NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan tanpa beban

    Usai acara pernikahan Nadia, Hanum dan Abi langsung pulang bersama bu Elis.

  Di mobil, Abi dan Hanum, sejenak masih memproses semua yang Reza katakan tadi. Beberapa saat setelah itu, Abi memengang tangan Hanum sambil memberikan tekanan lembut, Hanum yang sedang memandang ke luar melalui jendela, menoleh pelan sambil tersenyum.

   "Gimana, capek?" Tanya Abi.

    "Sedikit." Jawabnya.

   Bu Elis yang duduk di belakang, berdehem pelan, kemudian memberi komentar tentang dekorasi dan makanan yang disajikan.

   "Dekorasinya tadi luar biasa ya, Num, ibu sangat suka. Bunganya banyak sekali, sampai ke langit-langit. Makanan yang tersaji juga semuanya enak!" Katanya.

   Hanum menoleh ke belakang sambil tersenyum kecil, "semua itu sudah sesuai keinginan Nadia. Dia memang selalu menginginkan konsep yang megah di acara pernikahannya itu."

   "Tadi bagian pelaminannya juga detail banget, kayaknya tiap sudut sudah dipikirin." Imbuh bu Elis lagi.

   Hanum kembali menoleh ke belakang, "aku juga suka bagian lampunya, bu. Jadi hangat gitu suasananya. Nggak silau tapi kelihatan mahal." Kata Hanum yang dibenarkan oleh bu Elis.

   "Betul!" Katanya, "tadi ibu nyobain dagingnya itu empuk banget, supnya juga enak banget."

  "Iya, tadi aku juga nyobain, bumbunya meresap, rasanya pas banget." Timpal Hanum, "aku jadi ingin kenalan sama yang masak."

   Abi yang sejak tadi fokus menyetir, ikut memberi komentar. "Para wanita memang selalu jeli," katanya.

   Hanum melirik Abi, ia tampak lebih santai, menikmati perjalanan tanpa beban.

   "Tentu saja," jawab ibunya dengan cepat. "Coba kamu buat acaranya begitu, Bi. Pasti teman-teman ibu pada heboh kasih komentarnya."

   Abi dan Hanum saling pandang, lalu keduanya tertawa pelan.

   "Ibu tahu, tidak?" Tanya Abi, "sebenarnya Rendra yang harusnya jadi suami Hanum, tapi sayangnya Hanum nggak beruntung karena sudah terlanjur janji pada dirinya sendiri. Jadinya terpaksa dia harus memilih menepati janjinya itu." Gurau Abi.

   "Hei, jangan nuduh aku terpaksa, ya?" Kata Hanum tak terima, yang memicu gelak tawa diantara mereka.

"Memilih menepati janji? Janji apa, pada siapa?" tanya bu Elis, penasaran.

"Janji mau terima lamaran siapapun yang datang waktu itu." Jawab Abi.

  "Beneran, Num?" tanya bu Elis.

  "Nggak, ibu. Abi ngarang," sangkal Hanum.

  "Tapi memang Nadia beruntung banget, bisa dapetin laki-laki seperti Rendra. Wah, pokoknya ibu nggak nolak, kalau punya anak gadis dilamar Rendra."

  "Lho, ibu kenapa jadi muji-muji anak orang, sih?" saut Abi seolah tak terima.

  Hanum mengambil kesempatan untuk mengodanya. "Iya, ibu. Harusnya ibu jangan memuji anak orang lain, biar bagaimana pun, aku wanita paling beruntung di negara ini, karena dapetin Abi." Katanya, sambil tertawa kecil.

  "Kok cuma di negara? Biasanya orang-orang akan bilang di dunia ini, bukan cuma di negara ini." Kata Abi yang membuat mereka terbahak.

  "Nggak ada tawar menawar, ya. Masih untung aku bilang di negara ini, nggak bilang di RT ini," balas Hanum.

   Mobil terus melaju, suasana di dalamnya kini terasa lebih ringan. Obrolan sederhana tentang dekorasi dan makanan perlahan menghapus sisa ketegangan yang Reza ciptakan tadi.

   * *

  Beberapa saat sesampainya di rumah...

   Abi duduk bersandar diatas tempat tidur, memandang Hanum yang baru keluar dari kamar mandi.

    Jubah mandi yang masih ia kenakan, dan rambut basah yang tertutup oleh handuk, membuat mata Abi engan berkedip dibuatnya. Meski tidak mengurangi kencantikannya, namun Hanum tampak kontras dari pakaian tertutup yang biasa ia kenakan.

  "Jangan menatap aku seperti itu." Cegah Hanum, sambil duduk di depan meja riasnya.

  "Kenapa?" tanya Abi, dengan santainya.

  "Ya, aku jadi malu."

  Abi tersenyum, ia kembali menatap wajah cantik sang istri melalui pantulan cermin itu, dengan tatapan yang lebih dalam lagi.

  Hanum menghetikan jalannya sisir setelah menyadari wajah Abi berada di dalam cermin. "Abi....! Jangan buat aku malu. Aku nggak bisa terus ditatap begitu."

   Abi mendekat, mengambil hair dryer, kemudian mengeringkan rambut panjang Hanum, tanpa kata hanya ada senyuman yang penuh arti.

  "Sudah," katanya, setelah selesai.

  Hanum mengambil sisir, ia ingin merapikan rambutnya sendiri, tetapi langsung diminta oleh Abi.

  Dengan gerakan yang lihai, Abi menyisirnya, yang membuat Hanum tak dapat menahan senyum.

  Dilihatnya wajah sang suami dalam pantulan cermin itu, ia merasa beruntung telah memilih Abi sebagai suaminya. "Sejak kapan, kamu semanis ini?" tanyanya.

  "Apanya?"

  "Ya kamunya? Emang siapa lagi?"

  "Kalau orangnya sejak dulu, kamu tahu itu lah." Gurau Abi, "kalau sikapnya, baru, setelah menikah sama kamu," katanya.

  "Gombal!" kata Hanum, sambil ingin berdiri.

  Abi menekan pundaknya, yang membuat Hanum kembali terduduk. "Mau ke mana? Jangan buru-buru!" katanya.

  "Abi... Mau kamu apakan lagi, aku ini?"

  Abi menunjuk cermin yang memantulkan wajah mereka, menyatukan wajahnya, lalu keduannya sama-sama tersenyum.

  "Serasi banget ya, kita?" puji Abi.

  "Masak?" goda Hanum.

  "Iya, makanya lihat." Kata Abi yang membuat Hanum merasa wajib untuk melihatnya.

  "Bi, aku mau ganti baju." Kata Hanum, menyembunyikan pipi merahnya.

  "Iya, jangan lama-lama, ya?" kata Abi, tanpa berusaha menahanya lagi.

  Abi menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, lalu berpura-pura menutup mata. Ia kembali membuka matanya perlahan, ketika jubah mandi Hanum telah berganti menjadi jubah tidur, lalu menutup matanya kembali.

  Perlahan Hanum duduk di samping Abi, lalu kakinya terangkat pelan ke atas kasurnya. Ia tahu, suaminya itu belum sepenuhnya tidur, bahkan hanya berpura-pura tidur.

   Kemudian Hanum berbaring pelan, ia menarik selimut dan menutupi mereka berdua. Lalu Abi menggeser sedikit posisinya agar lebih dekat. Sejenak suasana menjadi hening, tetapi bukan hening yang canggung, melainkan hening yang nyaman.

   Abi meraih tangan Hanum, menggenggamnya erat, namun terukur. "Aku suka momen kayak gini." Katanya.

   "Yang kayak gimana?" Tanya Hanum dengan kalimat mengoda.

   "Yang sederhana, bahagia meski tanpa kemewahan, nggak harus ke mana-mana juga. Cuma kita berdua, di rumah, ngobrol, dan ketawa bareng."

    Hanum menyandarkan kepalanya di bahu Abi, "iya, aku juga ngerasa kayak gitu."

   Abi menghela napas pelan, kemudian ia mencium pipi hanum bersamaan dengan ketika Hanum sedikit mengangkat kepalanya.

  Keduanya tertawa, merasa lucu.

  "Jangan punya anak dulu, ya?" kata Abi.

  "Kenapa?"

  "Aku masih ingin kita seperti remaja yang baru ngerasain pacaran." Kata Abi yang membuat Hanum memukul manja dadanya.

  "Tapi punya anak itu lucu lagi, Bi."

"Iya, sih. Tapi, aku masih belum mau. Soalnya kita belum ngerasain pacaran," katanya.

"Sebenarnya kalau itu, salah kamu sendiri." Kata Hanum yang langsung dipotong Abi.

"Kok, salah aku sih, Yang?"

"Ya iya, emang salah kamu."

"Kok, bisa?"

"Kenapa kamu nggak nyatain cinta dari kita kecil, aja?" goda Hanum.

Sejenak Abi pura-pura berpikir, kemudian menatapnya dalam-dalam. "Emang saat masih kecil, kamu bakal terima pernyataan cinta aku?" goda Abi balik.

"Enggak tahu. Aku rasa nggak, deh!"

Abi semakin mempererat genggamannya, "jadi, kesimpulannya tidak ada yang terlalu lambat atau terlalu cepat. Semua sudah pas sesuai takarannya." Kata Abi yang dijawab anggukan kepala oleh Hanum.

Di bawah selimut yang hangat itu, dengan tangan yang masih saling menggenggam, mereka menikmati malam. Bukan dengan kemewahan, tetapi dengan kebersamaan yang sederhana dan tulus. Dan bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup.

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!