💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 : Rencana menginap - Hati yang sudah goyah.
"Viona, bisa kamu datang ke ruang kerja Paman sebentar?"
Viona yang baru saja menyelesaikan sarapan langsung mendongakkan kepalanya, menatap pada Paman Bima yang sudah berdiri tegak.
"Baik, Paman." angguk Viona pelan, kemudian menoleh ke arah Arsen yang kini juga sedang menatapnya dari tempatnya duduk. Sementara Tuan Danu dan Saskia hanya saling tatap tanpa mengeluarkan komentar.
"Aku akan menunggu disini, sayang." Farel mengusap lembut punggung Viona.
Viona berdiri dan mengikuti langkah Bima menuju ke ruangan kerjanya yang ada di paling ujung dekat halaman belakang. Setelah masuk ke ruang kerja, Bima mengajaknya duduk sofa.
"Bagaimana pekerjaanmu? Paman Arsen memperlakukanmu dengan baik kan?" tanya Bima dengan suara hangat.
Viona mengangguk, "Ya, Paman. Aku masih harus banyak belajar, dan Paman Arsen sangat baik padaku."
Bima mengangguk paham. "Jadi begini, Nak. Paman punya sesuatu yang ingin Paman bicarakan padamu."
Bima mulai menjelaskan tentang permintaan Farel yang ingin mengajaknya menginap di villa bersama teman-temannya, beserta syarat yang dia berikan kepada putranya. "Farel sangat bersemangat untuk menghabiskan waktu denganmu. Dia bilang ingin menunjukkan betapa seriusnya dia dengan hubungan kalian sebelum menikah."
Viona merasa hatinya terasa berat mendengar itu. Dia tahu jika dia menolak maka akan menyakiti perasaan Farel dan mungkin juga membuat Paman Bima kecewa. Namun pikirannya langsung terbang ke Arsen, bagaimana jika dia pergi bersama Farel? Apakah Arsen akan membiarkannya pergi begitu saja?
"Paman..." ucapnya dengan suara pelan. "Aku tidak tahu. Aku merasa belum siap jika harus sampai menginap, apalagi aku tidak begitu mengenal teman-teman Farel dengan baik."
"Paman mengerti, Nak," ucap Bima dengan lembut. "Tapi Farel sudah berubah banyak setelah mengenal kamu, Vio. Dia benar-benar ingin menjadi orang yang lebih baik untuk kamu. Kamu tidak perlu khawatir, Paman akan memastikan keamananmu selalu terjaga."
Dia mendekatkan diri sedikit dan menepuk tangan Viona dengan lembut. "Selain itu, jika kamu setuju untuk pergi, kalian bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Bulan depan Paman sudah akan pergi menemui ibu kamu dan kami akan membicarakan tentang rencana pernikahan kalian. Paman rasa tidak perlu berlama-lama lagi untuk kalian menikah, supaya mendiang ayah kamu juga tenang karena wasiatnya sudah dijalankan."
Viona menunduk, dia merasa terjebak antara rasa bersalah terhadap keluarga dan dengan perasaan yang dia miliki untuk Arsen. Bagaimana dia bisa mengatakan tidak pada permintaan Paman Bima yang sudah begitu baik padanya dan keluarganya?
Viona menghela napas pelan. Dia tidak ingin membuat Paman Bima kecewa, terutama setelah semua bantuan yang diberikan pada dirinya dan ibunya semenjak ayahnya tiada.
"Paman..." ucapnya lagi, suara sedikit bergetar. "Aku sangat menghargai semua yang Paman lakukan untuk kami. Tapi apakah bisa aku diberi waktu untuk memikirkannya?"
Bima mengangguk perlahan, ekspresinya penuh pengertian. "Tentu saja, Nak. Paman tidak akan memaksamu. Kamu bisa mengambil waktu hingga akhir minggu untuk memutuskan."
Viona mengangguk kemudian berdiri, dia mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari ruang kerja Bima. Langkahnya terasa berat saat dia kembali ke meja makan, dimana Arsen masih ada disana dan sudah menyelesaikan sarapan. Wajahnya tampak khawatir melihat ekspresi Viona yang pucat.
"Sudah selesai bicara dengan papa, sayang?" tanya Farel dengan senyum mengembang, dia segera berdiri dan mendekatinya.
Viona menatap Farel dengan tatapan sedikit menajam, "Ayo kita berangkat sekarang, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
Viona berpamitan sebentar pada kakek Danu dan Tante Saskia, kemudian menatap mata Arsen sebelum melangkah pergi, rasanya dia ingin langsung menceritakan semua yang baru saja didengarnya. Tapi sekarang bukan waktu dan tempat yang tepat untuk bercerita, apalagi ada kakek Danu dan Tante Saskia disana.
Setelah berpamitan, Viona langsung berjalan menuju pintu keluar rumah, langkahnya lebih cepat dari biasanya. Farel sedikit terkejut dengan sikapnya yang berbeda dari biasanya, tapi segera mengikuti di belakangnya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sudah siap di halaman rumah. Saat mobil mulai berjalan, suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi. Farel mencoba membuka pembicaraan beberapa kali, tapi Viona menjawab dengan kalimat singkat.
Saat mobil sudah semakin jauh meninggalkan rumah, Viona akhirnya membuka obrolan dengan suara yang jelas dan tegas.
"Farel, apa maksud kamu meminta papamu untuk membujukku ikut pergi menginap bersama dengan teman-temanmu di villa?" tanya Viona, menoleh sebentar ke arah Farel lalu mengarahkan kembali pandangannya ke depan.
Farel terkejut mendengar pertanyaan itu, dia menghela napas dan menoleh ke arah jendela sebelum menjawab. "Vio, aku tidak bermaksud membujukmu melalui Papa. Lagipula tidak ada salahnya kan kalau kita pergi berdua, aku hanya ingin kita bisa semakin dekat sayang."
Viona menarik napas dalam, menatap Farel dengan tatapan yang tegas. "Tapi Rel, aku sudah beberapa kali bilang kalau aku tidak suka kamu bergaul dengan teman-temanmu itu. Dan untuk lebih dekat, kita tidak perlu sampai menginap di villa segala apalagi bersama dengan mereka!"
Farel mengerem mobilnya mendadak dan berhenti di tepi jalan, dia menoleh menghadap Viona, ekspresi wajahnya mulai menunjukkan rasa kesal yang terkendali.
"Apa salahnya dengan teman-temanku, Vio? Kamu baru bertemu mereka sekali tapi kamu langsung menilai mereka buruk!" ucap Farel dengan nada yang sedikit meninggi, tangannya menggenggam setir erat-erat.
"Mereka adalah sahabatku sejak lama, dan suka tidak suka kamu akan tetap ikut denganku menginap di villa bersama dengan mereka!" imbuhnya dengan suara yang semakin keras, matanya terbakar karena emosi.
Viona menggelengkan kepalanya pelan, menatap tak percaya pada Farel yang tampak asing baginya. "Farel... kamu tidak bisa memaksaku seperti ini!"
"Aku bukan memaksamu, tapi ini adalah bagian dari usahaku untuk membuat hubungan kita bekerja!" jawabnya, suaranya mulai bergetar. "Papa sudah menyetujui untuk mengajakmu pergi, bahkan papa juga sudah akan membicarakan rencana pernikahan kita dengan ibumu. Semua ini sudah direncanakan dengan baik, kamu tidak bisa terus-menerus menolakku seperti ini, Vio!"
"Setiap aku ingin menciummu kamu selalu menghindar, tanganmu selalu kaku setiap aku menyentuhnya. Kamu selalu menemukan alasan untuk menghindar setiap kali aku mencoba mendekatimu!" sambung Farel dengan suara yang semakin tinggi, matanya sudah merah karena emosi. "Aku merasa kamu seperti tidak ingin mengenalku lebih dekat. Apakah karena aku tidak cukup baik bagimu? Ataukah ada orang lain yang membuatmu seperti ini?!"
Viona terkejut mendengar kata-kata terakhir itu, hatinya terasa seperti tertusuk duri. Pada kenyataannya hatinya memang sudah terpikat pada Arsen, dia tergoda pada paman dari tunangannya sendiri.
Farel terdiam sejenak, dia menghela napas panjang dan melepaskan genggamannya pada setir, lalu menyentuh pipi Viona dengan lembut.
"Vio, maaf jika kata-kataku terlalu keras sayang," ucapnya dengan suara yang lebih tenang sekarang. "Aku hanya ingin selalu ada untukmu dan menjagamu, apa itu salah?"
Viona menggelengkan kepalanya pelan, rasa bersalah yang lebih dalam menyelimuti hatinya. "Tidak... tidak salah sama sekali, Rel," bisiknya dengan suara bergetar. "Kamu sudah terlalu baik padaku, terlalu baik dari yang aku pantaskan."
Farel tersenyum, tangannya turun untuk menggenggam tangan Viona, "Kalau begitu aku akan anggap kamu setuju untuk ikut pergi denganku nanti. Sekarang aku antar kamu ke kantor paman ya,"
Viona hanya diam dan mengarahkan pandangannya keluar jendela, merasa bingung dengan pilihan yang harus dia buat. Farel tidak mengganggunya lagi, membenarkan posisi duduknya kembali dan mulai menyalakan mesin mobil.
Farel menoleh sebentar ke arah Viona sebelum melajukan mobilnya, hatinya bersorak gembira. "Yes, akhirnya aku berhasil membujuknya untuk ikut. Nanti juga kamu pasti akan menikmatinya, Viona. Setelah itu aku yakin, kamu pasti tidak akan mau lepas dariku."
-
-
-
Bersambung...
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...