Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 17 — Malam Pembalasan
Malam turun tanpa suara, seperti pisau yang diselipkan perlahan ke punggung kota. Rumah lama keluarga Brawijaya berdiri sendirian di ujung jalan, temboknya kusam, jendelanya gelap—namun di balik gelap itu, napas ditahan dan senjata disiapkan.
Dimas berjongkok di balik dinding ruang tamu yang retak. Tangannya dingin, keringat menempel di pelipis. Di telinganya, earpiece berdesis pelan—suara polisi yang bersembunyi di posisi mereka masing-masing. Polisi pensiun itu, Pak Arif, memberi aba-aba dengan suara rendah dan mantap. “Tunggu konfirmasi visual. Jangan bergerak dulu.”
Dimas menatap lorong menuju kamar orangtuanya. Kenangan berkelebat—ibu yang menyenandungkan lagu, ayah yang tertawa kecil. Rumah ini pernah hidup. Kini, ia jadi panggung pembalasan.
Di luar, ban mobil berderit pelan. Satu, dua, tiga kendaraan berhenti. Pintu dibuka. Langkah kaki. Suara laki-laki berbisik. Dimas menegangkan rahang. Mereka datang.
“Visual,” bisik salah satu polisi.
Lampu sorot dari kejauhan menyala sekilas—cukup untuk menandai siluet Marco. Mantel gelapnya berkibar kecil saat ia memberi isyarat pada anak buahnya. Dimas mengenali cara itu—cara seseorang yang terbiasa memerintah, terbiasa tidak ragu.
“Marco teridentifikasi,” suara Pak Arif. “Tahan.”
Detik-detik mengembang. Angin menggeser daun kering di halaman. Seekor kucing melintas, lalu menghilang. Dunia menahan napas.
Pintu depan didorong. Kreeek. Kayu tua mengeluh. Marco melangkah masuk, senjata terangkat. Dua orang di belakangnya menyebar. Senter memotong kegelapan, menyapu dinding penuh retakan—bekas usia dan bekas luka.
“Rumah ini,” kata Marco, suaranya rendah tapi jelas, “selalu berisik. Bahkan ketika kosong.”
Dimas mengepalkan tangan. Setiap kata itu menusuk.
Langkah kaki mendekat. Senter berhenti tepat di ruang tamu—tempat Dimas bersembunyi. Jantungnya memukul tulang rusuk. Ia menunggu aba-aba. Menunggu satu detik yang terasa seperti satu hidup.
“Sekarang,” bisik Pak Arif.
Lampu rumah menyala mendadak—putih menyilaukan. “POLISI!” teriak suara serempak. “JATUHKAN SENJATA!”
Keheningan pecah seperti kaca.
Tembakan pertama meledak—DOR!—menggetarkan udara. Balasan menyusul. DOR! DOR! Kaca jendela pecah, serpihannya hujan. Dimas merunduk, merayap ke pilar, mengintip celah. Kilat api dari moncong senjata menari, bayangan berlari, teriakan bercampur perintah.
Marco bergerak cepat, berpengalaman. Ia menendang meja, berlindung, menembak terukur. Salah satu polisi terjatuh, berteriak kesakitan—bahunya kena. “Medis!” suara menggema.
Dimas melihat kesempatan. Ia bergerak ke tangga, menutup sudut. “Marco!” teriaknya, suaranya terbelah amarah. “Ini berakhir malam ini!”
Marco menoleh. Sekilas mata mereka bertemu—mata yang sama-sama mengenali. Senyum tipis, dingin, muncul di wajah Marco. “Akhirnya,” katanya. “Kau tumbuh juga.”
Tembakan kembali meledak. Peluru menghantam dinding dekat kepala Dimas, debu berhamburan. Ia membalas, terpaksa—bukan dengan kebencian, tapi dengan tekad. Polisi bergerak menutup. Dua anak buah Marco tersungkur, satu melarikan diri ke dapur.
Api kecil menjilat tirai—percikan peluru mengenai lampu. Asap tipis naik. Alarm mobil di luar meraung. Malam berubah kacau.
“Dimas, mundur!” Pak Arif berteriak. “Jangan kejar sendiri!”
Terlambat. Marco melesat ke lorong kamar. Dimas mengikut, napas memburu. Lorong itu sempit—tempat darah pernah mengalir dua puluh lima tahun lalu. Ingatan menabrak realitas.
Marco berbalik tiba-tiba. DOR! Peluru menghantam bingkai pintu. Dimas menjatuhkan diri, merayap, menendang kursi untuk mengganggu pandangan. Polisi dari belakang menekan. “Letakkan senjata!” teriak mereka.
Marco tertawa pendek. “Kalian terlambat sejak dulu.”
Tembakan membalas. Satu polisi jatuh. Dimas bangkit setengah, melihat Marco terpojok di kamar orangtuanya—tempat semuanya bermula. Foto keluarga di dinding terbelah dua oleh peluru.
“Berhenti!” Dimas berteriak. “Semua sudah terekam. Kau kalah.”
Marco menatap foto itu, lalu Dimas. Wajahnya mengeras—bukan penyesalan, hanya kejengkelan. “Tidak ada yang benar-benar kalah,” katanya. “Ada yang dikorbankan.”
Sirene mendekat—semakin keras. Polisi dari luar masuk memperkuat. Tembakan makin jarang, terukur. Anak buah Marco tersisa dua, terdesak.
Asap menebal. Mata perih. Dimas batuk. Ia melihat Marco melangkah ke jendela—jalan keluar terakhir. Polisi mengurung. Detik menegang.
Lalu—DOR! tembakan keras memecah. Tubuh tersentak. Jeritan. Seseorang jatuh.
Dimas merasakan panas menyentuh dadanya—sekilas, seperti sengatan. Ia tersandung, menahan dinding. Pandangannya bergetar. Suara berubah jauh.
“Dimas!” teriak Pak Arif. “Bertahan!”
Rumah itu gemetar oleh langkah dan teriakan. Malam belum selesai.
Di antara asap dan darah, pembalasan mencapai puncaknya—dan harga yang harus dibayar mulai menagih.