Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Tahun Baru
Setelah pertanyaan tentang hadiah, hari hari berlalu dengan latihan Lin Tian yang semakin intens. Lao Hui tidak lagi mengajarkan teknik baru, tapi ia mengajarkan hal yang tidak kalah penting, yaitu kecerdasan dalam bertarung, cara membaca gerakan lawan, cara memanfaatkan kelemahan musuh, dan bahkan cara melarikan diri saat terdesak.
Lin Tian menyerap semuanya dengan antusias karena ia tahu bahwa di dunia kultivasi, bertahan hidup adalah keterampilan pertama yang harus dikuasai.
Hingga akhirnya sehari sebelum malam tahun baru, Lin Tian dan Lao Hui duduk di pinggir tebing di belakang sekte, menikmati angin sore setelah berlatih seharian. Lao Hui menuang teh dari kendi bambu ke dua cangkir lalu menyerahkan satu pada Lin Tian.
Lin Tian memecahkan keheningan setelah beberapa saat. "Guru, tentang pertanyaan guru sebulan yang lalu... tentang hadiah yang aku inginkan."
Lao Hui menoleh. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau penasaran berlebihan. Ia hanya mengangguk kecil sambil menyeruput tehnya.
Lin Tian menghela napas lalu menatap langit senja dengan mata sedikit sayu. "Aku pergi dari rumah untuk mencari tau siapa ayahku dan di mana dia sekarang. Ibu sering bilang bahwa dia sudah tiada sebelum aku lahir, tapi aku tahu ibu berbohong. Ada sesuatu yang disembunyikan dari aku, dan aku harus mengetahuinya."
"Jadi?" tanya Lao Hui dengan suara lembut.
Lin Tian menundukkan kepalanya. Jari jarinya menggenggam cangkir teh lebih erat. "Aku berharap bisa melihat ayahku, Guru... bahkan hanya dalam mimpi pun aku akan sangat bersyukur. Aku ingin tahu bagaimana wajahnya, bagaimana suaranya, bagaimana dia tersenyum."
Lao Hui tertegun. Cangkir tehnya berhenti di bibir. Ia kemudian menatap langit senja dengan tatapan kosong, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Udara di sekitar mereka terasa berubah menjadi lebih hangat, anehnya.
"Keinginanmu itu sulit, Lin Tian," ucap Lao Hui akhirnya. "Aku tidak tahu siapa ayahmu dan bagaimana penampilannya. Tapi mungkin aku bisa membantumu melihat ayahmu dengan teknik perubahan wujud."
Lin Tian mengernyitkan dahinya. "Bagaimana caranya, Guru? Jika guru sendiri tidak pernah melihat wajah ayahku, lalu ingin mengubah wujud menjadi siapa?"
Lao Hui terkekeh pelan. "Hehehee, ini mungkin tidak akan mirip seratus persen, tapi ini cukup untuk menggambarkan bagaimana penampilan seorang ayah bagi anaknya. Caranya sederhana. Aku memiliki teknik perubahan wujud yang bisa menciptakan sosok lebih dewasa darimu dengan sedikit perbedaan. Karena secara biologis... seorang anak mewarisi sebagian besar ciri fisik dari orang tuanya. Jadi kemungkinan... wujud itu bisa menyerupai ayahmu."
Lin Tian berpikir sejenak lalu mengangguk. "Baiklah, Guru. Kalau begitu, guru tunjukkan wujud itu saat malam tahun baru nanti. Temani aku menghabiskan malam tahun baru pertama dalam hidupku di luar rumah. Sebelumnya, saat tahun baru aku tidak pernah pergi keluar rumah, karena ibu selalu melarang."
Lao Hui mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu kembalilah ke asrama dan istirahatlah. Besok kita bertemu di Kota Naga Patah saat malam hari."
Lin Tian berdiri lalu menangkupkan tangan.
"Baik, Guru. Sampai jumpa besok."
Ia berbalik dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju asrama. Lao Hui tetap duduk di pinggir tebing, menatap punggung Lin Tian yang semakin menjauh hingga hilang di balik pepohonan. Setelah itu ia menatap langit senja yang mulai gelap.
"Aku sudah melakukan semuanya sesuai keinginan kita," ucap Lao Hui pada dirinya sendiri. "Bagaimana pendapatmu... Eyu?"
Tidak ada yang menjawab. Angin sore berhembus membawa daun daun kering berputar di udara. Lao Hui tersenyum tipis lalu memejamkan mata.
Waktu berlalu.
Keesokan harinya saat senja sudah menghilang sepenuhnya, Lin Tian berjalan di jalanan Kota Naga Patah. Lampu lampu lampion berwarna merah dan emas menggantung di setiap tiang, menerangi kota dengan cahaya hangat. Banyak orang merayakan malam tahun baru dengan pakaian terbaik mereka, meskipun matahari baru tenggelam setengah jam yang lalu.
Lin Tian tersenyum melihat anak anak berlarian dengan petasan di tangan, melihat para pedagang berteriak menawarkan makanan khas tahun baru, dan melihat pasangan pasangan muda berjalan bergandengan tangan. Ia singgah di tukang sate langganannya, seorang pria tua dengan wajah ramah dan tangan penuh kapalan.
"Selamat tahun baru, Paman," ucap Lin Tian sambil membayar lima tusuk sate kambing.
"Selamat tahun baru, Tuan Muda. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun lalu," jawab pedagang itu sambil membalikkan sate di atas bara api.
Lin Tian memakan satenya sambil berjalan santai, sesekali menepi untuk memberi jalan pada gerobak dorong yang lewat. Setelah habis, ia membuang tusuk satenya di tempat sampah, lalu terus berjalan hingga tiba di alun alun kota. Di sana ia melihat Bai Feng, Bai Kelong, dan Lao Hui berdiri di dekat air mancur batu yang sedang tidak menyala karena musim dingin.
Bai Feng melambaikan tangan begitu melihat Lin Tian. "Lin Tian! Kemarilah! Kita sudah menunggumu!"
Lin Tian mendekati mereka lalu menyapa satu per satu. Bai Kelong mengangguk ramah, Lao Hui tersenyum tipis.
"Rekan Kelong, tunggu di sini sebentar," ucap Lao Hui sambil menepuk pundak Bai Kelong. "Aku ingin melakukan sesuatu dengan muridku terlebih dahulu. Hanya sebentar, tidak akan lama."
Bai Kelong mengangguk. "Baik, Rekan Hui. Kami akan menunggu di sambil minum arak."
Lao Hui mengajak Lin Tian menyeberang jalan menuju sebuah toko pakaian yang masih buka meski sudah malam. Pemilik toko adalah dua orang pria paruh baya, satu bertubuh kurus dengan kacamata, satu lagi bertubuh gemuk dengan kumis tebal.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" sapa pria berkacamata dengan ramah.
Lao Hui berjalan ke rak jubah lalu mengambil satu jubah putih. Bahan kainnya halus, bordiran awan tipis di ujung lengan dan kerah.
"Aku beli ini. Tolong bungkus."
"Baik, Tuan."
Setelah membayar, Lao Hui menoleh pada Lin Tian. "Kau tunggu di luar sebentar. Aku akan masuk ke ruang belakang untuk memberikan kejutan. Jangan lihat ke dalam sampai aku keluar."
Lin Tian mengangguk, lalu ia berdiri di depan pintu dengan hati berdebar tidak sabar. Bagaimana sosok ayahnya nanti? Apakah ia akan mirip dengannya? Apakah ia akan terlihat seperti pahlawan atau justru seperti orang biasa?
Beberapa menit kemudian pintu terbuka. Seorang pria tampan dengan rambut perak panjang tergerai dan jubah putih bersih melangkah keluar. Wajahnya tegas, matanya tajam namun teduh, dan posturnya tegak seperti seorang bangsawan. Senyum tipis menghiasi bibirnya, membuatnya terlihat ramah namun tetap berwibawa.
Lin Tian tertegun, tidak bisa berkata apa apa. Matanya tidak berkedip, menatap sosok di hadapannya seolah sedang melihat sesuatu yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.
Lao Hui menepuk pundak Lin Tian. "Bagaimana? Apakah tampilannya sudah cukup bagus? Ini hanya perkiraan kasar, tapi setidaknya kau bisa membayangkan bagaimana rupa ayahmu secara umum."
Di belakang konter toko, kedua pemilik toko itu tampak pucat. Pria berkacamata mundur tiga langkah hingga membentur rak kain, sedangkan pria berkumis gemuk bersembunyi di balik konter dengan wajah ketakutan.
Lin Tian melihat reaksi mereka lalu bertanya, "Kalian kenapa? Ada yang salah dengan wajah ini?"
Pria berkacamata menunjuk ke arah Lao Hui dengan tangan gemetar.
"Dia... dia mirip seperti pria yang menyerang Kekaisaran Daxia di benua Shenxiou. Aku baru tiba di Lingzhao sebulan yang lalu dari benua Shenxiou untuk berdagang. Di sana lukisan pria ini tersebar luas di setiap kota, karena diincar oleh banyak sekte. Wajahnya sangat mirip dengan lukisan itu."
Lao Hui berdehem pelan lalu menyentuh dahinya. Dalam sekejap, wajah tampan dengan rambut perak itu berubah kembali menjadi wajah tua Lao Hui yang biasa. Kerutan di sudut mata dan dahi muncul kembali, rambut perak berubah menjadi hitam keabu-abuan.
"Kalian ini bereaksi terlalu berlebihan," ucap Lao Hui dengan nada datar. "Aku hanya menyamarkan wajah agar muridku ini bisa melihat sosok ayahnya yang telah tiada. Itu saja. Kenapa langsung dipandang seperti penjahat?"
Kedua pemilik toko itu segera membungkuk dalam dalam. "Maafkan kami, Tuan. Kami hanya trauma karena kabar dari benua asal kami sangat mengerikan. Banyak kerabat kami yang kehilangan bisnis karena kekaisaran itu runtuh."
Lao Hui menghela napas lalu merubah wajahnya kembali menjadi tampan berambut perak. "Ayo kita pergi. Biarkan mereka tenang."
Mereka keluar dari toko lalu bergabung kembali dengan Bai Feng dan Bai Kelong. Kelompok kecil itu berjalan menyusuri alun alun yang semakin ramai, akhirnya memutuskan untuk duduk di sebuah kedai arak terbuka yang menjual minuman hangat dan makanan ringan. Bai Kelong memesan beberapa botol arak berkualitas sedang beserta piring berisi kacang goreng dan daging kering.
Malam tahun baru berlalu dengan hangat. Bai Feng bercerita tentang kenakalannya saat kecil, Bai Kelong tertawa mengenang masa mudanya, sementara Lin Tian dan Lao Hui duduk berdampingan sambil menyeruput arak perlahan. Petasan meletus di sana sini, menerangi langit malam dengan percikan warna warni. Sesekali lampion kertas diterbangkan ke angkasa, membawa harapan dan doa untuk tahun yang baru.
Lin Tian menikmati setiap detik dari malam itu. Ia tidak pernah merasakan kebersamaan seperti ini sebelumnya. Di alam ras ular, tahun baru hanya dirayakan dengan upacara kaku, dan Medusa yang duduk di singgasana sendirian sambil menatap kosong ke luar jendela. Tidak ada tawa, tidak ada arak, tidak ada petasan.
Ketika tengah malam tiba, seluruh kota bersorak. Lampion lampion kertas dilepaskan secara bersamaan, membentuk sungai cahaya di langit gelap. Ribuan titik api melayang naik, beberapa bertahan lama, beberapa padam setelah beberapa detik.
Lin Tian menatap pemandangan itu dengan mata berbinar. Lao Hui di sampingnya juga menatap ke atas, tapi matanya tidak berbinar. Matanya justru terlihat sayu, seperti seseorang yang sedang mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang sangat dicintainya.
Mereka menghabiskan waktu hingga larut malam. Sekitar pukul satu dini hari, Bai Kelong mengusulkan untuk kembali ke kediamannya karena udara mulai dingin menusuk.
Semua setuju.
Di kediaman keluarga Bai, Lin Tian diberi kamar tamu di ujung lorong barat. Ia merebahkan diri di atas dipan yang empuk, jubah putihnya masih melekat di tubuh karena kelelahan. Dalam beberapa menit, ia sudah tertidur pulas dengan senyum tipis di bibirnya.
Lao Hui berdiri di samping pintu kamar. Ia menatap Lin Tian untuk beberapa saat, lalu menghela napas berat yang terasa seperti mengeluarkan setengah dari jiwanya. Dengan gerakan perlahan, ia masuk lalu mengeluarkan dua benda dari cincin penyimpanannya: sebuah gulungan kertas berwarna kuning tua yang sudah siap sedia sejak lama dan sebuah peta kain yang digulung rapi.
Lao Hui memasukkan kedua benda itu ke dalam cincin penyimpanan Lin Tian dengan lembut, tidak sampai membangunkan pemuda itu dari tidurnya. Ia kemudian duduk di pinggir dipan, merapikan sedikit rambut Lin Tian yang berantakan.
"Jaga dirimu baik baik, Lin Tian," bisik Lao Hui dengan suara yang sangat pelan. "Kita akan bertemu lagi di lain waktu, dengan kondisi yang berbeda. Kuharap kau kuat saat itu."
Lao Hui berdiri lalu berjalan ke jendela. Ia membuka daun jendela, angin malam yang dingin langsung menyapa wajahnya. Sekali lagi ia menoleh ke belakang, menatap Lin Tian yang masih tertidur nyenyak.
"Selamat tinggal."
Kemudian ia menghilang.
Tidak ada suara, tidak ada cahaya, tidak ada tanda tanda. Lao Hui lenyap seperti kabut yang tertiup angin pagi. Hanya meninggalkan aroma teh samar di kamar itu dan kehangatan yang perlahan memudar.
Lin Tian terus tertidur, tidak tahu bahwa gurunya telah pergi. Tidak tahu bahwa malam tahun baru yang indah itu adalah yang terakhir bersama Lao Hui. Di luar jendela, lampion lampion terakhir masih melayang di angkasa, membawa cahaya mereka ke tempat yang tidak diketahui.