"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Sembilan Detik Terakhir
"Satu... dua... tiga... berhenti!"
Arnold berteriak sekuat tenaga sambil menekan sirkuit bom dengan ibu jarinya yang gemetar. Peluh mengucur deras dari pelipisnya, jatuh ke atas kabel-kabel yang saling silang. Di depannya, layar digital bom yang terpasang di sistem pendingin laboratorium menunjukkan angka 00:09. Merah dan berkedip, seolah-olah sedang menertawakan perjuangan hidup mati mereka.
"Arnold! Kenapa angkanya tidak berhenti?!" Suara Airine terdengar dari intercom dinding laboratorium. "Suaranya semakin melengking! Apa yang harus kulakukan?!"
"Airine, dengarkan aku!" Arnold mengatur napasnya yang memburu. "Di samping brankas kakekmu, ada tuas manual berwarna perak. Tarik tuas itu sekarang! Itu adalah sistem pembuangan gas darurat. Jika bom ini meledak, setidaknya gas beracunnya tidak akan memenuhi paru-parumu!"
"Tapi bagaimana denganmu?! Kamu masih di sana!"
"Jangan pikirkan aku! Tarik tuasnya, Airine! Sekarang!"
Di dalam laboratorium yang mulai dipenuhi asap tipis, Airine tidak langsung menarik tuas itu. Ia melihat map cokelat peninggalan kakeknya yang tergeletak di lantai. Matanya menyapu baris kalimat terakhir di dokumen tersebut: 'Dalam keadaan darurat, sirkuit Cobra dapat dinetralkan dengan larutan penetral di tangki cadangan B.'
Airine menghapus air matanya dengan kasar. Keangkuhan dokter bedahnya kembali. Ia tidak boleh hanya menangis dan menunggu diselamatkan. "Arnold, dengarkan aku! Jangan potong kabelnya! Cari pipa kecil yang terhubung ke tangki Nitrogen di belakang bom itu! Kakek menulis soal penetralan suhu!"
"Airine, ini terlalu berisiko! Keluar dari sana!"
"Aku tidak akan pergi!" Airine berlari menuju meja laboratorium, meraih tabung berisi cairan kimia yang ia tahu sifatnya basa kuat. "Aku sedang mencoba membantu! Kamu bilang aku cerdas, kan? Sekarang diam dan biarkan aku bekerja!"
Arnold tertegun sejenak mendengar nada bicara Airine yang tiba-tiba tegas. Ia melihat pipa yang dimaksud Airine. Dengan cepat, Arnold menggunakan belati lipatnya untuk menyayat pipa tersebut hingga cairan pendingin menyembur keluar, menyelimuti sirkuit panas bom itu.
Angka di layar digital mendadak berhenti di angka 00:01.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Arnold jatuh terduduk di lantai semen yang dingin, napasnya keluar dalam satu tarikan panjang yang lega. Di balkon gudang Sektor C, Tuan Shen yang masih tergantung di tangan Arnold hanya bisa melongo menatap layar monitornya yang mati total.
"Sialan... bagaimana bisa..." Shen bergumam tidak percaya.
Arnold menarik Shen kembali ke atas balkon dan menghantamkan wajahnya ke lantai hingga pria itu tersungkur. "Istriku jauh lebih pintar dari bajingan sepertimu, Shen."
Arnold segera meraih ponselnya. "Airine? Kamu masih di sana? Kamu tidak apa-apa?"
"Aku... aku baik-baik saja," suara Airine terdengar lemas, disusul suara batuk kecil. "Tapi Arnold, aku menemukan sesuatu yang lain di brankas ini. Bukan hanya formula. Ada foto... foto Kakek Edward bersama ayahmu."
Arnold membeku. "Ayahku?"
"Ya. Dan ada surat. Surat permintaan maaf dari kakekku karena telah melibatkan ayahmu dalam proyek maut ini," Airine terisak lagi, tapi kali ini bukan karena takut. "Ternyata persahabatan keluarga kita jauh lebih gelap dari yang kita duga, Arnold. Mereka berdua terikat dalam dosa yang sama."
Arnold menatap Shen yang sudah tidak berdaya di kakinya. Ia merasakan kemarahan yang luar biasa, tapi juga kesedihan yang mendalam untuk Airine. "Simpan surat itu, Airine. Aku akan segera ke sana. Jangan biarkan siapa pun masuk, termasuk tim keamananku. Tunggu aku."
Arnold mematikan sambungan telepon dan menatap dua anak buahnya yang baru saja tiba di balkon. "Bawa Shen ke markas pusat. Jangan serahkan ke polisi lokal. Aku ingin dia diinterogasi dengan protokol tingkat satu. Aku ingin tahu siapa saja yang terlibat selain dia."
"Siap, Komandan! Bagaimana dengan Anda?"
"Aku harus menjemput istriku," ucap Arnold dingin. Ia memungut jas hitam mahalnya yang sudah kotor terkena debu gudang, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
...****************...
Dua puluh menit kemudian, Arnold sampai di depan pintu laboratorium. Ia melihat Airine sedang berdiri di tengah ruangan yang berantakan, memegang sebuah foto tua yang sudah menguning. Airine menoleh saat mendengar langkah kaki Arnold.
Tanpa bicara, Airine berlari dan menghambur ke pelukan Arnold. Ia memeluk suaminya begitu erat, seolah takut jika ia melepaskannya, Arnold akan menghilang lagi menjadi asap.
"Kamu terluka?" bisik Airine di dada Arnold.
"Hanya luka gores kecil," Arnold mengusap rambut Airine. "Maafkan aku, Airine. Aku tidak pernah bermaksud melibatkanmu sedalam ini."
Airine mendongak, matanya menatap Arnold dengan cara yang berbeda. "Tadi di telepon... aku baru sadar. Saat maut ada di depan mata, aku tidak peduli kamu tukang bakso atau komandan. Aku hanya ingin kamu tetap hidup."
Arnold tersenyum tipis, lalu mencium dahi Airine. Namun, matanya tertuju pada foto di tangan Airine. Ia tahu, babak baru dalam perang ini baru saja dimulai. Musuh mereka bukan lagi sekadar sindikat narkoba, melainkan bayang-bayang masa lalu keluarga mereka sendiri.
"Ayo kita pulang," ucap Arnold. "Tempat ini sudah tidak aman lagi."
Saat mereka berjalan keluar, Airine tiba-tiba berhenti. Ia menatap salah satu anak buah Arnold yang berjaga di lift. "Eh, kamu. Siapa namamu?"
Pria tegap itu tersentak. "S-siap, Nyonya! Nama saya Satya!"
"Satya, lain kali kalau kalian bertarung, jangan terlalu berisik. Kalian mengganggu jam istirahat pasien," ucap Airine dengan nada memerintah yang dingin namun elegan.
Arnold terkekeh pelan. "Lihat? Dia sudah mulai bisa memerintah pasukan khusus."
Airine melirik Arnold dengan senyum miring. "Jangan senang dulu. Setelah ini, kamu harus menjelaskan padaku kenapa cucu jenderal sepertimu bisa membuat bakso urat yang sangat enak. Itu rahasia negara yang paling ingin kutahu."
Arnold tertawa, merangkul bahu Airine saat mereka masuk ke dalam lift. Namun, saat pintu lift tertutup, wajah Arnold kembali serius. Ia melihat bayangan seseorang di pantulan cermin lift—seorang pria berpakaian jas rapi yang berdiri di ujung koridor, menatap mereka dengan tatapan yang sangat tajam.
Seorang musuh baru telah muncul, dan kali ini, dia berada jauh lebih dekat daripada Tuan Shen.
...****************...