Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Jika Aku Jatuh, Dunia Akan Ikut Bersamaku
Alarm merah memenuhi ruangan.
WARNING: CORE COLLAPSE INITIATED
Tulisan itu terus berkedip di setiap layar yang masih hidup.
Merah.
Mengerikan.
Dan kali ini—
bahkan Selene tidak bercanda lagi.
“...Oke,” katanya pelan sambil menatap monitor retak di dekatnya. “Sekarang kita benar-benar dalam masalah.”
Pria di belakang terus mengetik panik di terminal yang hampir mati.
Tangannya gemetar.
“Core Link sudah terlalu dalam…”
“Katakan sesuatu yang belum kami tahu,” balas Selene dingin.
Pria itu menelan napas.
“Kalau koneksinya runtuh sekarang… seluruh sistem yang terhubung ke jaringan utama bakal ikut crash.”
Sunyi.
Lyra langsung memahami artinya lebih cepat dari semua orang.
Listrik.
Komunikasi.
Satelit.
Rumah sakit.
Bandara.
Sistem pertahanan negara.
Semuanya.
Dunia modern bergantung pada jaringan.
Dan sekarang—
jaringan itu terhubung pada satu orang.
Veyra.
—
Hujan di luar makin deras.
Kota benar-benar gelap total sekarang.
Tidak ada cahaya neon.
Tidak ada suara kendaraan otomatis.
Hanya kilat petir sesekali yang menerangi jalanan penuh kepanikan.
Orang-orang mulai keluar rumah.
Mencari sinyal.
Mencari jawaban.
Namun tidak ada yang mengerti bahwa pusat seluruh kekacauan itu…
sedang berdiri beberapa lantai di atas mereka.
Dengan napas yang makin tidak stabil.
—
Veyra memegang dadanya pelan.
Sakit.
Bukan sakit biasa.
Rasanya seperti ada sesuatu di dalam tubuhnya yang sedang robek perlahan.
Dan suara-suara di kepalanya—
makin kacau.
Namun anehnya—
di tengah semua rasa sakit itu…
ia masih sadar.
Masih bisa berpikir.
Masih bisa memilih.
—
“Jangan menolak lagi…”
Suara hologram terdengar lemah sekarang.
Tubuhnya glitch parah.
Namun ia masih berusaha mendekat.
“Biarkan integrasi selesai…”
Veyra tertawa kecil.
Lelah.
“Kenapa?”
“Karena kalau tidak…”
Suaranya terpotong sesaat.
“…kita semua akan hancur.”
Deg.
Lyra langsung menegang.
Karena itu bukan ancaman.
Itu fakta.
—
Pria misterius di layar kini benar-benar serius.
Tak ada lagi senyum santai.
“Dia harus distabilkan sekarang.”
Selene melirik tajam.
“Dan caranya?”
Pria itu diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Selesaikan sinkronisasinya.”
“Tidak.” Lyra langsung menolak.
“Kalau tidak dilakukan,” pria itu menatap dingin, “dunia akan runtuh bersamanya.”
Sunyi.
Kalimat itu terasa berat.
Karena semua orang di ruangan itu tahu—
ia mungkin benar.
—
Veyra perlahan mengangkat wajah.
“Lucu.”
Semua menoleh.
Ia tersenyum tipis.
“Jadi akhirnya…”
Tatapannya perlahan menyapu ruangan.
“…dunia bergantung sama monster yang mereka takutkan.”
Deg.
Tak ada yang menjawab.
Karena lagi-lagi—
Veyra benar.
—
Lyra mendekat perlahan.
“Dengar aku.”
Veyra melirik.
“Kamu harus tetap sadar.”
“Aku masih sadar.”
“Bukan itu maksudku.”
Lyra menggenggam tangannya.
Dan sentuhan itu—
langsung membuat suara-suara di kepala Veyra sedikit mereda.
Deg.
Veyra membeku kecil.
Karena ia tidak menyangka—
hal sesederhana itu bisa membuatnya merasa tenang.
“Aku nggak akan biarin kamu hilang,” kata Lyra pelan.
Hologram langsung glitch keras.
“Ikatan emosional terdeteksi.”
“Mengganggu proses—”
“Diam.”
Untuk pertama kalinya—
Veyra membentak sistem itu.
Dan seluruh ruangan langsung bergetar.
BOOM!
Monitor pecah.
Lampu meledak.
Namun Veyra tidak peduli.
Tatapannya tetap pada Lyra.
Dan anehnya—
semakin ia fokus pada wanita itu…
semakin dirinya terasa utuh.
—
Selene memperhatikan semua itu sambil menyilangkan tangan.
“Wow.”
Pria di belakang melirik.
“Apa?”
“Aku baru sadar sesuatu.”
“Apa lagi?”
Selene tersenyum tipis.
“Sistem paling canggih di dunia ternyata kalah sama attachment issue.”
Lyra melirik tajam.
“Ini bukan waktunya bercanda.”
“Aku serius.”
Dan sialnya—
Selene benar.
Sistem itu terus kehilangan stabilitas setiap kali emosi manusia Veyra menguat.
Karena sejak awal—
mereka tidak pernah memperhitungkan satu hal.
Bahwa seseorang yang hancur…
masih bisa memilih untuk tetap menjadi manusia.
—
Namun tubuh Veyra makin melemah.
Kakinya mulai goyah.
Darah dari hidungnya menetes semakin banyak.
Dan layar di seluruh ruangan kembali berubah merah.
CORE COLLAPSE: 43%
Pria di belakang langsung pucat.
“Itu naik terlalu cepat…”
Lyra menatap panik.
“Apa yang terjadi?!”
“Dia menolak sinkronisasi sekaligus mempertahankan koneksi!”
Selene menghela napas.
“Bahasa manusia, tolong.”
“Itu seperti menarik dua arah berbeda sekaligus,” jawab pria itu cepat. “Kalau terus dipaksa, otaknya bisa hancur!”
Deg.
Lyra langsung menggenggam tangan Veyra lebih erat.
“Stop sekarang.”
Veyra tertawa kecil.
“Pengen.”
“VEYRA.”
“Tapi aku nggak tahu caranya.”
Dan itu pertama kalinya malam ini—
ia terdengar takut.
Bukan pada dunia.
Bukan pada kematian.
Tapi pada dirinya sendiri.
—
Tiba-tiba—
semua layar di ruangan menyala bersamaan.
Namun kali ini bukan hologram.
Melainkan rekaman lama.
Anak-anak kecil di laboratorium.
Ruangan putih.
Nomor di leher mereka.
Tangisan.
Jeritan.
Dan di salah satu rekaman—
ada Veyra kecil.
Duduk diam di pojok ruangan sambil memeluk lutut.
Deg.
Napas Veyra tercekat.
“...Tidak.”
Lyra langsung menoleh tajam ke layar.
“Siapa yang muter itu?!”
Pria misterius di layar utama tetap tenang.
“Aku.”
“Kamu sakit!”
“Aku hanya ingin dia melihat semuanya.”
Rekaman terus berjalan.
Anak-anak yang gagal sinkronisasi.
Tubuh yang dibawa pergi.
Ruangan operasi.
Dan suara kecil Veyra—
“Kalau aku berhasil… apa aku boleh keluar dari sini?”
Deg.
Ruangan langsung terasa lebih dingin.
Lyra memalingkan wajah.
Selene diam.
Bahkan beberapa pasukan yang masih hidup terlihat terguncang.
Namun pria itu tetap bicara dengan tenang.
“Kamu selalu berbeda sejak awal, Veyra.”
“DIAM!”
BOOOOMMMM!
Seluruh layar langsung meledak.
Pecahan kaca beterbangan.
Energi biru meledak dari tubuh Veyra.
Dan untuk pertama kalinya—
emosinya benar-benar lepas.
—
“Aku nggak pernah minta ini!”
Suaranya menggema di seluruh ruangan.
Dinding retak.
Gedung berguncang hebat.
Di luar—
langit seperti ikut bereaksi.
Petir menyambar tanpa henti.
Dan jaringan di seluruh dunia kembali glitch.
“AKU NGGAK PERNAH MINTA JADI APA PUN!”
Hologram langsung terdorong mundur.
Tubuhnya pecah-pecah.
“Emosi tidak stabil!”
“Core Link overload!”
Namun Veyra tidak berhenti.
Air matanya mulai jatuh.
Dan itu jauh lebih mengerikan daripada kemarahannya.
Karena selama ini—
ia selalu menahan semuanya sendiri.
Rasa sakit.
Ketakutan.
Kesepian.
Dan sekarang—
semuanya keluar sekaligus.
“Aku cuma pengen hidup normal…”
Suaranya melemah sedikit.
Namun justru itu yang membuat semua orang diam.
Karena kalimat itu…
terdengar sangat manusia.
—
Lyra perlahan mendekat lagi.
Meski lantai terus bergetar.
Meski sistem di sekitar mereka hampir runtuh.
Ia tetap mendekat.
Lalu memeluk Veyra.
Deg.
.Seluruh ruangan langsung sunyi.
Bahkan alarm seperti terdengar jauh sekarang.
Veyra membeku.
Tubuhnya masih dipenuhi cahaya biru.
Namun pelukan itu—
hangat.
Nyata.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia tidak merasa sendirian.
“Udah cukup,” bisik Lyra pelan.
Napas Veyra gemetar.
“Aku takut…”
Lyra memejamkan mata.
“Aku juga.”
Sunyi.
Lalu perlahan—
cahaya biru di sekitar tubuh Veyra mulai meredup sedikit.
Hologram langsung glitch semakin parah.
“Tidak…”
“Koneksi tidak boleh terputus…”
Namun Veyra akhirnya menatap sistem itu dengan tenang.
Dan kali ini—
tanpa marah.
“Aku bukan milik kalian.”
Deg.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun efeknya—
menghancurkan semuanya.
BOOOOOOMMMMMM!
Seluruh gedung berguncang hebat.
Dan di saat yang sama—
di seluruh dunia—
seluruh jaringan digital mati total selama tiga detik.