NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 - Bisikan Malam

Sisi barat Kaelros adalah area yang nyaris tidak bisa diakses. Hutan Selubung Maut membentang, nyaris mengisolir. Hanya jalur utara menuju Dresval dan barat daya ke arah Sheren satu-satunya jalan yang tidak memutus kontinen itu dari negara lain.

Waymoor adalah tempat singgah yang akan dilewati dalam perjalanan menuju Dresval. Ia adalah salah satu wilayah di utara Kaelros yang tidak berada di bawah kuasa enam keluarga bangsawan besar. Desa kecil itu berada terlalu jauh di utara, berdiri di kaki pegunungan Nimregohr, dikelilingi hutan cemara dan jalan berbatu yang hanya ramai ketika musim dagang tiba.

Orang-orang hanya mengingat Waymoor sebagai tempat bermalam murah dengan sup hangat dan kabut dingin yang turun cepat begitu matahari menghilang.

Belakangan, Waymoor diingat karena alasan lain.

Berita mengenai rombongan pedagang yang tidak sampai ke tujuan membuat area itu semakin sepi. Kabar soal penginapan yang diserang membuat banyak rencana perjalanan dibatalkan.

Malam itu kabut turun lebih tebal dari biasanya. Jalan utama desa tampak lengang. Sejumlah cahaya masih terlihat dari jendela penginapan, namun pintu-pintunya tertutup rapat. Tidak terdengar suara musik. Tidak pula ada tawa mabuk para saudagar yang biasanya meramaikan tempat itu.

Hanya deru angin yang terdengar.

Dan samar-samar… suara jeritan.

“Cepat.”

Salah satu prajurit patroli mempererat genggaman pada senjatanya. Langkah mereka bergegas melewati jalan yang licin oleh sisa hujan.

“Tidakkah kita sebaiknya menunggu bala bantuan?” Seseorang berbisik rendah.

Dengus pelan terdengar. “Prajurit ibu kota akan menganggap kita tidak berguna bila hanya diam saja.” Terlepas dari kalimatnya, ucapan itu terdengar seperti usaha menenangkan diri.

Tiba-tiba, seekor kuda berlari melewati mereka. Melesat cepat seolah dikejar sesuatu.

Tanpa penunggang.

Tubuh hewan itu dipenuhi bercak darah.

“Demi Kaisar…” Prajurit paling muda berseru pelan.

Mereka pun mempercepat langkah.

Begitu mencapai pusat desa, apa yang tersaji di hadapan mengimplikasi bahwa ini lebih besar dari yang mereka kira.

Rumah dan penginapan di desa itu nyaris hancur. Meja, kursi, dan perabot berserakan hingga ke jalan. Pecahan kaca memenuhi tanah berlumpur. Beberapa pintu terlepas dari engsel dengan bekas cakaran panjang membelah kayu.

Dan darah.

Darah ada di mana-mana. Menetes di dinding. Membasahi tanah. Menyeret panjang hingga hilang dalam gelap.

Suara tangisan terdengar dari balik gerobak yang terbalik. Seorang bocah meringkuk di bawahnya. Lumpur mengotori tubuh yang gemetar.

“Mereka datang…” anak itu meratap.

“Siapa?” salah satu prajurit bertanya cepat. “Dresval?”

Anak itu menutup telinga dan memejamkan mata. Kepalanya menggeleng berulang kali. Penuh kengerian.

“...monster…” bisiknya.

Sebelum siapapun sempat bereaksi, suara tawa terdengar. Tidak nyaring, namun membuat merinding. Serentak semua kepala menoleh.

Kabut yang menggantung bergerak perlahan. Lalu seseorang melangkah keluar dari bayangan.

Tubuhnya tinggi. Mantel gelap panjang membuat sosoknya menyatu dengan bayang malam. Rambut hitam diikat rendah melewati punggung. Wajah pucat dihiasi senyum. Merekah ganjil.

Ekspresi yang tidak seharusnya ada di sana.

“Kau dari kelompok mana?” Kapten prajurit patroli itu mencabut pedangnya. Logam tajam terhunus tanpa ragu.

Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya memiringkan kepala, seakan sedang mempertimbangkan. Cahaya bulan sesaat jatuh pada logam kecil di telinganya. Sebuah anting perak menyala dalam gelap.

Lalu, dia menghilang.

Prajurit itu bahkan tidak sempat berkedip. Sesuatu menghantam rekannya dari samping, hingga terlempar keras menabrak dinding bangunan. Suara retakan terdengar mengerikan.

“Apa—?!”

Kilatan perak bergerak di antara kabut.

Seorang prajurit mengangkat pedangnya, hanya separuh jalan ketika darah menyembur hangat ke wajah. Tubuh di sebelahnya roboh tanpa suara.

Bunyi logam yang beradu bercampur dengan teriakan. Gaduh. Panik akan serangan yang tidak terlihat. Hanya ditandai oleh tubuh-tubuh yang terkoyak. Satu persatu mayat bergelimpangan.

Prajurit termuda terjatuh dengan napas memburu. Matanya bergerak liar mencari si sosok misterius.

Ia melihatnya.

Berdiri di atas puncak pohon cemara. Masih tersenyum. Sementara darah menetes dari ujung jemari.

Dari arah pegunungan Nimregohr, sayup-sayup suara terdengar. Samar. Serupa nyanyian.

Ketika sepasang mata merah balas menatapnya, prajurit itu tahu, mereka seharusnya menunggu bala bantuan.

...*...

...*...

...*...

Kabut belum sepenuhnya terangkat saat pasukan garda depan Kaelros mencapai Waymoor. Hening yang menyambut kala mereka tiba bukanlah sesuatu yang wajar, tak peduli seberapa awal matahari bergerak di timur.

Tidak ada sedikitpun tanda kehidupan di tempat itu.

Desa yang porak-poranda adalah satu hal. Hewan yang tidak tampak di sana adalah hal lain.

Raien turun dari kudanya tanpa mengatakan apapun. Jubah hitam bergerak tertiup angin pagi. Mata sewarna langit malam menyapu keadaan desa—bangunan rusak, jejak darah, dan… mayat yang tidak di sana.

Prajurit di belakangnya tampak menahan napas.

“Yang Mulia,” salah satu dari mereka berujar, “...ini bukan serangan biasa.”

Raien tidak segera menjawab.

Pria itu berjongkok di depan bekas darah yang memanjang, seperti sesuatu yang diseret ke arah hutan. Ujung jemarinya menyentuh jejak yang mengering.

Sejenak ia terdiam. Matanya menatap tajam ruang di sekitar.

Tubuh tegap itu kembali berdiri. Tatapannya terangkat ke utara. Pegunungan Nimregohr tampak kabur di balik kabut.

“Arah utara.”

Hanya dua kata itu yang ia ucap. Dan seluruh pasukan bergerak tanpa bertanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!