NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Kedai sederhana itu dipenuhi oleh aroma gurih tumisan bawang putih yang bertemu dengan hangatnya kaldu ayam dari dapur terbuka. Asap tipis mengepul, menyebarkan wangi yang membuat perut siapa pun terasa bergolak. Meja-meja kayu bundar tersusun rapi, kebanyakan telah ditempati pelanggan yang singgah hanya untuk sekadar mengisi perut di tengah siang. Tidak ada yang istimewa dari tempat itu, lampu bohlam menggantung seadanya dengan cahaya kekuningan yang redup, kipas angin tua di langit-langit berdecit lirih setiap kali berputar, dan para pelayan sibuk hilir-mudik membawa piring-piring berisi lauk sederhana.

Namun bagi Calvin, suasana siang itu berbeda. Bukan karena tempatnya, bukan pula karena menu yang ditawarkan. Perasaan hangat itu hadir hanya karena ada Alma di hadapannya, duduk tenang sambil menyendok nasi dengan sikap anggun, sesekali mengangguk mendengarkan celotehannya. Entah mengapa, bersama gadis itu lidah Calvin tidak lagi terasa berat. Kata-kata yang biasanya ia simpan rapat kini mengalir begitu saja.

Bagi orang luar yang kebetulan melihat tanpa tahu latar belakang keduanya, tentu akan mudah berasumsi. Mereka seperti sepasang remaja yang tengah menikmati kencan sederhana di kedai kecil. Sebuah pemandangan biasa namun sarat keintiman terselubung.

Sayangnya, kehangatan itu buyar seketika.

"Alma! Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini!" Suara nyaring seorang gadis memecah ketenangan, nyaris seperti petir di siang bolong.

Alma menoleh, bibirnya melukis senyum sopan tipis, terkendali, tanpa kesan berlebihan. "Jasmine. Kebetulan sekali."

Gadis bernama Jasmine itu melangkah ringan, wajahnya berseri-seri penuh antusiasme. Rambut cokelatnya terikat rapi dalam ekor kuda tinggi, matanya berbinar seolah menemukan kejutan yang menyenangkan. Namun, begitu tatapannya jatuh pada sosok Calvin yang duduk di hadapan Alma, bibirnya melontarkan komentar yang terdengar ringan, meski sarat sindiran.

"Oh… rupanya Tuan Tidak Penting juga ada di sini."

Alma sempat tertegun. Sekilas ia melirik Calvin, yang tampak kebingungan mendengar sebutan aneh itu. Gadis itu kemudian kembali menatap Jasmine, matanya tenang namun penuh pertanyaan.

"Aku tadi dari taman kota, menghabiskan waktu bersama anak-anak di sana. Kebetulan perutku lapar, jadi aku mampir ke kedai ini. Benar-benar tidak kuduga bisa bertemu denganmu." Nada Jasmine terdengar riang, seakan-akan pertemuan ini baginya sebuah kebahagiaan besar.

Calvin mencondongkan tubuh sedikit, mendekat ke arah Alma. Suaranya lirih, nyaris hanya bisa didengar gadis itu. "Kau mengenalnya?"

"Ya," jawab Alma singkat. "Dia siswi pindahan di kelasku."

Calvin bergumam pelan, lalu kembali bersandar ke kursinya. Sikapnya jelas menandakan ketidakpedulian.

"Karena kita sudah bertemu di sini," Jasmine melanjutkan dengan nada penuh antusias, "bolehkah aku bergabung dengan kalian?"

Calvin sudah hendak menyuarakan penolakan, namun Alma lebih dahulu menjawab, "Tentu saja, kenapa tidak."

"Terima kasih!" Jasmine langsung duduk tanpa sungkan, sengaja mengambil tempat di samping Alma. Posisi yang membuatnya dapat leluasa menatap Calvin secara langsung.

Ia menautkan jemari di atas meja, lalu tersenyum menggoda. "Ngomong-ngomong, Alma, apakah kau sudah lama mengenal Tuan Tidak Penting ini?"

Alma mengerutkan kening, jelas bingung dengan panggilan itu. "Tuan Tidak Penting?"

Jasmine terkekeh kecil, seolah menikmati kebingungan itu. "Aku kebetulan melihatnya di taman beberapa waktu lalu. Saat itu ia sedikit… terluka. Aku hanya berniat menawarkan bantuan kecil."

Namun kalimatnya terputus. Pandangannya tanpa sengaja tertuju pada plester kecil yang menempel di sudut bibir Calvin. Itu bukan plester yang ia berikan. Senyum cerah yang sejak tadi terpasang perlahan retak, seakan ada sesuatu yang menusuk dadanya. Kata-kata yang hendak meluncur pun hilang begitu saja.

"Oh, jadi begitu," Alma menanggapi ringan, sekadar mengangguk penuh pengertian.

Sementara itu, Calvin mengernyit. Ia mencoba memanggil kembali ingatannya, kapan tepatnya ia pernah bertemu dengan gadis ini di taman. Namun tidak ada bayangan yang muncul. Ingatan itu terasa kabur, seolah tertutup kabut tebal. Pada akhirnya, ia hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak tertarik menggali lebih dalam.

"Aku tidak terlalu ingat," ucapnya singkat.

Kalimat sederhana itu membuat Jasmine sempat kehilangan pijakan. Wajahnya menegang sepersekian detik sebelum kembali dipoles dengan senyum lebar yang terkesan dipaksakan. "Tidak apa-apa. Laki-laki memang sering begitu, mudah melupakan hal-hal kecil. Tapi aku tidak akan marah."

Calvin hanya melirik sekilas, lalu kembali menundukkan wajah pada makanannya. Alma, yang sejak awal lebih banyak menjadi penengah, mencoba mengalihkan percakapan.

"Bagaimana menurutmu bersekolah di Athena, Jasmine? Apakah kau sudah bisa menyesuaikan diri?" tanyanya dengan nada sopan.

Pertanyaan itu membuat mata Jasmine kembali berbinar. "Cukup menyenangkan. Meskipun berbeda dengan sekolahku dulu, aku merasa mulai terbiasa. Dan tentu saja, aku sudah punya teman untuk makan siang bersama." Ia melirik sekilas pada Calvin, seolah sengaja menyeret namanya masuk ke lingkaran pertemanan itu.

Namun Calvin tetap tak bereaksi. Baginya, ucapan itu tidak lebih dari angin lalu.

Tidak menyerah, Jasmine kembali mencoba membuka percakapan. "Ngomong-ngomong, Tuan Tidak Penting, aku penasaran. Apa makanan favoritmu? Aku tadinya ingin memesan sandwich, tapi melihatmu menikmati nasi goreng, tampaknya itu enak sekali."

Kali ini Calvin mengangkat wajah, menatap langsung ke arahnya. Sorot matanya datar, suaranya pendek. "Makan saja apa yang kau suka."

Sekejap Jasmine terdiam, seakan mendapat penolakan halus. Namun bukannya mundur, ia justru terkikik pelan."Kau benar-benar dingin, ya. Seperti gunung es."

Alma hanya tersenyum simpul, sementara Calvin menghela napas tipis, enggan menanggapi lebih jauh.

Tak puas, Jasmine mencondongkan tubuhnya lebih dekat, suaranya menurun menjadi setengah berbisik. "Kalau aku boleh jujur, waktu melihatmu di taman aku benar-benar khawatir. Kau terlihat rapuh, meski wajahmu menolak untuk dikasihani. Itu… menarik. Aku rasa aku ingin mengenalmu lebih jauh."

Ucapan itu membuat Calvin menghentikan gerakan tangannya. Ia meletakkan sendok perlahan, kemudian menatap Jasmine dengan sorot mata yang lebih tegas, nyaris dingin. "Aku tidak pernah meminta siapa pun untuk mengenalku lebih jauh."

Keheningan pekat turun menyelimuti meja. Jasmine menggigit bibirnya, sejenak tampak goyah. Namun ia kembali menegakkan bahu, memaksa senyum untuk tetap terukir. "Baiklah. Anggap saja aku sedang memperkenalkan diri dulu. Siapa tahu suatu hari nanti kau akan mengingatku."

Alma memperhatikan keduanya dengan senyum samar. Dalam hati, ia bertanya-tanya. Apakah inilah cara Jasmine mencoba mendekati Calvin, persis sebagaimana ia dalam kehidupan sebelumnya? Dengan citra gadis periang, polos, pantang menyerah, namun diam-diam rapuh dan haus akan perlindungan? Sebuah sosok yang nyaris mirip dengan karakter marysue dalam cerita, terlalu sempurna, terlalu manis, dan terkadang justru menimbulkan rasa janggal.

"Lucu sekali" Alma membatin.

🥀🥀🥀

Jauh di puncak gedung pencakar langit yang megah milik keluarga Morrison, suasana hening menyelimuti ruang kerja Arthur Morrison. Lantai teratas gedung itu seakan menjadi singgasana bagi sang penguasa. Langit siang yang mulai meredup terlihat dari balik dinding kaca raksasa, memantulkan cahaya jingga ke seluruh ruangan.

Arthur duduk membisu di balik meja kerjanya yang luas. Tumpukan dokumen menumpuk di hadapannya, sebagian besar masih belum tersentuh, dibiarkan tergeletak tanpa tanda tangan. Tangannya sesekali bergerak, tetapi tidak pernah menyentuh pena. Pikirannya sibuk berkelana, bukan pada angka-angka yang tertera di kertas, melainkan pada sosok putrinya yang terus menghantui benak.

Di sisi meja, seorang pria berjas rapi berdiri dengan penuh kesabaran. Edwin, sekretaris pribadi yang sudah lama mengabdi pada Arthur, menanti instruksi tuannya dengan sikap tenang.

"Edwin," suara Arthur akhirnya memecah keheningan, serak namun penuh wibawa. Ia menegakkan tubuhnya, kedua matanya yang penuh beban menatap kosong ke arah meja. "Apakah sudah ada kabar dari Alisha?"

Sekretaris itu segera menundukkan kepala, lalu menyentuh layar tabletnya. Jemarinya lincah menggulirkan informasi, hingga akhirnya berhenti pada sebuah catatan perjalanan. "Nyonya Alisha saat ini berada di Hungaria, Tuan. Berdasarkan jadwal, beliau tidak akan kembali dalam waktu dekat. Setelah Hungaria, beliau berencana singgah ke Nepal."

Arthur menghela napas panjang, jemarinya memijat pelipis yang berdenyut. Garis wajahnya semakin menegang, menunjukkan kekesalan yang selama ini ia tahan. "Wanita itu… apakah ia begitu terobsesi pada perjalanan? Tidakkah ia mengerti bahwa dunia bukan hanya tentang berjalan tanpa henti? Tidakkah ia membutuhkan uang?"

Edwin menatap majikannya, lalu menundukkan kepala dengan sopan sebelum menjawab. "Tuan, dengan segala hormat, Nyonya Alisha adalah putri keluarga Irvine. Uang akan mengalir ke kantongnya tanpa ia perlu berusaha sedikit pun."

Arthur menoleh, sorot matanya tajam menusuk, membuat Edwin otomatis menutup mulutnya. Setelah beberapa detik, tatapan itu berubah menjadi kelelahan. Ia kembali menghela napas panjang, kali ini lebih berat. "Baiklah. Tetap hubungi dia. Katakan… gadis kecil kesayangannya membutuhkannya sekarang."

"Baik, Tuan."

Arthur memalingkan pandangannya pada jendela kaca raksasa. Kota metropolitan terbentang jauh di bawah, bagaikan miniatur kehidupan yang ia kuasai. Namun di balik kejayaan itu, pikirannya tetap tertuju pada satu nama. Alma.

Alisha bukan sekadar teman lama ataupun sekutu keluarga. Ia adalah seorang psikolog brilian yang pernah menjadi penyelamat bagi Alma kecil. Saat berusia enam tahun, putri bungsunya itu menunjukkan gejala awal Antisocial Personality Disorder (ASPD). Menghadapi anak sekecil itu dengan kecenderungan dingin dan manipulatif, nyaris tanpa empati, adalah ujian berat. Namun Alisha mampu menembus lapisan hati Alma dengan kesabaran dan kasih yang tulus. Alma, yang nyaris tak bisa didekati siapa pun, justru menjadikan Alisha sebagai pusat kepercayaannya. Arthur tahu, jika ada orang yang bisa meraih kembali sisi manusiawi dalam diri Alma, maka itu hanyalah Alisha.

Ketukan halus terdengar di pintu, dua kali, teratur. Arthur menoleh, lalu suara lembut namun tegas menyusul.

"Ayah memanggilku?"

Sosok Daniel, putra sulung keluarga Morrison, melangkah masuk. Penampilannya rapi dengan jas abu-abu gelap, wajahnya tegas, dan sorot matanya penuh percaya diri.

"Duduklah. Ada yang ingin Ayah bicarakan," ujar Arthur, suaranya berwibawa namun mengandung beban tersirat.

Daniel berjalan ke sofa panjang berlapis kulit di sisi ruangan, lalu duduk dengan sikap santai namun sopan. Ia sempat mengangguk kecil menyapa Edwin, yang dibalas dengan hormat.

Arthur meninggalkan kursinya di belakang meja, berjalan dengan langkah mantap menuju sofa tunggal di seberang Daniel. Ia duduk perlahan, menatap putranya dengan ekspresi sulit terbaca.

"Ada apa sebenarnya, Ayah?" tanya Daniel, sedikit penasaran.

Arthur menyilangkan tangan di depan dada. "Bukan masalah besar. Ayah hanya ingin menanyakan sesuatu. Menurutmu… apakah kau pernah melihat ada yang aneh pada Alma?"

Daniel sontak terdiam, memikirkan pertanyaan itu dengan seksama. Setelah beberapa detik, ia menggeleng pelan. "Tidak, Ayah. Alma masih seperti biasa. Cantik, menggemaskan, kadang menyebalkan, tapi tetap adik kecilku yang manis."

"Kau yakin?" Nada suara Arthur meninggi sedikit, seakan menuntut kejelasan.

Daniel mengerutkan kening, matanya menyipit. "Ayah, sebenarnya ada apa? Kenapa Ayah tiba-tiba menanyakan hal semacam ini?"

Arthur menundukkan kepala, mengusap dagunya, seakan menimbang jawaban. Namun pada akhirnya ia hanya berkata singkat, "Tidak ada apa-apa."

Daniel semakin curiga. Ia tahu betul ayahnya bukan tipe orang yang berbicara tanpa alasan. Jika Arthur menyinggung Alma, pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Arthur seolah menyadari sorotan curiga itu, sehingga ia segera mengubah arah pembicaraan. "Sudahlah. Oh, satu hal lagi. Ayah mendengar kabar bahwa kilang minyak kita di Rusia mengalami sedikit masalah. Pergilah ke sana dan periksa situasinya secara langsung."

Daniel terkejut, dahinya berkerut. "Kenapa harus aku? Ayah bisa saja mengirim orang lain. Kita punya banyak manajer regional yang bisa menangani..."

"Tidak bisa," potong Arthur tegas. "Masalah ini terlalu sensitif. Ayah tidak bisa mempercayakan pada sembarang orang. Hanya kau yang Ayah percayai. Jadi jangan banyak protes, segera berkemas dan berangkat."

Daniel terdiam, kedua tangannya mengepal di pangkuan. Ia mendengus pelan, jelas menunjukkan ketidakpuasan, namun tidak berani membantah lebih jauh. Jika ayahnya sudah berbicara demikian, berarti keputusan sudah final.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hingga akhirnya Daniel berdiri. "Baiklah. Aku akan berangkat besok pagi."

Arthur hanya mengangguk, lalu kembali menatap keluar jendela. Daniel menatap ayahnya sejenak, menyimpan rasa penasaran dan kegelisahan tentang alasan sebenarnya di balik sikap dingin itu. Namun ia memilih bungkam, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Begitu pintu menutup, Arthur menegakkan tubuhnya. Napasnya berat, seolah ada beban besar yang tak terucapkan. Edwin yang sejak tadi diam, akhirnya memberanikan diri bersuara.

"Tuan, apakah benar tidak ada yang aneh dengan Nona Alma?"

Arthur terdiam cukup lama sebelum menjawab lirih, hampir seperti bisikan. "Edwin, aku melihatnya. Mata anak itu… berbeda. Aku seperti di bawa lagi ke masalalu."

Sekretaris itu terdiam, tidak berani menanggapi lebih jauh. Sementara Arthur terus menatap langit senja di luar jendela, seolah mencari jawaban dari cakrawala yang luas.

1
tutiana
woowwww ,
tutiana
nextt Thorr ☕️
aku
semangat lanjut
wahyu andria
semngat thorrr. .double up 🤭🙏💪
falea sezi
hmmm alma kurang perhitungan g bs bela diri menye menye bisa bunuh doank itu aja dia minta bantuan jean😒
falea sezi
siapapun yg bangkit dr kematian karena fitnah bully pasti bakal dendam 😒
falea sezi
g bakalan lupa Leon lu uda bunuh alma di kehidupan b sebelum nya😒
falea sezi
alma uda benci sama loe kaiden
falea sezi
q benci bgt bullying kayak gini semoga anak ku g dpet bully di sekolah karena itu mental bs kena😕
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!