Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Sang Mahendra
"Akhhh... ya Tuhan... sakit sekali..." rintih Zevanya.
Hujan lebat malam itu seolah tumpah dari langit,
menyamarkan suara rintihan Zevanya yang kian melemah.
Rasa sakit di perut bawahnya sudah tidak tertahankan lagi—kontraksinya terus datang beruntun,
merampas seluruh kekuatannya hingga ia jatuh terduduk di aspal yang kasar dan dingin.
Zevanya Menjerit kecil, tangannya mencengkeram aspal hingga kukunya memutih.
Tidak ada kendaraan yang lewat. jalan itu sepi,
hanya ada suara gemuruh petir yang menyambar.
Dengan sisa tenaga yang ada, Zevanya mulai merangkak di pinggir jalan.
Lututnya tergores kerikil tajam, daster hamilnya basah kuyup dan berat, namun ia tidak peduli.
Pikirannya hanya satu: menyelamatkan nyawa kecil di dalam rahimnya.
"Sabar, Nak... Ibu mohon sabar... Kita harus cari bantuan," bisiknya di sela napas yang tersengal.
Setiap beberapa jengkal ia merangkak, rasa mulas itu datang lagi,
memaksanya berhenti dan meringkuk di pinggir jalan yang mulai tergenang air.
Wajahnya pucat, rambutnya menempel di pipi karena basah, dan air mata bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.
"Kenapa tidak ada orang satu pun..Tolong Siapapun Tolong Saya" isak zevanya sambil menangis memegangi perutnya.
Saat kesadarannya mulai menipis, sebuah lampu mobil menyorot dari kejauhan.
Pak RT dan bu sumi istri nya, yang baru saja selesai mengecek saluran air karena mampet,
tertegun melihat sosok wanita yang merangkak di pinggir jalan.
"Astaga! Itu Mbak Zevanya pak!" teriak bu sumi.
pak rt dan bu sumi langsung turun dari mobil dan berlari menembus hujan,
"Mbak! Mbak Zevanya! haduh..kenapa hujan hujanan dan ada di sini malam²?!" Pak RT panik,
"Sepertinya mau melahirkan pak!" ucap bu sumi.
pak RT segera melepas jaketnya untuk menutupi tubuh Zevanya yang menggigil hebat.
"Tolong... Pak bu... Bayinya... mau keluar..." suara Zevanya nyaris hilang,
"mari saya bantu naik ke mobil mbak! Jangan sampai melahirkan di aspal!" ucap Pak RT dengan suara panik.
Sampai di dalam mobil tua milik Pak RT seketika berubah mencekam.
Hujan yang menghantam atap mobil menciptakan suara gaduh,
namun rintihan Zevanya jauh lebih menyayat hati.
Di kursi belakang yang sempit, Zevanya mencengkeram jok mobil.
"Aakhhh! Sakit... Bu Sumi, perut saya... rasanya mau pecah!"
jerit Zevanya dengan napas tersengal.
Keringat bercampur air hujan mengalir deras dari keningnya.
Bu Sumi, yang duduk di samping Zevanya, langsung sigap.
Sebagai wanita yang sudah berpengalaman melahirkan banyak anak,
ia tahu waktu Zevanya sudah habis.
Bayi itu tidak akan menunggu sampai mereka tiba di rumah sakit.
"Pak! Berhenti pak di pinggir jalan! Cepat! Di bawah lampu jalan itu!" teriak Bu Sumi panik namun tetap berusaha fokus.
Mobil berhenti mendadak di bahu jalan yang gelap.
Bu Sumi turun dan segera menyalakan lampu kabin yang redup menyuruh zevanya berbaring dan mulai membentangkan kain yang di bawa zevanya.
"Mbak Zevanya, dengarkan Ibu! Jangan ditahan lagi, bayinya sudah di ujung!"
Bu Sumi memegang tangan Zevanya, berusaha memberikan kekuatan.
"Ayo, tarik napas dalam... buang... lalu dorong sekuat tenaga!"
Zevanya menggeleng lemah, wajahnya pucat pasi. "Saya... saya tidak kuat lagi, Bu..."
"Ingat anakmu, Mbak! Dia ingin melihat dunia! Ayo, dorong!"
Dengan teriakan yang membelah kesunyian malam dan deru hujan,
Zevanya mengejan dengan sisa tenaga terakhirnya.
Tubuhnya melengkung menahan beban yang luar biasa.
Pak RT di kursi depan hanya bisa memalingkan wajah sambil terus merapal doa, tangannya gemetar memegang kemudi.
“Aaaaaakhhhhhh!”
Seketika, sebuah suara melengking memecah ketegangan.
Oeeekkk... Oeeekkk... Oeeekkk...
Suara tangis bayi laki-laki yang sangat kencang memenuhi kabin mobil yang sempit itu.
Bu Sumi dengan terampil menangkap bayi mungil yang masih merah itu dengan kain jarik.
Air mata haru jatuh di pipi keriput Bu Sumi.
"yaampun mbak! Bayinya laki-laki, Mbak! Ganteng sekali, sehat, suaranya lantang!" seru Bu Sumi.
ia meletakkan bayi itu di dada Zevanya yang masih mengatur napas.
Zevanya menangis sesenggukan. Ia memeluk bayi mungil yang basah dan hangat itu.
Rasa sakit yang tadi menyiksanya seolah sirna seketika saat ia merasakan detak jantung anaknya.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪