Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Rebelion
Happy Reading
Hari-hari pun berlalu. Kini Lily mulai merapikan barang bawaanya untuk tinggal di apartemen sendirian. Ia begitu senang karena pada akhirnya setidaknya dirinya akan jauh dari Zevan. Apalagi akhir-akhir ini pemuda itu semakin aneh saja. Seperti tidak melihatnya sebagai adik yang sedang ia jaga, namun lebih pada barang yang sedang ia miliki.
"Lily?" Panggil seseorang dari ambang pintu kamarnya yang sedang terbuka begitu saja. Siapa lagi jika bukan pemuda itu_Zevan. Dia menyilangkan tangannya di dada dengan penuh percaya diri memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu.
"Kenapa sekarang lo kayak lagi jauhin gue?" Katanya lagi dengan nada suara rendah yang dingin. Ia lalu berjalan menghampiri Lily yang sedang terduduk di bawah melipat pakaiannya yang begitu banyak.
"Lo serius mau bawa semua barang itu? Lo mau tinggal sementara apa mau pindah tempat tinggal?" Tanyanya ketika matanya mengedar menatap sekelilingnya yang dipenuhi belasan koper warna-warni. Apa adiknya ini benar-benar akan membawa seluruh barangnya yang ada di kamar?
"Kenapa emangnya? Kepo mulu" Jawab Lily dengan menjelingkan matanya risih. Pemuda ini terus-menerus saja mengganggunya. Apa dia sesenggang itu?
Setelah koper warna pinknya telah penuh dengan baju tidurnya, ia pun menutupnya dan membuka koper lainnya. Zevan terheran karena Lily jadi terdiam. "Udah beres?" Tanyanya membuat Lily menatapnya dalam.
"Kak Zevan mending keluar dulu deh" Usirnya. Zevan menggelengkan kepalanya dengan wajah enggan yang terlihat polos. Dia seperti seorang anak kecil yang sedang memperhatikan ibunya merapikan baju.
"Yang tadi koper baju tidur semua?"
Lily mengangguk. Zevan lantas menunjuk pada koper kecil yang berwarna kuning polos. "Itu isinya apa?"
"Yang itu isinya skincare, makeup, bodycare sama haircare" Jawabnya sambil mengingat kembali apa yang telah di bereskannya pada koper itu.
"Apa iya yah? Duh apa aja yah yang belum di beresin?!" Bingungnya ketika ia mulai lupa telah memasukan barang apa saja pada koper-kopernya.
"Li, mending lo gak usah bawa baju banyak. Nanti kalo perlu beli aja ke toko gue anter" Katanya membuat Lily berfikir keras. Iya juga yah, dengan kekayaan ayahnya dia bisa membeli ratusan baju mahal sekaligus dalam sehari sebenarnya.
"Oke. Kak Zevan keluar dulu boleh?"
"Gak mau"
"Ih kepo mulu urusan orang"
"Di bilang gak mau ya gak mau"
"Dih nyebelin"
"Gue masih gak setuju lo kuliah"
"Lah?"
"Besok gue yang nganterin lo ke apartemen"
"Gak usah"
"Gak lagi negosiasi"
"Sumpah ya!"
Zevan pun tersenyum kecil lalu beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar dari kamar Lily dengan santai tanpa mengatakan apapun lagi lalu menutup pintu kamarnya rapat membuat Lily cengo dibuatnya. Apa-apaan banget!
"Manusia ter-gak jelas" Gumamnya lalu melanjutkan beres-beresnya.
Di luar kamar, Zevan sebenarnya masih ada disana. Ia bersandar pada pintu kamar Lily dengan gelisah. Kenapa dirinya semakin ingin terus berada didekat Lily? Mengapa rasanya ada yang kurang saat mereka berjauhan? Perasaan itu semakin lama semakin dalam. Dan ketika Zevan berusaha membuang perasaan itu, bukannya rasa itu menghilang malah perasaan itu semakin kuat. Zevan yakin jika perasaan itu tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Keesokan harinya, Lily bangun seperti biasanya. Ia mulai merapikan tempat tidurnya yang akan ia tinggalkan, dan juga membereskan koper-koper warna warni yang akan di bawanya. Pagi itu entah mengapa terasa menyegarkan bagi Lily. Ada perasaan bebas saat mengetahui bahwa ia akhirnya tidak tinggal di rumahnya lagi.
"Li, gak sekalian aja bawa ranjang sama lemari? Lo serius mau bawa koper-koper itu semua?" Tanya seorang pemuda yang hendak membantunya memindahkan barang bawaanya.
"Nanya mulu dari kemarin" Ketus Lily sembari membawa satu koper warna hitam yang lebih besar dari kopernya yang lain. Sang pemuda yang mendapati respon itu mendengus kesal lalu secara tiba-tiba mencengkram punggung tangan putih sang gadis yang sedang kesulitan menarik pegangan kopernya.
"Li, gue gak suka cara bicara lo yang sekarang" Ucapnya sembari mendekatkan wajahnya mencoba mengintimidasi Lily yang mulai gugup.
"Apa sih kak, mau bawain kopernya? Boleh" Lily mencoba menarik tangannya yang masih digenggam dengan sangat erat itu.
"Li, lo lari ke neraka pun gue susul" Bisiknya langsung pada telinga Lily hingga ia mematung. Ia memutar bola matanya menatap wajah pemuda itu dengan penuh kebencian.
"Aku bakalan ke surga btw" Jawab Lily lalu menghentak tangannya yang akhirnya bisa terlepas. Pemuda itu tersenyum miring mendapati reaksi penuh tantangan dari gadis itu. Dia boleh juga.
"Aku tunggu di mobil" Ucap Lily kemudian segera beranjak keluar dari kamarnya dan meninggalkan sang pemuda yang sedang memerah karena merasa semakin tertantang untuk mendekati Lily.
Selang beberapa saat kemudian, akhirnya Lily tiba juga di apartemen barunya. Saat memasuki gerbang keamanan apartemen, Lily sadar bahwa tempat itu adalah tempat mewah yang tentunya penghuninya pun hanya orang-orang tertentu. Ia menatap keatas apartemennya yang begitu tinggi. Mungkin ada 100 lantai?
Lily pun akhirnya turun dari mobilnya setelah mereka berhenti di parkiran. Ia semakin terpukau pada suasana disana. Tempat teduh terlihat di setiap sudut matanya memandang. Taman, kolam berenang, caffe dan tempat untuk joging.
"Suka tempatnya?" Tanya pemuda itu pada Lily yang sedang menikmati pemandangan sekitarnya.
Lily mengangguk dengan tenang. Ia tiba-tiba tersenyum bebas dan segera berlari ke tempat resepsionis untuk mengambil kunci apartemennya. Pemuda yang sedang mengeluarkan beberapa koper itu pun hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat reaksi lucu dari gadis kecilnya itu.
"Kak Zevan! Ayo!!!" Teriak Lily tak lama kemudian pada pemuda itu_Zevan dengan semangat. Zevan yang sedang menutup bagasi mobil pun menoleh ke arah sumber suara melihat Lily yang sedang berjingkrak kegirangan dengan memamerkan kartu kunci apartemennya lalu berlari lagi masuk ke dalam.
Tak lama Zevan pun menyusulnya masuk kedalam. Terlihat Lily sudah menunggunya dengan tidak sabar di depan pintu lift. Zevan pun segera berjalan ke arahnya dengan membawa tiga koper, 2 koper ia tumpuk dan satunya ia seret. Lily sebenarnya tidak melihat Zevan kerepotan, namun ia ingin membantunya.
"Sini kak, yang item aku bawa" Ucapnya ketika memilih koper paling besar. Zevan segera menjauhkan tangan Lily yang hendak merebut koper itu.
"Gak usah. Lo pencet aja tuh tombol liftnya" Ucapnya dengan nada suara rendah yang dingin. Lily lalu mengulum bibir bawahnya karena merasa tidak enak. Ia pun berbalik dan menekan tombol naik.
Pintu lift pun terbuka dan tidak ada orang yang di dalam sana. Lily pun masuk dengan perasaan yang tiba-tiba kalut saat harus berduaan dengan Zevan di tempat sempit dan tertutup itu. Namun beruntungnya saat ia melihat ke arah pojok atas, ia melihat cctv. Akhirnya ia pun bisa bernafas lega.
"Lantai berapa?" Tanya Zevan membuat Lily tidak fokus.
"Lo tinggal di lantai berapa?" Tanya Zevan sekali lagi membuat Lily sadar dan segera menekan tombol angka 25. Ia pun jadi menyadari bahwa ternyata apartemennya tidak setinggi seperti perkiraannya yang memiliki 100 lantai. Karena ternyata hanya ada 30 angka yang ada di dalam lift itu.
Setelah beberapa lama, pintu lift pun akhirnya terbuka tepat di lantai 25. Apartemennya terlihat begitu sepi membuat Lily sedikit tidak nyaman saat ia berjalan keluar dari lift dan menyusuri koridornya. Kenapa tempat semewah ini seperti tidak ada penghuninya? Apa iya dia sebenarnya sedang menyewa apartemen yang masih beroprasi?
"Kok kayak gak ada penghuninya ya kak? Tadi juga di depan gak ada kendaraan lain yang terparkir, terus caffenya juga sepi. Kok sepi?" Tanyanya membuat Zevan hanya terdiam. Sudah tentu akan sepi, karena apartemen ini khusus dibeli oleh ayahnya hanya untuk Lily.
BERSAMBUNG