"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Sejak Ethan dan Evan hadir dalam kehidupan mereka, hari-hari Diana dan Riki tak lagi sama. Keduanya tanpa sadar membentuk ritme baru—berangkat dan pulang kuliah bersama, belanja kebutuhan bayi, bahkan sesekali saling bantu menjemput si kembar dari tempat penitipan anak. Meski Melisa tetap jadi bagian tak terpisahkan, tapi orang-orang melihat Diana dan Riki seperti orang yang tak terpisahkan.
Kebersamaan yang semula terasa biasa saja, perlahan jadi sorotan. Bisik-bisik mulai terdengar dari balik meja kantin hingga toilet perempuan.
“Lo liat gak sih, si Riki sekarang kayak bodyguard-nya Diana.”
“Padahal dulu cewek nya gonta-ganti. Sekarang nempelnya cuma sama Diana dan Melisa.”
“Jangan-jangan udah jadian diam-diam, tapi gak mau ngaku.”
Rumor makin liar. Terutama bagi para perempuan yang pernah—atau sedang—berharap jadi “gebetan baru” sang buaya kampus, Riki Cahyo Permana.
Dan pada suatu siang, di kantin Fakultas Ekonomi—kandang kekuasaan Annisa—ledakan kecil pun terjadi.
"Lo itu serius nggak sih, Ki, sama gue?" tanya Annisa, langsung ke inti persoalan. Suaranya pelan tapi tajam, dan cukup menusuk ego lelaki. "Lo bilang cuma temenan sama mereka, tapi mana ada temen yang tiap hari nempel kayak perangko!"
Riki menatap gadis jurusan bisnis itu sambil tetap mengunyah pelan keripik di tangannya. Wajahnya datar, nyaris tak berekspresi.
"Ya emang cuma temenan, Nis. Lo aja yang kebanyakan mikir," ucapnya santai. Suara seraknya terdengar malas, seolah masalah hati adalah urusan yang bisa diselesaikan nanti—kalau sempat.
Annisa mendecak. "Kalau cuma temenan, kasih kepastian dong. Jangan kasih harapan. Gue bukan stasiun yang bisa lo datengin terus ninggalin tanpa arah."
Riki mengangkat alis, kemudian berdiri sambil menyandang tas. "Gue ada kelas habis ini, nanti aja ngobrolnya, ya."
Padahal kelasnya baru dimulai satu jam lagi. Itu hanya alasan klise untuk kabur dari percakapan yang terasa terlalu serius bagi Riki.
Annisa hanya bisa menggigit bibirnya, menahan rasa kesal yang perlahan berubah menjadi marah.
Beberapa menit kemudian, Riki melenggang santai ke kantin fakultas hukum. Langkahnya ringan seperti tak terjadi apa-apa. Pandangannya menyapu ruangan, hingga menemukan dua gadis yang nyaris jadi rutinitas barunya—Melisa dan Diana.
Ia menarik kursi di sebelah mereka tanpa basa-basi. “Tumben sepi, gak ada yang gombalin gue hari ini?”
Diana melirik tajam. “Cepet amat balik. Udah selesai ngapel?”
“Bosen. Mending nongkrong sama kalian. Lebih waras,” jawab Riki sembari menyomot es teh milik Melisa.
“Kebiasaan ih Riki, itu bekas aku loh!” Melisa memukul pelan tangan Riki. Tapi ia tetap tersenyum.
“Makan bakso gak ngajak-ngajak, pelit amat sih, takut diminta” gerutu Riki.
“Ya pesen lah sendiri,” sahut Diana datar.
“Pesenin napa. Males gue ke tukang bakso itu, nanti digodain lagi sama Teh Imey, yang suka manggil gue ‘cucuku’,” Riki menjawab dramatis sambil memonyongkan bibir.
“Aku aja deh yang pesenin. Sekalian beli jajanan,” ucap Melisa seraya bangkit dari kursinya.
“Makasih istri pertama,” ujar Riki dengan suara keras, membuat beberapa pasang mata langsung meliriknya.
Diana mendengus. “Lo tuh ya, gak capek ngulah tiap hari?”
Riki mengangkat bahu. “Capek sih, tapi kalo gak gitu, hidup gue hambar banget.”
Tak lama, Riki menyenderkan kepalanya di sandaran kursi dan melirik Diana.
“Nanti sore kita lagi yang jemput dua bocah gembrot itu?”
“Gak tau. Kalau Meli telat pulang, ya kita. Tapi…” Diana ragu sejenak, lalu melanjutkan, “Kayaknya gue gak bisa ikut. Lo bisa kan sendiri dulu?”
Riki mengerutkan dahi. “Tumben. Mau ke mana lo? Bukannya jadwal kita barengan hari ini?”
“Ada urusan. Tapi aman, gue nanti pulangnya diantar, jadi gak usah nungguin.”
“Siapa juga yang mau nungguin lo,” sahut Riki cepat. “Pasti lo mau jalan sama anak teknik itu, ya?”
“Bukan,” jawab Diana santai sambil tersenyum simpul.
“Yang ini beda crush, dia ki,” seloroh Melisa yang baru kembali sambil menaruh semangkuk bakso di depan Riki.
Riki melotot dramatis. “Wah parah sih. Lo sering ngata-ngatain gue buaya, ternyata lo lebih buas.”
“Emangnya lo doang yang laku di kampus ini?” Diana balas cepat.
Dan seperti biasa, perdebatan kecil pun dimulai— Diana dan Riki. Tanpa sadar, mereka memang sudah punya ritme, bahasa sendiri, dan ruang kenyamanan yang tak semua orang bisa masuki.
Tapi apakah itu sekadar kebiasaan?
Atau perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar teman?
***
Sore itu, seperti yang sudah bisa ditebak, Melisa kembali telat pulang dari pekerjaannya. Alhasil, tanggung jawab menjemput Ethan dan Evan di daycare pun jatuh ke tangan Riki—lagi.
Dengan langkah santai dan wajah sok serius, Riki memasuki area daycare sambil membawa tas kecil berisi botol susu cadangan. Dari luar, ia tampak seperti ayah muda beranak dua yang baru pulang kerja, siap menjemput anak-anaknya yang lucu. Membayangkan dirinya dalam peran itu, Riki tak kuasa menahan tawa. Ia cekikikan sendiri seperti orang gila, membuat seorang ibu di sudut ruangan melirik curiga.
"Pak Riki ya?" sapa salah satu staf daycare, seorang perempuan muda dengan senyum ramah. Ia sedang membantu mengganti pakaian Ethan yang basah terkena air liur, sementara Evan sudah duduk manis di kereta dorong kecil.
"Tumben sendirian, Pak. Istrinya mana?" tanya staf itu lagi sambil melirik ke arah pintu, seolah menunggu kedatangan sosok wanita yang biasa datang bersamanya.
Riki tersenyum. Dari logat dan nada bicaranya, ia bisa menebak kalau staf ini masih baru. Biasanya, para staf senior sudah tahu betul kalau dia bukan ayah dari dua bocah gendut itu—apalagi suami dari siapa pun.
"Istri saya masih sibuk, Mbak. Banyak urusan," jawab Riki santai, sembari menerima Evan dari pelukan staf lainnya. Ia mengelus rambut si bocah yang mulai menguap kecil.
"Mbak baru kerja di sini, ya?" tanyanya iseng sambil melirik nametag di seragam si petugas.
"Enggak baru-baru banget sih, Pak. Udah dua mingguan. Biasanya saya lihat Bapak jemput bareng istri-istri Bapak," jawab perempuan itu polos tanpa rasa bersalah. "Bapak kan yang katanya punya dua istri itu, ya? Yang cantik-cantik itu lho. Kompak banget kalau ke sini," lanjutnya dengan nada kagum.
Riki spontan terbatuk pelan. Hampir saja Evan yang digendongnya terjengkang. Ia menoleh dengan tatapan tak percaya, menahan tawa dan heran dalam waktu bersamaan. Jadi... sudah sejauh itu rumor berkembang?
Ia hanya bisa mengangkat alis, tersenyum simpul, lalu menanggapi dengan kalimat sekenanya, "Iya ya, kompak banget mereka itu, susah bedain mana yang lebih galak."
Staf itu tertawa, mengira Riki benar-benar serius. Sementara dalam hati, Riki sudah ingin menelpon Diana dan Melisa sambil berkata, “Liat nih kerjaan kalian, gue sekarang resmi jadi suami dua istri dari kalian berdua!”
Saat meninggalkan daycare sambil mendorong stroller dua bocah menggemaskan itu, Riki masih senyam-senyum sendiri. Bukan karena malu atau risih, tapi karena dalam hati kecilnya, ada bagian dari dirinya yang... nggak keberatan juga, sih.