Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Meskipun hati ini sudah berkali-kali tergores rasa kecewa, berkali-kali merasa kecil dan tertolak, nyatanya rasa sayang yang tertanam bertahun-tahun di dada Selly tidak bisa begitu saja hilang tertiup angin. Gadis itu tetap bertahan, tetap berusaha, dan selalu mencari-cari alasan untuk membenarkan setiap sikap dingin yang diberikan Darren.
Dan seolah alam semesta sedang bermain-main dengan perasaannya, belakangan ini muncul beberapa momen kecil... sangat kecil, namun cukup untuk membuat harapan di hati Selly kembali membumbung tinggi setinggi langit.
Momen-momen itu membuat Selly yakin, bahwa di balik hati dingin pria itu, sebenarnya ada rasa perhatian yang tersimpan rapi. Hanya saja... pria itu terlalu gengsi atau terlalu keras kepala untuk menunjukkannya secara langsung.
Suatu siang yang panas terik, Selly kembali hadir di kantor Darren seperti biasa. Ia membawa bekal makan siang dan juga buah potong segar. Namun, saat baru saja duduk di ruang tunggu, tiba-tiba kepala gadis itu terasa sangat pusing dan berkunang-kunang. Wajahnya yang biasanya ceria dan glowing, kini berubah pucat pasi. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan lehernya.
Ternyata tensi darahnya turun drastis, ditambah lagi ia memang kurang tidur semalam karena mengerjakan tugas kuliah.
"Uhuk... uhuk..." Selly mencoba bertahan, memijat pelan pelipisnya. Matanya terasa berat, dunia seakan berputar pelan.
"Non Selly? Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya salah satu staf resepsionis yang melihatnya tidak beres. Wajah gadis itu sudah putih seperti kertas.
"Selly... pusing... mau duduk dulu..." jawab Selly lemah, suaranya nyaris tak terdengar.
Belum sempat staf itu bergerak memanggil bantuan, tiba-tiba telepon internal berdering cepat. Resepsionis itu mengangkatnya, lalu wajahnya langsung berubah hormat.
"Baik, Pak. Siap, segera kami lakukan."
Setelah menutup telepon, wanita itu segera menghampiri Selly dengan wajah cemas namun sigap.
"Ayo Nona, saya bantu jalan ke ruang istirahat kecil di dalam. Tuan Darren... beliau menyuruh kami untuk segera merawat anda."
Selly mendongak kaget, matanya yang sayu sedikit terbuka lebar. "Ha? Om Darren? Dia... dia tau?"
"Iya Nona. Beliau melihat anda lewat layar monitor CCTV di ruangannya. Begitu melihat anda pucat dan jatuh terduduk, beliau langsung menekan tombol interkom dan memberi instruksi ketat," jelas staf itu sambil membantu Selly berjalan.
"Beliau bilang, pastikan Nona minum minuman manis, minum obat, dan tidak boleh pulang sebelum kondisi membaik. Beliau juga bilang... suhu ruangan harus disetel nyaman agar Nona tidak kedinginan."
Hati Selly seketika terasa hangat membara. Rasa pusing di kepalanya seakan hilang seketika digantikan oleh debaran jantung yang kencang.
'Jadi... dia perhatiin aku ya? Dia liat aku dari tadi? Dia peduli sama kondisi aku?' batin Selly bersorak riang.
Meskipun Darren tidak keluar menemuinya secara langsung, meski hanya lewat perantara dan instruksi singkat... bagi Selly itu sudah lebih dari cukup. Itu tandanya pria itu tidak buta. Dia melihat pengorbanannya. Dia peduli.
Dan itu bukan satu-satunya kejadian.
Beberapa hari kemudian, hujan turun dengan sangat deras disertai angin kencang. Selly yang turun dari mobil terpaksa harus berlari kecil menuju pintu masuk gedung karena tidak membawa payung. Akibatnya, bajunya basah kuyup, rambutnya menempel basah di wajah dan leher, membuatnya menggigil kedinginan.
Dengan wajah sedih dan gemetar, Selly memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Darren.
Klek...
Pintu terbuka, dan Darren berdiri di sana dengan wajah datar seperti biasa.
"Om... maaf Selly basah-basahan..." gumam Selly manja, siap dimarahi karena ceroboh.
Darren menatapnya dari atas ke bawah. Tatapannya dingin, membuat Selly takut. Namun pria itu tidak memaki. Ia hanya mendengus pelan, lalu berbalik masuk ke dalam ruangan sambil menekan tombol interkom di mejanya.
"Siapkan handuk hangat, hair dryer, dan baju ganti wanita ukuran S atau M. Sekarang. Di ruang tamu," perintah Darren singkat, padat, dan tegas, tanpa menatap Selly tapi suaranya terdengar jelas.
Selly yang mendengar itu langsung tersenyum lebar sampai ke telinga. 'Nah kan! Dia sayang kan sama Selly! Cuma dia gengsi doang buat ngomong manis!'
Selly merasa menjadi gadis paling bahagia saat bisa mandi air hangat dan mengenakan baju oversize yang ternyata ukurannya pas banget di tubuhnya. Pasti Darren yang memperhatikan ukuran tubuhnya diam-diam.
Ada juga momen saat Selly mengeluh di status story medua sosialnya bahwa ia kesulitan mencari buku referensi langka untuk tugas akhir semester. Keesokan harinya, tanpa ada pemberitahuan, sebuah paket besar berisi buku-buku tebal asli dan akses data digital premium sudah ada di depan pintu rumahnya. Pengirimnya tertulis 'DW Group'.
Tentu saja Selly tahu siapa penyebabnya. Darren Wijaya.
Semua hal kecil ini... seakan menjadi sinyal-sinyal rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh Selly saja.
Sore itu, di dalam kamarnya yang nyaman dan penuh warna, Selly duduk bersila di atas kasur empuknya. Ia memeluk erat boneka panda raksasa yang ternyata juga dikirimkan oleh tim Darren saat ia ulang tahun kemarin—meski tanpa kartu ucapan.
Wajah gadis itu berseri-seri, pipinya merona merah muda menahan rasa malu dan bahagia.
"Jadi sebenernya Om Darren itu baik ya... cuma dia orangnya dingin, kaku, dan gengsian banget ya ampun," celoteh Selly pada dirinya sendiri sambil mencubit pelan lengan boneka itu.
Ia mengingat kembali semua kejadian-kejadian manis itu. Bagaimana Darren memperhatikannya lewat CCTV, bagaimana dia menyuruh orang menyiapkan obat, bagaimana dia mengirimkan buku dan kebutuhan Selly tanpa diminta.
"Ah dasar pria culas! Suka sembunyi-sembunyi gitu padahal perhatiannya kebangetan," gumam Selly geli, lalu ia tertawa kecil sendiri.
Rasa sakit hati yang kemarin ia rasakan saat ditinggal di pesta, saat diabaikan di lobi, atau saat chat dibalas singkat... seakan luntur begitu saja digantikan oleh harapan baru yang begitu kuat.
"Pantesan aja Kak Rian sama Papa bilang dia jahat, padahal kan dia manis banget kalau udah begini. Cuma caranya aja yang unik dan dewasa gitu, beda sama cowok-cowok lain yang kebanyakan gombal," batin Selly bangga, seolah-olah ia yang memiliki rahasia terindah di dunia.
Ia mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan dengan semangat baru yang membara.
Selly 💖: Om Darren! Makasih ya udah perhatiin Selly terus walaupun gak pernah bilang-bilang 😉 Selly tau kok sebenernya Om sayang sama Selly. Selly sayang banget lho sama Om! Semangat kerjanya ya! ❤️❤️❤️
Pesan itu terkirim dengan sukses.
Dan seperti biasa, balasan tidak langsung datang. Tanda centang biru pun belum muncul. Tapi Selly tidak sedih lagi. Ia tidak kecewa.
Ia tersenyum bahagia memandang nama 'Darren ❤️' yang terpampang di layar ponselnya.
'Gapapa Sel, pelan-pelan aja. Papa aja bisa menaklukkan hati Mama yang dulu dingin, pasti Selly juga bakal bisa bikin Om Darren luluh total nanti. Tungguin aja ya,' batinnya memompa semangat.
Selly benar-benar merasa bahwa usahanya selama ini tidak sia-sia. Ada harapan. Ada cahaya hangat yang mulai terlihat di ujung terowongan gelap itu. Darren Wijaya... pria dingin itu... perlahan tapi pasti, hatinya mulai mencair karena kehangatan cinta Selly.
Dan Selly berjanji, ia akan menjaga perasaan itu, akan menjaga hati pria itu dengan lebih baik lagi. Ia tidak akan pernah menyerah.
(Bersambung...)
Semangattt thoorrr💚❤️🌺🍂🍁🌸🌼💮🔥