucat, dan penuh kegelisahan. Matanya yang tajam kini terlihat sayu dan lesu, seolah sebagian dari jiwanya ikut hilang bersama kepergian wanita dan anak yang sangat dicintainya itu.

“Sudah ada kabar lagi tidak, Pak? Apakah ada petunjuk baru?” tanya Yusuf dengan nada tergesa-gesa saat berbicara lewat telepon dengan salah satu rekannya yang sedang membantunya mencari.

“Maaf, Mas Yusuf… sampai saat ini kami belum menemukan petunjuk apa pun. Seperti yang Mas duga, Ibu Siti benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Tidak ada catatan perjalanan, tidak ada transaksi keuangan, tidak ada kontak yang bisa dilacak. Seolah-olah mereka menghilang begitu saja dari muka bumi ini,” jawab suara dari seberang dengan nada menyesal.

Yusuf menghela napas panjang dan berat, lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut kencang. “Baiklah… terima kasih atas usahanya. Tolong teruskan pencariannya, ya. Saya akan berterima kasih seumur hidup kalau kalian bisa menemukan mereka.”

Ia mematikan sambungan telepon itu dengan perasaan yang makin terguncang. Rasa cemas, rasa rindu, dan rasa bersalah yang menumpuk di dalam dadanya membuatnya hampir tak sanggup bernapas. Setiap malam ia sulit memejamkan mata, bayangan wajah Siti yang penuh kesedihan dan wajah polos Daffa selalu hadir dan menatapnya dengan pandangan yang seolah menyalahkan. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri, terus bertanya-tanya dalam hati, di mana mereka sekarang? Apakah mereka makan dengan cukup? Apakah mereka tinggal di tempat yang layak? Apakah mereka sedang menderita atau kesusahan?

“Di mana kamu berada, Siti…?” gumam Yusuf pelan dengan suara yang bergetar, air matanya kembali menetes membasahi pipi. “Maafkan aku… maafkan aku yang telah memaksamu pergi dan menempuh jalan yang begitu sulit dan berat. Aku mencari kalian ke mana saja, tapi kenapa kalian tidak juga kutemukan? Kapan aku bisa melihat kalian lagi? Kapan aku bisa menebus semua kesalahan dan rasa sakit yang pernah aku berikan padamu?”

Di sisi lain, Nora justru menjalani hari-harinya dengan perasaan yang semakin tenang, aman, dan damai. Ia sama sekali tidak merasakan rasa bersalah atau rasa menyesal sedikit pun atas apa yang telah terjadi. Bahkan, kepergian Siti dan Daffa justru dianggapnya sebagai anugerah dan hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya. Kini, tidak ada lagi bayang-bayang, tidak ada lagi ancaman, dan tidak ada lagi persaingan yang harus ia hadapi. Ia merasa posisinya sebagai istri sah dan satu-satunya wanita yang ada di dalam kehidupan Yusuf sudah sepenuhnya aman dan kokoh. Ia bahkan mulai berperilaku semakin acuh tak acuh, seolah-olah tidak pernah ada sosok Siti dan anaknya yang pernah ada di tengah-tengah kehidupan mereka.

“Mas Yusuf, sudahilah mencari mereka. Sudah berbulan-bulan lamanya kita mencari tapi tidak juga ketemu. Mungkin memang begini takdirnya. Mungkin memang Tuhan menginginkan mereka pergi dan tidak kembali lagi ke sini. Itu tandanya memang bukan jodoh dan bukan bagian dari hidup kita lagi,” ucap Nora dengan nada yang santai dan dingin, saat melihat Yusuf yang kembali pulang dengan wajah yang penuh kekecewaan dan keputusasaan.

Yusuf menatap istrinya dengan pandangan yang tajam dan penuh ketidakpercayaan. Ia seolah baru menyadari bahwa wanita yang ada di hadapannya ini ternyata memiliki hati yang sedingin dan sekeras batu.

“Bagaimana kamu bisa bicara begitu, Nora? Bagaimana mungkin kamu bisa bersikap biasa saja, bahkan seolah senang dan puas dengan keadaan seperti ini? Itu Siti… wanita yang baik hati, wanita yang tidak pernah berbuat salah apa pun pada kita. Dan itu juga Daffa, anak yang tidak bersalah. Bagaimana kamu bisa tidak peduli sedikit pun pada nasib mereka?” tanya Yusuf dengan suara yang tinggi dan penuh emosi yang meluap-luap.

Nora tidak terlihat takut atau merasa bersalah sama sekali. Ia hanya mengangkat bahu dengan santai dan terus mengaduk minuman yang ada di gelasnya.

“Apa yang harus aku rasakan, Mas? Apa yang harus aku lakukan? Mereka yang memilih pergi, mereka yang memilih menghilang dan tidak mau ditemukan. Sudah jelas sekali dalam surat yang ditinggalkan Siti, dia meminta supaya kita tidak mencarinya dan membiarkan mereka pergi. Kalau Mas terus memaksakan diri mencari dan mengganggu mereka, bukankah itu berarti Mas yang tidak menghargai keinginan dan keputusan mereka? Lagian, bukankah hidup kita sekarang jauh lebih tenang dan damai tanpa kehadiran mereka? Tidak ada lagi rasa cemburu, tidak ada lagi rasa terancam, dan tidak ada lagi rasa tidak nyaman yang dulu selalu ada.”

“Kamu… kamu benar-benar tidak punya hati dan perasaan, Nora!” bentak Yusuf dengan amarah yang sudah tak tertahankan lagi. “Aku baru menyadari sekarang. Selama ini aku hidup bersama wanita yang hatinya kosong dan beku. Kamu sama sekali tidak mengerti apa-apa. Kamu tidak mengerti rasa kehilangan, rasa rindu, dan rasa bersalah yang memakan batin ini setiap detiknya. Kamu tidak mengerti betapa mulia dan baiknya hati Siti, dan betapa jahatnya perlakuan kita padanya.”

“Terserah Mas saja mau menganggap aku apa. Aku hanya bicara apa adanya dan sesuai dengan apa yang aku rasakan. Aku tidak merasa bersalah, dan aku tidak merasa menyesal sedikit pun. Semua yang terjadi sudah terjadi, dan tidak ada gunanya meratapi atau menyesalinya. Sekarang terserah Mas, mau terus mencari sampai tua atau mau melupakan semuanya dan kembali menjalani hidup dengan tenang bersamaku, dan juga haikal.” jawab Nora dengan nada yang tetap dingin dan tidak berubah sedikit pun raut wajahnya.

Yusuf hanya bisa memandang istrinya dengan pandangan yang penuh kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. Ia sadar, ia benar-benar sendirian dalam perjuangannya ini. Tidak ada satu pun orang yang mengerti atau mendukung perasaannya. Namun tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan pernah berhenti mencari, tidak akan pernah menyerah. Ia akan terus berusaha sampai napas terakhirnya, sampai ia berhasil menemukan jejak keberadaan Siti dan Daffa, memastikan mereka hidup dengan baik, dan menebus segala kesalahan yang telah ia perbuat.

Sementara di tempat yang jauh, di tengah keramaian pasar kecil di Kalimantan, Siti sedang tersenyum melayani pembeli yang datang sambil menggendong Daffa yang sedang tertidur pulas dalam pangkuannya. Meski lelah dan berat perjuangannya, namun hatinya terasa damai dan tenang. Ia tidak tahu betapa kerasnya Yusuf berusaha mencarinya, dan ia juga tidak peduli lagi dengan perasaan Nora. Ia hanya tahu, bahwa ia sedang menempuh jalan yang benar, jalan yang membuatnya kembali menemukan harga diri dan martabatnya sebagai seorang wanita dan seorang ibu. Dan ia berdoa semoga suatu hari nanti, takdir akan mempertemukan mereka kembali di saat yang tepat dan dengan cara yang paling indah, namun sampai saat itu tiba, ia akan terus berjalan tegak dan kuat bersama buah hatinya tercinta.

Bersambung....

1
Naufal Affiq
istrimu di tempat selingkuhan nya yusuf
Jetva
si Siti ga kerja..??
Jetva
Lah Siti ogeb....ga pux harga diri....
Dewi Habibah
endingnya sudah bisa di tebak🤭
Dewi Habibah
gimana Nora tidak mencari kebahagiaannya sendiri , suami yg di cintai si Yusuf itu memendam cita pada Siti dan Nora di abaikan , lebih baik Nora cari kebahagiaan sendiri la
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
lanjut kak 👍
Naufal Affiq
kasihan aku lihat kamu yusuf,masih saja kau pikir kan perasaan istrimu yang tukang selingkuh di belakang mu
Tri Hastuti
mudah2an mereka bersatu,, nora tinggalin j
Naufal Affiq
nikahin siti yusuf,karena istri mu sudah selingkuh di belakang mu
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
mau lihat reaksi nora gimana nanti 🤧
Suanti
nora sdh selingkuh yusuf tinggal cerai kan nora baru nikah lgi sm siti 🤭
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤: gampang sekali ya kak /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sasikarin Sasikarin
bolak balik g up juga... kecewa sangat
❀∂я 𝗗𝗘𝗪𝗜 𝗥⒋ⷨ͢⚤ : Bentar ya kak, lagi nulis🤗
total 1 replies
Naufal Affiq
yusuf berusaha kuat lagi untuk mencari siti dan dafa,mereka ada di Kalimantan lho
Tri Hastuti
biarin j nora selingkuh, nti siti sama yusuf j 😂
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
tapi kabar buruk dari ibumu Haikal , dia selingkuh 😭😭😭😅
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ini ada maunya raka 🙄
Suanti
semoga secpt nya yusuf ketemu siti dan daffa
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
salah jalan kamu nora pelampiasan sama suami orang 🙄🤧
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ujungnya jadi selingkuh kalian 🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!