Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Bagaimana kalau aku ambil besok?" tanya Andy
"Baiklah"
"Bagaimana kalau aku mengambilnya di malam hari, sekalian mengajakmu makan malam"
Luna tercekat. Tak menyangka akan diajak makan malam lagi oleh Andy, pelanggan tokonya. Tapi kali ini dia menggeleng pelan.
"Malam ini aku harus pulang cepat"
"Apa ada yang menunggumu di rumah?"
Kali ini Luna menggeleng kuat.
"Tidak. Aku hanya ingin pulang cepat"
"Oh, baiklah" kata Andy kemudian menunduk dalam.
Luna kembali menghitung perolehan untung di toko selama seminggu terakhir. Setelahnya dia membersihkan lantai dan bersiap untuk menutup toko. Turun dari bus, Luna berjalan ke salah atu minimarket. Membeli beberapa kue kesukaannya kemudian pulang.
"Selamat malam Nona!" sapa penjaga keamanan sembari membuka pintu.
"Selamat malam. Terima kasih"
"Maaf Nona, lift yang biasa Anda gunakan sedang diperbaiki."
"Baiklah"
Luna berjalan ke sisi apartemen satunya. Naik ke lantai lima dan berjalan agak jauh ke kamar apartemennya. Dan Luna terpaku ketika melihat Arya berjalan ke arahnya. Mantan suaminya itu dari mana? Dari apartemennya? Tapi karena Arya selalu menunduk, tak menyadari kehadirannya. Dan melewati Luna begitu saja.
Kenapa dia tidak memanggil Arya?
Tidak. Ada sesuatu yang mampu menghalanginya memanggil Arya. Entah itu ego atau perasaan malu. Luna kembali melanjutkan perjalanan ke apartemennya, namun kali ini dengan langkah yang lebih cepat. Di balik pintu dia menunduk dalam-dalam. Memegang dadanya yang terasa sakit dan kemudian menangis.
Tiga bulan setelah resmi bercerai dari Arya, dia tidak bisa merelakan perasaannya. Padahal sebelumnya dia tidak seperti ini.
Apa Arya melihat Luna?
Tentu saja.
Tapi karena Luna membuang muka, dia tidak berani memanggil istrinya. Dia hanya bisa membiarkan Luna melewatinya dengan cepat lalu berhenti dan merasakan penyesalan luar biasa.
"Tuan, senang sekali Anda kembali sebelum terlalu larut. Ini perjanjian jual beli tanah yang beberapa hari lalu kita bicarakan"
Arya tidak punya semangat untuk mengurus apapun. Dia masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas ranjang.
"Ini adalah langkah yang benar" kata ibunya tepat sebelum naik ke pesawat pribadi keluarga Santoso untuk pulang.
"Aku tahu. Hanya saja"
"Kalau dia memang masih mencintaimu, Luna akan kembali. Seperti keyakinanmu ketika meninggalkannya selama tiga tahun. Kenapa sekarang kau ragu hanya karena perceraian?"
Benar. Tiga tahun Arya meninggalkan Luna dan dia yakin mereka akan kembali bersatu. Tapi sekarang, kenapa dia merasa ragu?
Kehadiran pria itu.
Seorang pria yang bahkan sehari setelah perceraiannya datang ke toko Luna. Beruntung bisa berbincang dengan istrinya. Mantan istri Arya. Dan keduanya saling tersenyum ketika berbicara. Tak hanya sekali Arya melihat pria itu. Di hari selanjutnya. Selanjutnya dan selanjutnya lagi. Pria itu terus datang ke toko Luna. Senyum di wajah Luna mengembang semakin lebar ketika berbicara dengan pria itu. Dan itu membuat api dalam diri Arya menyala panas.
Mata Arya menutup, mencoba untuk tidur. Tapi sebuah mimpi datang tanpa diminta.
"Apa maumu kemari?" tanya Luna ketika Arya datang ke toko.
"Sayang, aku ingin kita kembali menikah"
"Tidak"
"Kenapa tidak?"
"Karena aku ... "
Lalu masuklah pria itu. Pria dengan kaca mata dan setelan jas yang selalu sama.
"Siapa dia?" tanya Arya siap untuk mengamuk.
"Dia calon suamiku. Kami akan segera menikah"
Tak lagi menahan diri, Arya maju dan memukul pria itu tepat di wajahnya. Membuat kaca mata tipis itu terjatuh keras ke tanah dan terbelah dua. Luna berusaha menahannya tapi kekuatan Arya telah mencapai maksimum. Terus memukul pria itu dan akhirnya dia harus dihentikan paksa oleh beberapa orang.
Arya dipaksa mundur dan ketika dia melihat Luna. Tatapan yang ada di mata istrinya begitu menakutkan. Tatapan itu persis sama seperti yang dia dapatkan ketika semua kebohongannya terbongkar. Tatapan tanpa jiwa yang mengosongkan hatinya.
Untungnya Arya terbangun dengan segera. Dia segera bangkit dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Mengucurkan air dingin di atas kepalanya dan merasa sedikit tenang.
Kalau seperti ini terus, rasanya dia akan berubah gila. Dan bila dia benar-benar berubah gila, akan ada banyak korban berjatuhan. Dia menolak untuk kembali ke Arya yang dulu. Dan sebagai konsekuensinya, Arya harus melakukan sesuatu.
Keluar dari kamar mandi, dia memakai pakaian seadanya. Mengambil kunci master dan pergi ke lantai lima. Membuka pintu dengan mudah lalu menemukan seorang wanita yang tidur nyenyak di atas ranjang.
Arya masuk ke dalam selimut, mendekati tubuh wanita yang dia rindukan dan menyesap aroma memabukkan itu sampai puas. Kemudian tidur tepat di sebelah Luna.
Tidur yang sangat nyenyak dan terbangun ketika fajar belum menyingsing. Mencium kening istrinya kemudian kembali ke apartemennya.
"Anda tampak segar hari ini Tuan" kata pengacara Herman yang datang.
"Aku baik-baik saja"
"Tapi ada masalah dengan rumah yang Anda beli empat bulan lalu. Desain interior yang baru menemukan beberapa masalah karena pekerja sebelumnya"
"Maksudmu Marina?"
"Iya, ada beberapa bahan yang ternyata tidak dikerjakan dengan baik. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, mereka akan menghancurkan semuanya dan memulai lagi dari awal. Apa kita perlu menuntut desain interior lama untuk hal ini?"
Rumah yang sengaja dia beli untuk hidup bersama dengan Luna.
"Lanjutkan saja pengerjaannya. Dan tak perlu menghubungi seseorang yang tak penting lagi" jawabnya.
"Baiklah Tuan. Dan Nona Angelica meminta untuk bertemu dengan Anda malam ini. Katanya ingin membicarakan beberapa perubahan di perjanjian jual beli."
"Ada yang tidak setuju dengan penjualan tanah?"
"Dua pewaris. Kakak Nona Angelica yang sudah menikah."
"Tanah ini memiliki posisi yang bagus. Seseorang pasti akan mengincarnya dua tahun lagi. Dan saat itu harganya akan berlipat-lipat"
"Anda benar Tuan. Anda sangat beruntung bisa menemukannya."
Padahal Arya melihat tanah ini beberapa tahun lalu. Ketika berbulan madu bersama Luna. Dia jatuh cinta dengan pemandangan matahari terbenam ketika duduk di pinggir pantai. Akan sangat menyenangkan bisa mengulang semua itu kembali.
"Iya. Kau atur saja malam ini!"
"Baik Tuan"
Dan malam ini, terjadi pertemuan antara Arya, dan tiga pemilik tanah itu. Kakak Nona Angelica menyatakan keberatan menjual tanah dengan harga yang telah disepakati sebelumnya. Mereka menginginkan lebih. Kelihatannya keduanya bisa melihat prospek tanah yang dijual.
"Saya tidak bisa menambah harga lagi. Karena Nona Angelica telah menaikkannya tiga kali sebelum kami sepakat" ungkap Arya.
"Kami tidak setuju!! Kami harus mendapatkan uang lebih banyak. Akan sangat rugi kalau kami hanya mendapatkan sepertiga ketika Angel nanti tinggal disana lagi!!"
Arya melihat dua kakak Nona Angelica dengan sudut matanya.
"Nona Angelica akan tinggal disana lagi? Apa maksudnya?"
"Bukankah kau akan menikah dengan Angel? Kalau begitu kau harus memberikan bagian yang lebih banyak pada kami!!"
PRANGGG!!!
Sebuah suara piring yang terjatuh mengganggu fokus Arya. Dia melihat ke samping dan menemukan Luna disana. Sedang makan bersama pria yang sering datang ke toko. Ketika mata mereka bertemu, dengan cepat Luna mengalihkan pandangan.
Apa Luna mendengar apa yang dikatakan kakak Nona Angel tadi? Dan merasa cemburu sampai memecahkan piring? Senyum tipis muncul di wajah Arya.
tahi