NovelToon NovelToon
Dendam Maharani

Dendam Maharani

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Dendam Kesumat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.

cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.

maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.

maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kesepakatan

Eyang Darsih duduk bersimpuh diatas karpet yang terbuat dari anyaman pandan hutan.

Menatap lurus kepada kedua orangtua Maharani serta Bagas.

Iba sekaligus sedih kala melihat wajah tua yang seharusnya beristirahat menikmati masa tua kini harus dipaksa menerima kenyataan jika putri mereka bukan lagi manusia biasa.

"Maharani putri kalian bukan lagi manusia biasa seperti yang kalian kira selama ini... Dia sudah menjual jiwanya pada raja iblis karena sebuah dendam... Dendam Maharani..." ucap eyang hati-hati.

Pak Rahman yang semula tenang kini mulai meneteskan airmata begitupula dengan bu Sukma.

Tangan keriputnya saling bertaut.

Banyak rasa bercampur dalam hati dan pikiran mereka.

"Andrean memang bersalah, namun rasanya dia juga tidak pantas berakhir demikian.. Kita hidup dengan hukum manusia dan kejahatannya memang tidak bisa disebut manusiawi. Namun, kami ingin menghukumnya dengan hukum manusia, bukan hukum ghoib" tutur Tio hati-hati yang diangguki oleh Hasan serta Ujang.

"Memangnya bisa hukum manusia diterapkan sementara kejahatannya melebihi akal pikiran manusia?" tutur bu Sukma menohok.

Hasan dan Ujang saling pandang.

"Tapi setidaknya, kami telah memiliki bukti kejahatan Andrean dan kami akan usahkan dia mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya" ujar Tio.

Bagas tertawa sumbing.

Semua mata tertuju padanya sekarang.

"Hukuman yang setimpal?" ucap Bagas mengulang kalimat terakhir Tio.

Tio mengernyit.

Tatapan Bagas kini mendingin pada laki-laki yang jauh lebih tua darinya.

"Jika saja mbak Rani tidak pernah memberi kalian petunjuk, apa kalian akan bisa secepat ini menemukan bukti?"

Semuanya terdiam.

"Tidakkan?" sambung Bagas lagi.

Tio dan yang lain merasa tertampar dengan ucapan Bagas barusan.

Harus Tio akui, apa yang diucapkan oleh Bagas benar adanya.

Jika saja Maharani tidak memberi petunjuk lewat mimpi, bisa saja tim Tio menemui jalan buntu dan butuh bertahun-tahun untuk mengungkap kasus ini.

"Tapi Gas.. Ini bukan lagi soal siapa yang memberi petunjuk. Tapi ini soal keadilan dan kami akan berusaha mewujudkannya.. Maharani tidak boleh lagi meminta tumbalnya.. " tegas Tio.

"Lalu bagaimana kalau Andrean lolos dari hukum? Dia laki-laki kaya yang punya jabatan. Bukan tidak mungkin dia akan lolos dari jerat hukum manusia. Dia juga licik bahkan setelah melakukan hal yang hina itu dia bisa bersikap santai padahal dia tahu betapa kami merasa putus asa karena tidak kunjung mengetahui kabar mbak Rani. Lalu apa yang kalian lakukan? Tidaka ada! Kalian hanya sibuk cari bukti, bukti dan bukti hingga korban-korban lain mulai berjatuhan... Inikah tangan hukum yang kalian agung-agungkan itu?" emosi Bagas memuncak.

Tio tahu dan sadar betapa keluarga ini kecewa dengan hukum yang lamban namun dia juga tidak bisa melepaskan Maharani yang menghukumnya.

Nafas Bagas naik turun karena emosi yang baru saja terluapkan.

Tio paham hal itu.

Jika dirinya berada diposisi Bagas, bisa jadi hal yang jauh lebih g*la bisa Tio lakukan demi menyelematkan orang yang dia kasihi.

"Bicaralah padanya dan bujuk Maharani untuk melepaskan Andrean..." kali ini eyang Darsih yang berbicara.

"Bagaimana jika Rani menolak? Lalu apa yang akan kalian lakukan?" tanya pak Rahman.

Brakkk....

Pintu rumah dibuka paksa dan terlihat bu Ratih dengan emosinya.

"Sukma... Rahman... Kalian jahat!!" maki bu Ratih menatap nyalang kedua pasutri renta itu.

"Jaga bicara anda bu Ratih! Bapak dan ibu saya tidak tahu menahu soal ini" lerai Bagas berdiri dihadapan orangtuanya agar bu Ratih tidak melukai mereka.

"Minggir kau bocah si*lan! Kau dan keluarga mu hanya kumpulan orang-orang b*doh yang hanya jadi benalu didesa ini!"

Makian bu Ratih semakin membuat Bagas dan siapapun yang ada disana menjadi geram.

"Nyonya Ratih hentikan...!!" sela eyang Darsih.

"Siapa kau berani-beraninya menyuruhku diam! Kau sama saja dengan mereka... Dan cucumu itu adalah polisi yang tidak berguna. Putraku Andrean bukan penjahat seperti yang dia tuduhkan! Aku yang lebih mengenal putraky daripada kalian!" emosi bu Ratih.

"Bu.. sudahlah... Ayo tenangkan hati ibu dulu" bujuk pak Herman yang berjalan tertatih menenangkan istrinya.

"Nggak bisa pak! Nasib Andrean kini diujung tanduk. Kita bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah jadi tumbal kekejaman perempuan l*knat itu"

"Jaga bicara anda bu Ratih...! Kakakku bukan perempuan seperti itu... Dia itu juga korban dari putra kesayanganmu!" sela Bagas marah.

Bu Ratih berdecih.

"Jika bukan perempuan l*knat, lantas apa sebutannya? Pemb*nuh? Dukun pesugihan?"

Bagas mengepal kedua tinjunya hingga buku-buku tangannya terlihat jelas.

"Bu... Tenanglah... Kita kemari ingin bicara baik-baik dan mencari cara agar Andre dipulangkan... Jangan memperkeruh keadaan..." pinta pak Herman.

Pak Herman berjalan mendekati pak Rahman.

Manik matanya seolah sedang memohon.

Tak disangka, pria yang memiliki jabatan tertinggi didesa ini rela bersimpuh didepan pasutri yang bahkan harga dirinya dianggap hina oleh sebagian penduduk kampung.

"Jangan memandang saya sebagai kepala desa. Saya hanyalah seorang ayah yang sedang memohon kehidupan bagi putra kami... Tolong selamatkan Andrean... Saya tahu jika dosa dan perbuatannya jauh lebih kejam, namun biarlah hukum manusia yang berlaku... Setidaknya kami bisa melihatnya walau dari balik jeruji besi.... Kami mohon pak Rahman, bu Sukma... Tolong bantu kami..." kepala pak Herman tertunduk lesu.

Titik airmata pak Herman jatuh membasahi celananya sendiri yang masih duduk bersimpuh dihadapan pak Rahman dan bu Sukma.

Bu Sukma menekan lengan suaminya.

Dia pun mulai terisak. Bahu rentanya bergetar karena tangisan.

Mereka hanyalah orang kecil yang bahkan tak pernah menduga jika hal ini akan mereka lalui dalam kehidupan yang singkat ini.

Tak pernah terlintas didalam benak keduanya jika hari tua mereka akan mendapati masalah yang begitu rumit hingga melibatkan hal-hal mistis dan ghaib.

"Baiklah... Kami akan mencoba bicara pada Maharani" putus pak Rahman kemudian.

Sebagai ayah, dirinya sakit melihat penderitaan Rani namun sebagai manusia, dia juga tidak tega jika harus melihat korban-korban lain yang mungkin saja akan berjatuhan.

Ini harus dihentikan segera meski nantinya sebuah pilihan terburuk akan jadi akhir.

Mungkin saja setelah ini Maharani lah yang akan menghilang.

Karena sesuai perjanjian jika tidak ada lagi korban untuk disembahkan maka si pemuja lah yang akan jadi sembahannya. Begitulah cara kerja iblis.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Andre melirik kesegala arah.

Otaknya terus berfikir bagaimana cara dirinya untuk lepas dari sini.

Badannya semakin kurus dan tak terawat.

Maharani sengaja membiarkannya dan menyiksanya perlahan-lahan.

"Kamu sudah bangun mas?" suara Maharani mengejutkan Andre.

Entah dari mana perempuan itu semalaman.

"Kamu tahu mas... Aku baru saja bun*h seseorang dan mempersembahkannya pada raja iblis..." ujar Maharani santai.

Mata Andre membeliak.

Rani terkekeh melihat reaksi Andre.

"Jangan kaget begitu... Bukankah kamu dan aku sama tapi bedanya kamu suruh orang karena tak ingin ternoda sedangkan aku melakukannya sendiri... Dan kamu tahu mas Andre..." Rani kembali menoleh kearah Andre.

"D*rah mereka ternyata lebih segar untuk dipersembahkan dan juga mampu menambah kekuatan ku... " kekeh Rani karena reaksi Andre.

Rani berjalan pelan kearah Andre yang masih terbaring diatas dipan kayu.

"Sebentar lagi malam Selasa kliwon dan bulan purnama penuh... Dan malam itu adalah malam terakhir kamu menghirup udara dunia sebelum kamu dijadikan pengantin ratu iblis dan jadi budak para iblis... Kamu tidak akan bisa kembali kedunia ini lagi dan kekal selamanya disana... Dunia iblis yang hanya tahu aroma d*rah...." tutur Rani tepat disisi kepala Andre yang membuat laki-laki itu ngeri.

"Jangan terus menggodanya Rani... Lama-lama dia bisa kabur nantinya" goda mbah Djani yang muncul didepan pintu.

"Dia mau kabur kemana mbah? Sedangkan menggerakkan badan saja dia sudah tidak mampu.. Laki-laki yang dulu kejam dan penuh tipu muslihat ini kini hanyalah seonggok daging yang tak lagi berfungsi tapi bernilai untuk raja iblis... "

Mbah Djani menggelengkan kepala.

"Semua persiapan telah rampung... Besok dia akan dibawa ke tempat persembahan..." ujar mbah Djani lagi.

"Baguslah... Aku juga sudah muak melihat wajahnya setiap hari..." tutur Rani yang berjalan menuju meja tempat semua ramuannya diletakkan.

Andre terus memperhatikan punggung Rani.

Memori otaknya sedang memutar semua kenangan yang pernah mereka lalui bersama sebelumnya.

Senyum manis Rani menghiasi pikirannya.

Sesal itu memang selalu adanya diakhir.

Andre pasrah jika dia harus berakhir dimeja persembahan.

Dia menitikkan airmata.

Dirinya menyesal akan perbuatannya terdahulu.

Namun semua kini sudah terlambat.

Perempuan manis itu kini tak lagi memandangnya dengan cinta namun kebencian, dendam dan amarah.

Cinta itu telah habis dimakan dendam.

Dan Andre menyesali semuanya.

Andai dia bisa bertanggungjawab, mungkin hari ini mereka telah jadi pasangan yang berbahagia bersama keluarga kecil mereka.

Sebuah impian sederhana dari seorang Maharani.

Yakni jadi ibu dari putra-putri mereka namun Andre mengancurkan mimpi sederhana itu demi ego semata.

Bersambung....

1
Astuti Puspitasari
Mbahe iku jahat apa ngga ya kok makan janin /Grimace/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!