NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Danz Hangout

Dibalik kegelapan dunia, reruntuhan tak dikenal tergeletak di jalanan.

Kesunyian dipecahkan oleh dua suara aneh yang berulang.

Sesuatu, mendengkur di bawah reruntuhan.

. . .

Dengan mata tertutup dan tubuh yang lemas, Adam bersandar ke tembok dengan lelah. Ziva melakukan hal yang sama di sisinya, sampai sesuatu datang.

Paff.. paff...

Langkah lembut bergema di seluruh gudang, menggerakkan Adam secara tidak sadar menjadi waspada. Kebangkitannya menjadi Superhuman telah mengubah banyak aspek dalam tubuh Adam.

Telinganya menjadi lebih sensitif akan suara, kekuatannya meningkat secara eksponensial, dan juga staminanya yang semakin membara.

Namun semua perubahan itu membawa dampak dysmetria padanya, perubahan yang terlalu tiba-tiba membuat tubuhnya kehilangan kontrol dasar dari fungsinya. Kontrol kekuatan Adam sangat rendah dan rentan saat ini.

Seseorang yang telah paham dapat menyadarinya secara tak langsung saat melihat pipa besi yang digunakan Adam sebagai senjata. Di ujung bagiannya, pipa itu penyok membekas dengan bentuk genggaman Adam.

Dan kini, suara kecil dari daging yang bertabrakan di tanah membangunkannya dengan cepat.

Dengan mata yang masih berputar, tubuh Adam bergerak mendahului otaknya, tangannya menarik senjatanya keatas, mengarahkannya ke sumber suara itu dengan cepat.

Saat pipa itu diluruskan dengan sekuat tenaga, suara langkah itu terhenti, orang yang mendekat sepertinya terkejut dengan gerakan Adam yang spontan.

Orang itu terjatuh dengan suara gedebuk! saat mencoba mundur "Aduh!" dia mulai berbicara dengan panik saat menyaksikan besi dingin itu diarahkan kepadanya.

"Hei, hei santai bang," Dia menjaga jarak beberapa langkah "Ini gua bang, Wildan!" ucapnya.

Mendengar kata-kata itu, Adam membuka matanya, menghela nafas lega "Ternyata lu? Sial hampir gua pukulin lu diem-diem mendekat gitu"

"Yah baguslah, gua kira ada makhluk aneh yang bakal menyergap" Adam menurunkan senjatanya ke lantai "Kalau begitu sini, bantu gua bangunin Ziva"

"O-oke bang" Remaja pendek berambut coklat itu adalah Wildan. Dia merupakan anak dari pemilik gedung ini

Setelah mendengar permintaan Adam, remaja itu langsung bergegas mendekat, dia telah mengenal mereka berdua sejak lama, dan Wildan juga tahu betul kebiasaan buruk Ziva yang sulit dibangunkan ini.

Remaja itu mendorong pundak Ziva bolak-balik berusaha membangunkannya. Adam mengabaikan keduanya dan berdiri untuk merenggangkan tubuhnya 'Ini lebih baik' Dia membuka tas ranselnya dan mengambil beberapa camilan sebelum bertanya.

"Ohiya Dan, jadi lu selama ini kabur-kaburan lewat situ ya? "Jari Adam ditunjukan ke ventilasi yang telah didobrak terbuka, remaja itu menoleh " Heheh, yah itulah jalannya, lagian juga si ayah selalu nyuruh sana sini, jadi gua kabur aja bang" Ucap Wildan dengan terkekeh, dia kembali ke upaya membangunkan Ziva.

Adam mengangguk pelan, dia mengerti, bagaimanapun itu normal, dia kemudian melanjutkan.

"Terus gimana keadaan sekarang? Gua lihat pintu utama udah diblokir ya, apa ada yang selamat lagi selain lu disini?"

"Gatau sih bang, gua cuma berdua sama ayah, tapi kalo gak salah beberapa hari yang lalu ayah lihat ada rombongan orang di ujung jalan dekat mall, tapi dia ga ngasih izin ke gua buat lihat teropongnya alhasil gua ga lihat langsung"

"Begitu ya? Trus dimana pak tua itu,"Adam sedikit lega saat mendengar Wildan bicara.

"Sehat katanya sih, entahlah, mending lu cek ke atas duluan dah bang, gua bangunin kak Ziva dulu, nanti gua nyusul ke atas sama dia"

"Okelah, kalo gitu gua duluan"

Adam kemudian beranjak pergi, gudang ini terletak di basement gedung, dia menapaki beberapa anak tangga hingga akhirnya sampai ke lobby lantai satu.

Persis seperti dalam ingatannya, lantai pertama diisi oleh restoran sederhana yang dijalankan oleh keluarga Pak tua Danu, ini mengingatkan Adam akan kenangan pertamanya saat Adam dan Ziva pertama kali datang ke tempat ini.

Meja-meja diletakkan dengan presisi, beberapa diatur menjadi segi empat, persegi panjang, dan bahkan beberapa meja dibuat khusus dengan bentuk bundar.

Namun berbeda dengan dulu, meja-meja kini berantakan, di atasnya debu yang cukup pekat menyelimuti permukaan benda membuatnya terlihat kotor dan kusam.

Adam melangkah ke konter tempat biasa para pelanggan memesan, biasanya tempat ini selalu dijaga setiap waktu, namun sekarang tak ada siapapun yang menjaganya.

Gelas dan piring tergeletak di meja dengan penuh debu, Adam menerobos masuk ke ruang karyawan, namun tak ada siapapun di sana.

Ia menoleh ke atas 'mungkinkah di atas?' Dia kemudian berbalik meninggalkan konter dan beralih ke tangga.

Sesampainya di lantai dua, dia masuk ke area fasilitas gym pribadi yang didirikan Pak Danu, segala macam alat latihan tergeletak di berbagai tempat.

Adam sedikit berbinar, kembali ke tempat ini membuatnya kembali bersemangat, namun dia tak berlama-lama.

Pak tua Danu tak ada di lantai dua, maka hanya ada satu kemungkinan terakhir, Adam beranjak naik sekali lagi, kali ini matanya disambut oleh ratusan unit komputer yang kini hanya menjadi bongkahan plastik rakitan yang tak berguna.

Disusun dalam barisan yang rapi, ada celah kecil yang tercipta di setiap barisnya, memungkinkan orang-orang berjalan melewatinya.

Di ujung berbaris bilik-bilik khusus vip, yang diisi oleh komputer spek tinggi, dan di sampingnya jendela besar terbentang dengan terbuka.

Sosok pria paruh baya berdiri dengan sesuatu di genggamannya, menutupi matanya, sebuah teropong.

Adam berjalan menghampiri pria itu.

"Hei Pak tua, syukurlah kau masih hidup" sapa Adam padanya, pria itu melepas teropongnya dan berbalik.

"Lihat siapa yang datang, untuk apa kau kemari, gym kami tutup saat kiamat kau tau? Hahaha"

"Mengapa malah tertawa? Gua cuma mau nyapa doang loh, lagian juga gua hampir mukulin si wildan tadi, bocah itu nyelinap masuk saat gua tidur,"Katanya terhenti sejenak saat Adam berpikir "Ya sebenarnya gua sih yang menyusup masuk kemari lewat jalur belakang, tapi tetep aja"

"Terserah kau dah, bocah itu emang perlu dipukul sesekali supaya nurut, juga bagaimana keadaan di luar, bocah itu udah lihat kalian menggedor pintu sejak awal, jadi aku sama sekali tak terkejut kau datang"

"Di luar? Gak ada yang spesial sih, soalnya spesial terlalu bagus buat nyebutin keadaanya. Yah bisa dibilang dunia ini mungkin gila, apakah kau lihat makhluk kolosal berjalan di kejauhan beberapa hari lalu? Itu berada dekat dengan tempat rumahku, kan sial, apalagi benda itu ninggalin sesuatu yang menjijikan di tanah."

Pria tua itu menjadi semakin penasaran "Begitu ya, pengalaman yang unik. Sayangnya aku tak melihat apapun yang seperti itu, kami baru berani pergi ke lantai yang lebih tinggi sekitar dua- eh, mungkin dua hari, aku tak tahu pasti, tapi kami tertidur beberapa kali setelah kiamat dimulai, jadi agak rancu"

"Hmm, kalo gitu gimana dengan tempat ini?"Adam teringat dengan kelompok manusia yang bergerak di area parkir bawah tanah mall itu "Apakah kau tau sesuatu tentang kelompok di mall itu, sebelumnya Ziva dan aku pergi ke tempat itu, namun karena pintu utama juga diblokir, kami mencari jalan lain hingga akhirnya sampai ke lantai bawah"

"Di bawah tak ada apapun selain kegelapan dan kendaraan yang ditinggalkan, sampai pada akhirnya kami bertemu kelompok manusia, saat kami bersembunyi kelompok itu sepertinya mengatakan sesuatu tentang penguasa dan regu pengintai, dan yang pasti mereka adalah salah satunya."

Adam sedikit waspada tentang topik ini, memang seharusnya dia waspada, namun berbeda dengan kelompok di bawah tanah itu, Pak tua Danu dan Wildan sudah seperti keluarga sendiri bagi Adam dan Ziva, jadi kewaspadaannya sedikit longgar untuk mereka.

Pak Danu terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan Adam, dia menyilangkan tangan dan mengetuk jarinya mencoba mengingat.

"Aku gak yakin, mungkin kamu bisa lihat sendiri nak"

Dia menyerahkan teropong yang terlihat antik itu kepada Adam lalu menunjuk ke suatu arah.

"Memangnya ada apa?" Adam mengerutkan alis, dia mengambil teropong itu dan dengan cepat mengenakannya di kedua matanya.

Gerakannya mengikuti arah yang ditunjuk oleh Pak Danu.

Pandangannya bergetar saat berpindah, dan akhirnya visi yang buram kini terserap dengan jelas melewati kaca cembung teropong.

Di kejauhan, tonggak-tonggak kayu dipasang ke tanah.

Diwarnai oleh cairan merah di seluruh tempat, di atas kayu yang tajam.

Sebuah tubuh ditumpuk dengan sadis tepat di perut, mengeluarkan isiannya yang tersangkut.

Adam mengutuk dengan keras di dalam hatinya.

"F*ck"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!